
Kita tinggal kan Tanisa dan Gavino kini kita berlanjut untuk ke cerita Lusi..
Sudah hampir satu Minggu, ya satu Minggu itu bukan waktu yang singkat bagi seorang istri di tinggalkan suami tanpa sebab hanya karena cemburu buta yang menganggap Lusi buka bukaan alias bertelanjang dada diruang kerja Gery itu. Dan itu sungguh sangat mengesalkan bagi Lusi.
Jika sifat kerasa Rian yang banting benda atau banting apapun itu membuat Lusi kesal. Ternyata cuek dan dinginya Rian pun berhasil membuat diri seolah geram dengan sifat Rian yang cuek bebek dan seolah tak peduli.
Ditambah lagi, ya ditambah lagi.. hingga saat ini Rian tampak tak memberi kabar sama sekali, bahkan putranya
tampak diceukin dan tak mau membuka mata dan hatinya sama sekali.
Padahal kalau dipikir-pikir secara naluri dan logika untuk apa Lusi membuka aurat dan bermain cinta pada pria yang sudah bersuami, jika ia mau ya sudah dari dulu saja. Dan semuanya itu hanyalah fitnah.
Ah entah ini akal-akalan Rian atau apa Lusi tampak tak tahu, namun Lusi pun enggan mencari perkara dan lebih banyak diam karena takut masalah akan semakin rumit dan panjang.
Saat pagi hari, Lusi masih tampak menggendong baby Fabio sendirian. Terlihat mama yang tampak pusing memikirkan perusahaan yang katanya sudah tak jaya lagi seperti dulu, dan banyak hotel dan resort milik mama Renata yang akan ditutup.
"Haduh heran deh" ucap mama Renata kesal.
"Heran kenapa ma?" Tanya Lusi.
"Dulu katanya harta mama gak akan habis tujuh turunan ini kenapa mau gulung tikar segala sih, pusing deh mama"
"Ya yang jadi pertanyaan saat itu apakah Mama yakin kalau mama bukan turunan ke delapan atau sembilan"
"Kamu bicara apa"
"Takutnya saat ke tujuh itu emang udah gak ada ma udah almarhum"
"Iya juga sih, tapi mama nih udah sudah berusaha tapi tetap ada aja yang buat bisnis ini hancur padahal dulu gak pernah begini"
"Iya sih, ma"
"Terus gimana tuh"
"Apanya?"
"Nikahan Liana sama Gery" ucap mama yang tahu-tahu membahasa pernikahan Gery.
"Ya gak tahu Ma yang mau nikah mereka yang adain acara mereka kenapa tanya ke aku"
"Ya wajar lah mama nanya, emang salah mama nanya"
"Gak sih, cuma satu kata yang harus mama tahu"
"Apa"
"Ribet!!!, mereka pasangan yang ribet. Masa gak boleh ada warna pink diacara nya. Mah ini kan acara nikahan bukan konser anak metal..nanti aku kasih item semua komplen" keluh Lusi
"Kamu iya iyain aja deh yang penting sah nikahnya. Daripada nanti tuh anak lahir gak ada bapaknya"
"Cari bapak yang lain mah. Masih banyak bapak-bapak yang lain"
"Bapak siapa? Bapak kamu" ucap Renata asal.
"Ya ampun tega banget, janganlah nanti ibu aku dimadu"
"Yaudah makanya cepatin tuh dia nikah jangan jangan Gery mau lepas tanggung jawab"
"Iya ma ini udah diusahain, aduh aku ribet banget sih ma ngurusin urusan nikahan anak orang, urusan aku sama Rian yang lagi ngambek aja belum selsai"
"Iya udah kamu selesaiin"
"Udah tapi dia masih aja cuek"
"Hem itu anak, gede ambeg terus gak sadar udah jadi bapak"
"Bener itu mah"
Lalu tak lama Lusi pun menerima panggilan telepon dan benar saja itu tampak dari seorang pria dan itu Gery, yang memang sedang membicarakan masalah nikahnya.
Lusi pun sambil menggendong putranya mengangkat telepon dari Gery.
__ADS_1
"Ada apa lagi sih, gak tahu orang lagi galau" kata Lusi.
"Penting"
"Ngapain?"
"Bantuin pilihan undangan"
"Undangan rapat"
"Serius?"
"Undangan nikah lah"
"Terus urusanya apa"
"Cepet kesini Maemunah jangan banyak tanya, lu mau gue gak jadi kawinin sepupunya Rian"
"Siap kesana"
Lusi kalau masalah urusan Liana, memang benar kini menjadi urusannya. Nanti kalau batal dan tidak jadi itu juga menjadi urusan nya. Kalau dipikir-pikir repot juga urusan nikahan Gery dan Liana. Bak cerita seribu satu malam gak habis-habis.
"Ma ini ada panggilan dari Gery" kata Lusi.
"Ngapain?"
"Ya itu membahas yang itu-itu aja"
"Masalah nikahan"
"Iya"
"Yaudah cepet sana, biar Liana buru-buru deh dikawinin"
"Nikahin ma, nikahin bukan kawinin"
"Yasudah iya"
Dengan perjalan yang tampak perlahan namun pasti itu, kini Lusi sampailah dirumah besar milik keluarga David. Sebenarnya Lusi males sekali ke rumah mereka karena anak sama bapak ini sama-sama ngeselin.
Lusi pun menekan bel dan benar saja yang membuka kan pintu malah si David. Yang tampak senang melihat kedatangan Lusi.
Dengan senyum sumringah David tampak tersenyum melihat wanita dihadapannya kini.
"Eh siapa ini yang datang, eh ternyata si pucuk" tanya David.
"Pucuk, pucuk apa pak" kata Lusi
"Pucuk dicinta pulan pun tiba"
"Assalamualaikum" ucap Lusi yang malah memberikan salam
"Walaikum salam" jawab David. "Heheh kalau salam tuh daritadi bukan baru sekarang"
"Lupa"
"Kamu kesini mau ngapain ketemu Juna" tanya David.
"Jangan fitnah pak"
"Terus?"
"Ketemu Gery" jawab Lusi.
"Lusi?"
"Apa?"
"Aku gak nyangka kamu hiper juga jadi perempuan, suami orang kamu ambil juga emang kamu kurang ya satu pria" bisik David kode keras.
"Maksudnya bapak apa?"
__ADS_1
"Kalau kamu mau saya bisa bantu kamu bantuin keluarin hasrat kamu boleh"
"Ya ampun"
"Saya tahu loh kamu gak pakai baju waktu di kantor Gery, aku gak nyangka kamu semurah itu"
"Pak kalau ngomong jangan sembarangan"
"Saya lihat langsung kok"
Lusi pun tampak terdiam tak meladeni lagi. Sepertinya lelah sekali ngbrol sama pria tua ini. Kalau bukan papanya Marisa seperti nya malas sekali meladeni.
Lalu Lusi pun akhirnya memilih duduk didepan teras rumah itu saja, dan Lusi pun memberikan pesan singkat untuk Gery. Bahwa dirinya telah sampai. Lalu Gery pun keluar dari rumah nya itu.
"Kenapa gak didalem" tanya Gery.
"Diluar aja"
"Didalem sudah ada undangan ini. Kamu catetin satu persatu"
"Catatin undangan juga" ucap Lusi heran kenapa dirinya yang mencatat hal sesepele itu.
"Iya"
Lusi pun tampak menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gery.
"Nanti aku akan kerjakan dirumah" kata Lusi.
"Jangan.. disini aja, aku mau pastiin kerjaan kamu benar. Gak ada yang salah"
Lalu Lusi pun masuk dengan wajah cemberut suka tak suka akhirnya dia mau mengerjakan tulis undangan yang ternyata total tamu ada 500 orang.
"Ini bener aku yang kerjain 500 nama ini, pegel dah ini tangan kerjain banyak banget" kata Lusi.
"Cepet"
"Hah yaudahlah" ucap Lusi menyerah dan akhirnya masuk dan duduk juga menulis nama satu persatu itu.
"Ingat gelar jangan sampai salah, jangan sampai pak haji Muin gak pakai kamu tulis hajinya, Nanti dia ngamuk, sama gelar sarjana juga kamu tulis"
"Yaudah nih kamu aja yang nulis biar gak salah" ucap Lusi kesal.
"Gak lah ini kan tugas kamu"
"Sial"
Lalu Lusi pun menulis surat undangan yang sudah disiapkan itu. Sementara itu Gery tampak pergi sebentar.
"Tinggal ya sebentar mau cari yang bisa dimakan"
"Terserah mau setahun juga gak apa-apa"
Lusi pun tampak membaca surat undangan itu yang tertulis bahwa nikahnya sebulan lagi. Lusi pun tersenyum melihat itu karena ia senang akhirnya Gery menikah juga dan itu artinya dirinya sudah tak lagi menjadi incaran Gery yang menyebalkan itu.
Lusi pun memulai menulis nama satu persatu diatas undangan 500 nama dengan tangannya, sendirian.
Yang Lusi tahu Gery kalau tidak salah akan mengundang 1000 undangan dan ini baru 500.
Saat mengerjakan Lusi pun sesekali tampak mengantuk. Karena terlalu banyak dan bikin mengantuk Lusi pun tak sengaja tertidur dimeja itu.
Lalu saat Gery kembali membawa teh dan cemilan Gery kaget Lusi malah tertidur.
Gery yang tak sengaja melihat Lusi tertidur itu pun tampak tersenyum melihat wajah Lusi yang cantik dan anggun.
Rambut Lusi pun tampak dibelai lembut oleh Gery yang kini dihadpannya itu.
Sebenarnya Gery tampak ingin mencium pipi atau mungkin bibir dari wanita dihadapannya itu namun ia menahannya karena ia takut kalau Lusi sampai terbangun. Namun disela-sela Gery tampak tak sengaja melihat baju Lusi yang terlihat terbuka dibagian dada, Gery pun tampak memandang bentukan dari buah dada Lusi yang tampak sedikit menyembul itu. Dan hanya melihat belahan dua gunung kembar itu Gery tampak menengang dan ada sesuatu yang naik dari dirinya yaitu bagian bawah.
"Ah sial baru melihatnya seperti itu aja aku udah bangun, siaaaaallll" kata Gery.
Lalu Gery pun bangun dari kursinya dan ia langsung mengambil selimut untuk menutupi tubuh seluruh tubuh Lusi yang tampak tertidur itu
__ADS_1
Ya kalo biasa Gery sering mengambil kesempatan dalam kesempitan namun kali ini ia tampak lain. Mungkin ia merasa kasihan dan iba.