
Hidup itu bak sebuah perjalanan panjang yang tidak tahu kemana kita akan menepi, tak pernah tahu kemana arah dan tujuan yang pasti.
Terkadang sebagai manusia mungkin kita lelah untuk melangkah kan kaki, bertahan hidup didalam duka dan kehidupan yang pahit.
Tapi setiap apa yang menjadi beban dan setiap apa yang menjadi tangisan. Percayalah suatu saat kita akan menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.
Terlihat Lusi yang kini duduk diatas kursi sambil memandang suaminya yang terbaring tak berdaya, bulir tiap bulir air mata terjatuh membasahi pipi. Mungkin air mata adalah tanda kelemahan, namun setiap apa yang dirasakan paling tidak sedikit berkurang dengan menumpahkan semua segala kesedihan.
Kuat..
sesungguhnya Lusi sudah berusaha untuk kuat mengahadapi setiap ujian dan masalah yang menerjang, hanya saja Lusi merasa dirinya manusia biasa yang akan menangis juga jika ditimpa sebuah cobaan dan masalah yang berat.
Saat itu Lusi hanya bisa tertidur diatas kursi ukuran kecil untuk menopang tubuhnya. Lusi tidak peduli asalkan saat ini ia mampu menemani sang suami yang terbaring lemah. Ia berharap suaminya akan kembali sembuh dan pulih seperti sedia kala.
Seorang suster datang membawa selembar kertas, dengan langkah kaki yang perlahan namun pasti ia memberikan sebuah kertas. Bahwa ada tagihan yang harus Lusi bayar karena dana tesebut tidak dicover oleh pihak asuransi yang dimiliki oleh tempat kerja suaminya, dana claimnya tidak seratus persen, hanya 75 persen saja untuk biaya operasi yang sudah dilakukan pada kaki Rian. (Ceritanya tidak ada BPJS) dan sisa dari kurangnya operasi itu sebesar 25.000.000 Lusi pun tampak kaget dengan tagihan yang dana nya begitu besar. Sedangkan ia jauh dari Jakarta hanya membawa uang 2 juta, itu pun belum termasuk ongkos untuk makan dan pulang ke Jakarta.
Hati dan batin Lusi pun perih disaat dirinya ditemui hal sesulit ini. Ia pun tampak menahan air matanya yang tak terasa menetes padahal ia sudah berusaha untuk menahannya berkali-kali.
Mengapa semahal ini, aku harus mencari uang kemana lagi. Sedangkan masih banyak mungkin biaya yang dikeluarkan setelah ini. Lusi pun menyeka Air matanya berkali-kali.
"Ibu, bapak harus segara di operasi dan dana yang tercover nanti adalah 50persen saja untuk operasi bagian kepala. Sisa yang harus dibayarkan 50 persen itu 50 juta dan ditambah operasi kaki yang belum terbayar adalah 25.000.0000 kalau di total adalah 75.000.000. yang harus ibu dibayar" ucap suster itu menjelaskan.
"Sus karena kalau kaki ini sudah terlanjur dioperasi saya akan mengusahakan pembayarannya. Tapi kalau yang 50.000.0000 untuk pembayaran operasi pada bagian kepala jujur saya tidak sanggup membayar sebanyak itu" jawab Lusi sedih.
"Tapi kalau tidak dioperasi kemungkinan besar pak Rian akan mengalami koma yang lama dan mungkin tidak bisa bertahan untuk hidup" kata suster lagi.
"Ya saya akan usahakan untuk itu, cuma untuk saat ini saya belum ada uang, saya hanya memiliki uang dua juta saja, dan belum termasuk untuk ongkos pulang"
Lusi pun tampak tertatih berjalan sembari menangis.
Dalam lamunan nya ia pun tampak sedih yang begitu teramat mendalam yang begitu terasa.
.
__ADS_1
.
.
Sementara itu terlihat Gery yang kembali ke Jakarta setelah ia dari Semarang. Hingga saat ini ia pun masih belum mau menyentuh wanita yang menjadi istri sah nya itu.
Liana pun heran sebenarnya, apa yang dialami suaminya? apakah ia normal atau tidak?
Dan sementara yang paling dirasakan di hati Gery adalah tentang keadaan Lusi saat ini, ia mengkhawatirkan kondisi Lusi.
Gery pun mencoba menghubungi Lusi namun tampak nya sulit, karena Lusi sulit untuk dihubungi. Lalu Lusi pun menelpon Renata ibu mertuanya namun tidak di angkat sampai Liana heran melihat Gery yang tak bisa diam menelpon berkali-kali.
"Apa yang sedang kamu lakukan" tanya Liana
"Bukan urusan mu" jawab Gery ketus.
"Aku ini istrimu bisakah kamu lebih menghargai ku" ucap Liana marah.
"Bahkan sehabis pernikahan kita kemarin kamu belum sekalipun menyentuh ku" kata Liana.
"Kamu memang sudah ku nikahi tapi bukan berarti kamu bisa mencampuri segala urusan ku. Termasuk menyentuh mu aku tidak" ucap Gery beranjak pergi.
"Kamu mau kemana?"
"Sudah ku bilang bukan urusan mu" Gery kesal dan pergi.
Gery pun tampak membawa mobil dengan cepat, ia cemas dengan keadaan Lusi. Setelah Gery meniduri Lusi dan Lusi kembali ke Jakarta, Gery tak tahu lagi dengan keadaan Lusi terbaru. Entah mengapa hatinya tampak tak tenang dan ingin tahu bahwa Lusi sudah kembali dengan selamat di Jakarta.
Sampai dirumah Lusi, yang dikintorakan kecil itu, dari kejauhan tampak Renata yang sedang menggendong Fabio.
Lalu Lusi kemana? Batin Gery.
Dengan langkah kaki yang cepat Gery mendekati ibu mertuanya Lusi.
__ADS_1
"Pagi tante" sapa Gery.
"Oh nak Gery rupanya" kata Renata.
Gery pun tampak memberikan senyuman pada ibu mertuanya Lusi itu.
"Lusi kemana Bu? Apakah ada dirumah" tanya Gery
Seketika Renata pun tampak menangis menjatuhkan airmatanya. Mengingat Rian yang saat ini terbaring di rumah sakit.
"Rian kecelakaan" ucap Renata dengan suara lirih.
"Kecelakaan?" Tanya Gery kaget."Bagaimana bisa? sekarang Lusi dimana Bu?"
"Kecelakaan kerja diluar kota, dan sekarang Lusi sedang menyusul seuaminya"
"Menyusul? kemana?"tanya Gery.
"Ke Lampung" jawab Renata.
"Apa? Dengan siapa dia kesana?"
"Sendirian"
"Sendirian" Gery pun kaget saat mendengar ibu mertuanya bahwa Lusi pergi kesana sendirian.
Lusi yang terlalu polos dan mudah percaya kepada kebaikan orang lain itu membuat Gery was was dengan apa yang dikatakan Ibu mertuanya. Pasal nya Gery tak mau jika Lusi mengalami sesuatu hal buruk pada jika sendirian pergi apalagi itu tempat yang jauh. Karena Gery tahu jika Lusi memiliki sifat yang seperti apa. Lusi terlalu mudah menerima kebaikan orang lain dan terlalu mudah juga untuk dibohongi, Gery khawatir akan hal itu
"Mengapa ibu membiarkan Lusi berangkat sendirian kesana.. kenapa ibu gak telepon aku untuk memintai pertolongan sama aku Bu" kata Gery.
"Lusi tampak nekat jadi ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu tidak enak meminta pertolongan pada mu. Lusi pun juga seperti nya tidak mau minta tolong pada kamu nak Gery"
Lusi? kenapa kamu menyusul suami mu kesana, kenapa tidak menelpon ku dan meminta bantuan ku. Lusi.. kenapa kamu kesana sendirian. Aku akan menyusul mu kesana Lusi, ya aku akan menyusul mu.
__ADS_1