
Lusi pun kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Gery soal Gery yang pernah meniduri dirinya. Tapi Lusi tidak mudah percaya dengan apa yang Gery katakan. Bahwasannya mungkin itu hanya akal-akalan Gery saja untuk membuat Lusi kesal atau takluk pada dirinya.
Atau mungkin hanya untuk bercanda saja. Ya dia mungkin hanya bercanda.
Tapi jika memang dia bercanda untuk apa dia sampai bersujud dan meminta maaf.
Mungkin dia yang hanya membuat ide cerita sendiri untuk mengakali diri Lusi karena dia memang terlalu terobsesi pada diri Lusi. Sehingga dia mengarang cerita.
Ya, Lusi berusaha untuk dirinya baik-baik saja.
Lusi berusaha untuk tidak mudah percaya dengan apa yang barusan Gery katakan bahwasannya Lusi antara tidak percaya sama tidak mau pusing itu beda-beda tipis.
Sebenernya Lusi bukannya tidak percaya, namun ia berusaha untuk menggunakan akal sehat dirinya. Bahwa apa yang Gery katakan itu tidak mungkin pernah ada dan terjadi. Setiap ujian yang terasa berat itu, baik sadar atau tidak. Lusi ingin semuanya benar-benar tidak pernah ada dan terjadi. Semua moment berat dihadapan Lusi, kalau mungkin Lusi bisa menghapus, Lusi akan menghapusnya benar-benar. Lusi lelah jika harus menangis sepanjang hari.
"Oke Lusi apa yang dikatakan Gery itu tidak pernah ada dan tak pernah terjadi. Jadi kamu tidak perlu berfikir rumit. Pikirkan lah hal yang memang harus dipikirkan. Gery hanya mengarang cerita ya, hanya mengarang cerita" ucap Lusi berusaha memberikan arahan perasaan nya agar tak terbawa dengan apa yang Gery katakan soal dirinya yang pernah menidurinya.
Lusi pun naik taksi untuk menemui suaminya di rumah sakit. Mungkin ongkos taksi lebih mahal kalau naik taksi tapi kalau naik angkutan umum. Jujur saja Lusi tak mampu untuk naik karena kakinya yang saat ini masih sakit. Lusi pun membawa makanan kesukaan Rian.
Lusi pun sampai dirumah sakit, terlihat Rian yang terdiam diatas ranjang, sambil sedikit melamun. Lusi hanya merasa jika Rian sedikit berubah setelah kecelakaan itu. Dirinya yang dulunya suka bicara sekarang agak sedikit lebih diam. Entah ada sesuatu yang ia pikirkan.
"Assalamu'alaikum sayang" ucap Lusi sambil tersenyum melihat suaminya.
__ADS_1
"Walaikumsalam" jawab Rian masih terbaring dan hanya melirik ke arah wajah Lusi.
"Aku bawakan kamu makan, kamu makan ya aku suapin" kata Lusi menaruh makanan diatas nakas.
"Terimakasih"
Meskipun dirumah sakit itu sudah dapat makan, namun Lusi membawa kan makanan untuk Rian karena takut ia bosan menu disana
Namun tampak nya ada sesuatu yang Rian pikirkan entah apa itu Lusi tampak tak tahu.
Tiba-tiba Rian mengatakan hal yang Lusi tak kira sebelumnya.
"Ya?" Jawab Lusi.
"Aku tahu kondisiku saat ini. Aku lumpuh, aku tidak bisa bergerak seperti dulu lagi. Aku tidak bisa apa-apa" kata Rian.
Seketika Lusi pun sedih dengan apa yang Rian utarakan.
"Aku tidak sempurna untuk mu" ucap Rian.
Seketika hati Lusi pun perih dengan apa Rian katakan. Lusi merasa jika Rian saat ini sedang down dalam kehidupannya. Bahwasannya selain ia kehilangan harta dia pun juga kehilangan semangat hidupnya. Tak terasa air mata Lusi pun terjatuh mendengar apa yang Rian katakan. Mungkin itu lah yang membuat ia diam selama ini.
__ADS_1
"Kamu bisa tinggalkan aku, pergilah dan carilah suami yang bisa membahagiakan mu secara lahir dan batin. Jangan dengan aku yang miskin dan tidak bisa apa-apa"
Lusi pun menangis dengan apa yang diucapkan suaminya. Namun ia tahan, Lusi pun memeluk suaminya dengan erat.
"Kamu jangan bicara seperti itu padaku"
"Lusi, aku sadar mungkin ini karma untuk ku karena aku pernah jahat padamu. Kamu berhak untuk pergi tinggalkan aku. Karena kondisiku. Kamu cari suami yang gagah, yang berharta dan memiliki semuanya. Aku tak bisa membahagiakan kamu sayang" ucap Rian pada Lusi namun tak menatapnya.
Justru Lusi lah yang menatap Rian dengan wajah penuh rasa sakit.
"Rian, aku adalah istrimu. Aku menerima apapun keadaan mu saat ini. Aku tidak peduli dengan keadaan mu. Jangan katakan lagi, jangan usir aku dari hatimu karena kamu sakit sayang. Ini ujian untuk mu, untuk keluarga kita. Jadi jangan anggap bahwa kamu yang menerima ini sendirian. Aku adalah kamu, kamu adalah aku. Kamu dan aku adalah kita, kita harus bahagia. Susah senang kita bersama. Ingat Rian aku mencintaimu, jadi jangan berfikir begitu sayang" ucap Lusi memeluk suaminya sambil mencium pipinya.
Lusi akhirnya tahu apa yang menjadi beban suaminya saat ini.
Rian pun tampak menjatuhkan air matanya saat istri nya mengatakan hal itu sambil memeluknya.
Rian pun tak kuasa menahan air matanya mana kala istrinya yang ternyata setia namun dirinya tak mampu memberikan kesempurnaan dan kebahagiaan sebagai suami.
"Dirimu terlalu banyak menderita karena aku, lebih baik kamu pergi supaya hidup mu tidak menderita lagi" kata Rian
"Sudah jangan katakan apapun lagi, kita harus tetap bersama. Aku mencintai mu" ucap Lusi menatap suaminya sambil memeluk nya.
__ADS_1