Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Istri Pengadu


__ADS_3

Lusi yang baru sampai itu pun kaget melihat Rian yang tampak sedikit memar pada wajahnya. Dan terlihat suasana tampak panas.


Tampak Juna yang memukul Rian dan Rian pun tampak tidak mau kalah. Lusi pun sontak kaget dan berusaha untuk memisahkan.


"Hentikan. Aku mohon kalian jangan berkelahi" ucap Lusi.


Lusi pun menarik Juna. Karena saat itu yang terlihat sangat marah adalah Juna.


"Jun,.aku mohon sudah. Sudah Jun" ucap Lusi.


Juna pun langsung menghentikan. Saat Lusi meminta untuk berhenti berkelahi.


"Kalau bukan karena Lusi yang menyuruh gue untuk berhenti. Udah habis lu sama gue " ucap Juna emosi. Lalu melepaskan Rian.


"Gue gak takut sama lu. Lagi pula lu itu siapa? Lu bukan siapa-siapa gak berhak lu pukul gue seperti ini Jun" ucap Rian dengan nada kesal.


"Asal lu tahu Rian, wanita yang lu akan nikahi itu adalah orang yang spesial buat gue. Dia adalah Marisa" tegas Juna.


Juna pun menatap Marisa.


Seketika Marisa pun langsung kaget saat Juna bicara seperti itu.


Juna pun tampak pergi dengan langkah kaki yang kasar.


Lusi pun yang berada disitu menghampiri suaminya yang tampak kesakitan itu. Dan berusaha untuk mengobati luka suaminya.


Lusi pun tampak ingin memegang wajah suaminya yang memar itu. Dan berusaha untuk memberikan bantuan atau obat-obatan atau semacamnya. Namun Rian menolaknya.


"Jangan pegang aku Lusi" ucap Rian emosi.


Lusi pun terkejut dan memandang Rian.


"Itu cara kamu menyelesaikan masalah. Kenapa kamu kasih tahu kepada Juna tentang masalah rumah tangga kita Lusi" ucap Rian lagi.


"A-aku tidak bermaksud untuk mengatakan pada Juna" ucap Lusi tampak kaget.


"Kamu tahu seharusnya urusan rumah tangga kita, tidak perlu ada yang tahu. Termasuk Juna" ucap Rian terlihat emosi.


"Aku tidak berniat untuk memberitahunya"


"Sudahlah, mungkin kamu senang melihat aku dipukuli seperti ini. Mungkin juga, kamu bahagia saat aku jadi seperti ini" ucap Rian.


"Rian, aku minta maaf"


"Lusi, sampai kapan kamu menjadi istri pengadu seperti ini. Berapa banyak pria yang akan kamu beritahukan bahwa aku akan menikah lagi. Dan seberapa banyak orang lagi yang kamu beritahu tentang kejelekan suami kamu ini. Atau setelah ini kamu akan beri pengumuman, bahwa aku akan menikah lagi kepada seluruh orang. Iya.. agar aku dibenci semua orang, begitu" tutur Rian yang terlihat marah.

__ADS_1


Lusi pun tampak menjatuhkan air matanya. Ia tidak menyangka suaminya akan berkata seperti itu.


"Rian kenapa kamu bicara begitu. Asal kamu tahu, semalaman aku tidak enak makan dan tidur. Apakah kamu memikirkan perasaan aku soal ini. Semua yang terjadi membuat hati aku hancur Rian. Kamu tidak peduli soal perasaan aku kan" ucap Lusi tampak menangis.


"Yang aku butuhkan saat ini adalah kekuatan. Kekuatan aku untuk menerima kenyataan. Kalau begitu, Aku lebih baik pergi" ucap Lusi beranjak pergi.


Lusi pun ke kamar dan mengambil tas. Yang Lusi bawapun hanya sebuah tas. Ia tidak membawa baju banyak hanya baju Fabio yang ia bawa. Ia masukan baju dalam tas dan ia menentengnya. Lusi pun tampak menggendong Fabio.


"Aku pamit padamu" ucap Lusi sambil menjatuhkan air matanya.


"Mau kemana kamu?" ucap Rian yang menghampiri Lusi dengan cepat.


"Aku ingin ke rumah orang tua aku"


"Tidak, kamu tidak boleh pergi. Kamu boleh pergi setelah aku menikah lagi." ucap Rian.


" Aku lelah. Aku ingin menenangkan hati dan perasaanku Rian" ucap Lusi.


"Fabio kamu ajak?" tanya Rian melihat Lusi yang menggendong Fabio.


"Aku akan mengajaknya, aku juga akan kembalikan, kartu kredit dan debit ini. Aku kembalikan semua fasilitas darimu.." ucap Lusi memberikan kepada Rian. Namun Rian tampak tak menerimanya. Ia hanya melipat tangannya.


"Baik lah kalau begitu, aku menaruhnya diatas meja" ucap Lusi.


"Apa kamu bilang?? Aku ibunya" ucap Lusi yang tampak kaget karena Rian tiba-tiba membahas hak asuh.


"Hak asuh kamu cukup bayi yang berada dikandungan kamu itu saja Lusi. Tapi Fabio!! aku yang akan mengasuhnya" ucap Rian dengan lantang.


"Tapi, aku lebih berhak atas keduanya, Baik Fabio ataupun anak dalam kandungan aku ini"


"Aku tidak peduli. Aku akan membawa pengacara yang paling mahal sekalipun, agar hak asuh Fabio nanti, berada ditangan ku. Jadi jangan banyak berharap!!!" ucap Rian.


"Tapi?" Ucap Lusi sambil menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya


"Kamu ingat bahwa kamu dulu pernah gangguan jiwa. Itu akan aku jadikan alasan yang paling kuat. Atas kehilangan hak asuh kamu atas Fabio"


"Kamu tega Rian, kamu jahat"


Lusi pun semakin pilu, dan sakit rasanya..


Lusi pun tampak tak banyak bicara lagi.


Lusi pun pergi dengan menggendong Fabio dengan kain gendongan, ia tidak peduli meskipun saat ini ia tengah hamil. Lusi tetap menggendong bayi berumur lima bulan itu. Dan sambil membawa tas berisi baju milik Fabio. Sebenernya Lusi tidak ingin pergi, namun hatinya sedang hancur dan tak tahu apa yang menjadi obatnya.


Lusi sengaja hanya membawa baju Fabio. Karena sampai Bandung Lusi masih bisa memakai baju Lisa atau beberapa helai baju milik nya yang ia sengaja tinggal di Bandung.

__ADS_1


Lusi pun tampak pergi, sambil berjalan perlahan. Menapaki setiap langkah yang terasa berat itu. Hatinya serasa hancur.


Lusi berharap ucapan Rian tidak benar-benar sungguhan akan mengambil Fabio.


Lusi pun naik angkutan umum karena uang yang ia pegang hanya dua ratus ribu saja. Ia takut kurang untuk beli tiket bus ke Bandung nanti.


Lusi pun tampak ingin menangis tapi ia tahan. Karena malu kalau orang-orang melihat ia menangis saat di jalan nanti.


Sesampainya di terminal Lusi pun turun dari angkutan umum. Dan tidak sengaja bertemu Gery, Gery saat itu sedang berhenti diwarung untuk membeli rokok. Gery pun tampak kaget saat melihat Lusi seorang diri sambil menggendong putranya.


"Lo sedang apa disini? Rian mana?"tanya Gery.


"Aku ingin naik bus"


"Mau kemana?"


"Ke rumah orang tua aku di Bandung"


"Terus Rian gak Anter"


Lusi pun seketika langsung terdiam karena ia merasa Gery tak perlu tahu permasalahan yang ia hadapi.


"Gue yang Anter" ucap Gery.


"Gak usah, aku bisa pergi sendiri. Lagi pula udah terlanjur beli tiket bus. Sayang juga udah di beli" ucap Lusi yang tampak berbohong pada Gery, padahal ia belum beli tiket. Lusi sengaja berbohong agar tidak tambah rumit lagi permasalahannya.


"Yakin lu bisa pulang sendiri" ucap Gery.


"Iya"


Lusi pun langsung beranjak naik ke Bus. Dan meninggalkan Gery. Tapi, Gery tampak membantu Lusi dengan membawa kan tasnya.


"Gue bantu ya, bawain tas lu sampai didalam bus" ucap Gery. Mengambil tas milik Lusi.


"Terimakasih Ger"


"Btw, alamat Bandung nya dimana?" tanya Gery.


" suatu saat aku kasih tahu kamu" ucap Lusi.


Lusi pun naik bus dibantu Gery. Lalu Lusi pun pulang dengan naik bus menuju Bandung.


____


Tar lagi ya..... Yang mau hujat cerita gue boleh aja . Tp tetep ya, harus kasih like vote dan hadiah..πŸ™πŸ™πŸ™β˜ΊοΈ

__ADS_1


__ADS_2