
Tanisa tak pernah menyangka dirinya akan dibawa oleh pria yang kini sangat ia cintai. Pria yang pernah mengisi hidupnya, pria yang mampu membuat Tanisa terbang melayang dan pria yang mampu membuat Tanisa jatuh cinta untuk pertama kalinya. Seperti mimpi disaat Gavino mampu peduli pada Tanisa seperti mimpi, Tanisa dapat pergi bersama dia yang pernah membuang diri Tanisa jauh-jauh.
Ada perasaan senang namun ada perasaan sedih juga yang melanda, karena mengingat ada beban yang Tanisa rasakan dalam diri Tanisa yang tak lepas begitu saja. Apalagi kalau bukan soal kehamilan Tanisa apakah mungkin Gavino bisa menerima nya kini yang tengah hamil. Apakah bisa hubungan dengan Gavino bisa seperti dulu. Ya Tanisa merasa senang tapi sekaligus sedih bila mengingat dirinya tak seperti dulu. Kini Tanisa hamil anak Deon. Tanisa tak menyesali soal kehamilan nya hanya saja Tanisa semakin merasa sulit untuk menjalani hidup nya yang terasa begitu keras dan pilu. Apalagi mengingat Gavino pria terhormat berbanding terbalik dengan Tanisa. Seperti langit dan bumi, yang semua terasa sulit untuk dihadapi. Tanisa hanya berharap semua akan baik-baik saja.
Tampak Gavino membawa mobil, sedikit perlahan tapi pasti. Terlihat Tanisa duduk disamping Gavino. Tanisa dibawa kemana Tanisa tampak tak tahu, ya Tanisa memang tidak hapal jalanan.
Tanisa yang terlihat lemah duduk disamping Gavino tampak menengok kesana kemari mau dibawa kemana kah dirinya.
"Kita mau kemana" tanya Tanisa.
"Tenanglah kita akan pulang" jawab Gavino.
"Kemana?"
"Apartemen ku" jawab Gavino.
"Kamu tidak akan membawa ku tempat prostitusi itu lagi kan" sindir Tanisa.
"Aku tidak akan membiarkan mu kembali ketempat mana pun selain bersama ku" kata Gavino.
Tanisa pun tampak tersenyum..
Jika mengingat Gavino yang dahulu punya sifat cuek dan dingin itu, mengatakan hal itu. Dan itu seperti mimpi bagi Tanisa. Tanisa pun tampak menyimpan senyum, karena perubahan Gavino yang lebih baik.
Seketika Gavino pun tampak memperhatikan wajah Tanisa yang tampak ada bekas pukulan diwajahnya. Membuat Gavino bertanya-tanya.
"Tanisa wajah mu seperti memar kamu kenapa?" tanya Gavino yang tampak memperhatikan wajah Tanisa sesekali sambil menyetir.
"Deon, aku begini karena nya, Karena pria yang bernama Deon"
Seketika Gavino pun tampak tak percaya.
"Apa kamu serius itu karena ulahnya" kata Gavino tampak kaget.
"Iya" jawab Tanisa.
"Hem, kurang ajar. pria brngesk itu berani memukul mu!!!! Aku yakin dia tak pernah mencintai mu, tidak mungkin dia lakukan hal itu pada orang yang ia cintai"
Tanisa pun tampak tersenyum miring namun mengisyaratkan tengang kepahitan hidupnya.
"siapa yang bisa mencintai wanita seperti ku Vin. Siapa yang mau mencintai secara tulus dengan wanita murahan seperti ku. Sekali pun ada aku yakin belum tentu murni. Hanya nafsu dan kebutuhan saja. Perih itu sangat perih dihati Gavino" ucap Tanisa dengan sorot mata yang dalam.
"Sekalipun kamu, kamu pun juga belum tahu benar cinta atau?" Ucap Tanisa lagi.
__ADS_1
Seketika Gavino terdiam mengingat dirinya yang juga pernah menginginkan Tanisa hanya untuk menjadi pemuas nafsu nya saja.
"Itu hanya dulu Tanisa, itu dulu.. kini aku sadar kamu bertarti untuk ku, sangat berati" kata Gavino mengambil tangan Tanisa lalu mencium nya. "Aku tak mau kehilangan mu. Sungguh aku tak mau"
"Gavino" ucap Tanisa.
"Ya" sahut Gavino.
"Terimakasih banyak kamu sudah membawa ku kembali dalam pelukan mu. Dan ini seperti mimpi bagiku" ujar Tanisa.
"Ya aku pun senang kamu dapat kembali pada ku" kata Gavino senang.
"Gavino, aku tidak mau kembali kepada Deon aku mohon jangan berikan aku kepadanya. Jangan berikan aku, kalau kamu sudah tak mau lagi dengan ku. Hanya satu kata yang aku pinta padamu"
"Apa?"
"Lepaskan saja aku. Jangan pernah berikan aku kepada siapapun. Karena itu sungguh menyakitkan disaat kita dibuang. Disaat kita di lepaskan aku merasa lebih baik, namun disaat aku dibuang dan diberikan kepada orang. Aku betul-betul merasa sampah yang tak ada harganya"
"Maafkan aku, aku mungkin pernah melakukan hal itu padamu, namun percayalah Tanisa aku sangat mencintai mu"
Tanisa pun tersenyum dan mengangguk. Tanisa merasa sudah cukup Gavino membawa nya kembali dan itu lebih dari cukup bagi Tanisa.
Lalu Gavino pun memegang kepala Tanisa untuk mengecek suhu badan Tanisa dan ternyata yang masih terasa panas.
"Iya kepalaku masih sakit tubuh ku juga"
"Sabar ya sebentar lagi kita sampai"
.
.
.
Sesampainya di apartemen itu.
Gavino tampak parkir mobil nya dan membawa Tanisa masuk kedalam dengan cara menggendong.
"Vin, kamu jangan gendong aku. Aku berat aku bisa jalan" kata Tanisa.
"Kamu sedang sakit, aku tidak mau kamu tambah sakit"
Tanisa pun tersenyum melihat perhatian Gavino. Gavino memang sudah berubah, ia yang selalu cuek itu tampak sangat perhatian pada Tanisa kini.
__ADS_1
Lalu dengan perhatian Gavino membawa Tanisa ke dalam apartemen itu dengan cara menggendong.
Tanisa pun pun dibawa kembali dimana tempat yang selalu ia tiduri dulu, tempat dimana Tanisa dibawa oleh Gavino dan ditiduri oleh Gavino saat pertama kali nya, ya ditempat itu menjadi saksi bisu dimana Tanisa memadu kasih dan cinta pada pria yang membawa Tanisa seperti mabuk kepayang akan cinta.
Saat diapartemt itu Tanisa pun tampak memandang satu satu setiap sudut kamar apartemen itu. Setiap celah dan sudut tempat yang sangat ia rindukan. Semua seolah tampak sama seperti dulu dan tak ada yang berbeda. Tanisa tampak tersenyum dan menginygay kembali dirinya yang pernah tinggal diapartemt itu. Yang selalu menunggu Gavino setiap malam dan untuk menghibur hati Gavino. Meksipun saat itu Tanisa hanyalah wanita murahan yang dibayar namun Tanisa mencintai Gavino dengan seluruh hidupnya. Dan kini Gavino kembali, dan itu seperti mimpi. Sampai terkahir kali sprei yang terpasang saat terakhir kali juga ia melakukan hubungan badan itu. Sprei itu tampak tak diganti atau terganti entah sengaja atau tidak Tanisa tidak tahu.
Mengapa sprei ini masih tampak sama, tak diganti, mengapa demikian?
Ya Gavino sengaja tidak mengganti sprei saat terakhir Tanisa meniduri. Karena Gavino tak mau wangi dan harum tubuh Tanisa itu hilang. Karena disaat Tanisa pergi Gavino baru sadar bahwa ia sangat cinta pada wanita yang kini ada dihadapan.
"Sprei ini tak pernah ku ganti" ucap Gavino tiba-tiba.
"Kenapa?" Tanya Tanisa.
"Wangi tubuh mu, saat kamu pergi begitu terasa sakit dihati. Aku tak rela kehilanganmu, aku merindukan mu. Walau sakit saat mengingat mu. Tapi semua hal tentangmu aku tak mau hilang harus tetap ada, seperti halnya sprei saat terakhir kamu tiduri"
Tanisa pun tersenyum dengan apa yang dituturkan oleh Gavino.
Lalu Tanisa pun tampak memandang setiap sudut itu lagi, lalu Tanisa pun terperangah melihat foto nya yang dipajang diruang itu.
"Ini foto ku kan"
"Iya itu foto mu"
Seketika Tanisa pun menjatuhkan air matanya.
"Kenapa menangis?" tanya Gavino.
"aku terharu karena ternyata kamu benar mengingat ku" ucap Tanisa bediri dan tampak melihat fotonya yang terpajang diatas meja dekat tempat tidur.
"Tanisa tahukah? setiap seminggu sekali aku membawakan bunga mawar untuk foto ini. Sampai bunga ini tampak mengering, aku ingat sekali saat dirimu meminta bunga pada ku, aku menyesal tak pernah memberikannya pada mu. Sampai saat aku ingin memberikan padamu namun kamu tak ada. Hanyalah foto ini, ya foto ini yang mampu menerima nya, mewakili dirimu yang tlah pergi" ucap Leon.
Seketika Tanisa pun memeluk Gavino dengan sangat erat.
"Aku mencintaimu, aku sangat mencintai mu. Hiks hiks hiks" ucap Tanisa terharu dengan perasaan penuh bahagia
Ya, Tanisa sangat merasa nyaman saat ini berada didalam pelukan pria yang sudah sangat lama ia rindukan itu, Gavino pun tampak memegang pipi Tanisa dan mencium kening Tanisa.
"Aku pun sangat mencintai mu. Aku tak ingin kamu pergi dalam hidupku, Tanisa.... Aku mencintai mu" ucap Gavino.
Lalu Gavino pun tampak mengambil bunga mawar dan memberikan mawar merah itu pada Tanisa.
"Peganglah, bunga mawar ini untuk mu"
__ADS_1
Tanisa pun tampak tersenyum.