
Terlihat Juna yang duduk termenung. Sambil memikirkan satu nama yaitu Marisa. Apa yang dikatakan Lusi itu benar. Bahwa dirinya harus menemui Marisa, untuk cintanya itu. Dengan perasaan berdebar Juna pun menghubungi Marisa.
"Mar?" Ucap Juna di telpon.
"Kenapa?" Suara Marisa yang terdengar.
"Apa kabar?" Tanya Juna.
"Kedengarannya gimana? Gue baik apa gak?" Jawab Marisa yang malah berbalik bertanya perihal dirinya.
"Baik, lu baik-baik aja kan" ujar Juna.
Marisa pun tampak terdiam tak bicara lagi. Lalu Juna pun tampak memulai kembali dan membuka pembicaraan lagi.
"Besok ada acara gak?" Tanya Juna.
"Ada" jawab Marisa simple.
"Tapi gue pengen ketemu lu. Sebentar aja"
"Gue gak yakin akan bisa"
"Mar, gue pengen ketemu lu sebentar. Walaupun itu hanya 5 menit"
"Gue akan usaha kan"
"Baiklah, besok di cafe Jingga ya" ujar Juna.
"Oke"
Juna pun tampak bahagia karena ia akan bertemu kembali dengan wanita incarannya itu. Sebagai bentuk hadiah Juna pun tampak ingin membeli sesuatu untuk Marisa. Namun hanya saja ia bingung untuk membeli apa. Ia pun tampak berkeliling. Juna tampak mengunjungi sebuah mall. Dan melihat barang-barang yang akan ia jadikan hadiah untuk Marisa. Ia memang bingung jika harus memilih. Tiba-tiba ia melihat sebuah sepatu dan Juna tampak sangat tertarik melihat sepatu cantik yang berwarna silver seperti sepatu kaca itu.
"Ya, ini seperti sepatu Cinderella. Gue akan membelinya untuk Cinderella ku Marisa" gumam Juna.
Kebetulan ukuran hanya tinggal satu yaitu ukuran 39. Jadi Juna pun tidak ada pilihan lain.
....
__ADS_1
Keesokan harinya, meskipun Marisa hari ini ada jadwal pertemuan dengan Rian. Namun Marisa harus menyempatkan waktu sebentar untuk menemui Juna. Yang katanya ingin bertemu dengannya walau sebentar itu. Dengan tongkat ditangannya Marisa pun berangkat menemui Juna. Marisa ternyata sampai lebih dulu. Dan memesan minum karena Juna sepertinya datang terlambat.
Marisa pun memesan orange jus untuk menunggu Juna kala itu.
Selang 15 menit kemudian. Terlihat Juna yang datang. Dengan pakaian yang terlihat rapi. Beserta satu paket dengan wajah yang terlihat tampan itu. Juna pun menaruh senyum dibibirnya saat melihat Marisa. Ia pun juga membawa setangkai bunga mawar merah. Juna pun duduk dihadapan Marisa.
"Bunga untuk mu" ucap Juna.
Selama itu Juna tidak memperhatikan bahwa Marisa membawa tongkat untuk penyangga tubuhnya.
Marisa pun tampak tersenyum.
"Maaf lama ya" ucap Juna.
"Tidak apa" ucap Marisa.
"Gue hanya takut kalau lu mau rapat. Atau semacamnya. Karena lu sibuk Marisa. Ya kan" ucap Juna yang tampak meledek.
"Ya, pengacara. Pengangguran banyak acara" ucap Marisa.
"Oke baiklah. Ada satu hal yang gue mau tanyain sama lu" ucap Juna tampak serius.
"Jadi" ucap Juna sedikit terbata dan menghela napasnya. "Jadi, sebenarnya gue ingin menyatakan perasaan gue lagi sama lu Mar. Bahwa gue mencintai lu" ucap Juna.
Marisa pun tampak menghela napasnya. Dan sedikit menggaruk keningnya. Ia tidak tega sebenarnya menolak Juna. Namun semuanya memang harus dijawab.
"Jadi apa jawabannya?" Tanya Juna kembali.
"Gue .. gak bisa Jun" jawab Marisa.
"Kenapa? Kenapa? Perasaan kah. Perasaan lu belum siap untuk menerima gue. Gue akan menunggu lu sampai siap"
"Bukan soal itu. Tapi?" ucap Marisa.
"Tapi apa??" tanya Juna.
"Lebih dari itu. Bahwa gue akan segera menikah" ucap Marisa.
__ADS_1
Seketika Juna pun tampak mematung. Ucapan Marisa sungguh membuatnya tak bisa bicara lagi. Semua yang ia anggap harusnya menjadi jawaban terbaik. Justru mendapat jawaban terburuk. Juna pun tampak menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.
"Gue pernah bilang kan, kalau gue pernah suka sama seorang pria selama hampir 10 tahun. Kini gue akan menikahinya'' ucap Marisa.
Juna pun tampak menghela napasnya. Dan sedikit menghapus air mata yang tertahan itu.
"Baiklah. Hanya saja, mohon terima hadiah gue" ucap Juna. Memberikan sekotak hadiah yang ia bawa didalam paper bag yang ia bawa.
"Hadiah apa?"tanya Marisa.
"Gue yang akan memakaikannya ini untuk lu Mar. Hadiah ini bak cerita Cinderella. Karena gue pengen. Suatu saat nanti gue ingin bisa jadi pangeran buat lu Mar"
Marisa pun tampak bingung apa yang menjadi hadiahnya itu.
Ketika Juna buka, Marisa pun tampak kaget karena hadiahnya adalah sepasang sepatu.
"Sepasang sepatu" Marisa pun tampak kaget.
Dengan cepat, Juna pun langsung berlutut dan beranjak memakaikan sepatu itu untuk Marisa. Juna pun memakaikan sepatu dikaki kanan Marisa, dan pas. Namun saat ingin memakaikan yang kiri. Kini bergantian, Juna tampak kaget karena kaki Marisa tidak ada satunya lagi.
"Marisa? Kaki lu?" ucap Juna tampak kaget dan berdiri. Saat melihat bahwa Marisa hanya memiliki satu kaki.
Marisa pun tampak menjatuhkan air matanya.
"Lu lihat kan Jun. Gue cacat. Gue gak sempurna. Karena kejadian inilah gue memutuskan untuk menikah" ucap Marisa tampak menjatuhkan air mata.
"Gue gak peduli. Soal keadaan lu mar. Gue sayang dan cinta tanpa peduli keadaan lu"
"Jun, gak bisa semuanya gak bisa . Tujuan cinta gue bukan lu. Tapi dia.. maafin gue Jun. Sebulan lagi gue menikah dan itu jauh dari kata dibatalkan" ucap Marisa. Marisa pun langsung mengambil tongkat dan beranjak pergi...
Gue gak peduli Mar. Gue gak peduli. Gue mancintai lu Mar. Gue mencintai lu... Ucap Juna dalam hatinya. Dan langsung memeluk Marisa dari belakang.
"Maaf Jun maaf.." ucap Marisa dan melepaskan tangan Juna yang memeluknya.
Marisa pun pergi, meninggalkan Juna.
....
__ADS_1
Bersambung...
Like like like jangan lupa.