
Lusi tidak bergeming disaat ia melihat kepergian wanita bernama Karina itu, Lusi yang saat ini pikirkan bukan bagaimana perasaan Karina kepada Demian. Juga bukan perasaan Demian pada Lusi namun bagaimana caranya dirinya bisa lepas dari rumah itu. Lusi merasa dirinya sekalipun jadi ratu ia sama sekali tidak bisa menghubungi siapa saja orang di rumah. Bahkan dirinya merasa tekanan batin untuk tetap tinggal dirumah milik Demian.
"Demian kapan kamu akan melepaskan aku dari sini"
"Lepas!!! Lepas katamu, sekalipun aku mencintaimu tidak mungkin aku melakukan mu begitu saja.. tidak ada istilah kamu lepas dari genggaman ku" ucap Demian.
Demian sebenarnya ada rencana ingin menikahi Lusi, tapi dia belum memiliki waktu yang tepat. Untuk menikahi seorang wanita, bagi Demian memang butuh banyak pertimbangan terlebih lagi Lusi hamil pasti akan ditentang keras oleh papanya.
Namun Demian juga bingung tidak mungkin pula dia melepaskan Lusi yang nyatanya ia cintai.
"Wanita itu siapa?" Tanya Lusi.
"Yang mana?" Tanya Demian.
"Yang tadi?" Ungkap Lusi.
"Kamu cemburu?"
"Tidak juga"
"Dia nenek sihir yang akan dijodohkan oleh papaku" jelas Demian tertawa.
Lalu Demian pun tersenyum melihat wajah Lusi yang ada dihadapannya kini. Seolah itu adalah cinta yang harusnya memang diutarakan dan tidak mungkin bila dibiarkan begitu saja.
"Lusi maukah kamu menjadi kekasih ku" kata Demian memegang kedua tangan Lusi.
"Tidak, aku masih mencintai suamiku" jawab Lusi.
"Lusi sudah ya, kamu lupakan semua tentang cinta lamamu. Anggap suami mu itu hanya hayalan dan aku adalah kenyataan" kata Demian.
"Khayalan, khayalan katamu. Aku punya suami memang nyata, bukan menikahi suatu hal yang goib. Awas saja kamu menyebut suami ku cuma khayalan" kata Lusi kesal.
"Kalau memang nyata buktinya mana" kata Demian.
"Buku nikah yang aku miliki, masih ada hingga kini. Anak anaku bahkan ada dua. Itu bukan khayalan dan itu nyata. Kamu masih menganggap ini khayalan" kata Lusi heran.
"Tapi dia telah tiada, suami kamu meninggal" jelas Demian.
"Meninggal bukan berati khayalan. Aku benci dengan ucapan mu" kata Lusi marah.
"Oke anggap itu nyata untuk mu, tapi khayalan untuk ku. Karena menurut ku tidak penting ada dan tidak ada suami mu. Yang aku mau kamu" ungkap Demian.
"Sebenernya ada hadiah untuk mu, cuma nanti malam saja aku memberikannya" kata Demian, yang memang membawa hadiah kimono dan sebuah kalung indah untuk Lusi.
"Sekalipun kamu tidak menanggap ku sebegai kekasih namun aku mencintai mu dan menganggap mu sebagai kekasih ku" ucap pria berusia 35 tahun itu.
"Aku akan mengistimewakan kamu dirumah ini, makan tinggal makan tidur tinggal tidur aku akan jadikan kamu ratu"
"Untuk apa aku jadi ratu, bahkan untuk pulang saja aku tidak bisa" ketus Lusi.
"Anggap saja kamu ratu dirumah ini, kalau diluar aku tidak mau. Aku tidak mau apa yang aku cintai keluar dari jangkauan ku" kata Demian.
"Kamu sama saja dengan menyiksa ku membiarkan diriku sendiri tanpa boleh menemui keluarga ku" ungkap Lusi.
"Lebih baik aku yang menyiksa mu, daripada kamu yang menyiksa ku" terang Demian.
Lalu tak lama suara handphone Demian berdering, Demian pun mengangkatnya dan Demian pun diundang oleh temanya nanti malam untuk menghadiri sebuah pesta.
Hingga malam harinya Demian pun memutuskan untuk pergi ke sebuah pesta itu, Demian pun akhirnya memutuskan untuk memberikan sebuah hadiah itu nanti setelah ia pulang dari acara pesta malam.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Hingga malam hari Demian pun pulang dengan keadaan mabuk dan melihat pintu kamar Lusi dan memasuki kamar itu. Dirinya teringat akan baju kimono yang ia beli untuk Lusi. Lalu Demian membawakannya ke kamar Lusi.
"Lusi aku membawakan mu hadiah kimono ini. Pakailah" kata Demian.
Terlihat Lusi yang baru saja ingin tidur namun Demian datang tiba-tiba.
Lusi pun melihat wajah Demian dengan tatapan yang lain. Karena wajah Demian terlihat memerah seperti orang yang sedang sakit.
"Aku baru saja mengganti baju masa aku harus ganti baju ini lagi" tolak Lusi.
"Gak apa-apa ini hadiah untuk mu aku mau lihat kamu memakai ini,, ini hadiah" kata Demian tersenyum sambil melihat Lusi dan memberikan baju kimono itu.
Lalu Lusi pun mau tidak mau mengganti bajunya dikamar mandi. Kebetulan kamar mandi itu jadi satu dengan kamar.
Namun saat dirinya belum selesai mengganti baju tiba-tiba Demian tampak masuk dan melihat Lusi yang hanya memakai tangtop dan celana pendek.
Lalu dengan cepat Demian langusung menarik Lusi dan mendorong ke tembok. Meskipun Lusi saat ini tengah hamil Demian seolah tidak peduli dan dengan tatapan penuh gairah dan ingin menumpahkan semua hasrtanya.
"Demian, lepaskan aku sekarang juga" ucap Lusi dengan mata membulat dengan kedatang Demian yang tiba-tiba.
"Tidak akan" kata Demian. "Mengabdi padaku, sebagai dirimu yang tak mampu membayar hutang mu kita saling cinta untuk apa kamu meminta ku untuk melepaskan ku" kata Demian yang terlihat marah dan tak manis lagi.
"Sekalipun kamu mencintai ku, tapi aku tidak mencintai mu. Aku rindu dengan putra ku, aku ingin pulang" ucap Lusi yang memang merasa tersiksa batin ingin bertemu keluarga.
"Aku tidak mau? Kamu mabuk Demian"
"Kita ini sepasang kekasih tidak mungkin aku tidak melakukan ini"
"Aku belum bilang mau jadi kekasih mu" kata Lusi tegas.
"Bukankah bentuk perhatian ku, sudah jelas sebagai bentuk dari sebuah hubungan sepasang kekasih kan" kata Demian.
"Tapi kita bukan pasangan kekasih!!" Kata Lusi sambil mendorong tubuh Demian.
"Anggap saja kalau gitu kita kekasih" ungkap Demian yang terus menciumi tubuh Lusi
"Apa yang kamu ingin lakukan?" Ungkap Lusi.
"Lusi!!!! belum pernah sekalipun aku merasakan tidur dengan seorang wanita, aku ingin melakukan ini pada mu!!!!" kata Demian yang terlampau ingin melakukan hal lebih pada tubuh Lusi.
"Aku tidak mau" Ucap Lusi menangis.
"Tapi kamu harus mau!!!!" Kata Demian dengan suara tegasnya.
"Aku sedang hamil Demian"
"Aku tidak peduli!!??"
Lalu Demian pun menarik wajah Lusi.
"Kamu adalah ciuman pertama ku, dan itu artinya kamu harus jaga menjadi wanita pertama yang aku tiduri" kata Demian.
"Aku sedang hamil"
__ADS_1
"Lusi, aku mau melakukannya sekali saja aku janji setelah ini terserah pada mu" kata Demian yang mengunci tubuh Lusi.
Lusi pun terlihat menangis.
"Demian aku mohon jangan" pinta Lusi memohon. Namun Demian seolah tidak peduli dengan ucapnya Lusi yang memintanya.
Lalu dengan cepat Demian menarik Lusi dan menggendong paksa Lusi saat itu. Dan dengan cepat Demian menjatuhkan Lusi ke atas kasur milik Demian dan dengan cepat pula Demian menatap Lusi dengan tatapan hasratnya.
Lusi berulang kali bangun dari tempat tidur nya namun Demian tetap saja mendorong Lusi hingga jatuh ke kasur.
Brrruuggghh
"Demian aku tidak suka cara mu, lepaskan aku!!!" kata Lusi menangis.
"Aku pria yang juga butuh pelampiasan, kamu wanita dan kamu sudah ada didepan ku. Kamu tawanan ku dan aku berhak untuk melakukan apa saja pada mu" kata Demian dengan gairah dan hasrat yang sudah di ubun-ubun.
"Lepaskan aku!!!!!!" Teriak Lusi. Namun ucapan Lusi seolah tidak di gubris tangan kekar Demian mengunci tubuh Lusi.
Lalu dengan cepat Demian membuka bajunya. Demian mulai melakukan ciuman pada Lusi dan mendorongnya hingga tembok. Tangan Demian pun tidak hentinya memasukan dalam bagian terpenting dibagian tengah pada dada Lusi.
"Demian apa yang ingin kamu lakukan, aku mohon jangan" kata Lusi tak terima.
"Tentu saja permainan panas dengan mu"
"Demian sadarlah kamu sedang mabuk"
"Aku tidak mabuk, aku tidak mabuk. Aku hanya ingin melakukannya saja"
Lalu dengan cepat Demian menangkap tubuh Lusi dan dengan cepat Demian melepaskan semua yang ada ditubuh Lusi. Kini Lusi tanpa memakai sehelai benang pun ditubuhnya, Lusi merasa malu pada Demian tapi tidak dengan Demian yang sedang mabuk saat itu.
Demian justru sangat merasakan hasratnya yang terpendam pada dirinya, Demian memegang tubuh Lusi hingga akhirnya kini Lusi berada tepat dibawah tubuh Demian. Demian dengan cepat membenamkan benda pusaka yang ia miliki hingga ia terus saja melakukan itu berulang pada janda yang tengah hamil itu.
"Lusi aku mencintai mu" ungkap Demian yang terus mengucapkan kata itu saat ia melakukan permainan panasnya. Tangan Lusi pun diikat dengan ikat pinggang Demian sehingga Lusi kesulitan bergerak.
Lusi pun hanya menangis tersedu dan merasakan pahit yang begitu terasa. Akhirnya Lusi kini benar benar tidak percaya lagi dengan Demian dan juga arti cinta sesungguhnya. Lusi membenci dengan kata cinta yang justru menyakitkan untuk dirinya.
Setelah puas, Demian terbaring disamping Lusi dengan perasaan puas karena sudah mengeluarkan sel sel dalam tubuhnya. Dan itu merupakan hal pertama bagi Demian.
Demian pun membuka matanya dan ia kaget melihat Lusi yang menangis disampingnya. Demian tanpa memakai baju dan hanya selimut ditubuhnya.
"Apa yang terjadi" ungkap Demian kaget.
Lusi hanya diam dengan air mata yang begitu keluar tak beraturan. Lusi tak bisa tertidur malam itu.
"Lusi apa yang baru saja terjadi!!!"
"Cukup, jangan katakan lagi" ungkap Lusi menangis.
"Lusi???"
Demian tampak melihat Lusi dan membulatkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Aku tidak sengaja" ungkap Demian merasa bersalah.
"Lusi?" Ucap Demian menatap Lusi.
Lusi pun hanya terdiam dan tidak menanggapi apa yang dikatakan Demian.
Lusi sangat kesal pada Demian dan Lusi sulit untuk memaafkan diri Demian.
Demian pun meremas kepalanya merasakan perasaan bersalah yang teramat pada wanita yang kini disampingnya.
__ADS_1