
Lusi pun yang saat itu terlihat sedih melihat Gery pergi hanya bisa terima walau hatinya perih. Karena bagaimana pun Gery punya kehidupannya sendiri bersama sang istri dan anaknya.
Tampak Hilman yang melihat Lusi terlihat sedih dengan kepergian sang mantan suami. Namun Hilman tampak tak peduli yang paling penting adalah Lusi yang kini menjadi miliknya.
Hilman pun menatap Lusi lekat dengan tatap tajam.
"Dia mantan suami mu"
"Iya" jawab Lusi.
"Sepertinya dia anak orang kaya" kata Hilman. "Kalau dia memiliki segalanya lalu untuk apa kamu bercerai dengannya saat dulu"
"Panjang untuk diceritakan yang pasti dia sudah punya istri saat menikah dengan ku, dan aku lebih mengalah"kata Lusi yang tampak tertunduk.
Lalu Hilman memegang dagu dari Lusi yang tertunduk.
"Dia tak layak lagi untuk kamu, nyatanya bukan siapa orang yang pernah ada dimasa lalu mu. Tapi siapa orang yang berada didepan mu dan dia adalah masa depan mu. Akulah orang nya Lusi" kata Hilman menatap Lusi lekat penuh cinta.
Lusi pun menghela napasnya.
"Baiklah aku mandi dulu kalau begitu, kita berangkat kerja setelah ini" kata Lusi tampak tak ceria.
Lalu Lusi pun bersiap mandi dan menaruh anaknya di tempat tidur bayi. Sementara Fabio asik main sendiri.
"Pak tolong jaga anak ku"
"Dia bukan anak mu tapi anak kita"
Lusi pun tak menjawab saat Hilman berkata seperti itu ia lantas pergi meninggalkan Hilman diruang tamu.
Hilman pun menjaga anak Lusi sambil memandang dari kejauhan. Hilman pun juga kaku untuk menggendong anak kecil karena dia sudah lama tak menggendong, beruntung tak lama Ibu Lusi pulang dari pasar dan akhirnya yang menjaga anaknya adalah ibunya.
Selesai mandi, Lusi memakai pakaian kerjanya bersiap diri untuk berkerja, setelah siap Lusi pun tampak terlihat lebih fresh anggun dan cantik dengan pakaian kerja yang ia kenakan.
Seketika Hilman tampak mematung dan terpesona dengan wajah cantik dan anggunnya Lusi saat itu.
"Sempurna" ucap Hilman tersenyum dengan senyum yang merekah.
"Dirimu sangat cantik Lusi begitu elegan dan selalu tampil menawan" jelas Hilman.
Lusi pun tak menjawab apapun hanya terdiam lalu Lusi tampak mencium kening sang putra dan mencium anaknya juga yang paling kecil.
"Sayang mama berangkat dulu ya, Bu Lusi berangkat ya" ucap Lusi sambil mencium tangan ibunya.
"Iya hati-hati"
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Lusi pun berangkat kerja dengan naik mobil Hilman, Hilman pun membawa mobil yang paling mewah yang ia miliki berikut dengan supir yang siap mengantar dirinya kemana-mana.
Lusi yang memang pernah menjadi menantu orang kaya pun sebenarnya biasa saja dengan mobil Hilman menurutnya biasa saja walau sebenernya Lusi tidak memiliki mobil secara pribadi.
"Bagaimana mobil saya mewah kan" kata Hilman yang menunjukkan mobil mewah yang berwarna hitam.
__ADS_1
"Dalam hidup bukan mobil yang membuat saya bahagia, tapi cinta"
"Kalau begitu cintailah saya seperti kamu mencintai dirimu sendiri" ungkap Hilman tersenyum kepada Lusi.
"Filosofi yang bagus, walau saya sendiri belum tentu yakin saya bisa atau tidaknya mencintai diri saya sendiri" kata Lusi yang tampak manggut-manggut saja.
"Anggap saja kamu cinta" ungkap Hilman yang membukakan pintu untuk Lusi.
"Akan saya usahakan" jawab Lusi sambil masuk ke dalam mobil.
"Bagus menarik juga"
Lalu Lusi pun duduk diatas mobil bersama Hilman saat itu, dalam diam Hilman tiba-tiba memegang tangan Lusi dan mengelusnya perlahan sambil tersenyum. Lusi pun tampak risih dengan apa yang dilakukan oleh Hilman padanya.
Lusi pun langsung menarik tangannya.
"Kenapa ditarik tangannya" kata Hilman.
"Saya tidak suka tangan saya dipegang bapak" kata Lusi merasa risih.
"Ayoollaah... Saya akan menjadikan kamu ratu didalam dunia dan hati saya"
Lusi pun hanya diam dan tampak membuang wajah sambil menatap jalan tak peduli dengan Hilman.
"Aku akan membawa mu ke salon" jelas Hilman.
"Untuk apa?" Ucap Lusi.
"Untuk membuat cantik dirimu"
"Jadi saya tidak cantik"
Lalu Lusi pun dibawa ke salon, Lusi pun tampak sedikit diberi warna coklat yang membuat Lusi tampil berbeda. Dan tampak rambut Lusi yang panjang di keriting menggantung semakin memberikan tampilan yang terkesan lebih mewah dan elegan.
"Bagaimana?" Tanya Hilman yang berbicara pada Lusi dan mendekati Lusi.
"Apanya?" Tanya Lusi.
"Hasilnya"
"Menarik"
"Saya hanya ingin kamu tambah cantik saja tidak lebih" kata Hilman berbisik di telinga Lusi.
"Untuk apa?" Tanya Lusi.
"Untuk lebih menarik lagi dan aku akan semakin bangga memiliki mu" Hilman pun tersenyum lebar melihat Lusi yang kini tampak tampil sangat menarik hati.
"Kamu seperti model Lusi, bahkan kamu seperti artis di tv tv"
"Oh ya.." ucap Lusi melihat dirinya dicermin.
"Iya aku tak pernah bohong, kamu terlihat cantik lebih glamor dan terkesan semakin mewah"
"Makasih tapi sebenernya aku lebih suka cantik secara natural sih"
__ADS_1
"Berpenampilan menarik itu penting untuk dirimu yang memang menjadi pendamping dalam hidup ku"
"Aku harap bapak tidak akan menjadikan aku boneka untuk bapak, yang bisa sesuka hati bapak warnai sepuas hati" jelas Lusi.
Hilman pun tampak tersenyum.
"Saya suka dengan wanita yang mampu menjaga penampilan, kamu sudah cukup cantik dan seksi Lusi. Dan tidak ada salahnya kamu aku belikan baju yang lebih seksi" kata Hilman dengan dengan tatapan menggoda.
"Pak jangan ngelantur"
Hilman pun malah tertawa melihat Lusi yang kesal.
Hilman tampak membawa Lusi untuk ke sebuah toko pakaian yang menjual pakaian kerja namun dengan harga yang lumayan fantastis.
Hilman membeli beberapa baju yang ia pilihkan untuk Lusi dan Lusi hanya tampak ditarik tanpa ia disuruh memilih.
Bapak tua berumur 55 tahun itu malah memilih sendiri baju untuk wanita dihadapannya kini.
Lalu setelah itu Hilman seolah tak peduli dengan Lusi yang seperti marah. Hilman tidak peduli sama sekali akan hal itu dan Hilman tetap membayar ke kasir baju yang ia anggap seksi untuk badan Lusi.
"Beli lah apa yang bapak mau tapi jangan harap aku akan memakainya" kata Lusi yang terlihat kesal.
"Saya akan membeli apa yang saya mau dan aku harap kamu memakainya" ucap Hilman.
"Jangan mimpi"
"Hahahaha" Hilman malah tampak tertawa.
Lusi pun hanya menghela napasnya dan tak peduli lagi.
Saat itu kekesalan Lusi seperti sebuah komedi yang lucu untuknya.
Melihat Lusi yang marah tak membuat Hilman merasa emosi, justru Hilman malah gemas melihat Lusi yang kesal semakin cantik dan ingin rasanya mencubitnya.
"Lucunya" kata Hilman yang mencubit kedua pipi Lusi.
"Lepas pak, rese banget sih" kata Hilman yang tertawa.
"Hahahaha"
"Eh, dimana-mana orang dibuat cantik di beliin baju itu senang bukannya malah seperti ini"
"Iya kalau bajunya oke ini yang bapak pilih baju kecil semua pak, mini dress dan meletet semua buat apa pak"
"Buat kamu"
"Astaghfirullah, tau ah" kata Lusi yang marah.
Lalu tanpa disadari terlihat Erika dari kejauhan melihat Hilman yang ternyata bersama wanita lain, apalagi dirinya semakin kesal saat yang ia lihat bersama Hilman adalah wanita yang pernah bertikai dengannya.
"Oh jadi wanita itu yang mengambil hati Hilman sehingga dia membuang ku dengan cara memberi cek 30 juta. Beraninya dia mengambil pria masa depan ku, tak boleh terjadi ini cuma Hilman pria kaya raya dan royal tidak bisa dibiarkan ini terjado" kata wanita umur 40 tahun yang berpenampilan mewah itu. Dan kini terlihat kesal pada wanita yang sedang ia lihat dari kejauhan.
Lalu Erika pun menghampiri Hilman dan Lusi dengan perasaan kesal dan melangkah kaki dengan kasar langsung berjalan cepat.
Dengan cepat pula Erika... menarik rambut Lusi karena kesal dan memukul Lusi dengan tas yang ia bawa.
__ADS_1
Mata Lusi pun membulat tajam. Kaget dengan wanita gila yang tahu-tahu datang dan marah padanya
"Beraninya kamu merebut dia dari ku!!!!!!" Kata Erika kesal.