
Kini kembali pada diri Tanisa yang harus siap tak siap terima tak terima pergi mengikuti Deon melangkah. Sekalipun itu tak Tanisa sukai. Namun kehidupan memang sudah teramat diatur oleh pria yang bernama Deon. Pria tua yang bertubuh kekar dan sangat perkasa itu.
Kini Tanisa, Deon dan Leon melanjutkan lagi perjanalan menuju rumah. Ya, bukan rumah Tanisa melainkan rumah keluarga besar Deon. Tanisa tampak tak tahu apakah dirinya akan diterima baik atau sebaliknya.
Namun jauh dari itu, terlihat Tanisa yang masih tampak terdiam. Didalam perjalan itu, Tanisa tampak terdiam mengingat bentakan Deon yang begitu sangat keras dan kasar. Sangatlah menyakiti hati dan batin Tanisa.
Leon selaku putra dari Deon, entah mengapa seolah iba melihat Tanisa. Leon melihat diri Tanisa yang tampak ingin menangis dan semua nya tampak ia tahan. Dan mungkin Leon sebenernya ingin menenangkan wanita yang sedang merasakan sakit dalam batin. Namun ia mengurungkan niat karena gengsi pada wanita yang sudah ia tampar bolak balik dan ia pukuli itu.
Lalu tak lama mereka sampai pada rumah yang cukup besar. Tanisa belum pernah sekalipun memijaki kakinya dirumah yang besar dan mewah. Kalaupun pernah Tanisa hanya melihatnya ditv dan sekilas lewat. Namun ini benar sangat besar dan mewah. Rumah yang begitu luas bak istana. Ya ini lebih seperti istana dibanding rumah.
Lalu tampak Deon memegang tangan Tanisa untuk masuk ke dalam rumah besar itu. Ada perasaan gugup dan takut. Apalagi mengingat dirinya hanya apa. Wanita murahan yang datang-datang membawa berita buruk tentang kehamilannya.
Dengan langkah yang tegang dan canggung, Tanisa pun masuk.
Tanisa tampak seperti pembantu baru yang melamar kerja di rumah besar itu tampak tertunduk dan enggan dilihat atau melihat orang lain.
Tiba-tiba seorang wanita datang mempersilahkan masuk dan duduk.
"Silahkan masuk" ucap Wanita itu.
"Baik nyonya, terimakasih. Ini istri bapak" tanya Tanisa.
"Bukan itu pembantu saya" jawab Deon memijat keningnya.
"Eh"
Leon pun sekilas malah tertawa melihat Tanisa yang menyalah artikan. Yang ia kira bahwa wanita itu adalah istri dari papanya. Padahal hanyalah seorang asisten rumah tangga.
__ADS_1
Lalu Tanisa pun tampak duduk di sofa yang super empuk dan mewah. Sepertinya sofa ini mungkin sangat mahal jika dibanding dengan benda berharga milik Tanisa. Dalam hidup Tanisa tak pernah membeli barang berharga. Yang ia punya hanya pemberian dari Deon itu saja. Yang mungkin harganya mahal.
Dalam hidup Tanisa yang hidup serba kekurangan. Barang termahal nya mungkin hanya harga diri saja. Tapi ternyata harga diri pun sudah dijual. Kini Tanisa hanya punya cinta walau cinta juga sudah tergadaikan dengan keadaan. Ya itu sungguh menyedihkan dan sangat lah rumit.
Dan kini Tanisa sudah duduk dan asisten rumah tangga itu tampak memberikan minum juga pada Tanisa, Leon dan Deon.
Tansisa pun tidak berani menyentuh dulu, tak enak hati sekalipun ia haus saat itu. Lalu Tanisa pun tampak duduk sambil memandang disekitar nya sekali lagi. Melihat benda berharga dan mewah yang tampak dirumah itu.
Tibalah seorang wanita datang dengan dandan yang begitu terlihat mencolok. Wanita itu terlihat sudah berumur juga. Sepertinya lebih tua dari Deon, dan Tanisa yakin bahwa itu adalah istri dari Deon.
"Perkenalkan ini Tanisa" ucap Deon pada istrinya.
"Dan istri saya namanya Jihan"
"Nama saya Tanisa. Senang kenalan dengan Tante. Eh ibu. Eh nyonya" ucap Tanisa memegang tangan Jihan dan mencium tangannya. Tanisa tampak gelagapan dengan nama panggilan yang pas untuk wanita dihadpannya.
"Jadi ada apa dengan kedatangan mu kesini" tanya Jihan.
"Biar aku yang menjelaskan ma" kata Leon.
"Jangan biar papa saja" sahut Deon.
"Jadi Tanisa ini sedang hamil"
"Apa?!!!!!"
Seketika Jihan langsung membulatkan mata kaget dengan apa yang disampaikan oleh Deon.
__ADS_1
"Jadi wanita ini hamil bagaimana bisa? Mama tidak menyangka pada mu Leon" kata Mama terlihat kaget.
Sontak Tanisa pun kaget saat nama Leon yang disebut sementara dirinya bukan hamil anak Leon.
"Ah bukan begitu ma, tapi" ucap Leon.
"Tapi apa?" Bentak mama. "Saya ingin tahu kamu, apakah kamu dari keluarga terpandang. Ayah dan ibu mu kerja apa? Dari mana kamu berasal? Dan kamu tinggal dimana? Saya ingin tahu bebet, bibit, wanita ini sebelum menikah dengan kamu Leon"
"Sebentar Mak gak gitu ceritanya" ucap Leon.
"Kenapa? Hah... sekali pun wanita ini miskin. Tapi kamu harus tetap bertanggung jawab tapi mama gak mau ya kamu nikah sama gadis biasa" kata mama sarkas.
"Tapi gak gitu ma" ucap Leon sekali lagi.
"Tanisa bukan hamil anak Leon tapi hamil anakku" kata Deon langsung.
Deg...
Lalu dengan cepat Tanisa pun ditampar oleh Jihan.
PLAAAAKKK....
Dan langsung menampar Deon juga.
"Beraninya kamu!!! Surat cerai saja tidak ada. Berani nya kamu" ucap Jihan kesal dan langsung pergi.
Hati Tanisa seolah terobrak Abrik dengan tamparan Jihan. Namun Tanisa sadar mana ada wanita yang terima saat ia tahu suaminya memiliki selingkuhan dan menghamil wanita lain.
__ADS_1