
Tanisa pun tampak tertidur dipundak Deon. Seketika ciuman bibir Deon tampak membangun kan Tanisa yang sedang tertidur tanpa sengaja itu. Deon tampak tak malu mencium bibir Tanisa dikhalayak ramai pada wanita muda itu. Meski banyak orang yang mengira pada saat itu bahwa Tanisa adalah anaknya. Tapi Deon tetap tampak berani. Ya Deon memang berani untuk mencium wanita yang ia cintai didepan siapa saja.
Tanisa pun membuka matanya dan menatap pria dihadapannya kini. Ia melihat wajah Deon sudah didepan matanya. Deon pun tampak ingin mencium kembali Tanisa. Namun Tanisa tampak memegang bibir Deon.
"Jangan cium disini. Tidak enak dengan yang lain" kata Tanisa menahan bibir Deon agar tidak mencium sembarang itu.
"Kenapa? Malu?" Tanya Deon.
"Iya aku malu, dan aku masih punya urat malu mas" ucap Tanisa.
"Kamu pikir aku sudah tidak punya urat malu" kata Deon.
"Bukannya begitu, hanya saja tidak enak bila dilihat yang lain"
"Baiklah kapan?" Tanya Deon.
"Apanya" Tanisa heran.
"Kamu selesai haid
"Ya tidak tentu"
"Baiklah kalau kamu tidak menjawab jelas. Aku yang akan mengeceknya sendiri saat kita sampai dihotel nanti"
Tanisa pun terdiam.
"Tanisa?" Ucap Deon dengan kata mesra.
"Apa?" Jawab Tanisa.
"Kamu cantik"
"Terimakasih"
"Aku beruntung memiliki mu" ucap Gavino memegang tangan Tanisa dan mencium punggung dari tangan Tanisa hingga beberapa kali.
Ya, kelakuan Deon memang seperti pengantin baru. Walau dirinya dan Deon bukanlah pasangan pengantin baru.
Lalu sesampainya disana.
Sesampainya dikamar hotel..
Tanisa tampak terpukau dengan kamar hotel yang Deon pesan itu. Begitu terlihat sangat mewah dan begitu tampak romantis. Ada banyak kelopak bunga yang bertaburan di kasur.
Deon sengaja memesan kamar mewah untuk mereka yang akan berbulan madu. Meski Deon dan Tanisa belum menikah tapi mereka memesan kamar yang paling romantis. Tanisa pun langsung duduk dan memandang sekitar. Ia pun tampak membuka kaca jendela dan menunju balkon kamar itu. Terlihat begitu laut yang sangat indah yang sangat memanjakan mata. Tanisa tampak terpukau saat itu.
"Tanisa?" Ucap Deon.
"Ya mas" jawab Tanisa.
__ADS_1
"Ayo kita mulai" kata Deon
"Apa?"tanya Tanisa.
Deon pun langsung menggendong Tanisa. Dan menidurkan Tanisa diatas ranjang. Dan mengecek apa kah Tanisa masih datang bulan atau tidak.
Deon pun tampak mencoba membuka celana Tanisa itu. Kebetulan Tanisa hanya memakai dress dan mudah sekali bagi Deon mengsingkap bagian dalam Tanisa.
"Ah jangan dulu" tolak Tanisa, memegang tangan Deon.
"Kenapa?"tanya Deon.
"Aku belum siap" ucap Tanisa.
"Kenapa? Kan aku mengecek kamu sudah selsai atau belum"
"Aku memang sudah selesai datang bulan tapi punya ku lagi gak siap"
"Kenapa maksudnya apa?"
"Hemm maksudnya aku sangat lelah mas aku belum siap melakukan ini dulu"
"Tapi aku akan tetap mengeceknya" ucap Deon yang langsung masuk tanganya kedalam celana Tanisa tanpa malu itu. Tanisa pun langsung mengigit lidahnya menahan geli dengan apa yang dilakukan Deon.
"Ahh... Mmppp..." Rintih Tanisa.
"Iya, tapi kita tahan dulu" kata Tanisa.
"Kenapa harus ditahan? aku sudah diubun-ubun"
"Ya tahan saja dulu. Aku masih ngantuk ingin tidur"
"Aku tidak mau, kamu harus melayani ku"
"Tapi mas aku mohon aku ngantuk sekali mas, aku sangat lelah badan ku bahkan terasa sangat sakit"
Deon pun tampak peduli dengan apa yang dikatakan Tanisa soal seberapa mengantuk dan lelahnya Tanisa. Deon pun langsung menarik tubuh Tanisa. Deon pun mengecup beberapa kali.
"Mas aku mohon"pinta Tanisa.
"Mohon apa?"
Deon pun tampak tak peduli. Deon langsung melepas pakaian Tanisa semuanya. Tanisa tampak tak mengenakan baju.
Deon pun langsung memakai Tanisa hingga beberapa ronde.
Ya beberapa ronde. Membuat wanita itu harus merasakan kegagahan pria yang sedang mengalami puber kedua itu. Dengan begitu garang dan tahan lama.
Dan Deon pun tampak tak mempedulikan Tanisa. Ia menggunakan Tanisa sampai seharian sesuka hatinya.
__ADS_1
Karena Deon merasa ia sudah membayar hidup Tanisa.
"Aku akan membahagia kan mu" kata-kata itulah yang Deon sampaikan pada Tanisa. Walau Tanisa hatinya tak merasa bahagia.
Setelah selesai permainan..
"Besok kita akan menginap di apartemen saja ya" kata Deon.
"Kenapa?"
"Aku sudah menyewa untuk kita berdua"
Tanisa pun tampak mengangguk.
"Tanisa?"
"Ya mas?"
"Aku ingin segera menikahi mu. Ya ingin menikahi mu segera. Aku akan mengurus surat percerain segera"
"Mas, aku ingin tanya?" Ucap Tanisa.
"Apa?"
"Aku tidak mau jadi orang ketiga diantara mas dan istri. Mungkin lebih baik mas bicarakan dulu sebelum bercerai. Karena aku tidak mau dianggap orang yang sudah mengambil suami orang lain. Kalau setelah bercerai mas tiba-tiba menikah dengan ku itu akan aneh. Apa kata orang nanti"
"Tanisa sebelum ada kamu hubungan ku dan istri sudah berantakan" kata Deon.
"Namun semakin berantakan setelah bertemu aku mas. Semua bisa diperbaiki mas"
"Tanisa aku mencintai mu. Bagaimana mungkin aku mempertahankan rumah tangga ku"
"Ingat anak mas, ingat mas punya anak. Kasihan mereka jika memiliki keluarga yang sudah hancur. Sekalipun mas menikah lagi denganku, belum tentu mereka menerima aku"
"Kalau aku tidak cerai dan kembali dengan istriku. Lalu kamu bagaimana?"
"Aku, aku lepaskan saja seperti saat pertama kali kita bertemu. Anggap kita tak saling kenal. Kita cari kebahagiaan masing-masing" kata Tanisa.
"Tanisa?"
"Ya mas"
"Apa kau mencoba menipu ku. Tanisa, hingga kau bicara seperti itu sampai kapan pun aku takan melepaskan mu. Aku dan kamu harus bersatu. Tidak peduli dengan alasan apapun kamu mau berpisah" ungkap Deon .
Tanisa pun tampak terdiam saat melihat Deon seperti marah.
Ya Deon tidak peduli lagi dengan rumah tangganya saat ini ya ia inginkan hanyalah satu. Tanisa dan Tanisa saja.
Deon tak peduli rersiko apapun yang akan ia hadapi.
__ADS_1