
Lalu saat itu Renata dan Lusi pun masih dibayangi ketakutan yang teramat. Lusi tidak menyangka dirinya harus dihadapkan dengan hal serumit ini. Tanpa memberikan aba-aba pria itu langsung menarik langsung dan mengurungnya disebuah kamar sendirian. Sedangkan putranya tampak menangis didalam gengaman seorang pria berbadan besar itu.
"Lepaskan aku bodoh, berikan putra ku padaku" teriak Lusi didalam kamar yang terkunci.
Sedangkan Renata dikurung disebuah kamar yang terpisah dengan Lusi.
Lusi pun tampak menangis didalam kamar, pasalnya ia tidak mau terpisah pada putranya masih kecil.
"Hiks hiks hiks" tangisan Lusi pun tumpah karena perasaan takut dan kesal menjadi satu. Mengapa ada orang yang begitu tega memisahkan ibu dari putranya.
"Lepaskan aku, berikan putra ku padaku" teriak Lusi yang menangis didalam kamar. Lusi tidak bisa terima dirinya diperlukan seperti ini.
Tampak malam itu..
Suasana masih malam menjelang subuh, seorang pria dengan senyuman menyeringai kesal karena tak mampu menemukan Rian. Bahkan dirinya tidak tahu bahwa Rian telah meninggal. Ya dia adalah pemberi hutang, bernama Demian. Pemuda yang terlalu terobsesi dengan bisnis.
Lalu tak lama seorang pria menghampiri, dia adalah asisten pribadi dari pria kaya itu. Assiten pribadi itu bernama Edy.
"Jadi apa yang kamu lakukan setelah kamu tahu bahwa Rian meninggal" tanya Edy.
"Hutang tetaplah hutang" kata Demian tegas.
"Rian jatuh miskin sebelum ia meninggal bagaimana ia bisa melunasi hutangnya" kata Edy selaku asisten pribadinya.
"Tetap aku akan menagih hutangnya" kata Demian.
"Tapi bagaimana mereka bisa membayar"
"Aku tidak peduli sekalipun nyawa mereka menjadi taruhannya"
"Sungguh sadis? Apakah kamu tidak minat dengan istri dari Rian itu. Tadi aku tak sengaja melihat nya, dia sangatlah cantik sangat pas bila kamu jadikan istri. Itu bisa jadi kan kesempatan untuk mu tuk dapat memiliki nya dalam keadaan penuh tekanan seperti ini" saran Edy kepada boss nya yang memang sudah lama sendiri dalam hidupnya.
"Aku butuh uang bukan seorang wanita lagi pula ia sendang hamil mana mungkin?"
"Meskipun hamil, tapi wanita itu janda..sah dan mudah untuk kamu memilikinya. Biar janda tapi dia berparas ayu, cantik dan seperti nya dia baik. Aku jika jadi dirimu aku hilangkan hutangnya dan memilih dirinya"
"Dasar pria tidak punya komitmen sekali uang tetap uang, wanita hanya merusak cita-cita dan citra dari seorang pria dan penghalang menuju sukses. kecantikan dari wanita tu bukanlah segalanya. Aku tidak butuh tidak butuh wanita cantik yang aku butuh uang, mereka harus melunasinya" kata pria berusia 35 tahun itu.
"Tapi uang bisa di cari"timpal Edy.
"Dan wanita juga bisa dicari" kata Demian.
"Tapi yang seperti ini hanya satu"
"Tapi satu yang ku butuhkan mereka melunasi hutangnya"
"Baiklah terserah dirimu saja, kalau memang kamu betah sendiri. Tagih saja sesuai keinginan mu" kata Edy pergi.
Edy merasa selama ini Demian terlalu dingin dengan permpuan hanya uang yang ia cari hingga melupakan dirinya sebagai seorang lelaki yang harusnya memiliki pasangan hidup.
Edy merasa ada kecocokan melihat Lusi dan bossnya itu. Tapi sayang boss sama sekali tidak berminat pada Lusi.
__ADS_1
Pagi harinya Edy datang lagi membawakan segelas susu dan sepotong roti pada wanita yang menjadi tawanan bossnya yaitu Lusi.
Saat di buka pintu tampak Lusi yang sudah emosi jiwa karena dirinya dikunciin didalam kamar.
"Lepaskan aku dari sini" ucap Lusi dengan nada mengancam. Sampai Lusi menubruk susu dan tumpah ke bajunya.
"Santailah dulu nona disini aku tidak jahat padamu, justru aku memberikan sarapan padamu" ucap Edy.
"Siang ini kamu akan segera dikembalikan namun dengan catatan dalam kurun waktu dua minggu harus lunasi hutang"
Edy pun melihat baju Lusi yang basah.
"Ambilah baju dilemari itu disana setahu ku ada baju adik dari Demian kamu bisa memakainya" ucap Edy.
"Tapi kemana putra ku, aku ingin menemuinya tolong jangan apa-apakan dia" ucap Lusi menjatuhkan air matanya.
"Tidak akan, dia baik-baik saja" ucap Edy lansung pergi dan kembali mengunci pintu kamar Lusi itu.
"Lepaskan dan keluarkan aku!!!" teriak Lusi yang tidak terima dirinya kembali dikunciin dikamar.
Edy pun tampak tidak pedulikan Lusi dan pergi.
Saat itu..
Lusi tidak mau memakan apa yang diberikan oleh pria tersebut meski Lusi sangatlah lapar. Lusi kahwatir pria itu memberikan racun kedalamnya. Dan membuat Lusi kehilangan nyawanya. Itu sungguh bukan keinginan dirinya.
Akhirnya Lusi yang merasa tidak nyaman dengan pakaian yang basah karena susu yang tumpah lalu Lusi mencari pakaian yang katanya ada dilemari. Dikamar yang mewah itu, Lusi pun membuka lemari yang ada dikamar tesebut. Saat dibuka benar saja ia melihat banyak pakaian wanita didalamnya. Akhirnya Lusi pun mengambil satu. Karena memang sudah mendapat ijin.
Lusi pun mengambil sebuah Long dress berwarna putih. Setelah itu tiba-tiba Demian yang masuk kedalam kamar yang Lusi tempati, Demian pun kaget melihat Lusi yang memakai baju adiknya.
Sementara Demian sangat kesal saat tahu, ada orang lain yang berani memakai baju milik adiknya dengan cepat Demian langsung menampar Lusi dengan keras.
Plaaakkkkk...
"Beraninya kamu berani memakai baju milik adikku"
Lusi pun kaget dengan tamparan yang seharusnya tak mendarat secepat ini hanya karena ia memakai baju milik adiknya.
"Aku tidak menyuruh mu untuk memakai benda yang ada disini, sekalipun aku mengurung mu disini, dasar wanita sialan!!!!" Demian kesal.
Lusi pun tampak menangis tanpa sadar karena kaget dirinya akan mendapat tamparan yang menyakitkan.
"Huhuhuhu"
"Kenapa kau menangis?"
"Jika memang aku salah aku akan melepaskan pakaian ini" kata Lusi menjatuhkan air matanya.
Tiba-tiba Edy datang kaget melihat Lusi yang sedang menangis.
"Ada apa ini?" Tanya Edy heran.
__ADS_1
"Beraninya dia memakai baju adikku" kata Demian kesal.
"Itu memang aku yang suruh karena bajunya basah" kata Edy.
Seketika Demian pun merasa sedikit bersalah pada Lusi yang telah menamparnya. Namun hati Demian tetap masih dingin dan kesal kepada Lusi.
"Baiklah aku akan mengganti"
"Cukup tidak usah, baju yang sudah bekas wanita murahan seperti mu tak layak aku menyimpannya lagi" lalu dengan cepat Demian menarik wajah Lusi kasar.
"Jangan pernah menyebutku murahan" ucap Lusi kesal.
"Dirimu memang tidak berharga!!!"
Demian pun menatap wajah Lusi yang menangis.
"Aku tidak suka orang yang berjanji lalu mengingkari. Aku butuh uang yang seharusnya kini di tangan ku. Suami mu, suami mu yang mengiyakan akan mengganti sampai saat ini tidak ada. Pastikan dirimu tidak kabur" ucap pria itu. Lalu dengan cepat kembali menampar Lusi dengan keras.
Plaaakkkkk..
Lusi pun kaget dengan tamparan kedua dari Demian.
Edy pun tidak banyak melakukan apapun saat Lusi ditampar oleh Demian. Karena Edy memang tahu Demian memiliki sifat yang keras.
"Itu adalah tamparan yang aku layangkan seharusnya untuk suami mu yang meleset membayar hutangnya. Namun adanya dirimu saat ini" kata Demian.
Lusi pun hanya tampak tertunduk menangis.
"Dan satu lagi, aku tidak mentolerir dirimu jika sampai dua minggu kedepan tak mampu membayar hutang mu. Konsekuensi yang akan kamu terima adalah, orang tersayang dalam hidup mu akan mengalami penderitaan perih. Ayah mu, ibu mu dan juga anak mu. Aku sudah mengorek siapa keluarga mu!!!" Kata Demian.
"Ku harap kau paham!!!!!" Ucap Demian dengan suara lantang.
Lusi hanya tampak menangis sambil memegang pipinya.
"Dengarkan apa yang baru saja aku ucap!!!!! Kau paham????????" Tanya Demian dengan mata yang melotot.
"Iya a-aku paham" jawab Lusi terbata.
"Bagus, aku rasa mereka bisa dilepaskan. Pastikan jangan sampai lolos, tetap awasi mereka yang punya hutang" ucap Demian pada Edy.
Tiba-tiba Lusi pingsan.
"Kenapa dia?" Tanya Demian panik.
"Pingsan"
"Angkat taruh diatas kasur, jangan sampai ia mati sebelum dirinya melunasi hutangnya" kata Demian.
Setelah beberapa menit Lusi sadar Lusi pun memegang kepalanya. Kepalanya tampak sakit saat itu. Tubuhnya terasa lemah karena dirinya yang belum makan saat itu.
"Setelah kamu sadar kamu boleh pulang, putramu dan ibu mu juga boleh pulang. Tapi ingat hutang mu" kata Edy. "Makan lah roti itu aku tidak manaruh racun"
__ADS_1
Lusi pun mengangguk sambil menjatuhkan air matanya sekali lagi.
"Setelah ini, aku akan antar pulang"