
Setelah kepergian Rian ke kantor.
Tampak Lusi yang mengecek beberapa hal. Mulai dari sabun dan kebutuhan pokok lainnya. Ternyata banyak yang sudah habis. Itu artinya mari kita menyetok semua keperluan tersebut.
Lusi pun berniat pergi ke supermarket untuk membeli beberapa yang ia butuhkan.
Ia berangkat seorang diri. Dengan membawa mobil yang tersedia di garasi. Memang Rian memiliki mobil lebih dari satu. Jadi tidak ada salahnya jika Lusi memakai salah satunya. Dan Lusi tampak aneh karena baru sadar sepertinya ia jarang sekali melihat mobil yang berwarna hitam yang biasa Rian pakai. Apakah Rian jual atau hilang. Ah entahlah, nanti biar Lusi yang akan tanya langsung dengannya.
Lusi pergi tanpa membawa Fabio. Ya Lusi pergi seorang diri. Karena saat itu Fabio sedang tidur. Ditemani baby sitter yang ternyata tertidur juga. Baiklah, jadi tidak jadi masalah jika bisa jalan sendiri.
Lusi pun tampak melesatkan mobil dengan kecepatan penuh. Meskipun Lusi tampak kalem dari luar. Namun kalau urusan bawa mobil, Lusi tidak suka jika membawanya secara perlahan. Lusi lebih suka dengan kecepatan. Namun beda jika saat ia membawa mobil milik ibu mertuanya yaitu Renata. Ia pasti akan membawanya sangat alon-alon. Maklum saja, Karena Lusi ini takut sekali dengan ibu mertuanya itu. Super killer jutek dan jahat(dulunya).
.
.
.
Dan tanpa diketahu Lusi.
Tak lama 10 menit kemudian, tampak Gery yang datang ketempat Lusi kali ini. Ia datang sengaja untuk menemui Lusi dirumah nya.
Namun sayang saat itu, hanya ada assiten rumah tangga saja. Lusi memang memiliki dua orang yang bekerja dirumahnya. Sebenarnya ada tiga, yang satunya lagi mba Rina. Dia sudah resgin. Dan kini yang tersisa tinggal dua oranng. Yang satu baby sitter dan yang satunya lagi pembantu rumah tangga yang biasa mengerjakan kegiatan sehari-hari dirumahnya.
Dengan gaya yang keren, Gery datang.
"Hallo bi" ucapnya sambil membuka kacatama hitamnya.
"Eh tuan yang kemarin ya" ucap bibi tersenyum.
"Masih ingat"
"Masih tuan"
"Nyonya mana, nyonya?"
"Maksudnya nonya Lusi"
"Iya siapa lagi, masa nyonya menir"
"Oh dia sedang belanja tuan disupermarket"
"Belanja apa?"
"Ah tuan kepo deh"
"Supermarket dimananya, cepetan kasih tahu rese deh?"
"Tuan suka kepo sama urusan istri orang"
"Eh, bi. Tinggal jawab aja repot banget"
"Iya tuan keep calm. Nanti lurus aja mentok belok kiri. Nanti ketemu deh"
"Ketemu, yakin nih"
"Pasti tuan"
"Oke deh bi makasih"
"Makasih doang tuan"
"Emangnya harus apa?"
"Masa tuan gak ngerti sih. saya kan abis kasih tahu info nyonya dimana"
"Arggh.. yaudah nih" ucap Gery memberikan uang 100 ribu. Kepada bibi. "Tapi ingat jangan bilang saya nanya-nanya biar seolah kebetulan saya datang kesana"
"Siap Tuan"
"Bagus"
Lalu Gery pun menyusul Lusi yang katanya sedang keluar itu. Dengan cepat Gery pun menyusul.
.
.
.
.
.
Sementara itu Lusi pun sampai di supermarket. Sesampainya ia pun tampak melihat-lihat semua yang sekiranya diperlukan. Mulai dari detergen, sabun mandi, dan sebagainya.
Namun..
Tiba-tiba ada seorang pria di belakangnya. Dan tampak menganggetkan kala itu.
"Door" ucap Gery mengaggetkan.
"Hei" ucap Lusi yang biasa aja tidak kaget.
"Gak kaget" tanya Gery.
"Gak"
"Kenapa?"
"Gak apa-apa"
Gery tampak tersenyum melihat Lusi yang tampak cuek sambil memilah belanjaan.
__ADS_1
"Kamu belanja apa?"
"Biasa lah, kebutuhan" ucap Lusi sambil mengambil beberapa yang ia butuhkan dan ditaruhnya dalam troli belanja. "Kamu kesini mau belanja juga Ger?"
"Mau beli minuman kaleng"
"Oh, btw Bagaimana?"
"Apa?"
"Nembak ceweknya berhasil kan?" tanya Lusi.
"Tembak cewek, siapa maksudnya?" Ucap Gery heran.
"Serius. Bagaimana jawabannya" ucap Lusi masih penasaran.
Gery pun tampak kebingungan dengan apa yang diucapkan Lusi. Karena ia merasa tidak nembak wanita manapun.
"Kan udah dikasih berlian segala. Gak mungkin lah ditolak" ucap Lusi lagi.
"Apa sih gak paham?"
"Kalung itu loh"
"Mm apa sih"
"Rian bilang, kamu mau kasih kalung buat calon pacar kamu. Rian yang beliin kok katanya, itu buat kamu nembak cewek" ucap Lusi menjelaskan.
Gery pun tampak kaget. Karena selama ini ia merasa tak pernah meminta bantuan apapun pada Rian.
"Hey, Lusi. Gak mungkin ya, gue minta beliin sama dia. Kaya gue gak bisa aja buat beli sendiri. Gue bisa kok beli sendiri"
Seketika,
Lusi pun tampak terdiam dan berfikir. Ia tak dengan ucapan Gery. Dan tak menyangka Rian kali ini membohongi dirinya lagi. Dengan mengatasnamakan Gery sahabatnya. Lusi pun tampak memijat keningnya.
"Lu baik-baik aja kan" ucap Gery.
"Gak apa-apa. Cuma sedikit pusing aja"
Namun saat itu pula, kepala Lusi terasa sangat pusing. Pandangannya terasa kabur dan kepalanya terasa berat.
Lalu Lusi pun langsung meninggalkan Gery. Dan menyudahi agenda belanja kali ini. Semua terasa tak mood lagi. Ia ingin segera pulang. Namun entah mengapa kali ini kepala Lusi terasa pusing. Belum sampai ke meja pembayaran Gery tampak menghampiri
"Lusi, wajah lu pucat" ucap Gery.
Lusi pun hanya tampak memijat kepalanya.
"Bagaimana kalau gue pegangin" ucap Gery memegang pundak Lusi.
"Gak usah" ucap Lusi berusaha melepaskan tangan Gery.
"Gak apa-apa"
"Duduk. Duduk dulu ya" ucap Gery memapah Lusi dan membawa Lusi untuk duduk.
"Lu belum makan ya?"tanya Gery.
Lusi pun tampak menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
Tanpa Lusi menjawab. Tiba-tiba Lusi yang saat itu duduk di bangku, tiba-tiba saja pingsan.
"Lusi. Lusi..." Ucap Gery panik.
Namun masih tak ada jawaban.
Lalu Gery pun tampak kaget dan panik. Dengan sigap, lalu membawa Lusi keluar, dengan menggendongnya. Dan dengan cepat membawa Lusi ke dalam mobilnya.
Terlihat Lusi yang masih memejamkan mata dan tampak tak sadarkan diri.
Seketika Gery pun malah terdiam dengan suasana keheningan. Bukannya buru-buru membawa Lusi ke rumah sakit. Gery malah membawa mobilnya ketempat lebih sepi.
Gery pun tampak melihat wajah Lusi. Gery perhatikan secara dalam-dalam wajah Lusi yang tampak tak sadarkan diri itu. Mata Lusi masih terpejam erat. Bibirnya tampak pucat dan juga wajahnya.
Sialnya...
Rasa iba Gery berubah. Gery yang awalnya ingin membawa Lusi ke rumah sakit mengurungkan niatnya. Saat wajah Lusi terpampang jelas dihadapannya. Gery pandang wajah Lusi lekat kala itu. Terbesit satu kata dalam hatinya yaitu 'Cantik'. Rasa panik Gery berubah menjadi rasa penasaran yang berkepanjangan tentang rasa yang tak mampu ia bendung, apalagi kalau bukan hasrat laki-lakinya. Dimana saat Gery mengingat Lusi tanpa busana sehelai pun saat mandi. Ya, ketika Gery yang sudah diam-diam masuk saat itu. Dan mengintip Lusi ketika mandi.
Dan kini tampak Gery yang kini kehilangan akal sehatnya.
Gery pun pandang Lusi lagi, dari wajah hingga bagian tubuh lainnya. Tiba-tiba saja Gery pun tampak menegang penuh nafsu. Bukan rasa iba kali ini. Tapi malah naffsu yang seketika tampak menggebu. Kali ini tampak Gery yang ingin memainkan peran. Dan mencari kesempatan dalam kesempitan.
Terlihat Lusi yang mengenakan kemeja berwarna putih. Seolah semakin menambah gairah Gery. Otak Gery berselancar ria. Ingin sedikit saja memegang dadanya.
Gery pandang juga bibir Lusi. Ah, Gery tampak tak mampu lagi menahannya. Gery pun mencium bibir Lusi. Ia mengulum dengan penuh gairah dan nikmat.
Ah, nikmat sekali benaknya.
Aku tidak peduli lagi soal siapa dia. Semoga saja Lusi pingsan lebih lama. Kalau bisa sampai besok pun tak jadi masalah. Benak Gery yang sudah terbawa nafsu tingkat dewa.
Tampak tangan Gery yang dengan cekatan mebuka kancing kemeja milik Lusi. Ia buka satu persatu kancing baju itu. Dan kini yang terlihat Lusi hanya memakai bra saja. Ya, ini adalah pemandangan sangat indah untuk Gery. Dan dengan cepat pula tangan Gery mulai masuk kedalamnya. Untuk menikmati gunung kembar yang dirasa sangat sempurna ia nikmati. Ah enak sekali berada didalam sini batin Gery yang terus mencium bibir, menikmati semua itu.
Dan tak sampai disitu. Gery pun meraba-raba bagian bawah milik Lusi dengan tangannya. Tangan nya pun ingin masuk kedalam celana milik Lusi. Namun tiba-tiba...
Tilililit...
Tillililit.. suara ponsel berbuny8.
Dan saat sedang enak-enaknya, tiba-tiba saja ponsel milik Lusi pun berdering. Membuyarkan suasana, dengan cepat Gery pun melepaskan ciuman. Dan berhenti melakukan gerakan nakalnya. Kali . Gery pun langsung memasang kembali kancing baju milik Lusi. Sambil menarik napas dan menghela napasnya.
Gery pun tampak membiarkan telepon itu berbunyi..
__ADS_1
Cukup, Ger. Cukup batin Gery.
"Oke, pemanasannya sampai sini. Huuuuffff" ucap Gery menghela napas. "Makasih sayang. Kapan-kapan kita lakukan ini lagi" ucap Gery sambil tertawa kecil melihat Lusi.
Lusi pun masih memejamkan matanya kala itu.
Tiba-tiba..
Ponsel Lusi berdering lagi.
Saat di cek oleh Gery, panggilan tersebut dari seseorang pria dengan nama Juna.
"Oh jadi penganggu gue nih orang. Rese banget sih ni orang"
Gery pun tampak mereject panggilan tersebut. Dan mensilent handphone milik Lusi.
Lalu setelah itu Gery pun melesatkan mobilnya kembali. Barulah Gery membawa Lusi ke sebuah klinik. Karena saat itu lebih dekat klinik. Daripada rumah sakit. Lusi pun tampak masih belum sadar.
Sesmpainya Lusi pun ditangani oleh dokter jaga yang berada disana. Ketika dicek oleh dokter, Lusi pingsan karena mengalami anemia serta juga hamil muda. Yang mungkin berpengaruh pada kondisi tubuhnya.
.
.
Tak lama Lusi pun tampak sadar membuka mata dan melihat Gery disampinganya.
"Aku dimana?" Ucap Lusi dengan nada lemah dan memegang keningnya yang masih terasa pusing. "Aku mau pulang"
"Tenang. Saat ini Lo diklinik. Lu pingsan" ucap Gery memandang wajah Lusi tajam.
"Pingsan" ucap Lusi masih tidak percaya.
"Iya tadi lu pingsan. Tadi gue yang bawa lu ke klinik"
"Oh"
"Oh doang. Gak ada ucapan apa-apa nih"
"Terimakasih Ger. Aku gak tahu kalau gak ada kamu Gery" ucap Lusi.
"Ya, sama-sama. Gue emang orangnya baik kok, sama semua orang. Jadi lu tenang aja kalau dideket gue" ucap Gery.
Gery pun tampak memandang Lusi sambil tersenyum. Ia senang sekali, karena apa yang sudah ia lakukan kepada Lusi. Lusi sama sekali tidak menyadari.
"Lu pulang nya nanti gue anter" ucap Gery
"Gak usah, nanti aku telepon Rian aja untuk jemput aku. Aku gak enak. Ngerepotin terus"
"Gak ngerepotin kok"
"Gak apa-apa Ger. Kamu pulang aja"
"Oke kalau lu maksa"
Lalu setelah itu Gery pun tampak pulang.
Sementara Lusi sendirian di klinik. Dan ia pun mengecek handphone nya saat itu. Waktu menunjukan jam 15.00. Lusi pun melihat ada panggilan masuk dua kali dari Juna. Tumben sekali Juna menelponnya.
Namun orang yang Lusi tuju bukan lah Juna, tapi suaminya. Lusi pun memencet nama suaminya. Dan menelponnya
Tut ..
Tut...
Tut..
Hingga beberapa kali, namun sayang tidak diangkat.
Lusi pun tampak menghela napasnya.
Tiba-tiba handphone milik Lusi seperti ada telepon masuk. Namun bukan Rian yang menelpon. Justru malah telepon masuk dari Juna. Namun kali ini Lusi sedikit heran karena handphone nya tanpa nada dering alias dalam mode silent.
Eh, ini kok malah Juna yang telepon. Terus kenapa ponsel gak ada suara gini. Perasaan tadi gak di silent benak Lusi.
Lusi pun mengangkat panggilan dari Juna.
"Halo" ucap Lusi.
"Hallo Lusi, kamu dimana?"ucap Juna.
"Di klinik"
"Di klinik!!! Siapa yang sakit"
"Aku"
"Kamu kenapa?" Ucap Juna panik.
"Aku pingsan tadi"
"Kamu bagaimana, kamu sama siapa disitu"
"Aku sendirian"
"Aku kesitu"
"Jangan gak usah"
"Lusi!! aku gak mau kamu kenapa-napa tunggu aku. Klinik apa?"
"Aku gak tahu ini dimana?" Ucap Lusi yang menengok ke kiri dan kanan. Dan ia pun membaca sebuah tulisan Dahlia. "Sepertinya klinik Dahlia"
"15 menit aku sampe"
__ADS_1