
Sebulan kemudian..
Usia kandungan Lusi kini menginjak delapan bulan kurang lebihnya, ada batin tersiksa perih yang tengah Lusi rasakan. Mengingat bagaimana ia harus menjalani takdir hidup seorang diri.
Namun perceraiannya tak membuat ia gentar untuk mensyukuri setiap nikmat hidup yang ada. Lusi saat ini masih tinggal bersama orangtuanya setelah pernikahan kilat dan perceraian yang dilakukan secara mendadak juga.
Bahkan banyak orang yang saat ini masih belum tahu bahwa Lusi sudah bercerai. Kabar tentang pernikahannya saja belum tesevar, namun kabar perceraiannya kini sudah didepan mata. Dan akan menjadi gosip paling di bicarakan jika tetangga dan saudara tahu. Dan juga akan ada banyak segudang pertanyaan yang mengundang, kenapa menikah buru-buru? dan bercerai pun juga buru-buru. Lusi tak suka pertanyaan tentang dirinya yang terlalu menyudutkan, apalagi pandangan negatif orang lain pada dirinya.
Lusi enggan menceritakan semuanya Lusi malu menceritakan semuanya. Pernikahan yang memang sudah sangat memalukan sekaligus memilukan yang Lusi rasakan.
Jika Lusi lebih memilih untuk tidak menikah itu lebih baik, karena perceraian itu ternyata menyakitkan.
Saat ini Lusi yang tengah hamil delapan bulan itu kembali merasakan menjadi orang tua sendirian yang melakukan apa-apa serba sendiri.
Lusi juga tak mau untuk membuka hatinya saat ini dan untuk beberapa waktu ke depan, lagi pula Lusi tidak mau disebut 'janda gatel' hanya karena Lusi merasa cantik ada pria yang bilang suka dan cinta, langsung bilang iya. Lusi bukan lah tipe orang yang seperti itu. Walau banyak yang mungkin suka, entah karena apa dan Lusi sama sekali tidak peduli.
Tapi di balik itu semua Lusi terkadang merasa sedih jika tidak sengaja bertemu tentangga saat lewat depan rumah, banyak sebagian tetangga yang menanyakan mana suaminya. Tinggal dimana suaminya , sama orang mana, dan kenapa tidak undang-undang.
Lusi pun hanya tertunduk terdiam saat itu, dan kalau pun dijawab Lusi masihlah berpura-pura bahwa Lusi belum bercerai dengan Gery. Dan Lusi anggap hubungannya dengan suami masih langgeng adem ayem seolah tak terjadi apa-apa didepan orang lain. Itu semua di lakukan demi menutupi rasa malu yang melanda jiwa dan perasaan karena menikah yang baru seumur jagung namun sudah ada kabar bercerai.
Kalau pun nanti kabar perceraian Lusi kabarkan kemungkinan nanti saja setelah 6 bulan atau setahun agar masih punya muka didepan orang.
Namun dari kejadian pernikahan itu masih ada sesosok seorang pria yang masih menaruh kesal, dendam dan benci pada seorang wanita yang tengah hamil delapan itu. Ia masih menaruh rasa kesalnya pada Lusi yang seolah mengabaikan dirinya dan cintanya lalu menikah dengan pria lain.
Ia menyimpan kemarahannya dan tak terima dengan pernikahan Lusi yang mendahului dirinya yang sebenarnya juga ingin melakukan yang sama. Padahal Lusi sendiri sudah tahu bahwa pria itu mencintai Lusi. Namun Lusi seolah bungkam dan tak peduli pada dirinya.
Ya siapa lagi kalau bukan Demian...
Bagi Lusi, Lusi sama sekali tidak melihat cinta dihati Demian. Hanya kejahatan yang teramat dalam tanpa memikirkan perasaan Lusi yang sebenernya butuh pertolongan dari dirinya.
Disela-sela ketakutan hidup yang teramat dalam, Demian yang katanya bilang cinta itu tak lantas melepaskan Lusi sebagaimana mestinya. Justru Demian memanfaatkan Lusi untuk pemuas hasratnya bermain cinta. Lusi tidak terima cinta Demian yang begitu jahat pada dirinya. Dan Lusi sama sekali tidak menganggap itu cinta, tidak ada cinta yang seperti itu.
Tidak ada cinta yang semenyakitkan itu, tidak ada yang cinta datang hanya karena nafsu itu semua tidak ada.
Lusi bukan lupa akan kejadian perih yang menimpa dirinya didalam rumah Demian, Lusi hanya melupakan setiap kejadian yang Lusi sendiri meraksan sakit perih. Harusnya Lusi berani ambil keputusan yang paling benar yaitu melaporkan Demian ke polisi. Namun...
kehidupan Lusi yang memang pontang-panting membuat Lusi mengundurkan niat itu, untuk menunggu ia sampai melahirkan. Atau mungkin, sampai ia benar-benar siap untuk melaporkan kejadian itu. Karena Lusi tahu Demian punya kekuatan besar Lusi harus siap mental dan pikiran, kalau tidak siap semua masalah malah akan menyerang balik ke dirinya.
Lusi hanya bisa meremas kepalanya kasar dan menangis perih bila mengingat kenangan terburuk dalam hidupnya itu.
Namun lagi-lagi Lusi tak pernah bilang soal itu pada siapapun kecuali pada Gery, itu pun bilang karena Lusi meraskan trauma teramat dalam hidupnya.
Sampai suatu hari.......
Hari dimana Demian merasa bahwa ia harus membalas dendam pada Lusi yang telah ia anggap menolak cintanya dan memilih untuk menikah dengan Gery.
Itu membuat Demian naik pitam dan ingin memberikan pelajaran pada Lusi.
Demian pun membuat rencana yang memang ingin ia lakukan agar Lusi mampu menerima pahitnya sebuah keputusan terssalah dalam hidupnya telah memilih Gery..
__ADS_1
.
.
.
.
Pagi hari yang terasa cerah, usia kandungan Lusi pun sudah membesar itu merupakan sebuah anugerah terindah dari seorang perempuan apalagi kalau bukan menjadi seorang ibu.
Nasib demi nasib sudah Lusi lalui.
Jika air mata itu adalah sebuah tangisan, Lusi ingin sekali merasakan menangis bahagia merasakan apa yang memang menjadi kebahagiaannya.
Lusi hanya berharap kesedihan akan segera sirna dan kembali pada menata hidup yang lebih bahagia. Yaitu bersama orang terkasih.
Bersama Ayah, ibu dan juga anak-anaknya kelak. Soal suami, Lusi sepertinya akan berfikir keras dulu tentang itu.
Lusi pun duduk diatas kursi depan rumahnya memegang perutnya yang kini sudah membesar, membelai lembut dan sesekali memejamkan mata menikmati udara segar dipagi hari yang indah.
"Selama ini Lusi sadar kesendirian sepi tapi lebih baik, ketimbang bersama tapi menyakitkan hati" kata Lusi yang saat itu berbicara pada ibunya yang sedang merapihkan tanaman didepan rumahnya.
"Setiap orang punya kebahagian masing-masing dalam menikmati hidup, ada yang dengan harta ada pula yang cukup bersama keluarga, yang paling penting adalah bersyukur" kata ibu yang sibuk dengan tanaman.
"Ibu pernah gak ngerasain sih hati ibu itu perih banget, perihnya itu sampai susah untuk diungkapkan" tanya Lusi.
"Pernah, sangat pernah. Melihat mu menderita ibu sangat perih sayang, melihat kamu pura-pura bahagia ibu pun perih. Saat ini kamu hanya sedang pura-pura bahagia walau sebenernya hati kamu hancur kan" jawab ibu yang kali ini terlihat serius.
"Lusi itu paling takut jatuh cinta, tidak mau jatuh cinta dan beruntungnya Lusi tak mudah jatuh cinta. Tapi sayang ternyata tanpa kita mencintai pun hati tetap merasakan sakit"jelas Lusi.
"Yakin tak pernah jatuh cinta" tanya ibu saat itu.
"Pernah tapi itu untuk keluarga dan hanya untuk suami Lusi yang sudah tiada yaitu Rian" jawab Lusi yang tersenyum simpul.
"Lalu bagaimana dengan Gery" tanya ibu.
"Gery hanya lah perantara cinta untuk melakukan hal itu satu malam" jawab Lusi.
"Cinta satu malam, jadi kamu sudah melakukannya"
"Melakukan apa Bu? Mohon diperjelas" tanya Lusi menatap sang ibu.
"Wanita dan pria biasanya melakukan apa?"
"Hubungan" tanya Lusi menaikan alisnya yang sebenarnya Lusi sudah paham maksud ucapan sang ibu cuma pura-pura tidak mengerti.
"Ya semacam itu suatu hal yang lebih" timpal ibu yang sedang menggeser pot untuk dirapihkan agar terlihat apik.
"Tidak, itu bukan cinta itu hanyalah kewajiban antara suami dan istri dan itu tidak lebih"
__ADS_1
"oh ya kah, tapi pasti kamu cinta kan hanya saja kamu berterus terang" ucap ibu saat itu.
"Aku tidak mudah dicintai Bu, aku pun sulit jika sudah cinta lalu mengaku cinta. Mungkin akan banyak orang yang mengatakan jika Lusi munafik. Tapi kenyataannya memang begitu" kata Lusi.
"Jadi kamu bangga jadi orang yang munafik"
"Ya tidak bangga juga, kenyataannya cinta itu bukan ucapan tapi bentuk rasa. Kebaikan dan perhatian. Lalu juga menurut Lusi wanita yang terlalu banyak mengobral kata cinta itu seperti aib dari seorang wanita yang pada dasarnya punya rasa malu dan menjadi murah jika kata cinta itu sering diucapkan" kata Lusi.
"Itu menurut mu, tidak menurut yang lain kan" kata ibu.
"Oke baiklah setiap orang memang punya pikiran masing-masing dan tidak bisa dipukul rata antara satu dengan yang satunya" ungkap lusyi.
"Rumit bicara sama kamu, ada jalan yang gampang harus ke gank sempit dulu. Baru ketemu jawabannya" kata ibu yang malah tersenyum mendengar ucapan anaknya yang seperti acara debat.
"Ya emang kenapa ibu, ini kan keturunan ibu juga mungkin dulu ibu seperti Lusi cuma gak sadar aja" jawab Lusi.
"Iya sih" jawab ibu mengerutkan kening.
"Nah gitu kan ngaku" kata Lusi tersenyum.
Lalu ibu pun duduk disamping Lusi lalu mengambil teh hangat dan meminumnya.
"Yaudha kamu emang mirip ibu"
"Tapi ada satu hal yang Lusi pinta" ujar Lusi.
"Apa?" Tanya ibu.
"Jangan bahas Gery lagi ya Bu, karena dia sudah bahagia dengan istrinya" kata Lusi.
"Apa itu salah kita bahas dia" tanya ibu.
"Tidak salah hanya saja, Lusi merasa sudah tak peduli lagi padanya" ucap Lusi yang kali ini menoleh kepada ibunya.
"Yakin?"
"Sangat yakin"
"Baiklah, terserah pada mu saja ibu mau tanya" kata ibu.
"Oia kerudung baru ibu bagus kan?" tanya ibu
"Bagus Bu, bagus banget malah. Ini dari ayah yah" tanya Lusi saat itu.
"Iya dia beliin buat ibu kok kamu tahu" ucap ibu yang antusias.
"Setiap apa yang ayah kasih, ibu selalu bilang bagus jadi aku gak kaget lagi"
Ibu pun langsung tersenyum dan memeluk Lusi dengan hangat saat itu.
__ADS_1
"Paling bisa kamu ya" ucap ibu.
ibu memeluk erat merasakan kebahagiaan bersama putrinya yang punya segudang problematika kehidupan yang sulit untuk dilalui. Dan ibu selalu bahagia setiap kali Lusi tersenyum pasalnya membuat Lusi tersenyum itu seperti sesuatu yang mahal bila berkaca kebelakang dengan kehidupan yang kelam dan pahit.