
Lalu setelah menunggu waktu kurang lebih hampir dua jam lamanya, operasi pada bagian kepala Rian yang akibat kecelakaan kemarin pun selesai. Suaminya masih belum sadar saat itu, kata dokter jika suami nya sudah sadar nanti pihak keluarga boleh masuk untuk menemuinya.
Seketika saat itu terlihat Lusi yang duduk sembari memangku putranya. Ayahnya pun bertanya pada Lusi apa yang terjadi pada dirinya sehingga dirinya mengalami hal yang tak terduga yaitu memar-memar, kaki patah, dan tangan terbalut perban.
"Kamu kenapa?" Tanya Ayah menyoroti wajah Lusi dari atas hingga kebawah.
Suasana saat itu masih tampak dirumah sakit.
"Abis kena musibah" jawab Lusi singkat.
"Musibah apa? Bencana alam?" Tanya ayah Lusi.
"Bukan, habis di kejar-kejar orang gak dikenal. Eh maksudnya Lusi kenal sih tapi gak kenal banget" jawab Lusi.
"Bu gendong Fabio dulu di pangkuan Lusi. Ayah ingin tahu Lusi kenapa?" Ucap Ayah Lusi memerintah agar Fabio digendong dengan neneknya.
"Sini, sama nenek dulu ya sayang" kata ibu Lusi mengambil cucunya.
Ayah pun memandang Lusi dengan tajam.
"Lusi Ayah mau tanya kamu kenapa?" Tanya Ayahnya melihat ke arah Lusi.
Lusi pun takut jika harus menceritakan semuanya kepada Ayahnya, pasal nya Lusi tahu sifat asli Ayahnya nanti ujung-ujungnya Lusi juga yang akan kena marah Ayah. Karena Lusi tahu sifat sang Ayah yang keras dan tidak mau putrinya melakukan kesalahan sedikit saja. Namun kali ini Ayah tidak mau jika Lusi tidak cerita masalah serius seperti ini.
"Lusi kamu kenapa?" Tanya Ayah dengan sorot mata tajam.
"Mmmm"
"Ceritakan!!!" Pinta Ayah tegas.
"Baiklah Lusi cerita, Lusi.. habis duel sama orang yang mau?"
"Mau apa?"
"Menodai Lusi ayah"
"Lagi? Kamu dinodai lagi. Sama siapa?!" Ucap Ayah dengan nada meninggi.
"Emm ada orang bukan siapa-siapa? Lusi juga gak kenal dia siapa soalnya baru kenal"
__ADS_1
"Kamu baru kenal sudah diajak pergi?" Tanya ayah menyoroti Lusi dengan tatapan tajam.
"I-iya tapi dia mengaku teman kerja Rian yah dan aku gak tahu kalau dia jahat" ucap Lusi takut melihat Ayah.
"Kalau seandainya dia mengaku juga jadi adiknya Rian kamu percaya. Lusi kamu itu benar-benar Ayah gak habis pikir" ucap ayah marah.
"Ma-maaf yah, Lusi benar-benar gak tahu" ucap Lusi merasa bersalah.
"Sudah tua, bukan anak kecil lagi Lusi!!! Gak bisa mikir apa? itu orang baik, apa nggak. Jahat apa nggak, masih kamu tertipu percuma kamu sekolah tinggi!!"
"Lusi benar-benar gak tahu" ucap Lusi menunduk menahan tangis
"Dimana kamu saat kejadian?" Tanya ayah.
"Lampung" jawab Lusi.
"Ngapain kamu kesana!!!" ucap ayah dengan mata membulat "Gak sekalian kamu gak usah pulang"
"Lusi kamu kalau mau pergi kemana-mana harus jelas" kata ayahnya.
"Karena aku ingin menyusul Rian. Rian memang sebelumnya dirawat di sana, aku gak tahu akan akan kejadian seperti ini aku tidak tahu hal ini akan terjadi. Tapi untungnya ada yang menolong aku"
"Gery"
Lusi pun didekati oleh Ayah, dan Ayahnya pun sudah tahu jika Lusi itu sebenernya cerdas dan juga pintar.
Itu terbukti Lusi selalu menjadi kebanggan, Lusi selalu juara kelas dan selalu mendapat beasiswa Namun sayang kehidupannya tak seindah dan semulus itu.
"Kalau ada apa-apa mau pergi kemana beri tahu, mungkin memang kamu panik karena suami mu sakit. Tapi telepon dulu orang rumah, telepon Ayah atau ibumu. Siapa tahu kami kan bisa bantu menemani kamu. Jangan main jalan sendiri!!" ucap Ayah
"Iya Lusi minta maaf" ucap Lusi.
"Lusi kamu ini harus bisa menjaga diri kamu sendiri, untung kamu bisa pulang walau keadaan kamu seperti ini. Ayah gak bisa bayangin kalau kamu pulang hanya tinggal nama saja"
Lusi pun masih tampak menahan air matanya.
"Dan kamu Ingat juga, kamu pernah gila karena kasus yang sama. Apakah kamu mau mengalami trauma lagi terus menerus dalam hidup kamu, kamu jadi orang gila lagi!!!"
Lusi pun menangis tak kuasa mendengar ucapan Ayahnya yang marah.
__ADS_1
"Apakah kamu mau jadi seperti itu, anak kamu kasihan dia masih kecil. Kalau kamu gangguan mental nanti cucu Ayah kamu rawat dengan cara apa. Masa iya cucu Ayah dirawat dengan ibu yang mengalami gangguan psikis atau hal nya kamu gangguan mental lagi"
Seketika Lusi pun tampak menjatuhkan air matanya, ia pun tak kuasa menahan air matanya dan langsung menangis, mendengar ucapan sang ayahnya yang membahas dirinya dimasa lalu. Seolah Lusi yang pernah mengalami gangguan jiwa itu seperti aib dalam keluarga yang akan kembali lagi dan seolah itu merupaka sebuah ancaman untuk dirinya dan putranya.
"Hiks hiks hiks" Lusi tampak menangis.
"Ayah sudah, ayah membuat Lusi menangis" kata ibu.
Lusi pun tak kuasa menahan air matanya, ia pun tampak menangis mendengar ucapan ayahnya yang terasa menusuk didalam hati Lusi paling dalam.
Lusi pun hanya bisa menangis. Sedangkan Renata saat itu memang sudah pergi saat dirinya debat dengan ayah Lusi.
Lusi pun hanya tampak menangis dan merasa bersalah dengan apa yang menimpa dirinya. Ibunya pun tampak mengelus pundak Lusi, Lusi pun mengusap air matanya dengan selimut yang ia bawa daritadi.
Tak lama Rian pun sadar dan memanggil nama istrinya itu.
Dokter pun menyuruh Lusi untuk menemui Rian.
Lusi pun langsung menghapus air matanya, ia pun bersiap untuk menemui suaminya dengan kursi roda yang ia pakai.
Terlihat Rian yang masih sadar itu namun masih belum pulih seratus persen dan melihat ke arah istrinya. Tampak semua alat medis terpasang didalam tubuh Rian. Kepala Rian masih diperban.
"Lu-lusi ini kamu kan" tanya Rian.
Lusi pun mengangguk sambil memegang tangan Rian.
"Kamu kenapa?" Tanya Rian yang bingung melihat wajah Lusi tampak memar dan menangis.
"Tidak apa-apa, aku baik"
Tak kuasa Lusi pun menangis sambil memeluk suaminya, ia memang ingin memeluk suaminya saat ini erat. Disamping ia rindu, ia juga ingin menumpahkan air mata dihadapan suaminya. Lusi tak ingin banyak bicara yang menimpa tentang dirinya didepan Rian. Rian tak perlu tahu, yang Lusi ingin kan saat ini adalah Rian kembali sehat dan pulih kembali.
Namun mata Rian tetap tak bisa dibohongi, Rian merasa kalau Lusi sedang tidak baik-baik saja. Apalagi Lusi memakai kursi roda.
"Kaki kamu kenapa, kenapa kamu pakai kursi roda" tanya Rian.
"Gak apa-apa, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu pikirkan kan aku" ucap Lusi membelai kepala suaminya.
Hati Rian pun sakit sebetulnya melihat Lusi yang lagi-lagi berusaha mengatakan semuanya baik-baik saja, padahal Rian tahu kalau Lusi hanya berusaha semuanya baik-baik saja.
__ADS_1