
Lalu setelah kejadian ciuman yang dirasa tidak perlu itu terjadi, membuat Lusi seperti orang yang linglung. Pasalnya jika dia tidak menginginkan dirinya untuk apa dia mencium Lusi apakah ia tidak ada kerjaan sampai dia melakukan hal itu, mungkin saja itu bentuk dari dirinya yang tak bisa menghargai wanita.
Lusi pun sesekali menjatuhkan air matanya itu.
Yang ia pikirkan kini bukan lagi dengan pria kurang ajar itu, yang paling terpenting adalah putranya sudah ada didalam dekapan Lusi. Lalu dimana Renata kini?
Tak lama setelah itu Renata terlihat memandang Lusi yang memeluk putranya.
Takut Lusi kenapa-kenapa, Renata pun mendekap Lusi.
"Kau baik-baik saja" tanya Renata.
"Justru aku yang takut mama kenapa-kenapa" kata Lusi.
"Tidak sayang mama lebih takut kamu yang kenapa-kenapa" kata Renata.
Akhirnya, Lusi, Fabio dan Renata dibawa dengan sebuah mobil untuk dikembalikan ke rumah dengan catatan tetap harus dapat melunasi hutang dua minggu kedepan.
Selama diperjalanan yang Lusi dapat lakukan hanya memeluk Fabio dengan erat tak mau melepaskan. Fabio terlihat tertidur saat itu. Renata pun melihat ke arah Lusi secara seksama dan memperhatikan dari leher Lusi yang meninggalkan bekas yang Renata yakini bahwa sebenernya Lusi tidak baik-baik saja saat bersama Demian.
"Lusi mama tahu, kamu tidak baik-baik saja"
Lusi pun hanya menggelengkan kepala, mengisyaratkan bahwa semua tidak perlu ada yang dipikirkan.
"Mama tahu, bahwa kamu diperlakukan tidak baik. Mama tahu kamu tidak perlu menyembunyikannya. Tanda dileher semua menjadi bukti untuk mama. Kamu diperlakukan tidak baik kan" ucap mama.
Edy pun tersenyum miring yang memang tahu apa yang Lusi terima. Saat itu Edy yang membawa mobil.
Lusi pun sepanjang jalan hanya terdiam tak bergeming perasaan nya kalut dan bingung dengan semuanya.
Hingga sampai dirumah Lusi tampak terdiam dan membisu. Dirinya seperti shock dengan apa yang menimpanya dan kepikiran bagaimana ia harus membayar utang dengan waktu yang sangat singkat itu, yakni dua minggu. Lusi tidak tahu ia harus mendapatkan uang darimana. Perihal dirinya yang diperlukan kurang baik, Lusi memang sudah tak mau membahas itu lagi. Dirinya pusing campur aduk darimana ia harus mendapatkan uang yang banyak itu. Bahkan harta yang dimiliki oleh Ayahnya tak sebanyak itu.
Lusi pun pulang saat itu, untuk kembali ke rumah yang di Bandung karena sudah dijemput. Lusi pun tidak tega bila meninggalkan Renata, tapi Renata mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Tidak jadi masalah bila dirinya tinggal sendiri. Dalam detik itu pun Lusi menyadari bila ada seseorang yang mengikuti dirinya saat ia pulang ke Bandung, Lusi merasakan ada satu mobil yang tengah mengikuti dari belakang. Namun Lusi hanya berani menengok dari lampu spion dimobil milik Ayahnya. Sekalipun Lusi mau melawan sepertinya akan sulit, dan itu sudah Lusi pastikan bahwa itu adalah suruhan dari pria yang bernama Demian.
"Sepertinya kita di ikuti dari belakang" ucap pak makmur sambil menyetir.
"Jalan terus pak, jangan berhenti" perintah Lusi untuk tidak berhenti karena takut malah menjadi masalah.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam itu Lusi pun sampai dikediaman yang ada di Bandung dengan membawa putra nya itu.
Sesampainya dirumah Lusi pun langsung masuk ke dalam rumah dan seperti tidak terjadi apapun, Lusi berusaha untuk menyembunyikan semua masalah nya. Lusi tidak mau bila orang tuanya akan menjadi kepikiran saat ini.
"Kamu terlihat pucat nak" tanya sang Ibu yang melihat Lusi dengan wajah yang muram.
"Sebenernya"
"Sebenarnya kenapa?"
Lusi pun akhirnya menceritakan tentang dirinya yang dikejar hutang miliyaran rupiah yang harus segera dilunasi dalam waktu dekat. Ibu pun kaget dengan apa yang Lusi utarakan pasalnya uang segitu bukan hal yang mudah dan kecil, apalagi dengan nilai milyaran rupiah. Tapi Ibu berjanji tetap akan bantu, yang katanya saat ini ibu memiliki harta warisan senilai satu milyar dalam bentuk rumah yang masih ditempati oleh adiknya. Lusi pun juga tidak berani menjual rumah yang ada. Rumah yang Lusi tempati pun nilainya tidak sampai milyaran, mungkin hanya 500 juta, dan mobil yang ayahnya miliku hanya senilai 200 juta saja. Masih sangat jauh untuk membayar hutang. Dan bicara bisnis, bisnis ayah memang sedang tidak lancar. Bahkan ada aset yang memang sudah dijual. Dan kini Ayah sedang menjalankan bisnis toko material saja. Dan itu pun tokonya habis kebakaran. Semua masalah seolah terjadi secara beruntun dan tak memberi napas untuk sang pemilik masalah. Masalah satu selesai, kini masalah baru siap menanti seolah tak memberi napas lega. Lusi tampak bernapas namun semua terasa menyesakan dada. Ingin bekerja pun tetap tak akan bisa mengganti hutang yang ada. Sekalipun memang pada dasarnya itu adalah hutang Rian, tapi semua tetap terasa rumit karena penagih hutang akan menangih hutang kepada Lusi.
Lusi hanya bisa berdoa semoga semua baik-baik saja, dan sungguh Lusi tidak mau merepotkan siappun dalam hidup ini. Lusi hanya ingin bahagia dalam hidup dan tidak mau digelungi masalah. Itu saja...
Sampai hari ketiga setelah kejadian itu, Lusi dibawakan kerumah sakit karena sakit typus. Entah faktor pikiran atau apa? Sudah dua hari terakhir Lusi muntah muntah tidak bisa masuk makanan, dirinya akhirnya mau tidak mau dilarikan ke rumah sakit untuk diberikan perawatan medis. Lusi yang dalam kesakitannya tidak mau jika dirinya dibawa ke rumah sakit, karena akan merepotkan orang tuanya. Tapi ibu tetap kekeuh untuk membawa Lusi ke rumah sakit. Karena takut Lusi kenapa-kenapa.
Lusi pun akhirnya diinfus dirumah sakit, dengan keadaan lemas tak berdaya Lusi terbaring. Usia kandungan Lusi yang kini sudah 7 bulan itu sekian hari semakin membesar. Dalam keadaan menyedihkan, seolah kehamilannya saat ini seperti beban untuk dirinya. Walau ia tahu bahwa anak yang ia kandung adalah anugerah, namun kehamilan dengan status kesendiriannya saat ini membuat Lusi merasakan sakit dan perih dalam hati. Sampai pada akhirnya Lusi hanya bisa menangis seolah tak menerima takdirnya.
Hiks hiks hiks...
Lusi memang kuat terhadap cobaan namun Lusi tidak sanggup bila harus menahan tangis. Apa yang Lusi tangisi saat ini adalah kepedihan dan keperihan batinnya.
Lalu tak lama ibu datang, melihat Lusi yang masih tertidur diatas kasur rumah sakit itu. Ibu tak berani membangunkan Lusi yang sedang istrihat itu.
Lalu setelah itu ibu pun keluar dari kamar inap Lusi menuju tempat reseptionis untuk membayar adminitrasi rumah sakit karena memang ada yang belum dibayarkan.
Namun tiba-tiba tanpa sengaja.
Bruuggg....
Sang ibu dari Lusi yang tak sengaja menabrak seorang pria. Dan itu adalah Gery.
Gery.... Batin ibu.
Gery pun tampak mengingat siapa orang yang ia tabrak barusan dengan badanya. Bukan segera meminta maaf tapi Gery malah sedang berfikir dan mengingat.
"Ini seperti kenal, siapa ya. Mmm ibunya Lusi kan" kata Gery sambil melihat ke arah ibunya.
__ADS_1
"Ya benar"
"Maaf Bu saya tidak sengaja menabrak ibu, apakah tidak apa-apa kan, baik baik saja kan" tanya Gery yang melihat ke arah ibu Lusi
"Oh iya tidak apa-apa"
"Ada apa Ibu kesini, siapa yang sakit" tanya Gery.
"Lusi" jawab sang ibu.
"Lusi" Gery membulatkan matanya tak menyangka bahwa wanita yang ia cintai saat ini sedang sakit.
"Sakit apa dia Bu?" Tanya Gery yang tampak panik saat mendengar nama Lusi disebut.
"Typus"
"Boleh saya melihatnya"
"Boleh" kata ibu.
Lalu Gery pun ikut ibu Lusi untuk ke rumah rawat Lusi saat ini, untuk mengetahui kondisi Lusi.
Terlihat Lusi yang terbaring diatas kasur rumah sakit, dengan selimut. Gery pun kaget saat melihat Lusi yang saat ini sedang hamil.
Hamil...
Gery tak menyangka bila Lus saat ini tengah hamil.
Bagaimana bisa?
Batin Gery bertanya dan tak menyangka.
" Apa Lusi hamil bu?" Tanya Gery.
"Iya dia sedang hamil" jawab ibu.
Gery pun menggelengkan tak percaya.
Lusi mengapa kamu tidak bilang padaku bahwa dirimu kini hamil aku tidak menyangka akan seperti ini. Batin Gery.
Lalu beberapa saat Lusi pun membuka matanya dan kaget melihat siapa didepannya kini.
"Gery" ucap Lusi yang melihat wajah Gery didepan matanya terpampang jelas dan nyata. Dengan cepat Lusi yang sedang berbaring langsung bangun dan duduk. Lusi kaget saat melihat Gery yang tahu-tahu ada didepannya.
"Tenang lah Gery hanya ingin menjenguk" ucap sang ibu yang menenangkan sang putrinya terlihat panik melihat Gery seperti hantu.
"Kamu tadi baru saja tertidur ibu kasihan bila membangunkan mu. Jadi ibu membiarkan mu dalam tidur"
Lalu tak lama Ibu pun tampak ingin beranjak pergi.
"Ibu mau kemana?" Tanya Lusi yang memegang tangan ibu nya yang ingin pergi.
"Sebentar ibu ingin buang air, sebentar ya" kata ibu pergi.
Lusi pun tampak menutup tubuhnya dengan selimut pasalnya Gery itu punya sorot mata yang tajam dan selalu melihat Lusi dengan tatapan nafsu yang membuat Lusi tak nyaman bila di dekat Gery.
Dan benar saja Gery melihat Lusi dari dekat dan sangat dekat.
Lusi pun langsung menunduk kan wajahnya.
"Mengapa kamu tidak bilang bahwa dirimu hamil"
"Mundurkan dirimu jangan dekati aku, aku tidak suka ada orang yang menatap ku terlalu dekat"
"Kenapa memang?"
"Sudah ku katakan aku tidak suka dilihat dari dekat, mundurlah jika kedatangan mu hanya membuat ku sakit lebih baik kamu pulang"
"Baiklah" ucap Gery yang akhirnya mundur dari menatap Lusi sangat dekat.
Gery pun memandang Lusi dengan tatapan tajam dan melihat Lusi yang terlihat pucat dan tidak cerah seperti biasanya.
"Kenapa dirimu tak bilang padaku kalau kamu hamil" ucap Gery terlhat serius.
"Memangnya apa urusan nya dengan kehamilan ku, aku rasa tidak ada yang perlu aku beritahu kepadamu" ucap Lusi.
__ADS_1
"Semua tentang mu aku harus tahu"
"Aku tidak perlu memberitahu pada mu, dan tidak penting untuk mu" jawab Lusi.
Lusi kamu sungguh tidak mengerti, bahkan kamu tidak pernah peka. Aku hanya khawatir bahwa saat ini yang kamu kandung itu bukan anak suami mu tapi anak ku Lusi. Anakku. Tidak mungkin aku membiarkan orang yang ku cintai dan ku abaikan dirinya, apalagi dirinya tengah hamil yang mungkin saja itu adalah anak ku.
Gery pun mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah jika kehamilan mu itu memang urusan mu, ya anggaplah itu memang menjadi urusan mu. Kamu yang mengandung, kamu yang melahirkan kamu juga yang paling tahu tentang dirimu kan" kata Gery yang tidak ingin memeperkeruh suasana.
Lalu tak lama ibu pun kembali sambil membawa tagihan rumah sakit yang sudah dibayarkan oleh ibu.
"Oia ibu sudah bayar tagihan rumah sakit ini, jadi kamu tenang gak usah pikirkan soal bayarannya" kata ibu menjelaskan.
"Loh, Bu seharusnya jangan ibu yang membayar. Biarkan itu saya yang membayar" kata Gery.
"Tidak usah nak Gery tidak usah repot-repot" kata ibu.
"Aku hampir saja lupa menanyakan kondisi Rian saat ini. Bagaimana dengan kondisinya?" Tanya Gery yang tidak tahu apa-apa soal Rian yang sudah meninggal.
"Rian?" Ucap ibu terlihat sedih.
"Kenapa Bu?"
"Rian sudah meninggal" kata ibu menjelaskan singkat.
"Inalillahi wainailaihi rorjiun" kata Gery. "Kapan?"
"Sudah sekitar 7 bulan yang lalu"
Lusi pun langsung tertunduk saat mendengar nama suaminya yang kini telah tiada. Pasalnya tetap saja hatinya terasa perih mengingat suaminya yang kini telah pergi untuk selamanya.
"Kenapa tidak bilang soal ini" ucap Gery.
"Mama Renata sudah tahu dan pasti ia pun sudah memberitahu pada Liana dan artinya Liana juga seharusnya sudah memberi tahu mu tentang meninggal nya Rian " kata Lusi.
Liana memang tahu namun tak pernah cerita soal itu.
Berngsk, Liana tak pernah sekalipun cerita padaku soal kematian Rian, bagaimana pun Rian juga pernah menjadi sahabat ku saat dibangku sekolah. Tidak mungkin aku tidak menghadiri acara pemakamannya batin Gery kesal.
"Aku turut berduka cita atas kepergian suami mu Lusi dan semoga ia ditempatkan disisi yang paling baik, kamu yang sabar yang ikhlas" ucap Gery yang tanpa segan langsung memegang erat pundak Lusi untuk menguatkan.
"Terimakasih, tapi tangan mu tolong singkirkan" kata Lusi ketus.
"Oh sory, tidak sengaja" kata Gery.
Lalu setelah itu ada dokter yang datang memeriksa. Lantas Gery langsung pergi.
Kedatangan Gery saat itu memang habis menjenguk rekan bisnis nya sakit, namun itu seperti takdir yang akhirnya mempertemukan dirinya pada Lusi. Dan Gery tak pernah menyangka sama sekali bahwa Lusi kini hidup sendiri dalam keadaan hamil.
Itu sungguh hal berat pasti bagi Lusi hidup sendiri seperti ini, aku kasihan padanya. Pantas saja wajahnya terlihat sedih dan sembab. Aku yakin Lusi tidak sanggup hidup dalam kesendirian seperti ini. Namun hal yang tak ku duga adalah Lusi hamil. Arrrggghh... Bagaiman jika itu adalah anakku, tapi bagaimana jika Lusi tidak membiarkan diriku bertanggung jawab padanya, aku mau bertanggung jawab Lusi. Aku mau!! Berikan aku ruang untuk bertanggung jawab atas benih yang ku tanam didalam rahimmu. Mungkin kamu merasa itu bukan anakku, tapi batin ku mengatakan jika anak yang kamu kandung itu adalah anakku batin Gery.
Lalu sore harinya Gery pun kembali ke ruang rawat yang Lusi tempati. Gery pun mengintip Lusi yang masih terbaring itu. Lalu Gery pun masuk kedalam ruang rawat Lusi, Lusi masih terlihat tertidur pulas mungkin pengaruh obat. Lalu entah mengapa ada batin dari Gery yang ingin memegang perut Lusi yang sudah terlihat membesar itu. Batin Gery yang mengatakan bahwa bayi yang Lusi kandung itu adalah anaknya. Dengan lancang Gery pun mengelus perut Lusi secara perlahan tapi pasti, Gery pun mengelus perut Lusi. Tanpa sengaja tangan Gery merasakan gerakan dari sang bayi yang berada didalam perut Lusi. Gery pun tersenyum saat meraskan gerakan sang bayi dalam perut Lusi. Saat tangan Gery masih dalam posisi di perut Lusi.
Lusi pun membuka matanya dan kaget melihat Gery yang kini dihapdannya sedang memegang perutnya.
"Apa yang kamu lakukan" kata Lusi kaget melihat Gery dengan tatapan kesal.
"Ehmm.. ah itu. Aku hanya ingin memegang perut mu, merasakan anak yang didalam perut mu itu" kata Gery gugup.
"Bohong pasti kamu ingin kurang ajar padaku" kata Lusi kesal.
"Tidak, tidak kamu jangan ge er aku hanya ingin memastikan bahwa anak ku hidup didalam kandungan mu dan baik-baik saja"
"Ini bukan anakmu ini anakku" Lusi menatap Gery dengan kesal.
"Ya itu memang anak mu, anak kita. Kamu ibunya dan aku ayah dari anak itu"
"Ini bukan anak mu, ini anak ku dengan Rian bukan dengan mu. Aku tidak pernah tidur sekalipun dengan mu, mana mungkin aku hamil anak kamu!!!" Kata Lusi kesal.
"Ya terserah kamu mau mengatakan apa, aku pun menjelaskan sampai mulut berbusa kamu akan mengatakan hal yang sama. Tapi satu hal yang ku ingat aku memang pernah meniduri mu, dan feeling ku itu adalah anak ku"
"Pergi!!!!!!, Kamu hanya mengarang cerita. Aku benci padamu" Lusi kesal dan mengusir Gery.
"Ya aku akan pergi satu hal yang harus kamu ingat. Aku tidak akan membiarkan mu dalam kesendirian Lusi" ucap Gery yang akhirnya pergi mengikuti kemauan Lusi untuk pergi.
__ADS_1
Aku pikir setelah kepergian ia lama, ia berubah tapi nyatanya sama saja..masih saja membuat ku kesal.batin Lusi.