
Setelah itu. .
Ya. Benar saja tak sampai 15 menit. Juna tampak datang, dengan sedikit tergesa dan panik. Seperti ada sesuatu yang terjadi sangat berbahaya sambil berlari. Dengan maksud untuk menemui Lusi yang ia dapati kabar tidak baik.
"Ada pasien bernama Lusi? Dia baik-baik aja kan sus" ucap suara Juna tampak panik.
Sampailah ia ke sebuah ruangan dan disitu terlihat Lusi yang terbaring. Meskipun sudah sadar namun masih terlihat lemah.
"Juna..." Ucap Lusi lirih sambil melihat ke arah Juna.
Juna pun menoleh dan menghampiri Lusi. "Kamu baik-baik aja kan" ucap Juna memandang lekat wajah Lusi.
"Ya aku baik-baik aja"
"Bagaimana? Apa ada yang sakit? Apa yang kamu rasakan. Rian gak pukul kamu lagi kan?" Ucap Juna penuh akan pertanyaan.
Lusi pun tampak memandang Juna. Sedikit penuh keharuan karena kepeduliannya. Bukan soal cinta tapi perhatian yang begitu berlebih. Wanita mana yang tidak klepek-klepek bila dapat perhatian khusus. Ya tapi balik lagi Lusi hanya menganggap sahabat saja tidak lebih.
"Gak Jun. Gak kok. Gak apa-apa" ucap Lusi.
"Syukurlah.." ucap Juna menghela napasnya.
"Kamu menginap disini atau mau pulang? Kalau mau pulang aku antar"
"Jangan, jangan aku bisa pulang sendiri" tolak Lusi seraya bangun.
"Aku yang antar kamu ya" ucap Juna yang tampak ingin memegang Lusi namun sedikit menahannya. Maklum saja, mereka ini pernah saling membutuhkan berlandas cinta. Namun tidak bisa bersatu, karena takdir cinta yang tak bisa bersatu.
"Tapi Jun, nanti kalau Rian lihat aku diantar pulang sama kamu. Nanti dia pasti marah"
"Lalu bagaimana?"
"Jun aku bisa pulang sendiri"
Juna pun tampak mengehela napasnya kembali. Meski Juna sangat mengkhawatirkan Lusi. Namun ia menghargai keputusan Lusi.
"Baiklah kalau gitu" ucap Juna pasrah.
Namun ada pemandangan lain serasa tak biasa. Juna sebenarnya enggan untuk bicara. Namun semua harus di ungkapkan.
"Lusi?" Ucap Juna.
"Kenapa?" Tanya Lusi.
__ADS_1
"Kancing baju kamu terlepas bagian atasnya" ucap Juna.
Lusi pun tampak menutupnya bagian yang kancing yang terlepas itu, dengan kedua tangannya. Sambil menahan malu. "Ya ampun"
"Yaudah kancingin dulu ya. Jangan sampai kamu mengundang sesuatu" ucap Juna.
"Mengundang, mengundang apa?"
"Mengundang lalat untuk hinggap disana. Sekalipun lalat yang hinggap, tetap aku tidak rela"
"Juna, kamu itu kemana-mana deh ucapannya"
"Gak apa-apa kan kalau ucapan aku. Yang penting jangan pikiran aku yang kemana-mana"
"Lagi juga Gak apa-apa sih kalau cuma lalat yang hinggap Jun. Daripada burung"
"Maksudnya kamu burung siapa?"
"Burung Kaka tua, karena aku gak mau takut giginya tinggal dua"
"Maksudnya kamu burung Kakak tua hinggap di jendela, nenek sudah tua gigi nya tinggal dua"
"Ya begitulah kira-kira"
"Kamu itu abis pingsan. Bisa aja bikin lawak receh gitu" ucap Juna.
Lusi pun hanya tampak tersenyum juga saat Juna juga tersenyum.
"Yaudah aku mau pulang" ucap Lusi.
"Baiklah. Sebenarnya aku mau ngbrol lama sama kamu"
"Udah sore, next kalau kita ketemu lagi ya" ucap Lusi.
Lalu Juna pun tampak mengantar Lusi. Sampai ia benar-benar mendapatkan taksi untuk pulang. Juna pun bukan sekedar mengantar sampai Lusi naik taksi.
Sebenarnya Juna pun diam-diam mengikuti Lusi dari belakang. Untuk memastikan bahwa Lusi baik-baik saja. Dan sampai dengan selamat sampai rumah.
Ya.. Juna bukan tipikal pria perebut istri orang. Ia mencinta wanita dengan caranya sendiri. Melindungi, mencintai tanpa merusaknya, tidak peduli dengan kondisinya. Tidak peduli dengan statusnya. Karena mencintai itu adalah bukan suatu hal yang salah. Namun bisa menjadi dosa dan salah, bila kita memaksakan sesuatu yang bukan miliik kita untuk menjadi hak milik.
Setelah Juna tampak melihat Lusi benar-benar sampai dirumah. Juna pun baru pulang.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Tak lama sampailah Rian di depan rumah. Rian baru saja pulang dari kantor. Terlihat Lusi yang menatap suaminya. Ia pandang, dengan secara seksama. Ada hal penting yang kali ini ia akan utarakan. Bukan soal dirinya yang pingsan. Namun soal kalung itu. Ya kalung itu seolah bukti ada sesuatu yang Rian sembunyikan.
"Aku ingin bicara sama kamu?" Ucap Lusi.
"Bicaralah"
"Aku ketemu Gery tadi di supermarket"
"Terus?"
"Gery bilang ia tidak meminta kalung apapun dari kamu. Bahkan ia tidak sedang menembak wanita manapun. Lantas kalung untuk siapa Rian?" Ucap Lusi tampak serius.
"Lusi kamu cemburu soal kalung itu. Kamu tenang saja, aku akan memberikan yang lebih mahal buat kamu"
"Ini bukan soal harga, tapi kejujuran kamu" Ucap Lusi.
"Kamu jadi curiga sama aku"
Lusi pun tampak membuang wajahnya.
"Kamu pucat Lusi apa kamu sakit" ucap Rian yang kali ini menatap Lusi.
Lusi pun tampak memanas soal kalung itu. Dan seolah tak peduli lagi soal dirinya yang habis pingsan.
"Kamu lebih baik istirahat. Aku gak mau bahas apapun soal kalung itu. Nanti akan aku kasih tahu semua. Tapi tidak sekarang?"
"Kenapa?"
"Karena malam ini. Ayah sama ibu kamu datang. Aku gak mau Ayah dan Ibu kamu melihat kita bertengkar. Tadi mereka menelpon, katanya kangen sama Fabio. Mungkin 15 menitan lagi mereka sampai"
Lusi pun tampak menghela napasnya. Saat Rian bilang bahwa orang tuanya akan datang. Lusi pun juga tak ingin bila orangtuanya datang, lantas melihat Lusi dan Rian dalam keadaan bertengkar. Lusi pun kali ini memang berusaha meredamnya.
***
maaf kalau salah-salah. soalnya aku belum baca ulang juga.hehhee
__ADS_1