
Sementara itu terlihat Lusi yang punya tugas dan job yang tidak diinginkan dalam hidupnya yaitu menjadi wedding organizer. Dan lebih rumitnya lagi ia harus menjadi WO padahal dirinya tak pernah sekalipun memiliki bekal dan bakat dalam bidang tersebut.
Ya Lusi kalau ada hajatan besar paling hanya menjadi dayang-dayang sebentar abis itu pergi lagi. Atau cuma sekedar nyumbang lagu untuk menyalurkan bakat terpendam sebagai seorang penyanyi. Itu pun kalau memang sudah kepepet dan gatel ingin nyanyi. Kalau gak ya, Lusi bagian timses makan dan team hore saja.
Ya, tapi pernikahan besar dan mewah yang sering Lusi datangi cuma sifatnya hanya sebagai penyimak saja. Dalam hidup Lusi tidak mengadakan pesta pernikahan yang mewah untuk dirinya sendiri. Hanya terkesan biasa dan sangat sederhana. Karena Rian pada saat itu terlalu pelit sehingga pernikahan saat itu semua tak ada yang membuat Lusi terkesan. Namun itu hanya masalalu. Kini kita beralih ke masa kini. Ya masa kini.
Terlihat Lusi yang sedang sibuk berbenah diri menunggu kedatangan suami yang pulang kerumah, katanya Rian ingin pulang lebih awal. Lusi tampak cantik dengan lipstik merah dan polesan bedak yang terlihat natural namun tetap bagus dikulit mulusnya itu.
Meskipun Lusi sebagai ibu rumah tangga saja, namun Lusi tak mau kalah cantik dengan para wanita dikantornya Rian. Itu sengaja dilakukan, agar Rian betah di rumah. Dan semakin cinta pada dirinya.
Namun bukan Rian yang datang. Tapi Lusi malah mendapatkan pesan dari Gery untuk datang ke kantor nya membicarakan gaun pernikahan, undangan serta gedung pernikahan.
Ini pria bisanya emang ngerepotin doang!!!, Batin Lusi menggerutu kesal, sambil membaca pesan masuk di ponselnya.
Lusi pun hanya mengabaikan dan tak membalas pesan itu.
Gery pun tampak menelpon Lusi sekali, Lusi tampak tak menjawab. Kedua kali pun masih sama. Sampai yang ke tiga kali Lusi baru menjawab.
"Woy!!! kenapa sih ga angkat telepon" ucap Gery tampak kesal ditelpon. Karena Lusi baru menjawab.
"Eh gak gitu, aku cuma lupa caranya angkat telepon ingatnya cuma angkat jemuran" kata Lusi menjawab ditelepon.
"Gak lucu!!! Buruan kesini, tadi udah liat aku kamu baca pesan aku. Udah di read gak usah lari dari kenyataan, buruan kesini ada yang perlu aku bahas soal pernikahan nanti aku dan Liana"tegas Gery.
"Soal apalagi sih?"
"Masih banyak, kamu harusnya lebih peduli lagi. Kalau gak mau kesini. Jangan harap!!!!!"
"Jangan harap apa?"
"Jangan harap aku bakal nikahin Liana sampai seumur hidupnya"
"Sadis banget sih"
"Oh nantangin bilangin Liana nikahnya batal!!!"
"Eh dia malah ancem. Iya aku kesana" kata Lusi kesal.
Lalu Lusi pun pergi dengan tampilan cantik nya memakai lipstik yang sedikit lebih menor. Lusi yang sudah cantik itu pun sudah dengan jelas tambah cantik. Dan Lusi lupa menghapus bibir menornya itu karena sudah sangat kesalnya pada Gery yang merintahkan dirinya untuk datang.
Lalu Lusi pun pergi ke kantor Gery. Lusi pun menapaki setiap langkah untuk datang ke kantor milik Gery itu.
Semua karyawan pun tampak ranaoh tamah kepada Lusi yang baru saja datang.
Sementara itu terlihat Gery yang menunggu kedatangan Lusi dikantornya. Gery tampak sangat menunggu Lusi saat itu.
"Permisi pak ada yang menunggu bapak"ucap sekertaris wanita itu kepada Gery.
"Apa dia, Lusi. Kalau iya aku memang sedang menunggu nya" ucap Gery tampak tersenyum.
"Bapak seperti terlihat bahagia"
"Tentu aku bahagia"
"Apa dia pacar bapak"
"Iya dia calon ku. Kami akan segera menikah cuma kamu diam-diam saja" kata Gery tampak berbohong pada sekertaris itu.
Lalu Lusi pun masuk dan melihat Gery yang terlihat keren dengan jas dan kemejanya.
Seketika Gery pun tersenyum melihat Lusi yang terlihat cantik dan mempesona. Ia terlihat sangat cantik dari hari sebelumnya.
"Rupanya begini cara mu ingin bertemu dengan ku" kata Gery. "Selain seksi kamu pun pintar menarik hatiku dengan bersolek didepan ku"
"Siapa yang bersolek" ucap Lusi tak terima.
"Itu terlihat bibirnya mu yang begitu mengesankan" goda Gery.
"Baiklah akan aku hapus, aku lupa menghapus karena saking kesalnya disuruh kesini"
"Tidak perlu, jangan. Gak apa-apa aku hanya bercanda jangan diambil hati" ucap Gery. Lalu Lusi pun mencoba menghapus bibirnya dengan tangannya namun Gery tampak menahannya.
"Biarkan saja seperti itu" kata Gery, menahan tangan Lusi. Lusi pun sontak menarik tangan nya.
"Oia nikahan nanti pastikan Liana tidak memesan semua yang berkaitan dengan warna pink" kata Gery lagi. Sambil duduk menghadap Lusi. Lusi pun tampak tertawa kecil mendengar kata pink.
"Ada dengan pink. Apakah itu suatu dosa" kata Lusi mngerinyitkan kening.
"Tidak aku hanya benci" jawabnya.
__ADS_1
"Rumit hanya perkara warna saja harus dibicarakan ya. Aku harap tidak akan lagi hal serumit ini dihidup mu"
"Lusi warna itu bukan cuma sesuatu yang bisa dilihat. Tapi simbolis, aku tidak mau saja aku yang sudah sangat gagah dan tampan ini terkesan unyu unyu hanya karena salah warna"
"Hahaha. Ribet amat sih. Gak sekalian pakai kain kafan dihari pernikahan mu" goda Lusi balik.
"Lusi tolong lah yang manis pada pria yang gagah satu ini. Semua yang bernyawa pasti mati, tapi tidak untuk dihari pernikahannya"
"Lakukan lah apa yang ingin lakukan asal tidak merugikan orang lain" Kata Lusi lagi.
"Mau minum?" tanya Gery.
"Gak, terimakasih"
"Kalau gitu aku akan tetap sediakan. Masa tamu gak dikasih apa-apa"
"Hah, baiklah sekalian sama roti isi, gulai kambing, dan tempe mendoan. Nasi juga sama sambel"
"Oke nanti aku akan sediakan" ucap Gery tertawa.
Lalu Gery pun tampak memberikan Lusi minum segelas teh manis diatas meja.
"Aku tinggal sebentar ya" kata Gery.
"Kenapa? Mau kemana?"
"Meeting sebentar, 30 menit lagi aku sampai, tunggulah diruangan ku. Aku masih mau bahas gedung pernikahan" kata Gery.
"Hah, tau gitu besok aja bahas semuanya. Masa aku harus nunggu"
"Sebentar saja, aku janji sebentar saja"
"Baiklah" Lusi menghela napas.
Lalu Lusi pun tampak meminum teh pemberian Gery.
Tanpa Lusi sadari.
Tiba-tiba saja Lusi tampak pusing dan tertidur di ruang kerja milik Gery tersebut.
Ya, tanpa Lusi menyadari akan hal itu sebenarnya Gery lah yang melakukan itu semua, Gery harus mendapatkan apa yang ia inginkan yaitu wanita yang sudah pernah meneggangkan batang miliknya itu. Dan itu menu wajib bagi Gery untuk memiliki atau menikmati wanita yang bukan isirinya itu.
Saat Lusi sudah tampak terbius dengan tidur nya itu Gery pun kembali keruang kerjanya, dan membuat ruangan itu tampak gelap, dan sangat gelap. Dan kebetulan Gery tahu juga, jika diruangan miliknya memang sengaja tak terpasang cctv. Dengan alasan privacy.
Lusi yang tampak memejamkan matanya itu pun tampak tak sadarkan diri. Gery pun memandang wajah Lusi dari dekat ya sangat dekat.
"Maaf mungkin aku jahat. Tapi inilah aku"kata Gery.
Diruangan yang tampak tertutup itu Gery pun bahagia melihat Lusi yang kini dihadpannya.
Dengan cepat Gery mencium bibir Lusi, dengan penuh gairah. Sambil memainkan lidahnya yang menyrobot masuk itu.
Meskipun dalam keadaan gelap Gery bisa merasakan kenikmatan yang tiada tara itu.
Ya Lusi tampak duduk dikursi sementara Gery tampak berdiri mencium bibir lembut Lusi.
Gery pun terus terusan mencium bibir Lusi hingga dirinya terhanyut akan nafsu ke tingkat ke lebih tinggi lagi.
Hingga..
Dan tidak sampai disitu, pikiran Gery pun tampak masih nakal, lalu dengan cepat Gery membuka baju milik Lusi.
Gery membuka semua baju...
Kini Lusi tampak tak memakai baju. Lusi pun juga bertelanjang dada. Tak memakai bra karena sudah dilepaskan branya juga oleh Gery.
Saat ingin memainkannya.
Tiba-tiba...
Dreeet.. dreeett... Suara handphone nya.
"Sial" tiba-tiba ada pesan masuk untuk mengikuti meeting segera.
"Sayang kita lanjut lagi nanti"
Gery pun pergi meninggalkan Lusi dalam keadaan tanpa baju hanya pakai celana saja. Namun ia tutupi dengan tas yang Lusi bawa.
Karena ia sadar belum selsai jadi ia masih meninggalkan Lusi tanpa pakaiannya.
__ADS_1
Hingga waktu menghabiskan 40 menit Gery masih meeting. Dan Lusi masih tampak belum sadar.
.
.
.
.
Sementara itu, terlihat Juna yang datang ke kantor besar milik Gery untuk membahas masalah kerjaan. Sebenarnya Juna diundang untuk datang pada saat malam hari, diatas jam 8.00 malam. Cuma Juna tidak bisa kalau malam. Karena Marisa tampak meminta dirinya untuk menemani ke bioskop.
Juna memang saat ini juga diajari belajar bisnis yang digeluti oleh David. Dan Gery juga harus membantu Juna dalam berbisnis.
Juna pun tampak berjalan tanpa ada firasat buruk atau apapun itu. Ia yang sudah tahu ruangan Gery itu pun tampak berjalan masuk ke dalam ruangan milik Gery.
Memang salah Juna lupa mengetuk dan langsung masuk
Dan saat Juna masuk, ruangan itu tampak gelap dan sangat gelap. Hingga Juna memutuskan untuk menyalahkan lampu dan.
Tegg..
Alangkah kagetnya Juna melihat Lusi yang tak memakai baju sama sekali itu berada di atas kursi itu.
Ya buah kembar yang tampak putih itu menyumbul keluar sontak Juna pun tampak memejamkan matanya. Untung Juna tak melihat semua dengan jelas karena ada tas Lusi yang menutupinya. Cuma Juna tahu kalau Lusi tidaklah memakai apapun diatas badannya. Hanya celana saja.
"Ini tak mungkin" benak Juna.
Namun...
Tiba-tiba Lusi terbangun dan melihat Juna.
Dan lebih kaget lagi saat Lusi tahu, mana kala ia menyadari dirinya tak memakai baju sama sekali.
Lusi pun langsung panik mencari dimana bajunya.
Dan sialnya lagi...
Tampak David yang tiba-tiba saja datang dan melihat kekacauan itu. Melihat menantunya bersama seorang wanita yang tanpa mengenakan baju.
"Apa-apaan ini apa yang kalian lakukan!!!" Teriak David marah pada menantu nya itu.
"Saya tidak tahu, saya berani sumpah" ucap Juna kaget melihat papa mertua nya datang.
"Mana mungkin!!!"teriak David.
Lalu David pun menarik Juna dan menampar Juna.
PLAAAAKKK...
Mereka pun tampak bicara didepan ruanganan Gery.
"Berani nya kamu menghianati putri saya" kata David.
"Saya berani sumpah tidak tahu, dan tidak melakukan apapun" kata Juna.
Sementara itu Lusi pun masih tampak kelimpungan mencari kesana kemari baju yang harus nya berada dibadannya, namun tak ada.
Lusi pun sambil menutup benda kembarnya itu dengan berkas yang ada dimeja dan langsung mencari bajunya yang hilang. Ia masih bingung mencari. Dan ia pun melihat ada belakang lemari.
"sykurlah"
Lusi pun langsung memakainya dengan bersembunyi dibalik lemari.
Sambil menangis Lusi pun memakai nya ia tak menyangka bahwa dirinya tak berpakaian, didepan pria yang bukan suaminya.
Lusi pun tampak malu dan tak terasa menangis.
"Kenapa saya diperlukan seperti ini" Kata Lusi sambil menangis.
"Aku juga tak tahu, Lusi aku tidak tahu" kata Juna.
"Sudah jelas kamu dan Lusi berduaan disini" kata David.
Lusi pun hanya tampak menangis dan meninggalkan pergi. Lusi tampak malu diperlukan seperti itu. Menampilkan semuanya seperti wanita murahan.
"Jahat" kata itulah yang terbesit didalam hati Lusi.
Lusi pun tampak pergi dengan perasaan kecewa.
__ADS_1