
Lusi pun terdiam sejenak mematung ditinggal Gery. Tas besar yang Gery bawa milik Lusi pun ditaruh didekat meja ruang tamu. Lusi bingung harus menjelaskan semuanya seperti apa. Akan lancang dan tak punya rasa kemanusiaan jika dia langsung mengatakan semuanya bila Lusi adalah madu yang mengisi rumah tangga orang lain.
Tiba-tiba Fabio menangis dan Lusi pun langsung tampak panik dan mencari botol susu ditas kecil yang ia bawa.
Selly pun kasihan melihat Lusi dan membantu Lusi menggendong Fabio.
"Sini berikan anak mu pada Tante" kata Selly.
"Baik terimakasih" jawab Lusi.
Lusi pun langsung membuatkan susu untuk Fabio, Lusi pun membawa termos kecil agar mudah saat membuat susu untuk Fabio. Saat selesai Lusi memeberikannya pada Fabio.
"Bu saya duduk ya" kata Lusi yang merasa lelah pada kakinya
"Silahkan duduk tante sampai lupa menyuruh kamu duduk karena Tante kaget lihat kamu hamil"
Lalu Selly pun memandang Lusi dari atas sampai bawah. Terasa kasihan sekali Lusi yang sedang hamil namun anaknya masih kecil.
"Lusi kamu kok udah mau punya anak lagi. Gak di KB ya, hamil lagi. Cepet banget" ucap Selly.
Lusi pun menggelengkan kepalanya.
"Usia kandungan kamu berapa bulan?" Tanya Selly.
"Tujuh bulan Tante" jawab Lusi
"Oh.. kamu bawa tas kenapa?"
"Aku diajak untuk tinggal disini" kata Lusi.
"Kenapa tinggal disini. Kamu diusir sama suami kamu atau bagaimana?"
"Suami ku sudah meninggal" jawab Lusi.
"Ya ampun Tante baru tahu inalillahi wa innailaihi roziun sabar ya, tante yakin kamu pasti kuat menjalani ini semua" kata Tante mengelus pundak Luis.
"Makasih Tante" jawab Lusi.
Fabio pun tampak terdiam dan tidak menangis lagi dalam pelukan. Namun namanya anak-anak tanpa sengaja Fabio menendang perut mamanya saat itu tidak sengaja.
"Awwww..." Ucap Lusi.
"Kenapa?"
"Hem... Perut Lusi ditendang sama Fabio"
"Eh kamu gak boleh gitu dong sama adik kamu yang dalam perut. Sini tante gendong putra mu" kata Mama Selly.
__ADS_1
"Makasih Tante gak usah gak apa-apa" ucap Lusi yang memberikan Fabio.
Saat itu Lusi pun diberikan pun minum dari Selly untuk Lusi yang baru saja datang.
"Minum lah ini, Kamu mudah sekali punya anak, Marisa lama punya anaknya" kata Selly.
"Mungkin nanti sabar aja Tante"
"Iya doakan ya"
"Iya Tante pasti" kata Lusi sembari tersenyum.
"Lusi saya tinggal dulu ya Tante mau jemput Marisa dulu. Dia tadi Tante tinggalin di mall"
"Ditinggal???"
"Iya dia lama banget belanja disana Tante tinggal aja beli juga bukan baju kayanya beli hadiah untuk suaminya" kata Selly
Selly pun pergi meninggalkan Lusi sendiri dirumah itu. Lusi pun hanya menaruh tas disampingnya Lusi tidak berani untuk istirahat dikamar kalau belum diberitahukan dimana Lusi akan tidur. Lusi pun juga tidak tahu apakah akan diterima atau tidak. Lusi pun sebenarnya bingung harus tinggal bersama keluarga besar Marisa pasti akan membebani.
Lalu beberapa saat Gery pun datang dengan Liana. Gery kesal dengan Liana saat itu. Karena tidak pulang ke rumah dan saat itu terlihat Liana yang masih terlihat tak sadarkan diri karena mabuk. Gery pun terlihat menggendong Liana dan membawanya ke kamar.
Terlihat Gery dengan menggendong Liana khawatir dengan apa yang menimpa istrinya, walau sesekali ia sangat lah kesal namun tetap Gery terlihat begitu sangat peduli tak mau terjadi apapun pada diri Liana.
"Lusi tolong bantu aku buka pintu kamar ya" kata Gery sambil menggendong Liana yang terlihat mabuk.
Liana memang dari dulu sampai saat sekarang hobi sekali meminum minuman beralkohol sampai mabuk. Maklum pergaulan yang bebas membuat dia terbiasa untuk hal itu. Dulu ia sempat berhenti saat hamil namun dia kembali lagi.
Lalu Lusi pun hanya menatap Liana dari kejauhan.
Tak lama setelah itu mata Liana pun terbuka secara perlahan dalam keadaan mabuk berat Gery saat itu sedang duduk disamping Liana pun menatap Liana.
"Heh.. lu lagi ngapain disini hah.. bukan nya lu lagi berduaan Ama bini baru lu" kata Liana dengan wajah merah dan terlihat mabuk berat.
"Gue pikir gue yang bejat, ternyata lu yang bejat. Lu berdua ya main serong, dah lama kan lu berdua" sarkas Liana terlihat mabuk.
"Liana kamu mabuk kamu bicara apa sih"
"Udah gak usah pura-pura peduli sama gua, jangan paling bener.. hahahahahha gue bisa hidup. Gue benci sama lu, atau siapa itu. Namanya Lusi iya Lusi bini dari sepupu gue sendiri. Gue benci!!! Males banget gue sama dia munafik!!!" Ucap Liana yang mabuk tak karuan.
Lusi pun seketika menghela napas mendengar penuturan apa yang diucapkan Liana. Gery pun melihat ke arah Lusi untuk dirinya agar tidak sakit hati mendengar apa yang diucapkan Liana.
Lalu Liana pun seketika melihat Lusi.
"Luu jaaahaaattttt!!!!!!! Jahat sama gua!!! Gak punya hati, gak punya perasaan!!! Perasaan lu benar batu, teganya lu yang saudara gue sendiri tega ngerebut suami orang!!! Tega lu. Jadi cewek gak ada puasanya lu jadi perempuan gak punya harga diri!!!" kata Liana yang bicara nya sesuai apa yang diungkapkan tanpa tersaring.
"Liana!!!! Jaga kata-kata mu" teriak Gery.
__ADS_1
Lalu Lusi pun mendadak memegang pundak Gery untuk jangan terpancing emosi oleh Liana.
"Gery jangan teriak dan marah padanya aku mohon, biarkan dia meluapkan apa yang ada didalam hatinya" kata Lusi berusaha agar Gery tak marah.
"Berngsk, cewek brngsk kaya lu.. ngapain disini gak punya otak dasar gak punya harga diri!!!!" Ucap Liana terlihat marah.
"Liana!!!" Teriak Gery lagi.
"Gery, biarlah. Biarkan dia mencurahkan apa yang ada di dalam hatinya" kata Lusi yang saat itu sebenarnya merasakan sakit hati yang begitu teramat pada saat itu.
Dan saat Gery yang saat itu membela Lusi membuat Liana yang sedang mabuk itu naik pitam dan berdiri langsung dan mendorong Lusi saat itu hingga terjatuh.
Buuugghhh
Gery pun tampak kaget dan dengan cepat membantu Lusi untuk berdiri.
"Liana kamu benar-benar tidak punya perasaan, kamu yang tidak punya perasaan!!!" Ucap Gery kesal saat Itu dan langsung mengunci Liana didalam kamar.
Gery pun tampak khawatir dan langsung menggendong fabio saat itu. Dan juga membantu Lusi untuk berdiri.
"Kamu gak apa-apa, kita ke dokter ya" ucap Gery khawatir.
"Gak apa-apa" jawab Lusi yang terlihat sedih.
"Kamu istirahat dulu ya. Liana benar-benar gak punya otak awas aja akan aku beri pelajaran dia!!!!!" Ujar Gery kesal sambil memegang tubuh Lusi yang saat itu takut kenapa-kenapa.
"Aku gak apa-apa, aku hanya kaget saja. Untung tidak terlalu keras Liana mendorong ku" kata Lusi suara pelan saat itu
"Tapi aku kahwatir, kamu istirahat dulu ya dikamar"
"Gak, aku gak mau dikamar aku gak bisa untuk tinggal disini" tolak Lusi.
"Lusi ini rumah papa ku, rumah ku juga kamu berhak tinggal disini"
"Apa yang Liana katakan benar Gery aku tak berhak untuk tinggal disini" ucap Lusi.
Seketika itu juga Lusi terdiam sejenak mengingat apa yang Liana katakan pada dirinya soal dirinya yang dikatakan hanyalah wanita murahan yang tak punya hati serta tak punya harga diri serta munafik.
"Antar aku pulang sekarang" kata Lusi yang akhirnya menangis. "Apa yang Liana katakan benar, aku tak punya harga diri dan tak punya rasa kemanusiaan. Aku tak pantas untuk tinggal disini" Lusi pun menangis tersedu.
"Tapi Lusi kamu harus tetap tinggal disini, bersama ku. Aku tidak aman bila kamu meninggalkan ku sendiri"
"Huhuhuhu. Aku mau pulang saja"
"Tidak ada, kamu harus tetap disini tidak boleh pulang. Kamu harus tetap bersama ku, aku tidak mau Demian menjahati mu. Apalagi aku tahu Demian mencintai mu, Demian sebenarnya mencintai mu kan"
"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli soal itu"
__ADS_1
"Itu sebabnya nya aku tidak mau siapapun orang mengambil mu. Tidak dengan Demian atau pun yang lain. Kamu sudah dalam genggaman ku dan aku tidak mau melepaskan mu Lusi!!!" Kata Gery saat itu.