Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Pria Pilihan


__ADS_3

Setelah itu Rian pun tampak pergi, meninggalkan Marisa. Karena memang Rian harus berangkat ke kantor untuk urusan pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan.


Marisa pun sedikit lebih waras dibanding sebelumnya. Marisa mulai mau makan dan minum, dan tidak seperti sebelumnya yang terlihat hancur.


Tampak mama yang menghampiri Marisa dan memandang Marisa. Dan melihat bekas sarapan bubur yang hampir habis. Mama pun melihat wajah Marisa yang tak terlalu pucat dan tidak sepayah seperti hari sebelumnya. Mama pun tampak duduk disamping Marisa. Hanya tersenyum dan tak banyak berkomentar.


Tak lama..


Papa pun datang menghampiri Marisa juga.


"Mana si brengssek itu" ucap papa dengan nada nge gas.


"Siapa yang papa bilang brengssek" tanya Marisa.


"Kata mama mu, kamu sudah bertemu dengan orang yang sudah menabrak kamu"


"Iya sudah"


"Marisa!! Papa sudah mengurus ini ke kantor polisi. Tapi papa tidak sempat menanyakan kelanjutan nya karena sibuk. Dan Rian harus pertanggung jawabkan ini di kantor polisi"


"Lebih baik jangan"


Papa pun tampak membulatkan matanya.


"Kenapa?" Ucap papa terheran-heran.


"Karena Rian sudah pertanggung jawabkan semuanya" ucap Marisa lagi.


"Apa maksud kamu"

__ADS_1


"Dia adalah calon suami aku"


"Apa?!?" Ucap papa dan mama kali ini bersamaan.


"Marisa otak kamu dimana. Kamu gila ya. Papa tidak mau"


"Pa, Marisa tidak terima. Gara-gara Rian lah Marisa jadi seperti ini"


"Kamu itu pikiran nya dimana sih mar"


"Pa, cuma cara itu Marisa bisa bahagia dan tenang. Marisa tidak bisa bahagia dan tenang melihat orang yang Marisa cinta lepas dari tanggung jawabnya. Gara-gara dia lah Marisa jadi cacat. Siapa yang mau menjamin kebahagiaan Marisa. Papa pun tidak bisa tanggung jawab dan menjamin kebahagiaan Marisa kan "


Papa pun tampak memandang Marisa tak percaya dengan ucapan putrinya itu.


"Papa akan buat perhitungan sama dia. Kalau perlu sampai ke meja hukum" ucap papa lagi.


"Pa, apakah dengan membuat Rian di penjara Marisa bisa bahagia. belum tentu pa. Malah semakin membuat Marisa sakit. Karena Rian di penjara pun Marisa tetap cacat dan kehilangan segalanya. Rian lah harus bertanggung jawab atas kebahagiaan Marisa"


"Baiklah itu terserah sama kamu. Jika itu kebahagian kamu. Tapi papa ingin tahu dia itu siapa?"


Lalu Marisa pun memberikan kartu nama milik Rian.


Dan papa memperhatikan kartu namanya.


"Jadi dia adalah anak dari pengusaha kaya itu" ucap Papa sambil memandang kartu namanya.


Sedikit tidak nya papa tahu siapa orang tua dari Rian.


Lalu papa pun tampak berdiri dan beranjak pergi. Papa pun tampak seolah pasrah. Karena satu sisi papa tampak sudah masa bodo dengan Marisa yang sudah sulit diatur itu. Sebenarnya papa tidak mau jika Marisa dinikahi oleh pria yang bernama Rian itu. Namun ada benarnya juga Marisa bilang. Bahwa Rian haruslah mempertanggung jawabkan semuanya. Walau harus menikahi Marisa atau pun mengorbankan nyawa Rian sekalipun.

__ADS_1


Papa pun tampak pergi.


Terlihat mama yang duduk di samping Marisa dan memperhatikan Marisa.


"Hem nak nak.. kamu itu ada-ada aja. Kamu udah cukup mengenal dia" ucap mama yang bicara serius.


"Sudah. Dialah yang selama ini yang aku sayang ma" ucap Marisa.


"Hanya saja?" Ucap Marisa yang tampak tak melanjutkan seolah ragu untuk bilang.


"Kenapa?"


"Dia sudah punya istri"


"Apa!!" Ucap mama kaget. "Kamu lagi gak becanda kan"


"Iya ma sudah punya"


"Marisa kamu itu perempuan. Kamu punya perasaan tak seharusnya kamu begini. Jadi istri kedua itu tak semudah itu"


"Ma, ini jalan hidup Marisa. Marisa berhak menentukan kemana arah langkah kaki Marisa"


Mama pun tampak menggelengkan kepalanya. Mama tidak apa-apa bila Marisa menikah dengan Rian. Namun untuk menjadi istri kedua seolah itu membuat mama kaget.


"Ma, tak ada satupun pria yang mau sama Marisa dalam keadaan seperti ini" ucap Marisa. "Kalaupun ada itu mustahil. Kalau pun ada juga siapa. Kalaupun ada, dia pasti hanya melihat harta Marisa. Kalaupun ada pasti Marisa belum tentu bahagia. Bukankah mama yang bilang agar Marisa untuk segera menikah"


"Lalu Juna?"


"Entahlah.. Juna pun sepertinya sudah pergi karena Marisa sudah menolaknya. Dan marisa juga belum yakin Juna akan mau juga jika melihat Marisa dalam keadaan seperti ini "

__ADS_1


Mama pun hanya tampak memeluk putrinya .


...............


__ADS_2