
Kata-kata Lusi yang menyiratkan bahwa Lusi pernah ditiduri oleh Demian membuat Gery naik pitam saat itu. Gery semakin merasa tidak aman saja bila meninggalkan Lusi sendirian. Gery tidak mau jika Lusi masih diganggu oleh Demian.
Perasaan Lusi pun sangat perih dan sakit bila mengingat semuanya.
"Aku akan memberikan dia pelajaran!!!" ucap Gery kesal. "Aku akan datangi"
"Aku mohon jangan?" Kata Lusi yang tidak mau jika Gery menemui Demian
"Kenapa?"
"Aku takut kamu kenapa-kenapa dia orangnya nekat sekali. Aku takut, kehilangan suami untuk kedua kalinya" kata Lusi yang mampu membuat Gery tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Kamu takut kehilangan ku" tanya Gery penuh keyakinan.
"Aku.. aku bukan takut kehilangan mu. Tapi aku sangat takut kehilanganmu hiks aku takut hal buruk menimpa orang lain gara-gara aku"
"Kamu takut kehilangan ku karena merasa bersalah" kata Gery lagi.
"Iya... Aku takut kehilanganmu. Terlalu rumit hidup ku, berat dan sakit saat aku merasa kehilangan"
Seketika Lusi pun menangis Lusi tidak sanggup mengingat semua hal perih dalam hidupnya.
Saat Lusi menangis mengatakan bahwa dirinya takut kehilangan Gery.. Gery pun merasakan bahwa Lusi memang mencintai dirinya.
"Kamu mencintaiku" tanya Gery memeluk Lusi saat itu
"Entahlah, aku adalah orang yang paling merasa bersalah jika ada orang yang kenapa-kenapa gara-gara aku" kata Lusi.
Lalu Gery pun menarik Lusi dengan begitu erat dan sangat dekat Gery memeluk Lusi. karena Gery merasa jika Lusi memang mencintainya dirinya namun sulit ia ungkapakan secara gamblang.
Lalu setelah itu Lusi pun memandang Gery dengan tatapan sayu.
Lusi dirinya masih saja perih bila mengingat kenangan dan luka pahit akan masa-masa itu. Perasaannya sedih dan tak beraturan ingin rasanya Lusi melupakan namun semua serasa sulit sampai Lusi tidak sanggup.
"Kamu kecewakan menikah denganku, kenyataannya aku tidak sebaik itu kan" kata Lusi seraya menjatuhkan air matanya.
"Tidak, aku tidak kecewa. Tapi"
"Tapi apa"
"Aku tidak bisa sanggup meninggalkan mu sendiri bagaimana kalau kita hidup bersama agar aku bisa menjaga mu" kata Gery yang enggan untuk pulang sendiri.
"Bersama bagaimana caranya, ini akan sulit" ucap Lusi tak bisa bayangkan semuanya.
"Kita akan hidup bersama dirumah Papa di Jakarta"
__ADS_1
"Aku tidak mau" ucap Lusi
"Kita akan coba. Aku tidak mau aku kepikiran dan sulit jika meninggalkan mu sendiri disini"
Lusi pun terdiam dan tak banyak bicara lagi. Dirinya sulit untuk menerima semuanya.
Dan gery pun ada rencana untuk membalaskan apa yang sudah Demian lakukan pada Lusi. Namun ia masih mengikuti saran Lusi untuk sementara dulu.
Lusi pun mengemas pakaian untuk hidup dan tinggal bersama Gery. Dan Lusi juga ikut turut serta membawa putranya untuk tinggal di Jakarta.
Lusi sebenernya tidak mau untuk ikut bersama Gery, tapi Gery mengatakan hal itu hanya untuk menjaga Lusi dari Demian saat ini.
Soal Lusi diterima atau tidaknya di keluarga Gery Lusi tidak tahu. Apakah keluarga Gery akan welcome pada dirinya atau tidak, Lusi tidak tahu.
Apalagi keluarga Gery itu artinya keluarga Marisa juga. Menjadi orang ketiga itu bukanlah keinginan bukan juga cita-cita, menjadi orang lain yang masuk dalam rumah tangga itu seperti mimpi buruk dalam hidup Lusi pasti akan ada pandangan negatif. Lusi yang pernah menolak untuk menjadi istri kedua itu bak seperti menjilat ludahnya sendiri. Lusi hanya berbicara dalam hatinya, mukanya mau taruh dimana.
Tapi Lusi berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa mungkin ini sudah jalannya. Kalau Lusi tidak diterima pun tidak apa-apa Lusi akan kembali pulang. Kalau pun Lusi tidak direstui dan tidak diterima baik pun juga tidak jadi masalah Lusi siap jika memang harus bercerai dengan Gery.
Lusi hanya berfikir nasibnya sebenernya tidak ada yang berubah dalam hal ini.
Tidak membayar hutang menjadi tawanan. Membayar hutang pun seperti mempertaruhkan harga dirinya tentang pandangan dirinya didepan masyarakat yang mungkin orang akan anggap Lusi perebut suami orang atau hanya beban. Atau juga mungkin wanita gatel belum setahun bercerai langsung menikah. Baru selesai masa Iddah sudah langsung menikah. Percayalah saat ini otak Lusi seperti mau pecah. Perasaan Lusi campur aduk dengan pahit getir di masukan ke dalam pilihan sulit menjadi wanita kedua. Rasanya ingin menghilang dari permukaan bumi ini dan mengganti wajah dengan yang baru biar hidup lebih aman dan damai tidak ada beban perasaan agar tidak dikenali.
Selama perjalanan Lusi pun hanya tampak terdiam memandang jalan untuk sampai menuju kediaman rumah yang nantinya Lusi akan tempati yaitu istana mertua dikediaman Gery.
Selama perjalanan sesekali Gery menggenggam tangan Lusi agar Lusi tenang dalam menghadapi semuanya. Karena Lusi yakin orang yang ada dirumah Gery akan kaget saat Lusi tahu sudah menikah dengan Gery.
Gery menekan bel sambil membawa tas ditangan kanan Gery, milik Lusi yang kini dipegang
Lusi pun berada di belakang Gery dengan menggendong Fabio saat itu.
Saat pintu itu dibuka dengan secara perlahan yang membuka saat itu adalah Selly Mama dari Marisa.
Selly pun tampak tak menaruh perasaan apapun saat membukakan pintu untuk anak tirinya itu.
Dan saat ia membuka pintu lantas terlihat Lusi yang sudah berada dibelakang Gery dengan membawa sang putra juga dengan keadaan hamil besar.
"Lusi" kata Selly yang memang sudah mengenal Lusi dari Marisa.
"Selamat siang Tante" jawab Lusi sambil tersenyum kaku.
"Selamat siang, silahkan masuk" ucap Selly yang merasa heran melihat Lusi saat itu. Tiba-tiba datang bersama Gery. Sely tidak tahu bahwa Gery dan Lusi telah menikah.
"Duduk lah, kamu sekarang sedang hamil Tante baru tahu"kata Selly yang memegang pundak Lusi saat itu.
"Ma apa ada Liana kesini" tanya Gery.
__ADS_1
"Liana istri kamu?" Tanya Sally.
"Iya ma ,siapa lagi?" Kata Gery saat itu sambil membawa tas besar ditangannya.
"Oh, gak dia gak kesini" ucap Selly.
"Ya ampun itu sudah aku bilang untuk tinggal disini dulu. Masih aja"kata Gery kesal pada istrinya.
"Pasti itu, pasti dia pergi sama cowoknya" kata Gery kesal.
"Sama siapa? Cowoknya?" Kata mama Selly heran.
Lalu Gery pun langsung menelpon Liana saat itu juga. Untuk menyuruh untuk segera pulang. Meksipun Gery tidak mencintai Liana tapi Liana adalah tanggung jawab Gery, Gery mengharapkan apa yang menjadi perintah Gery demi kebaikan Liana dan harus segera dilaksanakan. Karena Gery bagaimanapun kalau Liana tidak pulang.
Namun sayang saat Gery menelpon tidak diangkat oleh Liana.
Seketika Lusi pun merasa jika Gery memang mencintai Liana dan itu terlihat bentuk perhatiannya meski sangat sama pada dirinya. Seketika Lusi pun termenung..
Lusi pun berusaha untuk menyadarkan dirinya bahwa dia hanya wanita yang dinikahi secara siri dan bukan siapa-siapa.
Lusi dilarang menguasai, dilarang cemburu apalagi cinta. Itu suatu hal yang tidak boleh. Lusi harus sadar diri dirinya siapa dan kenapa bisa menikah. Tidak akan namanya pernikahan itu jika bukan karena kebutuhan uang, untuk apa pakai perasaan.
sadarlah Lusi..
Dan apa yang Gery lakukan itu memang lah yang sangat harus dan wajar.
Lalu Lusi pun memandang Gery yang terlihat kesal karena istrinya yang tak kunjung pulang.
"Kesel banget, kesal sama Liana itu kebiasaan ma. Pulang malem, gak jelas kemana itu pasti. Dia itu bisa gak sih dewasa" ucap Gery tampak kesal.
"Kayanya aku harus nyusulin nih anak deh, kebiasaan. Yaudah aku pergi dulu ya sayang sebentar nanti aku balik lagi" kata gery mencium kening Lusi.
"iya" jawab Lusi.
Seketika Mama selly pun kaget dengan apa yang ia lihat yaitu Gery yang mencium kening Lusi.
"Kalian!!!!" Kata Mama Selly terlihat tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Nanti aku jelaskan ma, cuma aku pergi dulu untuk mencari Liana" kata Gery dan langsung pergi.
Lalu Gery pun lantas pergi untuk menyusul Liana dan mengetahui kemana dia pergi karena jika tidak kerumah kemungkinan besar Liana menginap ke tempat lain dan itu sungguh membuat Gery resah. Padahal semestinya Liana pulang ke rumah besar keluarga Gery.
saat itu ...
Sedangkan mama Selly tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Melihat Gery mencium kening Lusi...
__ADS_1
Kenapa bisa??? Mama Selly pun bertanya-tanya di dalam hatinya.