Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Ingin jujur tapi sulit


__ADS_3

Setelah tertidur pulas dalam suasana indah didalam hati, Gery yang niat cuma pura-pura tidur itu pun benar-benar ketiduran sampai di bandara. Lusi pun tampak kesulitan rupanya bangunin Gery yang ternyata kalau tidur lumayan kebo.


"Bangun" ucap Lusi sekali membangunkan.


"Bangun" ucap Lusi ke dua kali masih tak bangun.


Hingga yang ke tiga kalinya.


"Bangun" barulah Gery tampak bangun.


Gery pun tampak linglung saat bangun.


"Bisa-bisanya aku ketiduran" ucap Gery menatap Lusi sambil tersenyum.


"Padahal tadinya aku mau kamu yang ketiduran eh malah aku yang ketiduran. Maaf ya bikin pundak kamu pegel" ucap Gery.


Lusi pun hanya diam seribu bahasa sambil menatap Gery yang seolah biasa saja sambil menggaruk kepalanya dan menguap beberapa kali.


"Akhirnya kita sampai juga ya" kata Gery.


Lalu Gery pun membantu Lusi untuk turun dengan di gendong Lusi sebenarnya enggan tapi Gery tampak tidak mau kalau Lusi jalan.


"Kamu aku gendong aja ya"


"Aku bisa jalan sendiri"


"Gak apa-apa badan aku masih kuat kok topang tubuh kamu" ucap Gery sambil tersenyum.


Gery pun langsung menggendong Lusi hingga turun dari tangga pesawat barulah Lusi pakai kursi roda yang ia pinjam dibandara.


"Setelah ini apa kamu mau langsung pulang" tanya Gery.


"Kita kerumah sakit dulu ya, aku mau jenguk suamiku" kata Lusi.


"Baiklah" jawab Gery.


Lalu mereka pun tidak langsung pulang yakni pergi ke sebuah rumah sakit bersama Gery, mereka pergi ke rumah sakit tempat Rian sedang dirawat itu saat ini.


Sepanjang perjalan Gery pun menatap Lusi sesekali.


Lusi pun merasa jika Gery memandang nya namun Lusi hanya tampak tidak mau memandang nya balik.


"Gery?"


"Ya?"


"Terimakasih, kamu sudah tolong aku sampai sejauh ini. Apa yang kamu bilang benar mungkin jika aku tidak ada kamu aku sudah jadi apa aku gak tahu" ucap Lusi.


"Ya sama-sama"


"Hanya saja aku bingung sama kamu"


"Bingung kenapa?"


"Satu sisi kamu baik namun satu sis kamu juga jahat. Aku bingung dengan sifat kamu seperti ini"


"Maukan, kita menjadi teman paling tidak untuk saat ini" ucap Gery. " Aku salah mungkin selama ini memperlakukan mu sesuka hati ku, karena aku memang mencintai mu. Namun sebenarnya aku ini?"


"Baik, baik kan kamu ingin mengatakan itu kan" kata Lusi.


"Iya sebenarnya aku baik, tapi untuk sebagian orang saja aku dianggap baik"


"Yaudah untuk saat ini kita temanan ya" kata Lusi.


"Ya gak apa-apa lah, paling tidak kalau teman itu artinya kita bisa saling dekat kan" kata Gery.


"Ya dekat secara sewajarnya dan hanya temen ingat hanya teman"

__ADS_1


"Oke"


Lalu merekapun turun dari mobil.


Apa yang Gery katakan perihal hubungan pertemanan yang terjalin sebenarnya hanya untuk menjadi alasan agar Lusi tidak membenci semua hal tentang Gery. Namun untuk perasaan Gery sama sekali belum bisa menghilangkan perasaan untuk Lusi saat ini.


Sesampainya dirumah sakit terlihat Lusi yang sedang menggunakan kursi dan didorong oleh Gery untuk sampai ke kamar inap suaminya.


Lusi pun tampak tak sabar untuk menemui suaminya itu untuk segera mengetahui kondisi nya terkini. Dan benar saat sampai disana, ternyata Rian sudah berada diruang operasi. Terlihat Renata yang sedang menunggu disana, dan ada juga Liana yang sudah disana.


Renata pun kaget keheranan melihat kondisi Lusi, ia memang tahu Lusi mengalami hal buruk. Namun tidak menyangka bahwa seburuk ini.


"Ya ampun, kamu sampai seperti ini" ucap Renata yang memegang wajah Lusi dengan kedua tangannya.


"Iya ma"


"Kan mama sudah bilang apa jangan kesana, kamu masih saja nekat, ya ampun Lusi untung kamu masih selamat dan beri pertolongan" ucap mama mertunya.


"Iya ma, ma berikan Fabio pada Lusi ma. Lusi kangen" ucap Lusi yang meminta Fabio ditaruh dipangkuan nya.


Lusi pun langsung memangku Fabio, Fabio pun juga tampak kangen pada ibunya.


"Mamamama" oceh Fabio dipangkuan sang mama.


Lusi pun tersenyum melihat Fabio yang berada dihadapannya kini. Fabio bayi yang berkulit putih yang tampan, gemuk dan menggemaskan dengan pakai baju kodok yang saat ini Lusi digendong membuat Lusi bahagia dapat bertemu kembali dengan putranya.


"mama caccacee ccuuu"


"Apa? Fabio kangen sama mama, mama pun sama Fabio" ucap Lusi memeluk putranya.


Namun ditengah kerinduan Lusi terhadap putranya terlihat Liana yang memandang Lusi dengan pandangan lain, yaitu tatapan kebencian.


Dengan mata memicing tajam dan terlihat kesal, Liana pun marah melihat Lusi yang pulang bersama suaminya yaitu Gery. Liana kecewa pada Lusi dan Gery karena dirinya yang baru saja menjadi pengantin baru, harus melihat suaminya pulang bersama wanita lain dari luar kota.


"Hebat banget kamu Lusi, hebat banget! pergi sama suami orang berduan begini. Lusi kamu jangan manfaat kan momen seperti ini, mentang-mentang suami kamu koma, kamu malah enak-enak berdua manja-manjaan sama suami orang. Ingat Lusi kamu itu masih punya suami, suami kamu masih hidup walaupun lagi sakit. Jangan serobot sembarangan suami orang gini dong!!!" ucap Liana marah dan main bicara panjang kali lebar tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Lusi pun hanya tampak terdiam dan fokus menggendong putranya menumpahkan seluruh rasa rindu pada putranya sambil memeluk tak peduli pada Liana yang berbicara ketus. Lusi tak ingin ribut dengan Liana apalagi kondisi Lusi yang terlihat babak belur seperti habis dihajar massa.


"Liana, kamu tidak boleh bicara seperti itu? Ini keinginan aku untuk datang kesana bukan permintaan Lusi" Kata Gery kesal pada Liana.


"Kalau memang iya, buat apa hah? Buat apa, kan bisa assiten pribadi kamu yang urus semuanya, tidak perlu kamu yang pergi jauh-jauh kesana. Gery ingat ya? Aku ini sedang hamil anak kamu, aku hamil anak kamu!! Harusnya kamu lebih perhatian ke aku bukannya ke wanita ini" ucap Liana marah sambil setengah berteriak pada Gery, padahal saat itu suasana masih menunggu Rian yang sedang operasi.


"Liana, masalah seperti ini kita bahas nanti di rumah bukan di rumah sakit, gak pantas kamu teriak-teriak" ucap Gery yang geram dengan istrinya.


"ohhh.. Aku jadi curiga, kamu abis ngapain aja sama Lusi, aku jadi curiga kalau Lusi ini memang wanita yang gak bisa jaga diri atau mungkin perebut suami orang" kata Liana dengan sorot mata yang tajam memandang Gery dan Lusi secara bergantian.


"Jaga ucapan kamu, Lusi itu wanita baik-baik. Lagi pula kamu buta ya, lihat keadaan Lusi sekarang seperti ini mana mungkin untuk melakukan hal itu. Tidak mungkin" jelas Gery.


Lalu Renata pun bingung harus bagaimana dengan kedua orang yang sedang sibuk adu mulut itu, pada akhir Renata meminta Gery untuk membawa pulang Liana. Karena Renata tahu melawan Liana atau membentak Liana akan malah tambah panjang.


"Gery bawalah pulang istri mu, kamu selesaikan dirumah tidak enak ramai dirumah sakit" perintah Renata pada Gery.


"Ya Tante" jawab Gery yang langsung menarik tangan istrinya keluar rumah sakit.


Lalu Gery pun menarik tangan Liana untuk pulang. Untuk menghindari keributan, Liana tampak tak mau namun akhir nya mau karena Gery menarik nya dengan memaksa.


"Liana kamu tahu kan kalau Rian dan Lusi itu saudara kamu, itu artinya mereka juga saudara aku apa aku salah membantu mereka yang sedang sulit, pakai hati kamu Liana" kata Gery.


"Hanya orang bodoh yang menganggap kalian tidak ada apa-apa, kamu pikir Gery. Kamu pikir sendiri!! Rian pulang duluan kesini, sementara kamu asik-asikan berduan disana sama Lusi. Pria dan wanita pergi bersama apa itu namanya kalau bukan selingkuh. pasti Lusi kan yang mencari cari alasan agar kamu menyusul nya" ucap Liana kesal.


"Bukan, itu memang keinginan aku untuk datang kesana"


"Halah alasan memang dasar Lusinya saja yang kegatelan" Liana kesal.


"Itu keinganan aku!! Terserah kamu percaya atau tidak, mau marah silahkan marah, aku sudah lelah debat dengan mu Liana"


Tiba-tiba perut Liana tampak kesakitan.

__ADS_1


"Haduh sakit perut aku" ucap Liana memegang perutnya.


"Kenapa? Kenapa perut kamu Liana?" Ucap Gery yang tadinya tampak membenci kini khawatir dengan kondisi Liana.


"Perutku sakit Gery"


"sabar ya aku akan membawa mu kedokter" ucap Gery yang masih menaruh rasa kasihan pada Liana, Gery pun menggendong Liana.


Lalu Gery membawanya langsung ke dokter. Kebetulan memang posisi mereka masih dirumah sakit.


Dokter pun langsung memeriksakan kondisi Liana saat itu, dokter mengatakan jika Liana stres dan kelelahan.


"Ibu Liana mengalami stres dan kelelahan, tolong selalu perhatikan aktivitas istrinya ya pak" ucap dokter perempuan itu menjelaskan.


"Saya akan usahakan" jawab Gery pelan.


"Baik pak, dijaga kandungannya menjelang trisemester ke tiga, jangan sampai stres ya pak"


"Ya Bu Dokter"


Lalu setelah diperiksakan kondisi kandungan Liana baik-baik saja hanya saja faktor kelelahan dan stres Gery pun merasa lega, karena sebenci apapun Gery pada Liana. Gery tak ingin bayi dalam kandungan Liana sampai kenapa-napa. Pasalnya sejahat apapun Liana saat ini, Gery merasa tidak mau kalau anak dalam kandungan Liana tidak baik-baik saja. Meskipun Gery tak mencintai Liana cuma Gery mau Liana dapat merawat bayi dalam kandungannya itu.


Sementara itu terlihat Lusi yang masih menunggu sang suami yang masih dalam operasi bagian kepalanya. Lusi berharap bahwa suaminya akan baik-baik saja, dan operasinya dilancarkan, Lusi pun teus berdoa.


Saat Lusi menunggu operasi itu, ayah dan ibunya Lusi menyusul ke rumah sakit. Ayah dan ibu sudah diberitahu oleh Renata soal Rian yang masuk rumah sakit. Hingga akhirnya mereka pun pergi menyusul untuk melihat kondisi Rian, terlebih lagi kondisi Lusi yang memang mengalami musibah mereka pun diberitahu meski tidak secara detail.


Ibu dari Lusi pun datang dan kaget melihat putrinya yang saat ini duduk dikursi roda dengan wajah memar-memar, tangan diperban dan wajah yang pucat.


"Ya Allah nak, anak ibu yang paling cantik kenapa bisa begini. Ini kamu abis ngapain jadi begini" ucap ibu yang memegang wajah Lusi lembut kaget dan tidak tahu apa-apa karena Lusi belum cerita detail. ibunya tak menyangka bahwa akan separah itu yang menimpa pada putrinya.


Lusi pun terdiam, tak ingin bicara dulu.


"Kamu pulang ya, ikut sama Ayah sama ibu. Kamu jadi sengsara hidup sama Rian" kata Ayahnya Lusi yang bicara secara tiba-tiba itu.


"Ayah, jangan bicara begitu. Ini musibah" kata Lusi menjelaskan.


"Ayah cuma gak mau anak perempuan papa yang papa sayangi menderita seperti ini, lebih baik kamu pulang setelah ini" ucap ayah pada Lusi.


"Ayah jangan bicara begitu, keadaan saat genting begini, lebih baik jangan ditambah dengan kata yang tidak enak didengar ayah" ucap ibu. Ibu pun langsung memeluk putrinya yang saat itu terdiam tak banyak bicara.


Ayah pun mengangguk, sesungguhnya ayah Lusi berbicara seperti itu karena ia merasa tak tega melihat putrinya yang menderita.


"Tapi kamu begini bukan di kdrt sama Rian kan" tanya Ayah yang malah menaruh curiga dengan Rian.


"Gak Ayah, nggak Rian baik sama Lusi. Yang aku alami saat ini memang karena musibah ayah" ucap Lusi memberi penjelasan.


"Ayah cuma gak mau saja"


Renata pun tampak tersungging dengan ucapan dari Ayahnya Lusi.


"Meskipun kehidupan kami miskin tapi kami tidak mungkin melakukan hal buruk itu pada Lusi" kata Renata.


"Namanya juga jaga-jaga wajar Bu Renata, saya tanya pada putri saya" kata Ayah Lusi.


Meskipun kehidupan Lusi banyak pahitnya daripada manisnya. Namun sebenernya Lusi adalah anak kesayangan kedua orang tuanya. Yaitu Ayah dan ibunya. Mereka tak ingin jika anak perempuan yang selalu disayang itu menderita apalagi tersakiti.


Dan memang Renata dan ayahnya Lusi selalu tak pernah akur bila bertemu.


Lalu setelah itu Gery pun ingin kembali menemui Lusi secara diam-diam. Saat itu Liana ijin ke toilet.


Gery belum sempat menemui Lusi, tapi Gery tiba-tiba melihat dari kejauhan ayah dan ibu dari Lusi yang sedang menemui Lusi. Lusi pun dipeluk erat oleh sang Ibu. Dan terlihat juga sang Ayah yang sedang mengelus pundak putrinya.


Entah mengapa ada perasan tak enak hati dan bersalah yang sulit diungkapkan. Gery teringat akan dirinya yang sudah meniduri putri kesayangan mereka yaitu Lusi. Dan membuat Gery merasa bersalah. Mungkin mereka tidak tahu akan hal itu, tapi perasaan Gery seolah menjadi beban dan merasa tak enak hati, perasaan bersalah Gery membuat Gery merasa berat untuk menemui kedua orang tua Lusi saat ini.


Gery pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk menemui Lusi. lebih tepatnya tidak siap untuk menemui kedua orang tua Lusi, akhirnya Gery memilih untuk pulang..


Selama perjalanan..

__ADS_1


Gery masih memikirkan wanita yang bukan istrinya itu, semua hal tentang Lusi selalu ia pikirkan.


Termasuk perasaan bersalah yang ia hanya dapat simpan sendiri didalam hati. Ada rasa yang sebenarnya Gery ingin katakan bahwa dirinya pernah meniduri Lusi. Namun sulit berat dan tak mungkin....


__ADS_2