Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Pengakuan Gery


__ADS_3

Lusi pun pulang dengan naik mobil milik Lisa yang depannya sudah penyok akibat ketabrak tiang listrik beberapa bulan yang lalu. Itu memang ulahnya dia dan sampai sekarang belum sempat ia betulkan, entah karena tidak punya uang atau anaknya yang memang pemalas.


Padahal mobilnya itu kurang dari lima tahun tapi sudah banyak yang lecet dan tak mulus lagi.


"Ini mobil jelek amat gak pernah dicuci penyok depan, pada baret bagaimana sih makenya" keluh Lusi yang merasa bahawa adiknya tak mampu menjaga mobil pemberian sang Ayah.


"Jangan sok paling perfect dipermukaan bumi. Kalau seandainya ini mobil kakak yang pakai pun udah bukan berbentuk mobil. Udah nyemplung ke jurang karena kakak kalau bawa apa-apa gak pernah slow. Kakak bawa serasa jalanan milik sendiri" kata Lisa yang membela diri.


Lusi pun mengerutkan keningnya memandang sang adik yang menggerutu kesal.


"Masih mending aku baret, penyok daripada Kakak yang bawa udah gak berbentuk mobil" kata Lisa.


Lusi pun hanya diam dan kesal saja dengan apa yang diucapkan adiknya dan Itu memang benar Lusi kalau bawa mobil tak pernah pelan.


Lusi yang niat ingin menegur adiknya malah dibalikin dengan kata-kata yang menohok dari sang adik.


"Ah diam kan, makanya Kakak berkaca sebelum menegur" kata Lisa yang tertawa.


"Hemz iya, kamu benar tapi kakak cuma bilangin aja.. kan sebagai Kakak emang fungsinya gitu"


"Apa?"


"Cerewetin adiknya"


"Ya... lain dah yang udah emak anak dua, tingkat kematangannya sangat sempurna bahkan sekarang udah pintar marah-marah" kata Lisa yang meledek sang kakak.


"Kak jangan marah-marah kenapa sih" keluh sang adik.


"Kenapa, cepet tua ya" ucap Lusi


"Tambah cantik" jawab Lisa sembari tersenyum.


"Ampun, malah muji makasih ya. Kamu juga cantik"


"Hahahah itu sih gak usah ditanya"


"Tetap ya percaya diri ini sih" ungkap Lusi.


"Iya dong kakak.. yang bikin kita cantik itu kan percaya diri dan percaya sama Allah"


"Good ini baru adik kakak" sahut Lusi.


Setelah sampai Lusi pun turun dari mobil bersama Lisa, terlihat Lusi yang menggendong putrinya dalam dekapan. Sementara Lisa lansung membantu Lusi untuk turun.


Ibu pun menyambut kedatangan cucu barunya saat itu, dengan semangat ibu pun menggendong bayi yang baru saja Lusi lahirkan.


Ibu menggendong Jasmin penuh rasa haru namun sekaligus sedih.


Satu sisi ibu senang karena memiliki cucu baru, namun satu sisi Ibu merasa sedih dengan apa yang menimpanya yaitu kehilangan suami yang selama ini sudah menemaninya selama 30 tahun. Dan itu merupakan hal paling sulit.


"Duduk lah nak" kata ibu menyuruh Lusi untuk duduk, karena Lusi habis melahirkan terlebih lagi dengan sesar memang tak boleh banyak bergerak.


"Bagaimana kamu bisa sesar ceritakan kepada ibu, bukannya kamu belum waktunya lahiran" tanya ibu yang menggengam tangan putrinya saat itu sambil menggendong bayi ditangannya.


Lusi pun langsung terdiam sejenak dan mengambil napas beratnya.


Lusi tampak tertunduk, serasa malu menceritakan semua yang terjadi pada malam itu. Meskipun itu sudah berulang kali Demian lakukan tetap saja Lusi merasa jijik pada dirinya sendiri, apalagi mengutarakan semua pada ibunya. Seolah sulit dan tenggorokan serasa sulitm


Lusi pun memberikan ruang pada dirinya sendiri untuk diam sejenak.


"Nanti aku akan ceritakan ya Bu, nanti ya Bu" kata Lusi terdengar serak.


"Baiklah" jawab ibu tersenyum.


"Cuma yang pasti saat ini Lusi senang karena bayi ini telah lahir, anak Lusi perempuan" kata Lusi senang.


"Iya, tapi ini tidak mirip kamu" kata ibu. " Mirip siapa ya?"


"Mirip Kajol Bu" kata Lisa meledek Lusi.


"Mirip bayi ke arab-araban ini ya, padahal kamu kan Indonesia banget Lusi. Kamu gak ada hubungan sama orang Arab kan" ucap ibu yang seolah meledek Lusi.


Lusi pun membulat mata saat melihat ibunya saat itu memang tak mirip Rian, Rian yang memang berhidung mancung tapi matanya tak terlalu belo dan rambutnya tidak keriting dan lurus. Begitu pula dengan Lusi yang malah lebih tidak mirip lagi.

__ADS_1


"Ya bu, namanya anak kan suka mirip nenek moyang yang dulu. Kita gak pernah tahu kan" jawab Lusi.


"Iya juga sih" jawab ibu.


Lalu Lusi pun mencari Fabio dan memengku Fabio karena Lusi memang sudah sangat rindu pada putranya.


Tiba-tiba ada seorang datang membawa perlengkapan bayi dan tanpa disadari itu adalah Renata.


Renata menyambut baik putri kecil yang Lusi lahirkan. Renata merasa bahagia dengan kehadiran cucu keduanya, Renata dapat kabar kelahiran Lusi dari ibunya Lusi.


Renata pun datang dengan kondisi saat ini yang lebih baik dari sebelumnya, mungkin sudah tak terlilit hutang jadi ia lebih keliatan fresh dan pastinya cantik.


"Alhamdulillah kamu sudah melahirkan Lusi,.pasti berat kamu harus melahirkan sendiri" kata Renata saat itu.


Dengan cepat Renata meraih dan menggendong bayi Yasmin dengan penuh cinta dan menimangnya. Renata tidak menaruh curiga sama sekali soal anak yang Lusi lahirkan, Renata menganggap bahwa itu adalah cucunya.


"Sayang, cucu Oma kamu cantik lucu banget sih, tapi kamu sedih ya gak ada papah.. papah Rian sudah meninggal kamu sabar ya sayang" kata Renata mencium sang bayi baru lahir.


Lusi pun lantas tersenyum getir melihat perlakuan Renata pada bayi Yasmin. Lusi tak sampai hati mengatakan yang sebenarnya bahwa anak yang dilahirkan itu bukan lah anak dari Rian dan bukan cucu Renata.


Lusi pun seolah merasa bersalah pada ibunya dan juga mama Renata yang saat itu Lusi tak bisa berkata jujur. Karena jika ia bilang kebenranya, Lusi tak siap mendapat segudang pertanyaan dan pernyataan yang menyakitkan. Lusi tak siap dengan semua itu.


Lusi hanya tampak tersenyum dan menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya menyakitkan hatinya.


Ibu pun menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk Renata saat itu, sementara Lisa tak berani juga bicara yang sebenernya ia malah pergi tak mau ikut campur urusan kakaknya yang rumit.


Semua seolah sudah menjadi takdir, hari itu juga Gery malah datang ke rumah Lusi. Lusi tak menyangka untuk apa dia datang, padahal sudah jelas Lusi mengatakan bahwa Lusi tak mau ditemui olehnya lagi. Masih saja dia punya muka untuk datang.


Renata menatap kesal pada saat ia lihat tamu yang datang adalah Gery, suami dari keponakannya.


Liana yang tak setuju dengan hubungan Lusi dan Gery melotot kesal yang ia anggap Lusi masih berhubungan dengan mantan suami ekspres nya itu.


Renata menatap kesal.


Begitu pun dengan Lusi yang merasa tak enak dengan Renata.


"Ngapain kamu kesini?" Ucap Lusi pada Gery penuh dengan penekanan.


"Apa barusan kamu bilang, anakmu. Heh??? Manusia serigala berbulu domba jangan ngaku ini anak kamu. Ini cucu saya anak dari Rian" jelas Renata kesal pada Gery.


" Kamu jangan mengaku dan lebih baik kamu pulang, kamu sudah punya istri masih kamu datang" kata Renata lagi kesal.


Gery pun tampak tertawa seolah merendahkan.


Sementara Lusi tampak memejamkan mata dan memijat keningnya, Lusi merasa akan ada pertikaian antara Renata dan Gery.


"Gery lebih baik kamu pulang jangan buat suasana dirumah ini jadi tegang karena kehadiran kamu"


"Gak Lusi aku harus andil dalam merawat bayi mu, aku harus andil dalam semuanya" ucap Gery yang merasa kehadiran nya suatu hal penting untuk dirinya.


"Kamu Gery !?!? Kamu punya anak dari Liana. Ada Alena jangan yang jauh kamu cari, ingat Alena darah daging mu"


"Alena memang darah daging ku, dan bayi ini pun darah daging ku"


"Apa maksudnya?" Jelas Renata tampak tak tahu yang sebenernya.


"Gery ???? Sudah aku jelaskan kamu pulang!" Kata Lusi dengan suara lantang dan berdiri dihadapan Gery saat itu.


"Kamu orang tua macam apa yang menutupi siapa orang tua kandung dari anak mu" kata Gery saat itu melotot tajam ke arah Lusi.


"Jangan bicara saat yang tak tepat!"


Renata pun akhirnya curiga pada ucapan Lusi dan Gery yang seolah ada sesuatu yang salah.


"Jadi maksudnya apa ini" tanya Renata tampak bingung.


"Asal Tante Renata tahu, bahwa ini adalah anak ku dan dia darah daging ku. Bahkan aku memiliki bukti yang sah" jelas Gery.


"Sudah ku jelaskan tak usah kamu bicara!!!!!" Kata Lusi saat itu.


"Lusi !!!! Diam kamu mama mau ingin tahu yang sebenernya" ucap Renata yang kali ini malah terlihat marah pada Lusi.


"Tante tahu, hasil tes DNA anak dari Lusi menujukan bahwa itu adalah anakku" jelas Gery memberikan sebuah kertas ditangannya dia berikan pada Renata.

__ADS_1


Lusi tampak ingin meraih tapi Renata menghalanginya, bayi yang masih dalam gendongan Renata pun pada akhirnya ibu Lusi ambil karena takut terjatuh saat Renata menghalangi Lusi merebut kertas tersebut agar tak dibaca oleh Renata.


Renata pun membacanya dan membulatkan mata dengan hasil tes DNA saat itu yang memang betul itu adalah anak Gery.


Dengan mata menyala emosi jiwa yang begitu membara Renata membulatkan mata, Renata sangat marah pada Lusi yang selama ini ia anggap telah menipu dirinya dan bermain serong pada Lusi.


"Berani nya kamu menipuku!!!!! Beraninya kamu!!!!!!" Kata Renata teramat kesal.


"Selama ini mama kira kamu hamil anak Rian, kita hidup bersama disaat dirimu hamil besar. Suka duka kita lalui bersama ternyata kamu hanya mengandung anak haram!!!!!"


Air mata Lusi seketika terjatuh, begitu juga dengan bibir Lusi yang bergetar karnea ingin menangis. Saat itu Lusi merasakan kepedihan dan sakit yang teramat dalam apalagi saat Renata mengatakan anak yang Lusi lahirkan adalah anak haram.


Sebagai seorang ibu itu seolah pukulan keras yang Lusi rasakan sampai Lusi sulit melakukan pembelaan karena saking perih sampai ia sulit bicara.


"Tolong jangan katakan cucu saya anak haram, saya tidak suka kamu mengatakan hal itu" jelas Ibu kepada Renata yang tampak membela cucu perempuannya.


"Lebih baik kalian semua pergi bila hanya ingin menuai keributan disini!!!!" Jelas ibu sekali lagi dengan tatapan tak suka.


"Loh jeng Linda ini bagaimana, jeng Linda harusnya berfikir secara logika. Ini menyangkut cucu perempuan jeng Linda. Jeng Linda harus tahu siapa Ayah kandung dari anak ini, apalagi dia anak perempuan tak boleh sampai salah!!!!!!" Kata Renata saat itu tak terima. Dan Linda itu adalah nama dari ibunya Lusi.


"Lusi kamu ini selingkuh kan Ayo ngaku, selingkuh kan kamu sejak lama!!!" Kata Renata yang menyudutkan Lusi.


Lusi pun menatap Renata dengan tatapan sedih, Lusi seperti lelah bila menjelaskan semua karena lusi yakin Renata tak akan percaya apa yang menimpa dirinya, karena Lusi juga tak pernah ingat kejadiannya lebih jelas.


Lalu tampak Linda yang mendorong Gery untuk cerita yang sebenernya.


"Saya tahu anak saya wanita baik-baik, jadi saya pinta untuk Gery jelaskan semua kenapa bisa terjadi hal seperti ini" kata Linda yang membulatkan matanya marah pada Gery.


Mungkin dari sekian banyak kejadian baru kali ini Linda benar-benar marah.


Selama ini Linda hampir marah sekali pun marah hanya dibibir saja tidak dengan hatinya.


Linda pun meminta untuk Gery menjelaskan semuanya, dan Gery pun mau untuk menceritakannya. Walau sebenarnya Gery berat untuk menjelaskan semuanya.


Gery duduk dikursi yang sebelumnya memang ia hanya berdiri, didalam ruang tamu itu ada Lusi, Renata, ibu dan juga Gery yang menjadi kunci dari semua pertanyaan.


Ibunda Lusi tidak mau bila semua yang terjadi Lusi yang menjadi wadah untuk disalahkan.. ibunda tidak suka kalau anaknya terus dianggap tidak baik.


Gery pun menghela napas dan menatap kedua wajah dua orang wanita yang tengah menunggu cerita darinya.


Sementara Lusi hanya tertunduk menghapus air matanya dengan tisu dan tak menatap Gery sama sekali.


"Jadi..." Ucap Gery terbata.


"Cepat ceritakan!!!!!" Jelas Linda kesal menatap Gery.


"Jadi sebenernya kejadiannya, saat dihari pernikahan ku di Semarang, aku memang merancang sebuah rencana. Lusi saat itu yang menjadi weeding organizer, selesai acara itu aku buat Lusi tertidur. Aku menyuruh seseorang untuk membiusnya, saat itu adalah malam pertama untukku dan untuknya juga karena pada saat malam pengantin dan aku meniduri secara diam-diam" jelas Gery yang tertunduk.


"Kurang ajar kamu!!!!" Ucap ibu melotot tajam ke arah Gery dengan emosi yang sangat dalam.


"Sungguh itu kekhilafahan yang paling salah dalam hidup saya . Saya mohon maaf, mohon maaf yang sebesar-besarnya mohon maaf" kata Gery memohon maaf di kaki sang ibu dari Lusi.


"Tidak perlu kamu bersujud di kaki saya, karena saya bukan Tuhan. Saya sudah memaafkan tapi tidak untuk kesalahan mu. Kamu boleh pergi dan jangan pernah temui anak saya sekalipun"


"Tapi saya orangtuanya" jelas Gery tertunduk.


"Kesalahan mu sungguh teramat fatal, dan sulit untuk saya terima!!! Pergi lah, jangan datang lagi" kata ibu yang sangat membenci Gery.


"Saya tidak mau pergi, Lusi mohon maaf kan" ucap Gery memegang tangan Lusi.


Namun Lusi tampak menariknya.


"Lebih baik kamu pergi Gery, pergi" kata Lusi yang juga tak terima.


Pada akhirnya Gery pun pergi, ia meraksan kesalahan paling dalam pada dirinya sendiri yang mungkin kesalahan yang ia lakukan memang sulit untuk dimaafkan baik Lusi ataupun orang tuanya.


Saat itu Renata pun memeluk erat Lusi merasa bersalah dengan tuduhan yang ia katakan pada Lusi..


Dia salah menilai dan merasa bersalah atas ucapannya lancang.


"Maafkan saya Lusi menuduh mu yang bukan-bukan..kamu adalah anak saya. Anak saya... Maafkan mama Lusi" kata renata yang memang sebenernya sudah menganggap Lusi seperti anaknya sendiri.


Renata pun sadar akan kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2