Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Kedatangan dua kubu


__ADS_3

Keesokan harinya pada akhirnya Lusi kembali pada sebuah rutinitas di pagi harinya yaitu menyambut pagi hari bersama putri kecilnya yang baru saja pulang dari rumah sakit.


Apalagi kalau bukan menyusui sambil kerepotan dengan kegiatan Fabio yang memeluk ibunya dari belakang. Dulunya Lusi sempat kesal karena dia pegal dengan kelakuan putranya yang menjengkelkan tapi semakin kesini Lusi mulai mengerti dan memahami seberapa besar kerepotan itu Lusi harus siap terima karena sebenernya itu sebuah nikmat yang tiada tara saat menjadi seorang ibu.


Saat Lusi mulai kehilangan arah dan tujuan dalam hidup, yang paling Lusi rasa adalah kebersamaan. Memiliki anak itu adalah hal paling berharga.


Disaat Lusi kehilangan cinta dan kasih sayang, Lusi masih merasa hidup berada disamping mereka.


Melihat mereka tertawa bahagia melihat semua yang indah itu sebenernya ada di depan mata. Dan dalam hidup hanya perlu bersukur..


Banyak diluar sana hidupnya tak slalu bahagia namun kita tak pernah tahu. Dan hidup dikemas dalam bentuk berbeda.


Ada yang hidup memiliki suami namun tak memiliki anak. Ada yang memiliki anak tapi tidak punya suami. Ada yang memiliki keduanya dan ada pula yang tak memiliki keduanya, dalam hidup kita hanya perlu menjalani dan melakukan yang terbaik.


Lalu tak lama Hilman datang ke rumah Lusi , Lusi pun menghampiri hilman di ruang tamu.


Hilman tampak melihat anak Lusi yang masih kecil-kecil dihadapannya, mainan yang tampak berantakan diatas meja dan tumpahan susu Fabio yang entah sengaja atau tidak ia tumpahkan.


Dengan pakaian berjas dan berdasi milik Hilman, Hilman pun tampak mengerinyitkan keningnya melihat rumah Lusi yang terlihat berbeda sekali dengan rumahnya yang adem ayem tanpa suara anak kecil dan mainan berserakan.


"Kenapa pak?" Tanya Lusi yang melihat kedatangan Hilman seperti risih dengan rumah Lusi yang agak berantakan dan agak kecil... sebenarnya rumah Lusi besar hanya saja tidak lebih besar dari rumah Hilman yang tiga lantai.


Hilman pun terdiam ..


"Bapak heran melihat rumah saya ya.. apalagi melihat anak kecil didepan bapak, ya inilah kehidupan saya pak. Seorang ibu yang masih punya anak yang kecil-kecil seperti ini" ucap Lusi.


Hilman pun tampak duduk tanpa Lusi memepersilahkan duduk.


"Ya semua ada masanya, dulu juga saya seperti ini saat anak saya masih pada kecil. Rumah berantakan dan dirimu.... mengingatkan saya pada istri saya" kata Hilman.


"Istri?" Tanya Lusi heran.


Tiba-tiba Hilman pun menceritakan tentang masa lalu kehidupannya.


"Ya saya bercerai dengan istri saya 15 tahun yang lalu"


"Lumayan lama ya" jawab Lusi yang saat itu sedang menggendong putrinya.


"Dia yang menemani hidup saya dari nol. Tapi disaat saya sudah sukses saya lupa dengan dirinya, saya banyak bermain dengan perempuan sampai pada akhirnya saya menceraikan dia. Dan dia pun juga sepakat untuk bercerai. Kita memilih jalan masing-masing, saat saya memiliki segalanya saya merasa punya kebebasan tapi semakin lama saya semakin menemukan sebuah titik dimana kebahagiaan yang saya miliki itu hanya semu, palsu dan tak berujung" jelas Hilman.


"Oh"


"Lalu saya memutuskan untuk melihat istri saya yang sudah saya ceraikan dulu tapi yang saya tahu dia kini sudah menikah lagi bahkan memiliki anak lagi, saat itu lah saya terlambat dan menyesali semuanya. Dari sekian banyak wanita yang saya dapatkan tak ada satupun wanita yang tulus mencintai saya. Mereka hanya ingin harta saya dan tidak lebih. Hanya mantan istri saya yang benar tulus tapi apalah artinya semua disaat saya tahu dia telah menikah. Pada saat itu lah saya kembali sulit untuk membuka hati sampai pada akhirnya saya menemukan mu yang ternyata saya melihat rasa tulus didalam hatimu seperti halnya istriku" jelas Hilman.


Lusi pun seketika terdiam dan terenyuh dengan ucapan Hilman yang menceritakan masa lalu hidupnya.


"Kalau udah gak ada baru terasa ya pak setelah kita merasakan kehilangan orang yang berharga ternyata sakit. Lalu kabar istri bapak bagaimana sekarang?"


"Dia di bawa oleh suaminya dan saya los kontak setelah itu. Saya waktu itu marah padanya yang waktu itu ia menikah lagi tanpa memberitahu saya dan saya sudah merasa kehilangannya"


"Lalu anak bapak?"


" Dan kenapa anak saya bisa sama saya Karena kemarahan saya, lalu saya mengambil kedua anak saya dari tangannya berharap dia akan kembali tapi nyatanya tidak. Dia benar-benar entah kemana, hemm mungkin suaminya terlalu mencintai jadi dia hilang begitu saja" jelas Hilman panjang lebar.


"Perih juga ya pak kehidupan bapak, sebenernya ini adalah pelajaran hidup juga untuk bapak. Ya saya berharap bapak bahagia dan bisa menemukan cinta sejati bapak"


"Bersama kamu?"


"Bapak melihat saya memang dengan rasa cinta tapi saya masih melihat bapak memandang saya dengan rasa nafsu. Saya tidak betul yakin kalau bapak benar cinta pada saya, lebih banyak obesi daripada cintanya. Tapi kembali lagi saya tidak menyalahi takdir yang ada, saya hanya bisa terima jika jodoh itu sudah ditentukan dari yang maha kuasa, tapi kalau untuk rasa saya masih belum yakin sih ke bapak" jelas Lusi.


"Apalah artinya ketidak yakinan kamu kalau nyatanya sekarang kamu sudah menjadi tunangan saya" kata Hilman.


"Terserah"


"Tidak ada yang bisa memunafikan wanita cantik seperti mu" ucap Hilman.


"pak jangan gombal dipagi hari"

__ADS_1


"Hahahaha kamu mirip anak saya kalau dibilang cantik pasti bilangnya gombal"


"Iya bapak cewek itu cantik masa ganteng. Pak Sebenernya bapak kesini mau ngapain sih?"


"Mau jemput kamu kerja?"


"Saya masih kerja ditempat bapak?"


"Ya masih lah, nanti yang angkatin telepon siapa?"


"Tasya"


"Tasya gak bisa diandalkan, kamu kalau mau resign tar dulu kalau udah sah jadi istri saya. Sekarang kamu masih sah jadi karyawan saya. Yaudah kamu telat aja datangnya, gak apa-apa. Berangkat kantor bareng saya yang penting berangkat"


"Yakin?"


"Ya" jawabnya singkat.


Lalu Lusi pun berdiri dan tiba-tiba saat Lusi berdiri Lusi sama sekali tidak menyangka bila ada seorang diambang pintu rumahnya yang baru saja datang dan itu adalah Gery.


Lusi pun seketika mematung melihat pria berdiri tegap yang sedang menatapnya kini memandang ke arah Lusi adalah Gery.


Dunia pun seolah berhenti berputar saat Lusi melihat mantan suaminya yang kini berada di depan mata.


Lusi terdiam membeku seketika dan pandangan nya masih tak berubah tak mau lepas dari pandangan pria yang kini didepannya. Ada kerinduan yang tersirat didalam hati namun semua tak bisa ungkapkan. Dan semua hanya bisa ia tuangkan dari sorot mata yang tampak berbinar tat kala melihat sang mantan suami kini berada didepan mata.


"Lusi" ucap Gery memandang Lusi


"Gery?"


"Boleh aku masuk"


"Silahkan, duduklah"


Mata Gery pun menatap tajam saat melihat pria yang tak ia kenal berada dirumah Lusi.


Lalu dengan cepat Hilman memperkenalkan dirinya kepada Gery saat itu.


"Hilman" ucap Hilman memeberikan tangannya untuk menjabat tangan Gery sebagai perkenalan.


"Gery" kata Gery.


"Oia sampai lupa kalian mau minum apa?" Tanya Lusi yang memang masih sibuk belum menyediakan apapun.


"Tidak" jawab Gery.


"Saya juga tidak" jawab Hilman.


Lalu Gery pun mendekati Yasmin yang sedang Lusi gendong dan memegang tangan Yasmin yang terlihat ada ruam-ruam ditangannya efek dari kemarin sakit campak.


"Kenapa ada ruam seperti ini?" tanya Gery.


"Kemarin dia sakit" jawab Lusi.


"Sakit. Seharusnya kamu bilang saat dia sakit" kata Gery.


"Aku tidak yakin untuk bilang padamu"


"Kamu harus yakin. Boleh aku menggendongnya" ucap Gery.


"Silahkan"


Lalu tampak Gery menggendong Yasmin dengan perasaan sayang yang teramat dalam, ia merasa sangat sayang pada bayi perempuannya. Lusi pun seketika ada perasaan haru teramat dalam melihat Gery yang menggendong Yasmin.


"Oia aku lupa kenalkan Gery sama bapak, dia ini Ayah dari Bayi Yasmin pak" kata Lusi memeperkenalkan Gery pada Hilman.


"Berati dia adalah mantan suami kamu" ucap Hilman.

__ADS_1


"Iya pak"


Mata Hilman pun memicing tajam saat ia merasa tak nyaman dengan keberadaan pria lain ditengah mereka, terlebih lagi selain Gery tampan dan masih muda Gery adalah mantan suami dari Lusi. Dan itu sungguh membuatnya geram dan kessl.


Lalu tak lama Lusi pun ijin sebentar untuk pergi ketoilet karena ia sudah tidak tahan ingin buang air kecil.


"Aku toilet sebentar" kata Lusi ijin pergi.


"Iya" jawab Gery.


Saat itu, Gery masih terlihat sangat antusias dengan Yasmin yang dalam gendonganya. Ada kesedihan dan kerinduan yang sangat dalam dari hati seorang Gery pada putrinya.


Namun disela-sela saat Gery asyik dengan sang bayi perempuannya. Hilman tampak memberi pernyataan pada Gery.


"Kamu tahu saya siapa?"


"Saya tak perlu tahu anda siapa?"


kalau gitu kamu hanya perlu tahu, Saya ini adalah tunangan Lusi" jelasnya dengan tatapan tajam ke arah Gery.


Seketika.....


Perasaan Gery seperti di pukul keras oleh sesuatu yang begitu menyakitkan namun Gery tampak menutupi.


"Senang berkenalan dengan anda" kata Gery yang tampak menghela napas berat sambil tersenyum pahit.


"Saya senang jika kini Lusi sudah menemukan pendamping baru"


"Kalau begitu tolong jaga sikap anda jangan terlalu berlebihan ingat dia bukan siapa-siapa kamu lagi" kata Hilman.


"Saya tahu diri saya siapa, tak mungkin saya melakukan itu"


Lalu tak lama Lusi muncul dengan senyuman yang merekah karena Lusi senang saat itu Gery datang, tapi wajah Gery tampak dingin dan lain.


"Lusi aku pamit dulu" kata Gery yang memberikan Yasmin pada Lusi.


"Kamu mau kemana?"


"Pulang" ucap Gery yang melangkahkan kaki pergi dengan cepat


Gery pun langsung melesatkan mobilnya dengan perasaan emosi.


"Kenapa dia buru-buru sekali" kata Lusi merasa heran melihat Gery pergi.


"Mungkin dia kaget setelah dia tahu saya ini adalah tunangan mu" jelas Hilman.


"Bapak mengatakan itu" ucap Lusi.


"Iya"


"Kenapa bapak bicara begitu"


"Kenapa? Itu adalah kenyataannya" ucap Hilman.


Seketika ada perasaan sedih teramat dalam dengan kepergian Gery yang begitu cepat, tak pernah Lusi sekalipun merasa ditinggal oleh pria itu.


Namun kali ini tampak lain ada perasaan tidak ingin melihat ia pergi begitu saja.


Gery kenapa kamu pergi secepat ini, kapan kamu akan kembali lagi. Aku tidak bisa meminta mu kembali. Melihat mu pergi begitu saja hatiku sakit, kita belum sempat mengobrol lagi batin Lusi sedih.


Tanpa terasa air mata Lusi terjatuh melihat Gery pergi tak pernah sekalipun Lusi melihat seorang pria yang hanya pulang kerumah dengan tatapan sedih.


Lusi pun menghapus air mata yang tampak terjatuh.


"Kamu kenapa?" Tanya Hilman.


Lusi pun menggelengkan kepala menyiratkan tidak ada yang terjadi namun raut wajah tak mampu membohongi bahwa Lusi saat ini sedang sedih.

__ADS_1


Lusi saya tahu kamu masih mencintai mantan suami mu. Aku tidak mau kamu kembali dengannya, kamu hanya untukku batin Hilman menatap Lusi yang seolah mematung melihat kepergian Gery.


__ADS_2