
Lain Tanisa, lain pula dengan Lusi.
Akibat dari semua yang terjadi dikantor Gery yang melibatkan dirinya, dan itu mampu menimbulkan fitnah antara Juna dan Lusi.
Lusi pun tampak menunggu suaminya yang pergi karena marah, tentang Lusi yang berduaan di ruangan dengan Juna. Padahal sungguh itu luar dugaan diantara keduanya.
Terlihat Lusi yang mondar-mandir kesana kemari menunggu suaminya pulang. Malam itu tampak hujan deras waktu pun sudah menunjukkan pukul 12.00 malam namun Rian tak kunjung kembali.
Handphone nya pun tampak Rian matikan sehingga Lusi tak bisa menghubungi Rian sama sekali saat itu.
Lusi pun terlihat cemas dan sangat khawatir sambil melihat ke arah dari jendela, apalagi hujan itu tampak deras serta petir yang menyambar-nyambar.
"Haduh Rian kamu kemana sih, ini hujan deras banget kamu kemana sih" ucap Lusi tampak khawatir, Lusi pun tampak tak bisa tidur malam itu karena Rian yang tak pulang.
Lalu Renata pun turun dari kamarnya dan melihat menantunya yang sedang gelisah dan cemas.
"Kamu kenapa?"tanya Renata, menatap Lusi dengan tatapan tak biasa.
"Ini ma, Rian belum pulang. Aku takut dia kenapa-kenapa deh ma dijalan, mana hujannya deras banget banyak petir seperti ini ma aku takut" ucap Lusi khawatir.
"Tapi tadi mama lihat dia sudah pulang dan mama juga lihat mobilnya. Dia kemana lagi sekarang?"
"Nah itu dia, aku gak tahu ma. Tadi emang sih dia udah pulang terus pergi lagi" kata Lusi.
__ADS_1
"Makanya Lusi kamu itu jadi istri kasih service ke suami yang bener, jangan asal-asalan sekarang kalau dipergi ya itu kesalahan kamu" ucap Renata dengan nada sinis.
"Kok mama ngomongnya begitu" Lusi tampak kecewa dengan apa yang diucapkan mama mertuanya itu.
"Iya mama bicara ini biar rumah tangga kamu juga langgeng, mama kasih tahu ya. Rian itu nafsunya besar persis seperti alamarhum papanya, kalau kamu seperti ini terus bagaimana bisa memepertanhankan rumah tangga. Kalau bisa dalam servive suami kaki dikepala, kepala dikaki ya kamu lakuin lah. Jangan cuma mau uangnya doang" ucap Renata yang semakin menambahkan kata-kata diluar dugaan.
"Ya ampun apa sih mama, ngomong nya suka kemana-mana. Aku sih udah nafsu banget kalau sama Rian, udah kasih semua yang dia mau. Tapi ya ini perkara lain ma"
"Perkara apa? Rian kalau udah marah susah loh didieminnya" ungkap mama yang malah membuat hati Lusi semakin panas dingin.
"Iya ma panjang lah ceritanya ma, aku dituduh selingkuh ma sama Rian . Padahal kan enggak" kata Lusi.
"Makanya Lusi jadi perempuan jangan gampangan, kamu disuruh ini mau itu mau aja disuruh orang. Mauan sih kamu, tobat Lusi udah punya anak punya suami jangan jadi playgirls. Mama tahu, kamu dulunya playgirils"
"Bakal lama ini marahnya sama kamu Rian kan emang seperti itu keras kepala apalagi kamu selingkuh" ucap Renata yang malah mengompori.
"Ya ampun mama siapa yang selingkuh, gak mungkin ma aku gak mungkin seperti itu" ucap Lusi.
Lalu tiba-tiba terdengar petir menyambar..
Geeeeeeleeeedddekkkk....
Uwaahahaaaa.... Suara tangisan anak Lusi yang menangis mendengar Fabio yang menangis, kaget mendengar suara petir.
__ADS_1
Lusi pun langsung berlari mendengar Fabio yang menangis itu, meskipun sudah ditemani oleh baby sitter tapi sebagai orang tua Lusi tampak khawatir dengan putranya itu.
Lalu Lusi pun naik ke atas ke kamarnya sambil menemani Fabio.
Setelah 15 menit Fabio pun tampak tenang. Lalu Lusi pun tampak menelpon Rian setelah Fabio tenang, Lusi pun hingga beberapa kali menelpon Rian namun masih belum ada jawaban. Dan 30 menit kemudian Rian pun tampak mengangkat, namun Rian tampak menjawabnya dengan ketus.
"Ada apa!??" jawab Rian ditelepon dengan suara keras.
"Sayang, kamu dimana aku khawatir sama kamu" ucap Lusi cemas
"Udah gak usah cari-cari aku" jawab Rian.
"Kenapa?"
"Urusin aja Juna"
"Ya ampun" Lusi tampak heran.
Lalu dengan cepat Rian pun kembali mematikan teleponnya lagi.
"Halo.. haloo.. halo" ucap Lusi lagi ditelepon, dan ternyata Rian sudah mematikan teleponnya.
Ya ampun Rian, kamu... Batin Lusi serasa sedih dengan apa yang dikatakan oleh Rian barusan.
__ADS_1