Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Saat kau tak ada


__ADS_3

Setelah permainan panas itu terjadi dan terus berulang. Tanisa pun tampak pegal dengan gerakan yang semua dilakukannya bersama pria tua itu. Permainan panas yang begitu panjang.


Pria tua itu kini tengah tidur setelah mendapatkan pelampiasannya itu.


Pria tua itu tidur sambil memeluk Tanisa. Mereka tampak tak memakai apapun hanya selimut yang menutup tubuh diantara keduanya.


Lalu Tanisa pun bangun secara perlahan agar tidak membangunkan pria tua yang nakal itu.


Kini Tanisa tampak masuk kedalam kamar mandi memandang dirinya di depan cermin.


Tiba-tiba ia teringat dengan Gavino.


Pria yang ia cintai yang sudah mengabaikan dirinya.


Seketika ia pun tampak menjatuhkan air matanya. Hatinya begitu sakit dan terasa perih. Ia tak pernah menyangka jika hidup nya akan seperti ini.


Bagi Tanisa semua terasa sama. Ya semua terasa sama.


Tanisa tampak sedih karena menggadaikan cintanya pada pria itu. Tapi itu sudah menjadi pilihan hidupnya.


Tanisa pun tampak pergi ke dapur melihat apa yang bisa ia makan dan ia sajikan. Tanisa pun melihat hanya telor dan beras. Tanisa pun menggoreng telor dadar dan nasi. Ia pun menyiapkan semua diatas meja.


Tanisa meyiapkan semua yang ada saja. Setelah semuanya matang. Tanisa hanya duduk sendiri dan memandang nasi dan telor yang sudah ia masak. Piring nya tampak kosong. Ia tampak terdiam sambil melamun. Ia tidak mau makan sebelum pria yang membawa nya kesini makan lebih dulu.


Tak lama setelah Deon tampak keluar dari kamar, dia pun melihat Tanisa yang sedang duduk didepan meja makan tampak terdiam dan termenung. Deon tampak heran kenapa makanan sudah ada diatas meja tapi Tanisa tampak tak memakannya. Deon pun duduk dihadapan Tanisa. Dan bertanya.


"Kamu sudah ada disini, kamu sudah makan?" Tanyanya pada Tanisa.


Tanisa pun tampak memandang pria tua itu dengan tatapan sayu.


"Aku tidak makan, sebelum kamu makan. Aku menunggumu" jawab Tanisa.


Tanisa pun memberikan piring dan ia isi nasi diatas meja.


"Aku tidak tahu kamu suka atau tidak dengan hidangan ini. Tapi yang kutemukan ini" ucap Tanisa.


Aku tak pernah mengira jika Tanisa begitu lembut. Bahkan ia tak mau makan sebelum aku turun batin Deon.


"Padahal kalau kamu lapar kamu bisa makan duluan" ucap Deon.


"Tidak, aku menunggu mu saja" ucap Tanisa.


"Lalu kenapa kamu tak memanggilku untuk makan"


"Aku tidak mau menggangu tidur mu. Biarkan kamu bangun sendiri dan mencari ku. Lalu kita makan bersama" jelas Tanisa.


Seketika hati Deon tampak terenyuh dengan jawaban Tanisa yang begitu mengejutkan. Bahkan istri yang selalu mendampinginya dulu. Tak pernah mengatakan itu. Deon pun menatap Tanisa lebih dalam.


"Tanisa?" panggil Deon.

__ADS_1


"Iya" terlihat Tanisa yang menjawab iya namun matanya tampak menunduk.


"Tanisa?" Ucap Deon lagi.


Tanisa masih menunduk dan lalu menjawab "iya"


"Pandang aku. Lihat aku" perintah Deon. Barulah Tanisa mendongak ke arah Deon.


"Lihat aku" pinta Deon.


Tanisa pun memandang Deon.


"Apa?"


"Apakah kamu pernah mencintai seseorang?" tanya Deon.


Seketika Tanisa terdiam. Dia pun seketika mengingat Gavino


"Kenapa diam, apa kamu pernah mencintai seseorang?" Tanya Deon lagi.


Lalu Tanisa pun mengangguk.


"Aku pernah mencintai seseorang" jawab Tanisa.


"Dia siapa?" Tanya Deon.


"Pelanggan" jawab Tanisa.


Tanisa pun menggelengkan kepalanya.


"Semuanya cuma sebuah luka dan duka" ucap Tanisa.


"Kenapa?" tanya Gavino.


"Dia hanya menganggap ku wanita murahan dan tak pernah berati baginya"


"Apakah dia tahu kalau kamu mencintai dia" tanya Deon.


"Iya dia tahu, aku mengucapkannya setiap hari padanya. Tapi tak pernah sekalipun ia menjawab. Tak pernah sekalipun ia mendengar ku. Ia selalu cuek dan selalu acuh"


"Lalu dia kemana?" Tanya Deon.


"Dia pergi dariku, dia juga menyuruh ku untuk pergi darinya, ia mengusirku dari hidupnya. Dia menyuruh ku untuk sadar, bahwa aku tak pantas, aku wanita yang murahan" jelas Tanisa.


"Terus?"


" Dia ingin mencari wanita yang masih gadis, wanita terpandang, yang setara dengannya. Tidak seperti diriku yang hina dan tak memiliki apapun. Saat itulah aku mengerti bahwa cinta itu sesakit ini. Untuk pertama kalinya aku mencintai. Namun untuk pertama kalinya aku juga merasakan pedihnya cinta"


"Lupakan dia. Dia tidak ada dan takan pernah ada untuk mu. Kamu akan menjadi orang yang spesial dihatiku. Dan kamu akan merasa bahagia bersama ku. Saat ini lupakan dia. Dan kamu menjadi milikku seutuhnya" ucap Deon tegas penuh penekanan dan langsung mencium tangan Tanisa dengan lembut.

__ADS_1


.


.


.


.


Setelah itu tampak Gavino yang masih memimpikan Tanisa disetiap malamnya. Hati Gavino tampak resah mengapa hatinya merasakan hal seperti itu. Apa mungkin dirinya kesepian. Ya wanita itu selalu ada di pikirannya kini.


Seketika Gavino pun keluar dari kamarnya. Merenung dan memikirkan perasannya kini.


Mengapa ia merindukan wanita murahan itu.


Tanisa yang memiliki perasaan lembut. Tak pernah marah, selalu tersenyum. Bahkan dirinya tak pernah meminta uang sekalipun pada Gavino.


Gavino lah yang memberi kartu kredit untuk memfasilitasi Tanisa.


Membuat Gavino berfikir ulang apakah Tanisa bener-benar murahan. Tapi sayang Gavino telat memikirkan hal tersebut.


Lalu Gavino pun kembali kedalam.


Gavino pun melihat ranjang empuk yang ada didepannya kini. Ia terus teringat pada Tanisa. Yang selalu menghiasi kamar tidurnya.


Selama Tanisa tinggal bersama Gavino, tak pernah Tanisa meminta uang. Yang ia pinta hanyalah bunga dan bunga. Namun Gavino tak pernah memberikannya sekalipun. Gavino hanya bilang Tanisa tak perlu itu.


Selama hidup bersama dengan Gavino, Tanisa pun selalu mengucapkan kata cinta pada Gavino. Berulang dan hampir setiap hari. Namun Gavino tak pernah sekalipun membalas cintanya. Gavino hanya tampak cuek dan hanya nafsu lelaki yang selalu Gavino pedulikan.


Saat itu Gavino pun duduk ditepi ranjang. Dia membuka laci yang tak pernah ia buka sebelumnya. Tak tahu kenapa hatinya ingin membuka laci itu.


Gavino pun membuka laci itu. Tampak sebuah curahan hati Tanisa. Selembar kertas, ya Tanisa menuliskan perasaannya pada selembar kertas.


Dan tertinggal satu foto Tanisa. Gavino pun memandang foto itu lekat. Tanisa terlihat cantik di foto itu, dengan rambut hitam yang panjang.


Lalu Gavino pun membaca surat itu.


...Aku mencintaimu seluruh hidup ku. Aku menyukai mu dari dalam hatiku. Aku memujamu lebih dari hidup ku. Tapi sekalipun kau tak pernah melihat perasaan ku. Tak sekalipun kau pandang aku. Aku mencintai mu lebih dari apapun. Namun aku tak tahu, bagaimana cara menyentuh hatimu yang begitu dingin dan membeku. Aku sadar aku hanya lah sampah yang terbuang. Namun.. aku tetaplah seorang manusia. Seorang manusia sama dengan lain. Yang ingin dicintai yang ingin disayang. Dengan perasaan dan hati. ku ingin kau tahu betapa aku sangat mencintamu dan ku harapkan kau mendengar ku. Walau hanya lewat surat ini....


( Tanisa )


Seketika Gavino meremas lembar kertas itu. Hatinya ikut merasakan sakit apa yang Tanisa rasakan.


Hati Gavino tampak ingin menemui Tanisa.


Ya, aku merindukan wanita ini batin Gavino.


Bahkan pernikahan Marisa yang tinggal besok tak membuat hati Gavino sedih.


Entah mengapa Gavino kini merasa lebih berat kehidupannya saat Tanisa tak ada disisinya.

__ADS_1


Gavino sangat merindukan Tanisa saat ini.


Tanisa aku merindukan mu saat ini. Ya saat ini aku merindukan kamu. Ungkap Gavino sambil memegang kertas itu.


__ADS_2