
Setelah itu Ayah dan Ibu pun pulang. Setelah menginap di rumah Lusi.
.
.
Sore harinya ..
Lusi pun tampak keluar rumah. Datang ke sebuah Restauran ramen. Belum sampai duduk, tiba-tiba bertemu Gery di depan pintu masuk.
"Sendirian" ucap Gery yang tiba-tiba berada di depannya, sambil menatap.
"Iya, lagi kepengen makan ramen" ucap Lusi.
"Gue traktir lu" ucap Gery lagi.
Namun tiba-tiba tampak Juna yang datang melihat Lusi yang tampak berdua dengan Gery. Ya entah kebetulan atau apa. Juna pun hadir disitu
"Siapa nih" ucap Juna yang tampak memandang Gery sinis.
"Ada juga elu yang siapa?" Ucap Gery tampak tak terima atas kedatang Juna tiba-tiba
"Siapa orang asing ini?" Tanya Juna pada Lusi.
"Oh ini temennya Rian. Namanya Gery" jawab Lusi.
"Oh temennya Rian. Kamu mau makan sama dia" tanya Juna.
"Sepertinya" jawab Lusi.
"Kamu makan sama aku aja Lusi" ucap Juna lagi.
"Dia mau makan sama gue" ucap Gery tampak kesal. Memandang Juna karena dengan mudah nya berani mengambil start.
"Tapi Lusi udah bilang mau makan bareng gue duluan" ucap Gery.
Juna pun memandang Gery dengan tatapan sinis.
"Sebelum jauh lu kenal Lusi. Gue udah kenal duluan. Sebaiknya lu minggir" ucap Juna menarik tangan Lusi. Dan menggeser tubuh Juna dengan tangannya.
Tiba-tiba Gery pun menarik baju Juna. Dan dengan perasaan kesal, Gery pun mengepalkan tangannya. Dan tampak ingin memberi baku hantam.
Sontak Juna langsung menarik kerah baju milik Gery. Dan tampak tak mau kalah dengan Gery. Sambil menatap tajam wajah Gery tanpa takut.
Sontak Lusi pun tampak panik dan membulatkan matanya saat mereka berdua mulai panas meradang. Hanya perkara makan.
"Kalian.. kalian jangan berkelahi hanya perkara ini" ucap Lusi melerai. "Bagaimana kalau kita makan bersama" ucap Lusi berusaha mencari jalan keluar
"Gak mau!!!" ucap Juna dan Gery secara bersamaan menolak dengan nada kesal.
"Tapi udah lah jangan berantem gak enak lihat orang" ucap Lusi berusaha memisahkan Juna dan Gery.
"Sekarang kita tanya sama Lusi dia mau makan sama siapa?" Ucap Juna. Tampak memandang Gery tajam.
"Oke!!! Gue akan tanya Lusi" ucap Gery menurunkan kepalan tangannya. "Lusi, lu mau makan sama gue atau dia?" Ucap Gery.
Lusi pun tampak bingung, ia tak menyangka hanya perkara makan saja. Sampai ribet begini.
__ADS_1
Lusi pun tampak terdiam. Sebenarnya jika bisa ia memilih lebih baik ia tak makan sekalian.
"Lusi, kalau lu merasa sahabat gue. Harusnya lu tahu siapa yang akan lu pilih" ucap Juna.
"Lusi, lu harus konsisten. Karena lu udah gue ajak duluan makan bareng" ucap Gery.
Lusi pun tampak pusing, melihat keduanya. Seolah ada persaingan sengit. Yang tak seharusnya dipersaingkan. Lusi pun merasa bingung namun ia tetap memilih.
Karena Lusi memang lebih tahu Juna. Dan lebih lama mengenal Juna. Lusi pun memilih Juna. Apalagi bicara soal persahabatan. Lusi tidak mungkin menghindari kata itu.
"Oke, aku mau makan sama Juna" jawab Lusi.
"Why?" Tanya Gery tampak kaget dan kesal.
"Karena Juna lebih tahu aku dari dulu Ger. Jauh sebelum kamu. Dan aku pun, emang udah janji. Mau ngbrol kalau ketemu Juna lagi" tutur Lusi.
"Lu dengar kan Lusi jawab apa" ucap Juna tampak tersenyum miring.
"Why not. Its oke no problem" ucap Gery dengan nada tinggi. Menerima kenyataan namun kesal "Silahkan saja kalau kalian mau makan berdua. Gue pun tak jadi masalah" ucap Gery tampak kesal berjalan dengan langkah kaki yang kasar.
Gery pun tampak pergi .
Juna pun tampak menghela napas sambil menatap tajam ke arah Gery yang pergi.
Lusi pun hanya memandang Juna yang masih saja menatap Gery.
"Jun.." ucap Lusi. "Udah lah"
"Oke"
Lusi dan Juna pun masuk ke dalam dan mencari meja yang kosong. Lalu mereka memesan. Mereka sama-sama memilih ramen.
"Udah aku kasih tahu Jun, dia sahabatnya Rian" ucap Lusi yang sibuk melihat menu ramen dihadapannya.
"Tapi gue merasa kalau dia gak baik" ucap Juna.
"Kalau aku sih merasa dia baik-baik aja. Kalau dia gak baik, itu artinya ada dirumah sakit kan" ucap Lusi dengan mode bercanda.
"Lusi, aku serius. Perasaan aku lain saat lihat dia" ucap Juna.
"Hus.. udah jangan suudzon ya. Kita kan belum tahu dia. Selama yang aku kenal sih dia baik Jun" ucap Lusi tampak santai.
Lalu Lusi pun memesan makanan.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Lusi.
"Sama aja" jawab Juna simpel.
Lusi pun tampak memanggil pelayan dan memesan. Juna pun hanya tampak memandang Lusi tanpa berkata.
Selang beberapa saat kemudian. Makanan pun tampak datang. Juna pun hanya terdiam sambil memandang Lusi.
Juna pun tampak menghela napasnya. Dan mengambil sumpit lalu memakan ramen juga dihadapannya.
"Jun" Ucap Lusi.
"Kenapa" Ujar Juna.
__ADS_1
"Kamu bukannya mau ke Jepang ya waktu itu" tanya Lusi.
"Iya, gak jadi"
"Loh kenapa?" Ucap Lusi.
"Waktu itu Ibu aku sakit. Dan kak Elfa bilang gak usah berangkat. Takut Ibu aku gak ada umur. Tapi Alhamdulillah sekarang udah mulai kembali pulih" ucap Juna menjelaskan."kalau pun ada bea siswa ke sana lagi, mungkin tahun depan. Untuk saat ini aku mungkin akan melanjutkan S2 dijakarta saja. Sambil mau cari kerja juga sih"
"Ya, semoga selalu sukses ya Jun. Dimana pun dan keputusan apapun yang kamu ambil saat ini" ucap Lusi.
Tiba-tiba suasana pun tampak hening. Entah mengapa Lusi merasa penasaran dengan asmara Juna setelah merasakan patah hatinya ditinggal nikah oleh dirinya
"Jun....." Ucap Lusi lagi.
"Ya.."ucap Juna.
"Apakah ada wanita yang kamu cintai, setelah kamu merasa kecewa saat aku menikah. Apakah ada wanita yang kamu cintai, setelah aku" ucap Lusi yang kali ini tampak serius.
Juna pun terdiam sejenak. Dan ia pun ingat akan kisah cintanya yang baru. Ya, yang baru ia rasakan dengan wanita yang bernama Marisa.
"Aku bukannya mau ikut campur. Hanya saja, sudah saatnya kamu membuka hati kamu Jun" ucap Lusi sambil tersenyum kecil.
"Ada, ada wanita itu. Dia cantik seperti dirimu. Dia, dia membuat aku merasa tertarik. Hanya saja" ucap Juna berhenti tak melanjutkan berbicara.
"Kenapa?"
"Ia menolak aku, disaat aku melamarnya. Ada pria lain dihatinya, dan aku ditolaknya"
Lusi pun tampak memandang haru Juna. Dan seolah merasakan beban dan kesedihan yang Juna rasakan juga.
"Apa kamu tidak mengejar cinta mu itu" ucap Lusi.
"Tidak" jawab Juna gampang.
"Kenapa?" Ucap Lusi merasa tidak terima.
"Aku tidak ingin sakit hati lagi" ucap Juna.
"Jun, selama ia belum menikah. Selama ia masih hidup. Masih ada waktu untuk kamu mencintainya. Tak seharusnya kamu pergi. Dan mengabaikan cinta kamu Jun" ucap Lusi.
"Lusi, sudah cukup aku kehilangan cinta. Aku tak mau sakit hati lagi dengan rasa kehilangan" ucap Juna tampak bersikukuh.
"Juna yang aku kenal tidak seperti ini. Ia tidak peduli dengan keadaannya. Jika sudah cinta ia akan mencintai dengan kuat. Dan tidak peduli sejauh apa dia akan mengejarnya. Jun.. kejarlah cinta kamu. Mungkin saat ini ia sedang membutuhkan cinta kamu" ucap Lusi penuh harap.
Juna pun tampak menghela napasnya.
"Tidak mungkin" Juna pun menampik.
"Aku tahu kamu Jun. Kamu tidak akan menyerah, hanya karena sebuah penolakan. Kamu pejuang cinta yang sangat tangguh. Yang aku tahu. Ini bukan kamu Jun. Menyerah itu bukan kamu. Kemana, Kemana Juna yang dulu aku kenal. Kemana Juna yang selalu bertahan untuk cintanya. Sesakit apapun kamu saat mencintai. Yang aku tahu.. kamu tak pernah peduli soal rasa sakit itu. Yang penting kamu memperjuangkannya" ucap Lusi lagi.
Juna pun menghela napas panjang sambil sedikit termenung.
"Namun, itu kembali lagi kepada kamu Jun. Aku tidak bisa memaksakan soal perasaan dan cinta. Itu hanya diri kamu yang lebih tahu. Aku bicara seperti ini. Karena, aku merasa bahagia karena pada akhirnya kamu menemukan tambatan hati kamu. Kamu bisa melupakan cinta. Walau tidak secara utuh melupakan. Tapi paling tidak. Aku bahagia bisa melihat kamu bahagia dengan orang yang kamu cinta" ucap Lusi menuturkan.
"Kamu berharap begitu" ucap Juna.
"Tentu"
__ADS_1
"Aku akan memperjuangkannya, ya aku akan memperjuangkannya"
"