
Suasana rumah siang itu.
Tampak Lusi yang sedang sibuk membereskan rumahnya setelah sibuk membuat kue.
Tiba-tiba seseorang pria datang untuk menemui Lusi, jujur Lusi gerah sebenernya jika harus melayani bapak-bapak yang datang membeli kue sekaligus menggoda dirinya karena memang memiliki status janda.
Lusi pun sudah biasa jika didekati pria lain saat jaman masih gadia, namun kalau untuk pria beristri Lusi rasanya males meladeni.
Lusi yang masih muda dan terlihat enerjik itu pun banyak didatangi pria untuk dijadikan istri, tapi maaf sepertinya membuka hati ditinggal suami yang telah meninggal itu lebih sulit menerima ketimbang putus cinta. Mau seperti apapun janji manis sebuah perasaan rasanya tidak ada gunanya kalau hati tidak bisa dibuka. Lusi pun hanya bisa bersembunyi dibalik alasan sibuk jika ada pria yang datang. Apalagi rata-rata mereka yang datang adalah pria beristri, mana mungkin Lusi bisa terima.
Tok.. tok.. tok..
Lusi pun akhirnya geram karena ada suara ketukan pintu yang tidak berkepentingan itu hadir.
"Eh neng daritadi Abang ketuk pintunya bukan dibukain" ucap seorang pria yang usianya sekitar 45 tahunan.
"Hem, saya lupa bang caranya buka pintu"
"Lah gak usah ditutup makanya biar gak pakai dibuka segala"
"Enak di Abang rugi disaya. Lagi mau ngapain?" Tanya Lusi.
"Beli kue lah neng, masa beli kembang pasir"
"Siapa yang kembang pasir"
"Neng"
"Lah kok saya"
"Eh maksudnya kalau neng mah kembang desa"
"Tadi bilangnya kembang pasir"
"Lah itu mah cuma canda doang"
"Neng? Emang gak cape apa hidup sendiri anak masih pada kecil"
__ADS_1
"Jadi sebenarnya kesini mau beli kue apa mau tanya jawab"
"Yailah galak amat"
"Dah ya bang"
"Aduh kenapa buru-buru"
"Saya lupa kue nya abis"
"Belum dijual udah abis"
"Lah itu hebatnya kue saya, bisa laku tanpa dijual. Tar lagi aja deh ya. Beli nya tar aja kalau udah ada mama saya"
"Neng orang mau beli malah diusir. Yaudah ngbrol aja ngbrol"
"Permisi ya" Lusi pun langsung pergi tak menghiraukan lagi setelah itu.
Lusi pun langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu rumahnya.
Lalu tak lama lagi, ada yang mengetuk pintu Lusi.
Ada tiga orang ibu-ibu yang datang melihat ke arah Lusi dengan tatapan sinis dan tajam. Lusi pun tampak heran dengan tatapan membunuh ketiga ibu-ibu itu, karena Lusi merasa dirinya tak punya salah pada mereka kenapa mereka menatap dengan tatapan sinis.
"Oh jadi lu yang suka godain suami kita"
"Godain, gak. Gak pernah godain lagi juga suami yang mana aja saya gak tahu"
"Eh jangan belaagak gak tahu ya, lu itu cewek gak bener nih lu buktinya mana ada janda yang hamil. Itu hasil dari lu godain laki-laki kan, ya kan"
"Saya sudah hamil sebelum suami saya meninggal"
"Eh nying-nying, asal lu tahu aja laki lu itu lumpuh sebelum dia mati, emang dia bisa nidurin terus lu buntingin elu. Udah deh jangan bersembunyi dibalik suami lu yang udah almarhum, lu ngaca dulu itu lu Hamil anak siapa?" Ucap si Ibu-ibu.
Lusi pun tampak menatap dengan mata berkaca-kaca pasalnya Lusi tak pernah menyangka jika dirinya dianggap wanita rendahan karena dirinya.
"Coba pakai hati nurani kalian sebagai wanita, saya janda, saya punya anak kecil dan saya juga sedang hamil kenapa kalian malah berfikiran buruk tentang saya. Meskipun saya janda tapi saya masih punya harga diri, saya gak mungkin menggoda pria yang sudah beristri" ucap Lusi tak terima dengan semua tuduhan.
__ADS_1
"Terserah lu mau berdalih apapun itu, intinya lu pergi dari sini. Keberadaan lu sungguh meresahkan, sadar!!! lu itu udah jadi buronan para emak-emak yang siap ngacak-ngacak rambut Lu karena godain laki orang" ucap si Ibu-ibu
"Saya gak nyangka kalau kampung ini gak bisa terima status sosial orang yang single parent" jawab Lusi.
"Eh, bukan status nya, yang gue masalahin. Lu itu, hamil!!! Sedangkan laki aja lu kaga punya, mana bisa lu begitu. Coba lu pikir Ampe botak, lu dapat mangsa dari mana itu sampai lu bunting"
"Ya gak nyari mangsa emang sudah takdir tapi bukan hasil godain laki orang bukan, huhuhu" Lusi pun akhirnya menangis seperti anak kecil yang diomelin sama emak-emak
Tiba-tiba, ayah dari Lusi pun datang dan melihat Lusi yang sedang diserang emak-emak kampung itu. Lusi tampak menangis.
"Oh ini laki-laki yang udah buat lu hamil" ucap si emak-emak yang melihat ayah dari Lusi itu datang dan mengira kalau itu adalah pria yang sudah menghamilinya. Ya saat itu ayah dari Lusi datang dengan naik mobil, karena Lusi memang lahir dari kalangan menengah jadi sebenernya itu perihal biasa.
"Ibu-ibu ini apaan sih, saya ini ayahnya Lusi. Mana mungkin saya menghamili anak saya sendiri" ucap ayah kesal.
"Oh ini anak bapak ya!!! bilangin jangan suka godain suami orang, mulai detik ini saya mau Lusi pergi dari rumah ini, Lusi ini perempuan gak bener" ucap kasar emak-emak.
"Ya ibu gak usah repot-repot usir anak saya dari rumah ini. Saya akan membawa pulang anak saya kok. Ingat ya ibu-ibu jangan pernah bilang anak saya perempuan gak bener. Anak saya adalah anak paling baik, anak kesayangan saya. Jangan pernah buat dia menangis ya!!!? Awas!!! Liat saja ibu-ibu!! kalau ada dari ibu-ibu menghina anak saya seperti ini dan membuat anak saya menangis lagi. Nih lawan saya, lawan bapaknya jangan dia saya yang akan melawan kalian"
"Yey si bapak, anak salah bukannya di kasih tahu malah dibela, pakai mau lawan kita lagi!!!!"
"Eh Ibu-ibu, saya bapaknya yang gedein dia dari orok sampai sekarang tahu!!!! saya yang tahu betul anak saya seperti apa, tidak mungkin dia berbuat yang tidak baik. Sudah Lusi kita pulang ke rumah kita gak usah debat sama ibu-ibu gak jelas ini, payah bisa nya main keroyokan" ucap Ayah kesal.
"Eh bapak nya Lusi, bukan apa-apa. Kita itu udah sering mergokin laki kita main ke mari, hampir tiap hari. Kan kita kesel apa lagi tahu ke tempat ini janda kegatelan yang perutnya melendung, apa kita kaga bakal kebakaran jenggot coba"
"Eh nenek lampir!!! Itu bukan salah anak saya, itu salah laki ente yang pada kegatelan gak boleh liat yang bening kinclong dikit. Nah logikanya aja anak saya gula dia semut, ya wajar disemutin. Saran aja nih biar laki emak-emak disini, lakinya gak godain cewek lain itu suami kandangin. Kalau perlu karengkeng, biar gak pergi. Sudahlah anak saya yang geulis mau balik puyeng ladenin nenek disini. Lusi ajak Fabio kita pulang, enak aja kamu diperlakukan seperti itu emang dikira kita takut" ucap ayah Lusi yang kesal juga saat itu
Lusi yang tadinya tidak niat pulang hari itu akhirnya ikut pulang dengan sang ayah karena sudah terlanjur kesal dengan para ibu-ibu.
Selama diperjalanan Lusi pun tampak memangku Fabio sementara ayahnya yang tampak membawa mobil.
"Ayah, aku gak bisa pulang, nnti mama Renata sendirian disana. Aku gak tega" ucap Lusi.
"Lusi, kamu itu jangan mau ditindas sama ibu-ibu. Sudahlah Renata besok juga ayah akan jemput. Kamu kalau tinggal dengan Renata masih ayah terima tapi kalau kamu di rendahkan oleh mereka ayah tidak bisa terima, ayah masih sanggup membiayai hidup mu. Ayah tidak terima, mereka jangan bisa nya merendahkan kamu, hanya karena kamu dianggap janda miskin" kata ayah yang terlihat emosi.
Lusi pun langsung tertunduk sedih. Saat mengingat perlakuan Ibu-ibu itu pada dirinya.
"Yah kenapa berat ayah jadi janda, apa mereka menganggap Lusi rendah karena Lusi hamil" ucap Lusi yang tampak menjatuhkan air matanya. "Padahal Lusi juga hamil bukan keinganan karena memang titipan dari Allah kenapa semua orang menyalahkan Lusi, jadi merasa kalau Lusi hamil itu seperti aib. Apa ini aib ya. Hiks, hiks hiks" ucap Lusi yang akhirnya menangis juga merasakan kepedihan dalam hatinya.
__ADS_1
"Jangan sedih nak. Ayah sayang pada mu nak, kamu adalah anak ayah terbaik. Ayah akan sakit kalau kamu sakit juga, ayah membesarkan kamu hingga saat ini bukan untuk disakiti. Kamu jangan nangis ya, ayah sedih melihat mu menangis seperti ini" ucap ayah yang memegang kepala Lusi dan mencium keningnya.