Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Bertemu kembali


__ADS_3

Lusi pun kembali meremas kepalanya yang terasa semakin pening saat dirinya segera bertunangan dengan pria yang ia anggap tua itu.


Lusi bingung kenapa dalam satu tahun terakhir dirinya harus mengalami hal serumit ini. Ah mungkin bukan setahun terakhir lebih tepatnya lebih dari setahun terakhir.


Lusi tidak menyangka dirinya akan secepat ini menemukan jodoh tapi yang memberatkan adalah cinta, apakah bisa Lusi mencintai pria itu dengan sepenuh hatinya. Apakah bisa Lusi menerima segala kekurangan pria yang baru saja ia kenal.


Kini, kedok Lusi sudah terbuka. Kemarin Hilman nyaris percaya bahwa diri Lusi seorang psikopat tapi sekarang dia sudah membongkar semua bahwa Lusi hanyalah wanita biasa dan wanita baik-baik. Rencana Lusi gagal!!!!


Dan saat itu ..


Terlihat Hilman yang berdiri dihadapan Lusi sementara Lusi hanya duduk diatas kursi terdiam. Lusi tak mau memandang sama sekali pria dihadapannya.


Dan Hilman tampak bahagia melihat wanita pujaan hatinya berada didekatnya.


"Kamu akan mendapatkan segala apa yang kamu mau, mobil, rumah dan segalanya. Kamu bisa dapatkan itu dari saya"ungkap Hilman.


"Tidak usah promosi diri anda saya tidak tertarik!!!" kata Lusi tedengar kesal dengan apa yang dituturkan Hilman padanya.


"Nah ini.. ini yang saya suka dari kamu. saya kasih kamu berlian kamu malah tidak mau, saya kasih semua yang biasa wanita mau tapi kamu tidak mau. Kamu memang benar istri yang saya cari selama ini Lusi" ucap Hilman yang menatap Lusi dengan penuh rasa antusias.


"Dari sekian wanita yang paling banyak aku kenal cuma kamu yang tidak meminta" kata Hilman lagi.


"Saya tidak banyak meminta karena saya tidak cinta, jelas!!!"


"Halaaah... Persetan dengan kata cinta, cinta cuma buat orang buta. Saya mencari Soleha, baik, pintar, dan cantik. Bukan cari istri yang materialistik meskipun ia mencintai saya kalau cuma untuk harta buat apa, Kalau pun dia cinta kalau dia tidak baik untuk saya apa gunanya Lusi. Kamu saya beri nilai 100" kata Hilman tersenyum.


"Terimakasih untuk penilaian bapak terhadap saya tapi saya tidak butuh penilaian bapak l" ucap Lusi yang masih terlihat kesal dan tak mau memandang Hilman sama sekali.


"Baiklah saya mengijinkan mu untuk marah. marah lah Lusi sesuka hati mu.. murka pun tak jadi masalah yang penting nanti kita akan menikah. Dan satu lagi, ingat besok adalah pertunangan kita"


Lusi hanya diam dan tak menjawab sama sekali.


"Saya pergi dulu untuk membeli cincin tunangan kita sayang" ucap Hilman tampak memadang Lusi lebih dekat. Tapi Lusi langsung berdiri dan menghindari Hilman.


Hilman pun tampak menghela napas dan terima dengan Lusi yang menghindari dirinya. Hilman menghargai Lusi yang saat ini mungkin belum bisa terima dirinya tapi Hilman yakin Lusi adalah wanita yang baik.


Hilman yakin setidak cinta apapun Lusi pada dirinya suatu saat Lusi bisa terima dan cinta.


Hilman pun pergi setelah itu.


Lusi pun hanya menunduk kesal dan tak banyak bicara lagi. Lalu ia pun tampak memandang putrinya begitu dekat lagi. Yasmin terlihat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


Lalu tak lama ibu pun datang Lusi pun meminta ibunya untuk menjaga Yasmin sebentar karena popok Yasmin habis. Jadi Lusi harus keluar untuk membelinya.


Lusi pun keluar untuk membeli sesuatu di mini market yang ada dekat rumah sakit.


Lusi pun membelinya tapi tiba-tiba ada seseorang memanggilnya dan ternyata adalah seorang wanita yang dia adalah sekertaris pribadi dari David.


Lusi pernah menemuinya sekali tapi Lusi sebenernya merasa lupa-lupa ingat dengannya.


"Hey.." kata wanita itu.


"Hey juga"


"Apa kabur?"


"Kabur? siapa yang kabur" jawab Lusi yang sedang memilih beberapa keperluannya.


"Maksudnya apa kabar"


"Ya ampun, Alhamdulillah baik"


"Oh syukurlah tapi Bagaimana?" Tanya wanita itu.


"Apanya?" Ucap Lusi berbalik beritanya.

__ADS_1


"Hidup menjanda"


"Apaan sih kamu.. tapi Luar biasa loh" jawab Lusi dengan senyum simpul.


"Luar biasa enak apa gak enak?"


"Gak enak" jawab Lusi jelas.


"Gak enak ya, karena gada pelampiasan"


"Sembarangan!!! Gak gitu juga"


seketika Lusi pun menatap wanit disampingnya.


"Oia kita dari tadi saling ngbrol tapi saya lupa nama kamu siapa?" Ucap Lusi.


"Panggil aja Anya Geraldine walau nama asli saya bukan Anya"


"Oke deh Anya" kata Lusi sambil tersenyum.


"Btw kok kamu tahu ya kalau aku janda" ucap Lusi heran.


"Ya tahu dong, berita kamu tuh luas.. pas boss Gery nikah lagi sempet rame dikantor dan kepo liat ig kamu ramai yang sempat tuduh kamu pelakor. Pas berita itu sudah kesebar eh berita cerai nya kamu rame juga dikantor..kantor aja sih, cuma Lucu aja kaya cerita sinetron" jelas Anya.


"Oh pantes ya telinga aku sakit rupanya banyak yang omongin aku dibelakang" kata Lusi yang menjawab setiap pertanyaan Anya tapi masih fokus membeli barang keperluan.


"Hehehe gak apa-apa lah dosa buat kamu pahala buat dia. Eh salah maksudnya dosa buat dia, pahala buat kamu"


"Ya amin. Tapi biarin aja sih aku anggap angin lalu. Jadi gak terlalu aku pikirin" kata Lusi.


"Eh tapi kok kamu cerei sih apa service boss Gery kurang hot"ledek Anya.


"Apa sih, udah deh jangan cari bahan buat kita ngbrol ke arah sana" ucap Lusi yang tak mau membahas lagi.


Lalu tak lama setelah itu Lusi pun tampak membayar belanjaannya tapi saat ingin membayar Lusi kaget bahwa dia lupa membawa dompet.


"Aduh kenapa dompet ketinggalan" jelas Lusi yang tidak membawa uang hanya ada didompetnya saja.


Tiba-tiba...


"Berapa harganya?" Tanya seroang pria disampingnya.


Saat Lusi menengok Lusi kaget bukan kepalang.


"Totalnya 140.000" jawab seorang kasir.


"Baik saya yang bayar"


Seketika Lusi pun kaget melihat pria yang berada disampingnya datang tiba-tiba, dengan kemeja berwarna abu-abu, hidung mancungnya tampak terlihat jelas, dan mata yang tampak bulat indah yang saat ini sedang serius mengambil pecahan uang didompetnya.


Dan dia adalah Gery.


Pria yang pernah menjadi suami Lusi dulu.


Lusi tampak mematung saat tahu ada pria yang pernah ada dalam hidupnya kini ada didekatnya, dan membuat hatinya tampak berdegup kencang melihat Gery.


Entah kenapa Gery lebih tampan dari yang pernah Lusi kenal sebelumnya. Lusi pun hanya tampak memejamkan matanya tak mau hanyut dalam perasaan suka yang tak semestinya.


Ya...


Lusi saat itu tidak tahu jika Anya pergi ke mini market itu bersama Gery yang menunggu.


Seketika suara berat dari Gery membuyarkan perasaan Lusi yang saat itu terhanyut dalam rasa getaran yang terasa didada.


"Sudah aku bayar kamu gak usah bayar" ucap nya gery.

__ADS_1


"Te-terimakasih"jawab Lusi terbata.


"Maaf aku duluan soalnya ada keperluan banget" jawab nya dan langusung pergi begitu saja dengan langkah kaki yang begitu cepat meninggalkan Lusi.


Lusi pun tampak memandang ke arah luar dan mematung melihat kepergian Gery yang begitu cepat didepan mata.


Saat melihat mobil Gery melesat pergi begitu cepat didepan matanya entah mengapa ada perasaan sesak yang begitu terasa didalam hati Lusi.


Dia pergi batin Lusi saat itu.


Rasanya Lusi tak menyangka dapat bertemu kembali ayah dari anaknya itu. Tapi sayang kenapa hanya sebentar.


Ya Tuhan, perasaan ku kenapa begini, sakit sekali melihat dia pergi. Batin Lusi meraup wajahnya.


Hati Lusi masih tampak tak beraturan.


Lalu setelah itu Lusi tampak membawa popok bayi yang ia bawa buat Yasmin dengan wajah yang tampak terlihat tak percaya bahwa dia baru saja bertemu dengan Gery.


Wajah Gery tampak terpatri kuat saat ia sedang membayar di mini market tadi, Lusi pun bingung kenapa ingatan wajah Gery begitu melekat.


Saat itu..


Lusi seperti orang yang baru saja melihat artis idolanya. Sangat terngiang di pikiran.


Sampai Lusi kembali di ruangan rawat inap Yasmin, ibu heran melihat Lusi yang diam saja.


"Hey kenapa?"


"Ah ah enggak Bu" jawab Lusi memijat keningnya.


"Yaudah kalau gak apa-apa ibu hanya khawatir kamu kenapa-kenapa"


"Gak bu tenang aja Lusi gak kenapa-kenapa" jawab Lusi.


"Hem baiklah maaf Ibu balik dulu ya karena Fabio dititip dirumah Nila" kata ibu.


"Ya bu, Salam cinta juga Bu untuk Fabio tolong jaga Fabio ya Bu selama Lusi disini" kata Lusi.


"Iya" jawab ibu.


Lusi pun mencium punggung tangan dari sang ibu sebelum pergi.


Setelah ibu pergi...


lalu tak lama Lusi pun mengambil popok bayi yang baru saja di beli dimini market dan menggantinya pada bayi Yasmin yang pokoknya sudah terasa penuh.


Bayi Yasmin sudah terbangun dan sedang memainkan tangannya dan sedang bicara.


"Wa wa wa"


Sontak Lusi pun tersenyum namun teringat kembali pada wajah dari sang pemilik benih yang sudah menjadi manusia ini, dan kini usia nya sudah menginjak tiga bulan.


Lusi pun berbicara lembut pada bayi yang sedang asyik dengan tangannya sendiri.


Ada perasaan sesak yang Lusi kini tengah rasakan.


"Sayang, kamu tahu mama baru saja ketemu sama papa kamu" ucap Lusi lirih dan tak terasa menjatuhkan air matanya.


"Kamu tahu gak popok ini dari siapa? Popok ini dari papa kamu sayang, dari papa kamu" ucap Lusi yang tak kuasa air mata nya tumpah, ada perasan pilu terasa sakit didada bila mengingat semua yang terjadi. Ada perasaan benci, perih dan kecewa seolah jadi satu.


Lusi pun terlihat menangis tersedu.


Tapi yang paling tengah dirasa Lusi adalah sedih dan perih.


Huhuhuhuhu

__ADS_1


__ADS_2