Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Yaudah besok lagi


__ADS_3

Lalu Lusi pun merapihkan semua keperluan Rian untuk kembali pulang ke rumah. Lusi sebenarnya bingung bagaimana cara membawa Rian untuk pulang saat itu mengingat dirinya juga tidak punya tenaga lebih untuk mengangkat Rian dan juga tangan Lusi yang sakit karena bekas kena pisau itu.


Dan dari jauh terlihat Lusi yang sudah kerepotan bawa tas harus membawa suami untuk pulang, Gery yang masih ada disana pun berinisiatif untuk membantu Lusi membawa suaminya untuk dikursi roda.


"Jangan lakukan hal berat" ucap Gery yang langsung masuk kedalam ruang rawat inap itu.


"Aku tidak mau kamu lelah" kata Gery yang so sweet itu.


Lalu Gery pun langsung memegang tangan Lusi.


"Lihatlah tangan mu, masih ada luka yang belum mengering. Aku takut luka ini akan malah jadi lebar dan sobek" ucap Gery.


Kalau saja Rian tidak lumpuh pada saat itu, sudah pasti Rian akan marah pada pria yang berani menyentuh tangan istrinya didepan dirinya itu.


Lusi langsung menarik tangan nya yang dipegang oleh Gery. Lusi tidak benar-benar tahu, apakah Gery benar khawatir atau dia hanya pura-pura khawatir.


"Bukannya kamu sudah ijin untuk pergi tadi, lalu kenapa tiba-tiba masuk" ucap Lusi heran.


"Aku lihat kamu kerepotan, aku ada niat untuk bantu kamu. Apakah itu salah, terima saja bantuan ku ini ya aku ikhlas. Aku hanya tidak ingin kamu lelah letih dan sakit lagi" ucap Gery yang perhatian pada istri orang itu.


Lusi pun tampak terdiam tidak mengatakan kata terimakasih karena ia merasa apa yang dikatakan oleh Gery terlalu berlebihan.


Lalu Gery pun menggendong Rian dengan tenaganya, menuju ke kursi rodanya. Gery yang sebenarnya tidak suka menggendong orang yang ia anggap sebagai musuh itu pun mau tidak mau karena kasihan melihat Lusi jadi mau tidak mau menolong nya.


Gery yang memiliki badan yang cukup atletis sebanding dengan Rian ia pun kuat mengangkat Rian, walau sebenarnya Rian itu berat.


"Berat juga suami mu, seperti dosanya yang berat juga" kata Gery asal.


"Berani nya kau mengatakan itu" ucap Rian.


"Santai bro jangan emosi!!!" Ucap Gery pada Rian.


Kalau saja bukan karena Lusi aku males banget angkat kamu yang berat ini batin Gery.


Lalu Gery pun membawa Rian dan Lusi mengantarnya pulang.


Selama perjalanan Gery tampak memandang Lusi tak terlepas sedikit pandangan Gery dari Lusi yang duduk dibelakang bersama suaminya.


Ampun deh, Lusi Lusi.. masih saja kamu mencintai suami mu yang udah lumpuh itu, aku gak yakin suami mu akan membahagiakan mu. Disamping dia tidak bisa bekerja apakah dia bisa memberikan mu kepuasan diatas ranjang, kapan sih kamu akan bercerai pada suami mu yang tidak bisa apa-apa ini. Aku yakin kamu pun suatu saat nanti akan geram sendiri dengan suami yang hidup tapi seperti orang mati batin Gery sambil memandang Lusi yang sedang menopang kepala suaminya itu.


"Lusi" ucap Gery.


"Apa, kenapa?" Ucap Lusi.


"Masih betah kamu sama suami kamu " kata Gery sambil menyetir.


"Ya emang nya harus bagaimana?" Kata Lusi.


"Ya secara logika dia gak bisa apa-apa"


"Ya kalau dibalik aja deh di balik, kalau sedandainya kamu yang seperti ini. Kamu ditinggal isteri kamu bagaimana?" kata Lusi.


"Kalau aku sih jujur gak betah"


"Hey Gery, bisakah bicara yang perlu perlu saja" ucap Rian yang sedikit kesal dengan ucapan Gery.


"Kita makan dulu ya" ucap Gery mengalihkan pembicaraan saat melihat Rian kesal.


"Gak usah?" Jawab Rian


"Yakin?"


"Iya"


"Yaudah kalau gitu"


Lalu mereka pun turun setelah sampai dirumah.


Gery pun membantu untuk Rian turun. Gery pun menaruh Rian untuk turun dan taruh di kursi roda.


Gery pun tampak pulang setelah selsai membantu Rian. Karena ia tidak mau melihat kemesraan Lusi dan Rian yang membuat dirinya malah semakin kesal.


Sesampainya dirumah Rian pun meminta agar putranya ditaruh di pangkuan nya sebetulnya dia sudah sangat rindu dengan putranya.

__ADS_1


"Oia soal hutang itu aku mau tanya berapa hutangnya"


"Itu rahasia biar aku yang simpan sendiri totalnya berapa?" Ucap Rian.


"Justru itu aku ingin tahu, harusnya aku tahu. Kamu tahu hutang itu dibawa mati. Jangan sampai kamu gagal masuk surga hanya karena hutang, jangankan hutang besar hutang kecil aja nanti ditagih loh diakhirat" ucap Lusi.


"Iya aku ingat-ingat dulu soalnya lupa" ucap Rian.


"Bagaimana kamu bisa membayarnya, kamu sendiri saja lupa" ucap Lusi serius.


"Iya itu hutang perusahaan"


"Terus bayarnya bagaimana?"


"Nanti saja itu dibahas lagi ya, aku ingin pulang sampai rumah istirahat, soal hutang nanti dulu"


"Eh pikirin dulu itu hutangnya bagaimana?"


"Lusi, kamu ini istri aku apa sih penagih hutang. Aku pusing sampai rumah yang kamu bahas hutang, kamu gak kasihan lihat suami mu yang sakit ini" ucap Rian yang kesal. "Nanti yang ada aku malah tambah sakit"


Lusi pun terdiam.


"Kamu rileks oke"ucap Rian.


Entah sengaja atau tidak Rian malah berusaha untuk santai saat Lusi bertanya soal hutang yang seharusnya ia bayar itu.


Saat malam harinya...


Rian pun tampak manja pada istrinya lebih tepatnya semakin manja setelah ia lumpuh. Karena apa-apa harus dikerjakan oleh istrinya.


Lusi pun sebenarnya agak kerepotan urus ini dan itu tapi Lusi melakukan nya dengan ikhlas tanpa mengeluh.


Lusi yang sedang sibuk mengurus rumah, dan bolak balik mengurus ini dan itu. Ternyata sudah diperhatikan oleh Rian. Namun kali ini tampak lain, bukan rasa iba dan kasihan melainkan rasa nafsu yang memburu. Apalagi melihat Lusi yang memakai celana pendek dan baju pendek yang memperlihatkan bentuk tubuh istrinya yang aduhai. Kalau saja Rian tidak lumpuh sudah pasti ia menangkap istrinya untuk ditiduri.


Suasana rumah itu tampak sepi, Renata sedang menginap di rumah temannya yang ternyata masih menganggap dirinya, dan itu cuma satu-satunya teman yang menganggap Renata teman. Ya, mantan orang kaya itu rupanya rindu untuk tidur dirumah mewah, jadi hari itu Renata memutuskan untuk menginap di rumah besar milik temannya.


"Lusi" panggil suaminya.


"Ada apa?" Tanya Lusi.


Lusi pun langsung mengambilkan air putih pada suaminya dan memberikannya.


"Masa air putih" ucap Rian tidak terima.


"Terus apa?" Tanya Lusi.


"Susu" jawab Rian.


"Susu?" Ucap Lusi heran.


"Iya susu, susu yang itu. Yang ada badan mu"


"Yang mana?"


"Yang ada dibadan mu itu"


"Yang mana?"


"Yang kembar, susu kembar"


"Jadi kamu buru-buru pulang cuma mau minum susu kembar" ucap Lusi yang langsung paham maksud suaminya.


"Lusi sekalipun aku lumpuh, batang ku ini tidak akan lumpuh. Dia masih tetap tegang"


Lusi pun terdiam, karena pasalnya Lusi yang tak pernah melayani permainan ranjang pria yang lumpuh. Ia bingung harus bagaimana dan berbuat apa. Lusi yang punya sifat monoton dan tidak agresif malu kalau tahu-tahu main diatas.


"Kenapa diam?" Tanya Rian.


"Bingung"


"Bingung kenapa?"


"Aku bingung yang enak kamu aku apakan biar puas" ucap Lusi menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Andaikan kalau kamu yang lumpuh, aku pasti dengan mudah meniduri mu setiap saat seperti boneka, akan aku bawa kemanapun" ucap Rian.


"Mesum!!!" Kata Lusi.


"Lebih enak kalau kita melakukan dikamar mandi, sekalian mandi"


"Rian apa sih?"


"Bawa aku kekamar mandi ya, kamu mandiin aku. Sekalian tolong keluarkan miliku dengan tangan mu"


"Apa sih Rian, kamu itu ya. Belom sembuh loh, masa pikirannya udah kemana-mana" ucap Lusi.


"Aku tahu kamu terlalu jaim untuk agresif jadi kamu lakukan dengan tangan mu saja. Tapi satu hal?"


"Satu hal apa?"


"Kamu lakukan jangan pakai baju ya, sudah lama aku tidak melihat bagian terdalam dirimu"


"Apa itu perlu?" Tanya Lusi heran.


"Iya, itu perlu. Kamu mandiin aku ya tapi jangan pakai baju" pinta Rian.


Lusi pun mengerinyitkan kening nya tidak disangka suami yang ia anggap lumpuh itu, masih punya nafsu.


"Ingat Lusi, kamu kan istri aku. Itu tandanya kamu masih harus memberikan pelayanan plus-plus kamu" ucap Rian.


"Aku kira setelah kamu lumpuh kamu sudah tidak peduli lagi soal ini" kata Lusi.


"Badan ku memang tidak berdiri normal, tapi asal kamu tahu. Punya ku masih kuat untuk berdiri normal"


"Wow" ucap Lusi tertawa seperti meledek seolah tak percaya.


"Kenapa kamu ketawa" ucap Rian yang tidak suka melihat Lusi yang tertawa.


"Ya kenapa memangnya salah kalau aku ketawa" ucap Lusi


"Seperti tertawa karena tidak percaya"


"Disamping tidak percaya, berasa tidak menyangka"


"Kalau gitu mari kita buktikan, kamu lihat sekuat apa punya ku bediri" ucap Rian.


Lalu Lusi pun mau tidak mau membawa Rian ke kamar mandi. Dan benar saja Lusi kaget melihat milik Rian yang kekar dan sangat berotot itu sudah menegang.


"Astaga" ucap Lusi heran sambil melihat benda pusaka milik Rian.


"Kenapa?"


"Sejak kapan dia berdiri seperti ini" jawab Lusi


"Sudah dari beberapa hari sebelumnya"


"Aku kenapa gak ngeh ya, aku tidak menyangka kamu dalam keadaan seperti ini masih birahi juga"kata Lusi.


Rian pun tampak tersenyum.


"Benar kan apa kata ku, punya ku lebih tangguh daripada badan ku. Sekali pun badan ku lumpuh miliku takan pernah lumpuh. Apa lagi dari ingatan mu"


Lusi pun menarik napas panjang melihat milik Rian yang seperti nya lebih terlihat panjang dan besar dari biasanya. Lusi pun tampak menarik napasnya, selama ini Lusi bermain cinta memang hanya merasakan sakit dan nikmat tanpa melihat ukuran punya Rian. Dan baru tesadar sekarang, jika itu lumayan besar jika dibanding sama ukuran timun yang biasanya buat lalap.


Tiba-tiba..


Tak sampai melakukan hal yang lebih, putranya terbangun dari tidurnya.


"Oooaakkkk mamamama" suara putranya yang terbangun dari tidur.


"Oooooaaakkkkkkkkk mamaaamm"


"Yah bagaimana ini" ucap Lusi kebingungan.


"Yaudah besok lagi" ujar Rian kesal.


"Maaf ya" ucap Lusi merasa tak enak.

__ADS_1


"Ya gak apa-apa aku maklum" ucap Rian yang harus menelan salivanya karena gagal bermain cinta.


Rian pun tidak ingin egois, mengingat semuanya memang tidak mudah. Karena waktu dan tempat yang memang tidak dipersilahkan.


__ADS_2