Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Ikutlah dengan ku


__ADS_3

Deru nafasnya begitu terdengar bersahutan disebuah kamar yang didesain khas. Seorang pria sekali lagi memainkan diri Tanisa pada sebuah kursi. Ya, sebuah kursi yang disebut kamasutra itu. Tubuh Tanisa dimainkan oleh seorang pria yang tampak muda. Tanisa sekali lagi melayani pria yang tak ia kenali sama sekali itu. Tanisa yang terlahir sebagai wanita yang nyaris sempurna itu dan tanpa celah itu. Membuat kelebihan sendiri. Dan mudah untuk mendapatkan baru. Sakit hati Tanisa.


Kali ini tampak pria yang terlihat muda tak beda jauh dengannya dirinya memainkan Tanisa disebuah sofa. Tanisa memang harus siap ditempatkan dimana saja. Sesuai permintaan pelanggan. Sekalipun disebuah dapur, kolam ataupun dimana saja. Pria itu tampak sangat menyukai Tanisa. Tanisa tampak dimainkan begitu liar.


Hingga permainan usai Tanisa baru dilepaskan oleh pria itu.


Pria itupun tampak pergi, setelah membayar Tanisa.


Badan Tanisa terasa lelah dan hancur sampai ia tak sadar tertidur. Matanya terpejam namun hatinya tetaplah menangis. Didalam mimpi ia bertemu dengan Gavino pria yang sangat ia cintai. Di mimpinya itu Tanisa dipeluk oleh Gavino dengan hangat. Tanisa sangat senang saat dirinya bertemu dengan Gavino. Tanisa tampak menangis didalam pelukan Gavino. Didalam mimpi Tanisa memeluk Gavino tak mau melepaskan Gavino. Ia tak mau kehilangan Gavino lagi.


"Bangun!!!" ucap seorang pria dengan suara kasar.


Tanisa tampak dibangunkan oleh Hardin.


Tanisa pun tersadar dan bangun dari tidurnya. Ia pun merasakan kesedihan dalam hatinya bahwa itu hanyalah mimpi. Ya itu hanya mimpi.


Tanisa dibangunkan kasar oleh Hardin dan diberikan sebuah gaun yang begitu tampak mewah.


"Pakai ini" ucap Hardin.


"Apa ini?" tanya Tanisa.


"Pakai saja, jangan banyak tanya"


Tanisa tampak merasakan lelah yang begitu sangat didalam tubuhnya. Tak sanggup menahan semuanya. Dengan terpaksa memakai gaun yang diberikan Hardin.


Tanisa dibawa dengan mobil yang begitu tampak mewah itu. Tanisa tampak tak tahu dia akan dibawa kemana.


Setelah menyusuri perjalanan kurang lebih 30 menit. Tibalah Tanisa disebuah tempat yang tak ia tahu itu dimana. Namun tempat itu tampak seperti difilm-film sangat romantis dan mewah.


Disana Tanisa dipersilahkan untuk duduk. Tanisa pun tampak duduk. Ia pun tampak menengok kiri dan kanan melihat siapa yang akan memenemuinya.


Tak lama seorang pria datang. Ya pria yang Tanisa anggap tua itu menyapa Tanisa dan menyambut dengan senyuman hangat.


Mengapa Tanisa bilang pria itu tua, itu terlihat dari rambutnya yang tampak sudah ada yang putih.

__ADS_1


Namun sebagai pria tua bagi Tanisa dia terlihat sangat kekar. Bahkan badannya sangat atletis.


Pria itu pun menatap wajah wanita muda yang kini sudah dihadapannya.


Dia melihat bibir Tanisa yang masih tampak memerah bekas gigitan dan sedikit membiru pada bagian lehernya itu.. Dan melihat ada tanda biru dileher Tanisa yang ia yakini bahwa itu bekas dirinya.


"Terimakasih kamu sudah datang" ucap nya pada Tanisa.


Tanisa tampak terdiam.


"Apakah kamu mendengar ucapan saya" ucap Deon.


"Saya mendengar. Saya kesini bukan datang. Tapi saya dipaksa untuk datang"


" Ya memang aku yang memaksa. Perkenalkan nama saya Deon"


Tanisa pun tampak mengangguk.


"Sebelumnya, aku mengucapkan terimakasih atas puncak malam yang sangat bahagia untuk saya kemarin malam. Dan kamu tahu, kamu begitu cantik dan begitu sangat mempesona" pria itu tampak membelai wajah Tanisa dengan sentuhan lembutnya.


Tanisa pun masih tampak terdiam.


"Makanlah steak ini. Ini sangat enak sengaja aku sajikan ini untuk mu" ucap pria tua itu.


Lalu pria tua itu memberikan bunga pada Tanisa. Bunga mawar merah yang begitu indah.


Seketika hati Tanisa tampak sedih dan menangis. Mengingat dirinya yang kini berulang tahun dan pernah meminta seikat bunga. Kini terkabul namun ia dapatkan dari pria yang tak ia kenal sama sekali. Tanisa menangis bukan bahagia tapi ia sedih karena ia dapatkan hadiah itu bukan dari orang yang ia cintai. Melainkan pria lain.


"Kamu menangis" tanya Deon melihat bulir air mata tampak jatuh dari mata Tanisa.


Tanisa pun langsung menghapus air matanya. Dan menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk baik-baik saja. Namun tetap saja ia tak mampu menahan air matanya. Tanisa masih tampak sedih dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Akhirnya Tanisa menangis tersedu.


"Hiks.. hikss.. hiks.. hiks"


Pria itu pun membiarkan Tanisa menangis. Sampai Tanisa bener-benar bisa meluapkan emosinya yang tertahan itu. Deon tahu jika Tanisa memiliki beban hidup yang sangat berat sehingga ia menangis. Ya gadis berusia 19 tahun itu memang lebih banyak menangis ketimbang bicara apalagi tersenyum. Deon pun tampak memberikan tisu pada wanita itu. Tanisa pun tampak menghapus air matanya dengan tisu itu.

__ADS_1


Setelah Tanisa selesai menangis barulah pria itu mulai bicara lagi.


Tanisa pun menghela napas beratnya.


Pria itu pun kembali berbicara.


"Malam kemarin aku senang, kamu membawa ku pada malam yang sangat indah dan mengesankan. Aku ingin memiliki mu seutuhnya. Tanisa mau kah kamu menjadi orang spesial untukku" ucap Deon memegang tangan Tanisa dan memberikan sebuah cincin untuk Tanisa.


"Apa?" Tanisa tampak kaget.


"Aku mencintai mu" ucap pria itu, ia pun tampak memegang tangan Tanisa dan ingin melingkarkan sebuah cincin dijari jemari Tanisa. Namun Tanisa tampak menolak bahwasanya Marisa tak mencintai Deon.


"Pertanyaan paling mendasar. Apakah kamu mau keluar dari tempat mu itu" ungkap Deon.


Tanisa pun menggaguk.


"Ikutlah dengan ku" ucap pria itu pada Tanisa.


"Kemana?" Tanya Tanisa.


"Jadi orang spesial, kita akan tinggal bersama"


"Ta-tapi aku tak bisa"


"Kamu tak perlu menjawab nya sekarang aku masih menunggu besok. Aku tahu meskipun kamu wanita yang diperjual belikan. Namun aku yakin kamu punya perasaan cinta. Aku harap kamu bisa menerima ku dan mau hidup bersama ku" ucap Deon.


Tanisa pun terdiam.


"Aku tahu kamu lapar. Makan lah ini. Ini enak sekali" ucap Deon menyuruh Tanisa makan.


"Baik pak aku makan" ucap Tanisa ijin untuk memakan makanan diatas meja. Tanisa pun memakannya, tampak pelan pelan.


Ia tak tahu entah dagingnya yang enak. Atau dirinya yang memang sangat lapar. Dari sekian banyak pria hanya Deon yang menyewa dirinya untuk makan. Selebihnya yang lain hanya untuk memuaskan hasrat prianya. Tanisa tidak mengerti dirinya lelah bekerja namjn untuk makan saja Tanisa merasa dirinya seperti pengemis. Tanisa tampak menikmati makanan itu sampai tak sadar ia menghabiskannya.


"Jika kamu mau. Kamu boleh makan punya saya juga" ucap Deon yang belum menyentuh sama sekali makanan miliknya itu .

__ADS_1


"Tidak usah pak terimakasih" tolak Tanisa.


Deon pun tak peduli dan tetap memberikannya pada Tanisa. Tanisa pun akhirnya memakan juga milik Deon juga.


__ADS_2