
Setelah kematian suaminya sekitar 5 bulan lalu, membuat hati Lusi sedih, kosong, hampa dan perih. Khilangan orang yang dicintai untuk selamanya, membuat Lusi merasakan sesak didada terlalu lama. Benar memang ini takdir dari yang maha kuasa atas kepergian seseorang yang kita cinta dalam hidup namun tetaplah terasa sesak dan hati tak pernah merasakan bohong kesedihan tetap ada didalam hati. Bahkan dada itu serasa semakin sesak dan tak bisa ditutupi jika hidup ini bisa memilih. Lusi ingin sekali pergi, dan mati dari kehidupan ini. Lusi seperti kehilangan arah dalam hidup ini, ditinggal pergi untuk selamanya seperti luka dan duka yang tidak ada obatnya. Bahkan anak ini, anak yang belum sempat dan sepenuhnya merasakan kasih sayang dari sang ayah. Harus merasakan kepahitan ditinggal oleh sang papa untuk selamanya. Perih hati Lusi melihat sang putra yang belum genap usia satu tahun itu kini menjadi anak yatim.
Hari itu terlihat Lusi yang sedang memegang foto suaminya di genggaman, Lusi merasa tidak ada yang bisa menggantikan diri suaminya dalam hatinya, tidak akan pernah ada. Sekalipun ada tidak akan pernah sama rasanya, kalau pun sama tidak akan pernah bisa.
Ayah dan Ibu ikut merasakan apa yang tengah kini Lusi rasakan, melihat putrinya bersedih membuat mereka pun ikut sedih. Ingin ikut memberikan semangat namun nyatanya sakit dan perih nya batin Lusi, itu karena kerinduan yang tak bertepi. Rindu pada sang suami, yang rindu itu sendiri tidak pernah ada adalah obatnya.
__ADS_1
Ya jauh sebelum itu, hampir setiap hari Lusi seperti orang yang hampir gila. Tiap hari juga Lusi selalu berbicara sendiri dengan memandang foto suaminya, Lusi selalu berbicara sendiri mengungkapkan kesedihan hatinya. Lusi merasakan betul-betul kehilangan sosok suami dalam hidupnya. Lusi tidak menyangka jika kehilangan itu lebih berat daripada apapun itu. Dalam tidur pun Lusi selalu menangis.
Lusi yang selalu terlihat perhatian dengan tubuh nya dan masih peduli terhadapnya dirinya pun kini seolah tak peduli lagi, bahkan kehamilan yang saat ini ia jalani tidak pernah ia bawa ke klinik kesehatan atau pun bidan. Lusi seolah tidak peduli lagi soal kehamilannya, atau pun dirinya bahkan dia pernah mengatakan pada orang-orang bahwa dirinya tidak hamil. Bahwa ia tidak mungkin hamil. Anak yang dalam perutnya tak akan pernah lahir, ini hanya sebuah kehamilan palsu yang akan hilang dengan sendirinya. Lusi yang seharusnya bjsa berfikir jernih itu seperti orang bodoh yang paling bodoh. Berbicara tidak beraturan dan seperti orang yang lupa diri. Padahal Lusi yang dulunya selalu berusaha siap dan tegar menerima kenyataan pahit. Namun kini tampak lain, seperti orang yang kehilangan arah dan tujuan.
Kehamilan yang bukan keinganannya dan meninggalnya sang suami seperti takdir yang pahit dan menjadi satu. Tidak ada yang bisa mengobati hatinya saat ini.
__ADS_1
Orang tuanya pun pernah sempat menjodohkan Lusi dengan seorang pria yang mungkin saja membuat ia lupa dengan kisah kelam kehidupannya, namun tetap saja Lusi tidak mau.
Lusi selalu bilang cinta itu bukan untuk ditukar tambah, bukan untuk digantikan dengan yang baru. Juga bukan untuk dilupakan.
Mencintai yang baru bukan mengurangi rasa sakit, justru malah akan membuat rasa sakit. Lusi punya masalah hidup yang orang lain tak pernah tahu masalah Lusi sendiri itu apa, jangan pernah menjodohkan Lusi kepada siapapun.
__ADS_1