
Lalu Hilman yang datang memberi pernyataan juga kepada rekan kerja bahwa Lusi sudah menjadi tunangannya itu pun lantas membuat semua kaget karena Lusi yang terkenal biasa saja bahkan seorang janda tahu-tahu sudah mendapat posisi terbaik dihati seorang direktur utama diperusahaan itu.
Orang-orang pun langsung mengira jika Lusi sudah dijamah oleh pak Hilman dan orang-orang pun mengira jika Lusi mencari posisi ditempat kerja demi mendapatkan apa saja yang ia inginkan.
"Wah hebat kamu ya Lusi, kamu pasti suka sama pak Hilman karena harta dan tahta. Pak kasihan Tante saya, jadi gantung" ucap Mega.
"Loh kenapa hak saya mau gantung atau gak?" Jelas Hilman.
"Dan kamu Lusi emang dasar matre makanya mau sama pak Hilman" sendiri Mega kode keras.
"Iya memang, aku matre kenapa masalah buat kamu. Di dunia semua butuh uang kok bukan cuma aku atau kamu" ucap Lusi yang seolah mengiyakan ucapan Mega.
"Tuh bapak dengar kan, kalau Lusi ini cuma incar harta bapak gak lebih, masih mau bapak sama dia"ungkap Mega.
"Saya tidak peduli dia mau sama saya karena harta atau bukan yang pasti dia adalah orang yang saya cinta dan kalian jangan pernah ganggu Lusi lagi apalagi membuat dirinya tak nyaman disini. Paham semua" ucap Hilman tegas
"Paham pak" jawab mereka.
"Dan kamu, jangan judge orang dengan ucapan kamu sembarangan, kalau kamu sekali lagi bicara yang jelek jangan harap kamu" ucap Hilman kepada Mega.
"Apa?" Tanya Mega polos.
"Saya pecat!!!!!" Ungkap Hilman tegas.
"Baik pak, maaf" jelas Mega yang merasa kesal.
"Sayang, habis ini kamu keruangan saya ya. Saya tunggu diruangan, terimakasih ya kamu sudah mengakui saya didepan teman kamu itu tandanya kamu sayang beneran kan"
Lalu Hilman pun tampak pergi meninggalkan tempat itu.
Seketika saat Hilman pergi Tasya pun langsung tertawa yang daritadi sudah menahan tawa saat Lusi dipanggil sayang oleh Hilman.
Sementara Mega pergi setelah Hilman pergi.
"Pppfffttt..... Sumpah kocak banget sih ya Allah Lusi kamu udah putus asa, udah capek kerja sampe ambil jalan pintas begini,. Boss kita udah tua kamu mau" ucap Tasya.
Lusi pun hanya tampak menghela napasnya.
"Entahlah antara mau dan tidak mau, mungkin awalnya tidak mau karena kebutuhan jadi mau"
"Oke oke mungkin karena kebutuhan, dan cinta juga bukan lihat usia kok serius. Tapi orang mengira kamu udah begituan sama pak Hilman nama kamu jadi viral gara-gara Mega, bayangin kamu masih muda emang sih janda tapi lucu aja" ucap Tasya.
"Yasudah gak apa-apa, lagian biarin ajalah orang mau ngomong apa capek juga nutup mulut mereka satu-satu. Kayanya aku emang mulai pasrah sama hidup ini, bingung bagaimana lagi ngejelaninnya" jelas Lusi.
"Maksudnya?"
"Jujur gak tahu kenapa, akhir-akhir ini aku mulai ada rasa sama mantan suami aku yang dulu. Tapi gak bisa diutarakan dia udah punya istri. Tapi setiap kali aku lihat dia gak tahu kenapa jantung aku seperti ada yang berdebar-debar Tasya, masa iya aku cinta sama mantan suami aku sendiri. Kan susah dia sudah punya istri juga, ah udahl lah" jelas Lusi yang curhat kepada Tasya.
"Terus?"
"Aku cuma bisa pasrah, kalau ternyata emang gak jodoh sama dia juga kan. Gak bisa paksa hidup ini dengan apa yang kita mau" ucap Lusi tampak menunduk.
"Terus bagaimana?"
"Yah dijalanin aja, dinikmati" jelas Lusi berusaha untuk tersenyum.
"Walau nikah sama Pak Hilman yang tak kamu cinta"
"Cinta juga buat apa? Kalau nyatanya takdir tak membuat kita tak bersama" kata Lusi tersenyum pahit.
"Aku sudah sakit, kehilangan suami ku yang telah meninggal dunia seakan runtuh dan sangat menderita. disaat kita sudah menemukan yang dipikir dapat mengisi kekosongan ternyata takdir berkata lain. Aku hanya manusia biasa yang cuma bisa nangis kalau sedih dan berdoa di setiap hal terberat dalam hidup"
"Yang sabar ya"
"Iya"
Lalu sepulang dari kantor Lusi pun tampak berjalan menuju depan kantor hari itu Lusi tidak pulang bersama Hilman karena Hilman ada undangan makan malam bersama rekan bisnisnya Lusi harus pulang karena ingat kondisi Yasmin yang sudah baik tapi harus tetap dipantau, mengingat kondisinya yang baru pulih dari sakitnya.
Lusi terlihat melihat jam tangan yang ditangannya terlihat lama menunggu taksi yang belum muncul juga.
Tiba-tiba mobil berhenti dihadapannya, cahaya mobil yang menyilaukan mata.
Lusi yang sedang menunggu taksi itu pun lantas merasa terganggu dengan cahaya terang itu.
Sang pemilik mobil pun mematikan saat Lusi menyipitkan mata melihat mobil yang menggangu matanya.
Tiba-tiba pria dengan badan tunggi tampak keluar dari mobil dengan wajah yang penuh seri dan senyuman manisnya dan ia adalah Gery.
Gery batin Lusi yang merasakan kembali betapa getaran itu kembali nyata saat yang ia lihat adalah mantan suaminya itu.
Gery pun tersenyum.
__ADS_1
"Pulang bareng aku aja ya" ucap Gerry.
Lusi pun sejenak terdiam dan tertegun.
"Kenapa diam" tanya Gery, namun Lusi tampak melamun dengan perasaan yang seolah terpana dengan pria yang pernah ia benci dalam hidupnya.
"Hai..."
"Ah gak apa-apa" ucap Lusi.
Tiba-tiba datang Tasya dan tersenyum melihat Lusi yang mematung didepan Gery.
"Pulang aja bareng lagi gak usah malu" kata Tasya.
"Baiklah"
"Nah gitu kan" kata Tasya yang mendukung.
"Aku juga mau lihat Yasmin"
"Ya kamu harus lihat Yasmin, bagaimanpun dia masih punya Ayah" kata Lusi.
"Iya dia masih punya Ayah"jelas Gery.
Lalu tangan Gery segera cepat membuka pintu mobil untuk Lusi agar naik ke dalam mobilnya.
"Naiklah" ucap Gery tersenyum.
Lusi pun melangkah kaki dengan perasaan debar yang teramat, dirinya tak pernah merasakan hal cinta sebelumnya saat bertemu Gery tapi kali ini tampak lain. Lusi pun mencoba menghela napasnya perlahan untuk mengatur napasnya.
Lalu Lusi pun masuk kemobil dan duduk, seketika saat itu juga Gery masuk kedalam mobil. Dba terlihat sedikit memadang Lusi dengan tatapan malu namun masih mencuri pandang agar tetap melihat Lusi sejenak saja.
"Lusi?"
"Ya?"
"Baru kali ini aku tak sanggup lihat kamu" ucap Gery yang masih belum menjalankan mobilnya.
"Kenapa? Apa karena aku jelek" ucap Lusi.
"Bukan tapi aku merasa ada perasaan yang tak biasa" kata Gery tersenyum. "Aku pakaikan sabuk ya" kata Gery yang mendekat ke arah Lusi.
Keduanya tampak tersenyum dengan sedikit rasa malu, ada getaran rasa didada yang tak bisa diungkapkan namun begitu terasa.
Lalu Lusi pun menunduk saat tangan Gery selesai membantu Lusi memakai sabuk pengaman lagi-lagi rasa malu dan rasa bahagia yang tak biasa.
Lalu Gery pun menjalankan mobilnya.
"Lusi?"
"Ya?"
"Terimakasih"
"Terimakasih kenapa?"
"Kamu sudah menjaga Yasmin kamu sudah melahirkan Yasmin, kamu sudah memberikan terbaik untuk Yasmin. Hanya ucapan terimakasih dan?"
"Dan apa?"
"Dan maaf sudah memberi luka paling dalam dari ku untuk seorang wanita. Setiap apa yang terjadi padamu sungguh itu adalah penyelasan untukku"
"Sst.. sudah lah .. sudah.. sudah cukup, yang paling penting kamu sudah lebih baik jadi orang lebih baik"
"Iya aku akan berubah menjadi lebih baik" kata Gery. "Itu calon suami mu?"
"Yang mana?"
"Yang kemarin?"
"Iya"
Gery pun tampak tertunduk dan mengehela napasnya yang tertahan ditenggerokan dan terasa sakit saat Lusi menajawab itu.
"Kenapa?" Tanya Lusi.
"Semoga kamu bahagia" kata biasa dari Gery yang begitu menyayat hati.
Lusi pun menghela napasnya saat ucapan Gery dengan doa yang membuat dirinya terasa tertampar.
Lusi pun mengangguk dengan rasa sedih."Iya semoga aku dan kamu selalu bahagia"
__ADS_1
"Ini ada sesuatu untuk mu" kata Gery memberikan sesuatu.
"apa?" Tanya Lusi.
"Untuk anak kita"
Uang senilai 500 juta pun diberikan kepada Lusi di sebuah cek didalam amplop. Lusi yang melihat itu pun terasa sesak melihat uang yang besar itu.
"Untuk apa uang ini"
"Aku bertanggung jawab untuknya kalau kurang kamu bisa minta lagi, hanya saja Lusi.. jujur dalam hatiku, aku tak sanggup melihat mu bahagia dengan orang lain. Setelah ini, ya setelah ini setelah kamu bahagia dengan pria itu. Aku akan benar pergi dari mu, aku tak mau melihat mu bukan karenaamu benci tapi karena aku sedih dirimu dimiliki oleh orang lain" kata Gery.
Lusi pun terdiam seketika.
Lalu tak lama mereka pun sampai dirumah Lusi.
Kedatangan Gery untuk bayi Yasmin pun disambut baik oleh ibu Lusi yang dulu sempat membenci Gery karena kelakuan bejatnya. Tapi kini tampak lain dan mulai menerima.
Gery pun mendekap putri kecilnya yang sudah tiga bulan ia tinggalkan. Perbuatan jahat Gery dulu meninggalkan benih dalam rahim Lusi yang kini telah lahir bayi cantik dalam sebuah kesalahan besar yang Gery lakukan.
Tapi meskipun begitu, ada perasaan perih teramat dalam saat Lusi melihat Gery mendekap putri kecilnya.
Ada perasaan kesal namun ada perasaan haru karena bagaimana pun ia adalah Ayah dari anaknya.
"Sayangnya papa, papa kangen banget. Papa sayang banget sama kamu. Papa tak akan membedakan kamu sama Kakak Alena, kamu selalu ingat papa ya nak" jelas Gery.
Seketika dari kejauhan Lusi pun terlihat menjatuhkan air matanya terasa sesak dan ada sesuatu yang perih didalam hati.
Lusi berusaha tidak menangis namun air matanya tetap terjatuh.
Lalu tak lama Gery pun pamit untuk pulang, saat Bayi Yasmin sudah tampak tertidur dalam dekap Gery.
"Aku ijin pulang" ucapnya.
"I-iya" ucap Lusi terbata.
Lalu saat Gery hendak pulang didepan rumah terlihat Hilman yang baru saja datang. Mata Hilman pun memicing tajam melihat siapa yang datang kali ini.
"Beraninya kamu datang!!!!!" Kata Hilman kesal.
"Saya datang kesini untuk Yamin" jelas Gery
"Jangan bohong"
"Saya mencintai Yasmin meski saya tahu, saya dan Lusi sudah tidak bersama Lusi. Tapi...." Ucap Gery didepan Hilman.
"Tapi apa?"
"satu pesan saya"
"Pesan, pesan apa?"
"Tolong jaga baik-baik wanita yang saya cintai, tolong cintai dirinya seumur hidupnya. Dia wanita yang paling baik yang pernah aku kenal toloh jaga dia. Karena setelah ini"
"Aku akan pergi untuk mengiklaskan dirinya bahagia"
Perasaan sedih pun melanda kuat dihati Lusi.
Gery pun pergi dengan ucapan paling dalam yang penuh rasa ikhlas tapi begitu terasa sakit.
Saat itu Gery pun pergi membawa mobilnya, mata Lusi melebar dan begitu sesak melihat pria itu pergi.
Lusi pun lansung tertunduk tanpa sadar dan duduk lalu menangis, menangis merasa sedih dan tak kuat dengan perasaannya sendiri.
"Kamu kenapa menangis" tanya Hilman
"Hiks ... Hiks .. hiks" ucap Lusi menangis.
"Kenapa?" Tanya Hilman tegas.
"Ternyata aku"
"Kamu mencintainya!!!!" Tanya Hilman.
Lusi pun terdiam.
"Tidak perlu kamu ingat dia tidak ada lagi cinta yang ada hanya kenangan tentang cinta"
Apa salah diriku mencintainya apa salah diriku menangisi kepergiannya....
Aku sangat mencintai mu.... Aku sangat mencintai mu.....
__ADS_1