Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Panggilan interview


__ADS_3

Saat malam hari disaat anak-anaknya sudah tertidur pulas dalam kamar.


Lusi pun mencari-cari info lowongan kerja melalui media online yang ada, Lusi yang punya ijazah S1 itu masih dibilang mudah dalam mencari pekerjaan namun yang sulit adalah faktor keberuntungan dan rejeki juga.


Sekalipun lulusan S3 tapi kalau ternyata bukan rejeki akan sulit mendapatkannya.


Lusi pun mencari cari lowongan namun ia pun juga harus berhati-hati dalam mencari kerja, karena banyak dimedia yang menjadi penyalur kerja atau semacamnya tapi kenyataannya nihil dan banyak kasus penipuan juga.


Lusi pun mencari kerja sesuai dengan kualifikasi kerja yang ia mau, kalau pun tidak ada yang lolos juga Lusi pasrah jika nantinya bekerja apa saja yang penting halal.


Dan Lusi mendapatkan info perusahaan yang sedang membuka loker dan berharap jika akan ada panggilan interview untuk dirinya.


Lusi pun mengirimkan lampiran email yang memang perlu ia lampirkan dalam surat lamarannya.


Lusi ingat betul kata guru atau dosen Lusi saat itu, kalau kita melamar kerja yang tertulis dilowongan dengan bahasa Inggris kita melamar dengan bahasa Inggris juga. Tapi kalau lowongannya dengan bahasa Indonesia, kita melamar cukup dengan menggunakan bahasa Indonesia. Lusi siap dengan hasil yang ada, karena ternyata banyak lowongan yang membuka untuk wanita single, sementara Lusi sudah menikah.


Namun Lusi tetap masih berjuang untuk mencari, dan mengirim CV dengan sesuai kualifikasi.


Keseokan harinya siang itu Lusi sedang duduk ditepi ranjang sambil memberikan asi pada bayi yang berumur 3 bulan itu.


Yasmin tumbuh menjadi anak yang begitu lucu dan sangat menggemaskan, matanya yang bulat mengingatkan pada kakeknya yang bernama David, tapi hidungnya yang sangat mancung, bibir nya yang tipis dan rambut yang agak keriting mengingatkan Lusi pada siapa lagi kalau bukan Gery. Ayah kandung dari bayi yang Lusi tak pernah kira sebelumnya. Lusi tak pernah menyangka akan tumbuh benih Gery juga dalam rahimnya. Walau itu suatu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tapi Lusi harus syukuri.


Ada perasaan sakit setiap kali melihat bayi perempuannya, tapi Lusi berkali-kali untuk tetap tegar bahwa ini memang sudah suatu takdir yang Lusi harus jalani dengan tulus dan ikhlas.


Lusi pun hanya bisa menarik napas panjang dan menghela napas yang terasa berat itu, jika yang lain sedang bahagianya memiliki dua anak. Berbeda dan lain lagi dengan Lusi yang merasakan hidup menjadi orang tua sendirian.


Terkadang dalam batin Lusi, Lusi merasa ingin seperti orang lain yang hidupnya penuh dengan kebahagiaan dan cinta.


Tapi Lusi tidak pernah merasakan hal itu lama, Lusi merasakan kebahagiaan itu sangat sebentar. Dan mungkin hanya air mata yang dapat mewakili luapan emosi Lusi yang dalam.


Dan siang hari itu Lusi pun merasakan sangat pegal memberikan asi pada Yasmin, karena Yasmin kalau minum asi dia sangat lama. Kalau dicabut pasti lansung nangis di kasih dot pun juga tidak mau.

__ADS_1


Lusi tidak tahu sifat seperti itu menurun dari bapak kandungnya atau Lusi..ah tapi entah lah.


Yang Lusi inginkan satu, Yasmin bisa menurun sifat baik pada bapaknya dan membuang sifat jelek dari bapaknya.


Lalu ibu tampak datang melihat Lusi yang meringis pegal pada badannya.


"Kenapa?" Tanya ibu.


"Pegel aja sih Bu, ini minta asi terus yasmin..pengen Lusi kasih sufor tapi-" kata Lusi yang tidak melanjutkan kata-katanya.


"Iya memang paling bagus itu asi, kalau sebagai orang tua memang seperti itu. Penuh perjuangan, apalagi kamu sendiri harus extra sabar" kata ibu, lalu ibu pun memegang pundak Lusi dan memijitnya.


"Eh gak usah Bu, jangan pijit aku Bu" tolak Lusi yang merasa tidak enak pada ibunya yang memijit badan Lusi.


"Gak apa-apa, sini ibu pijit biar leher kamu sama pundak kamu gak pegal" kata ibu yang memijit Lusi yang sedang menyusui yasmin.


"Gak bu, nanti juga pegelnya juga hilang sendiri"


"Hemm baiklah, makasih ya Bu. Ibu memang paling baik" kata Lusi yang akhirnya menyerah menerima pijatan dari ibunya.


"Kamu jadi melamar kerja" tanya ibu.


"Sudah Bu, sudah naro lamaran cuma belum ada panggilan" kata Lusi.


"Ya sabar aja"


"Iya Bu" ucap Lusi lagi.


Lalu tanpa terasa ada panggilan telepon masuk dan saat Lusi cek dari nomer yang tak ia kenali.


Lusi pun mengangkat sambil sedikit memiringkan kepalanya karena sambil menysui.

__ADS_1


"Ya Hallo Assalamualaikum" kata Lusi ditelpon.


"Selamat siang, apa benar ini dengan Lusi Amalia" kata seorang wanita ditelepon.


"Ya betul" jawab Lusi saat itu.


"Saya infokan untuk mba Lusi, besok ada panggilan interview di perusahaan Sakti Mentari jam 1 siang bertemu dengan pak Pandu ya" jelasnya ditelepon.


"Serius"


"Iya kehadirannya ditunggu besok siang ya, jangan sampai telat"


"Baik saya akan datang dan tidak akan telat" Lusi pun menjawab dengan rasa senang dan menutup telpon.


Ibu pun melihat senyum dibibir Lusi yang penuh dengan tanda tanya.


"Kenapa?" Tanya ibu mengerutkan kening.


"Lusi senang ibu, besok ada panggilan kerja" kata Lusi senang sambil memegang tangan ibunya.


"Akhirnya ada juga panggilan satu Alhamdulillah" kata Lusi bahagia.


"Alhamdulillah, semoga lulus ya kamu bisa diterima" kata ibu sembari tersenyum bahagia.


"Ya bu amin"


Lusi pun terlihat tersenyum senang dengan panggilan telepon itu. Padahal dia baru mau diinterview tapi Lusi sudah senang sekali.


Dan Lusi berharap bahwa itu adalah awal yang baik dan bisa diterima diperusahaan itu.


Karena Lusi sudah tidak bisa mengandalkan uang dari ibu terus.

__ADS_1


__ADS_2