Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Hutang pinjam


__ADS_3

Tiga hari kemudian...


Lusi pun sudah bisa dengan kakinya berjalan, perlahan-lahan namun pasti. Lusi juga giat berlatih berjalan demi kehidupan yang terus berjalan. Ia kaki yang sudah bengkak itu sudah mulai kempes dan tinggal pemulihan saja. Lusi berharap dirinya bisa kembali normal agar ia mampu menjalani hidup sebagaimana mestinya dan menjalani harinya.


Siang itu, Lusi kembali ke rumah sakit untuk menemui suaminya yang masih terbaring lemah diatas kasur. Rian yang masih diatas kasur itu tidak bisa berbuat apa-apa karena memang dirinya masih lumpuh.


Selama itu juga Lusi dengan setia menemani suaminya yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit itu.


Rian pun menatap nanar sang istri saat itu, ia salut kepada istrinya yang setia menemani disaat suka maupun duka.


Sementara itu terlihat Rian yang tampak nya sudah tidak betah dirumah sakit karena ia merasa jenuh dan bosan. Ia ingin segera pulang untuk kembali ke rumah.


Rian pun berusaha untuk bicara pada dokter untuk memperbolehkan dirinya segera pulang. Rian tahu kondisi nya belum pulih betul, tapi Rian tidak mau merepotkan Lusi yang harus menjaganya tiap hari siang dan malam bolak balik kerumah sakit dan pulang kerumah. Ditambah lagi Lusi harus mengurus putra dan ibu mertuanya yang memang juga gampang sakit itu.


Akhirnya Rian pun diperboleh kan pulang dengan syarat tetap harus menjalani berobat jalan oleh dokter yang menangani nya itu.


Siang itu terlihat Lusi yang datang membawakan baju untuk Rian ganti, Rian senang melihat istrinya yang berangsur pulih dan kini tanpa tongkat ditangannya. Itu artinya Lusi sudah pulih sedikit demi sedikit.


"Lusi?" Panggil suaminya itu.


"Ya" jawab Lusi singkat.


"Terimakasih kamu sudah menjaga ku siang malam tanpa mengenal lelah dan mengeluh, aku hutang budi padamu" ucap Rian pada Lusi.


"Tidak ada suami yang hutang budi pada istrinya ini tugas ku menjaga dirimu" jawab Lusi lagi.


"Aku tidak tahu caranya membalas semua kebaikan mu"


"Cukup kamu bahagia, itu adalah balasan terindah yang pernah aku dapatkan"


"Kenapa kamu jadi gombal begini"


"Siapa yang gombal ini kenyataan kan, aku tidak pernah gombal"


"Aku kira kamu sedang menggombal ku" kata Rian.


Lusi pun tampak tersenyum.

__ADS_1


"Setelah ini, setelah aku sembuh. Aku akan mencoba cari kerja yang bisa menerima ku, keuangan kita sudah menipis. Aku tidak mau hidup bergantung pada Gery, sekali pun dia sudah menawarkan uang yang lumayan. Menurutku dia cukup membiayai pengobatan mu saja, tanpa perlu menanggung biaya hidup sehari-hari kita" kata Lusi sambil menatap suaminya itu.


"Kamu akan kerja apa?" Tanya Rian.


"Apa saja, yang penting halal"


Seketika Rian pun merasa tak enak pada Lusi yang saat ini harus memutar otaknya menggantikan dirinya untuk bekerja.


"Maafkan aku Lusi karena ku kamu harus menanggung beban hidup yang berat ini" kata Rian merasa bersalah.


"Hidup ini memang berat, tapi lebih berat lagi kita mengeluh dan tak mau usaha. Jadi semuanya akan menjadi ringan kalau kita yakin bahwa semua akan baik-baik saja"


"Selain tukang gombal kamu pun ternyata, inspirator ya"


"Heheh bukan aku regulator lagi" jawab Lusi bercanda. " aku itu menginspirasi untuk diriku sendiri supaya menjalani hidup ini lebih semangat, dan tidak setengah setengah. Sekalipun jalan tak selalu mudah tapi itu lah kehidupan. Setiap apa yang kita jalani akan berbeda, dan setiap jalan juga akan berbeda pula tantangannya"


"Tahu banget kayanya"


"Jelas aku tahu, karena selama itu aku yang rasakan selama hidup ini"


"Trauma sih hampir, tapi kalau mau trauma juga untuk apa? Kalau nyatanya memang inilah jalan hidup kita. Mau marah pada siapa? Cuma doa dan usaha yang bisa kita lakukan sebagai manusia. Hidup itu memang seperti roda yang berputar kadang di atas dan dibawah" kata Lusi.


"Lusi?" Ucap Rian.


"Ya"


"Aku sudah boleh pulang, meksipun sebenernya belum boleh. Aku meminta dokter untuk pulang karena aku lelah disini.. aku rindu berkumpul bersama, dokter pun bilang boleh tapi harus kontrol. Kalau soal kelumpuhan ku aku masih gak tahu kapan benar pulih"


Lusi pun tampak mengangguk.


"Baiklah kalau gitu kita pulang ya" kata Lusi.


Lalu tak lama dering ponsel Rian pun berbunyi.


Lusi pun tampak mengambil handphone Rian dan mengecek pesan yang masuk itu dari siapa. Lusi pun kaget saat melihat ternyata pesan itu berisi sebuah tagihan hutang, yang harus segera dilunasi. Seketika Lusi pun tampak terdiam dan shock pasalnya orang yang menagih hutang itu tampaknya ancamannya lumayan seram dengan ancaman yakni membunuh. Ini tagihan hutang yang paling sadis yang Lusi pernah terima.


Orang ini tagih hutang uang atau menangih hutang nyawa,sampai ia mengatakan ancaman dengan membunuh, apakah nyawa orang itu seperti botol mineral yang dapat didaur ulang dan ditukarkan dengan barang bekas. Hingga dengan mudahnya terlintas begitu saja kata-kata membunuh, batin Lusi terdiam karena shock.

__ADS_1


Lusi yang belum benar-benar bisa keluar dari zona hidup aman dan nyaman itu kini tampak kembali dihadapkan pada kehidupan yang tak baik-baik saja.


Rian pun bingung dengan wajah Lusi yang mendadak diam seribu bahasa.


"Kamu kenapa?" Tanya Rian.


"Ada pesan masuk dan aku kaget" jawab Lusi.


"Apa?"


"Ya ada hal yang sebenernya aku ingin tanyakan padamu, selain kamu punya hutang di bank kamu punya hutang dengan siapa lagi"


Rian pun tediam pasalnya ia tak mau Lusi sampai kepikiran.


"Bahas itu nanti saja dirumah"


"Justru itu, ini penting jadi aku ingin tahu"


"Hmmmm. Justru itu juga aku tak akan yakin bisa membuat mu bahagia aku punya hutang ditempat lain"


"Dengan siapa?"


Rian terdiam.


"Nanti saja aku beritahu ya, untuk saat ini aku belum bisa kasih tahu"


"Dia ingin membunuhmu" kata Lusi yang langsung bicara.


Rian pun tampak menarik napas dalam nya saat Lusi mengatakan hal itu.


Rian pun hanya diam tak ingin beritahu dirinya hutang kepada siapa lagi.


Semenjak Gery mengalami kebangkrutan Gery sering ditawari pinjaman untuk menutupi hutangnya kembali, nyatanya hutang tak lunas dan ia pun malah bingung kali ini harus membayar hutang itu bagaimana.


"Soal itu aku yang urus ya, kamu tenang saja aku sudah siapkan uangnya dia memang seperti itu cara menagih hutang" kata itulah yang akhirnya terlontar dari mulut Rian untuk menutup pembicaraan mereka soal hutang.


Lusi pun antara yakin dan tak yakin sebenarnya. Tapi Lusi tidak mau buru-buru gegabah mengatakan ini dan itu, Lusi harus cari tahu juga yang sebenarnya. Sebelum Lusi marah pada Rian yang punya hutang itu.

__ADS_1


__ADS_2