Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Saya merestui


__ADS_3

Lalu setelah itu Gavino pun pulang. Kembali kerumah setelah mendapati Marisa tidak sesuai ekspektasinya. Ya, bagi David tidak masalah. Sekalipun Gavino kaya raya namun apabila dia tak mampu membuat anaknya bahagia untuk apa.


Marisa pun bertanya pada sang Ayah kenapa temannya itu tiba-tiba saja pulang dan pergi. Marisa tampak heran, karena Gavino pulang begitu saja.


"Dia siapa pah?"tanya Marisa.


"Dia bukan siapa-siapa sebaiknya kamu lupakan" ucap David kepada Marisa.


Lalu tak lama hujan tampak turun begitu derasnya. David pun memandang dari luar jendela.


"Hujan turun begitu lebat, dan disertai angin kencang juga" ucap David sambil melirik ke arah jendela.


"Apa pa? Hujan? Waduh aku suruh Juna kesini lagi untuk membawakan aku martabak kesukaan aku. Apa aku telepon Juna saja agar ia tidak usah kesini" ucap Marisa lalu dengan cepat Marisa mengambil handphonenya dan menelpon Juna. Namun handphone nya masih tidak ada jawaban.


"Sepertinya dia masih dijalan. Sehingga tidak bisa mengangkat telepon ku" ucap Marisa cemas.


Beberapa menit kemudian, suara bel berbunyi. Lalu tampak David yang membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


Alangkah terkejutnya David melihat Juna yang datang dengan basah kuyup dan membawa martabak ditangannya. Yang dia kemas dengan kantong plastik.


"Kamu? Kenapa hujan-hujanan begini" ucap David kaget.

__ADS_1


"Assalamualaikum om Marisa ada" tanya Juna yang bertanya pada David.


"Ada kamu basah kuyup" tanya David.


"Iya om, tiba-tiba dijalan hujan deras. Aku tidak membawa jas hujan. Beruntung martabak nya tidak basah. Jadi Marisa masih bisa makan"


Seketika hati David merasa terenyuh mendengar apa yang dikatakan Juna. Bahkan Juna tidak memikirkan sama sekali tentang dirinya. Ia malah memikirkan martabak yang ia basa untuk Marisa.


"Juna ya ampun" ucap Marisa kaget melihat Juna basah kuyup.


"Harusnya kamu jangan datang kesini, kalau hujan"


"Gak apa-apa kok Marisa. Ini aku bawakan beruntung martabak nya gak ikut basah" ucap Juna tampak tersenyum.


"Aku akan ambilkan handuk untuk mengeringkan kamu" ucap Marisa.


"Iya, terimakasih"


Lalu Marisa pun mengambilkan handuk. David pun memandang Juna sambil terdiam dan termenung. Meskipun Juna tak memiliki aset dan jabatan. Namun Juna memiliki cinta yang tulus untuk Marisa. Tiba-tiba saja hati seorang David menjadi luluh melihat Juna yang tampak sopan dan santun itu dihadapan dirinya itu.


Lalu tampak Marisa yang memberikan handuk untuk Juna.

__ADS_1


Dan tampak Marisa yang tidak memakai kaki palsunya namun Juna sama sekali tampak ilfeel melihat Marisa seperti itu. Namun Juna malah tampak penuh perhatian dan baik pada Marisa.


Saat itulah David yakin jika Juna memang orang yang pas untuk mendampingi putri satu-satunya itu. Yaitu Marisa.


Keesokan harinya David pun tampak datang ke kediaman rumah milik Lusi.


David datang untuk menemui Lusi. Sesampainya disana, David disambut hangat oleh Lusi dan juga suami. Yaitu Rian.


"Permisi saya mengganggu waktu kalian" ucap David pada Lusi dan juga Rian.


"Ya tidak apa-apa pak" ucap Lusi.


"Saya datang kesini untuk mengembalikan cek yang kemarin kalian berikan kepada saya" ucap David memberikan cek itu kepada Lusi.


"Maksudnya apa ya pak, kenapa dikembalikan" ucap Lusi merasa heran.


"Saya mengembalikan ini, karena setelah saya pikir. Saya tidak akan menuntut pernikahan mewah pada Juna. Saya akan lakukan pernikahan mewah. Tapi saya tidak memaksa Juna ataupun wali dari Juna untuk memenuhi semua permintaan saya. Saya sudah merestui Juna dengan keadaan Juna saat ini. Saya paham dan saya sadar jika apa yang saya lakukan untuk memberatkan pernikahan itu adalah salah"


"Jadi bapak betul-betul sudah merestui mereka pak"


"Iya"

__ADS_1


"Alhamdulillah terimakasih ya Allah" ucap Lusi penuh sukur dan bahagia.


Rian pun tampak tersenyum dan ikut bahagia, mendengar itu dari David langsung.


__ADS_2