
Setelah kejadian pertemuan antara Marisa dan Rian. Membuat bentuk harapan baru bagi Marisa. Bahwa cintanya masih ada secercah harapan dan diraih cinta lama yang telah hilang.
Ya...kartu nama di tangan Marisa. Membuat seolah Rian dekat di hati, walau hanya sebatas kertas dengan nama nomer telepon dan jabatan. Dan ada yang membuat Marisa kagum adalah Rian memiliki jabatan yang tidak main-main diperusaahaannya, yaitu sebagai direktur utama.
Hah Rian.!!
Kamu memang sudah sukses dan sudah tidak amburadul seperti dulu. Kamu sudah menjadi sosok yang baik bahkan lebih baik dari yang dulu ku kenali. Benak itulah yang mencuat dihati Marisa.
Dengan langkah perlahan tapi pasti Marisa pun kembali ke Jakarta. Karena tujuan ia datang ke Jogja sudah tertunaikan seperti apa yang ia inginkan..
Dan bicara soal Juna... Emm sepertinya.. Marisa tampak mudah sekali untuk melupakan orang yang baru saja ia kenali itu. Karena cinta pertamanya lebih berarti, timbang Juna yang baru saja datang mengisi hatinya.
Sesampainya dirumah Marisa jejingkrakan bak ondel-ondel yang sedang diarak-arakan. Sebagai bentuk rasa senangnya dalam hati karena sudah memiliki nomer Rian.
Dengan cepat ia pun mencoba menelponnya. Beraharap diangkat.
Digengamnya telepon dan diketik sesuai nomer yang tertera pada kartu nama tersebut
Tut..
Tut..
Tut..
Namun sayangnya, tidak diangkat..
Marisa pun tampak tidak menyerah hingga ia menelpon berkali-kali.
Oke sekali lagi!!!
Marisa tampak menelpon namun masih tidak diangkat. Dan sepertinya Rian memang orang yang sibuk. Bahkan mengangkat telpon saja itu terasa sulit.
Hem.. baiklah Marisa akan mencoba nya kembali sore hari nanti..
.
.
.
Sore hari...
__ADS_1
Lanjut ke bagian dimana Marisa, sedang berusaha menelpon sang casanovanya itu. Dan beraharap kali ini benar-benar diangkat oleh Rian.
Dan Yap.. benar Rian pun mengangkat.
Hati Marisa tampak senang menerima jawaban telepon dari Rian. Suaranya yang berat dan agak khas itu. Mampu meluluh lantakan seluruh hati Marisa dan semakin terjatuh ke dalam dasar cinta yang semakin dalam.
Oh Rian...
Mampukah dirimu merasakan hal yang sama seperti hal yang kurasakan saat ini. Ingin rasanya aku terbang ke langit ke tujuh bersama mu. Ya hanya padamu... Benak Marisa sambil tersenyum saat menelpon Rian.
"Hallo" ucap Rian.
"Ha..halo..."
"Siapa ya?" Tanya Rian dibalik telepon.
"Aku.." ucap Marisa datar. Dan sepertinya degup jantung Marisa begitu terasa. Membuat Marisa nyaris terbata dengan apa yang akan diucapkan selanjutnya.
"Kamu siapa?" tanya Rian lagi.
"Aku.. aku adalah Orang yang pernah kamu kenal 10 tahun yang lalu" ucap Marisa ditelpon.
"10 tahun lalu???" Ucap Rian penasaran dan bertanya tanya. Karena Rian lupa siapa saja 10 tahun lalu yang ia kenal itu
"Jogja??" Rian masih penasaran.
"Iya JOGJA, J-O-G-J-A." Ucap Marisa tampak mengeja. Dan dasar Marisa bodoh apa gunanya ia mengeja.
"Tolong jangan bercanda ya. Saya sedang sibuk. bicara yang jelas" Ucap Rian kali ini tegas.
"Baiklah saya adalah Marisa" ucap Marisa dengan benar kali ini.
"Hah.. ya ampun gue pikir siapa?" Ucap Rian menghela napas.
"Emang kamu pikir siapa?" tanya Marisa.
"Agent kartu kredit" jawab Rian dengan mudahnya.
"Kok kamu berpikir begitu? Emang suara aku mirip debt colektor" ucap Marisa yang kali ini menggunakan kata aku dan kamu. Cie cie..
"Ya,, Karena akhir-akhir ini memang banyak penawaran kartu kredit"
__ADS_1
"Bukan kok bukan.. aku bukan nawarin kartu kredit"
"Lalu, Ada apa telepon?"
"Pertanyaan macam apa itu Rian. Setelah 10 tahun tak bertemu menayakan ada apa?"
"Emang gak boleh tanya gitu"
"Boleh aja sih"
"Yaudah kalau gitu ada apa?"
"Besok ada acara gak. Rencana mau ajak ketemu"
"Ketemu? Penting gak?"
"Sedang-sedang aja sih. Tapi aku berharap kamu bisa" ucap Marisa lagi ditelpon.
"Dimana?"
"Cafe Orange. Nanti Alamatnya aku share loc. kamu di Jakarta kan sekarang"
"iya, aku di Jakarta. mau ketemu Jam berapa?"
"Habis kamu pulang kantor aja"
"Mm gimana ya?" ucap Rian di telpon sembari berfikir.
"Yaudah baiklah. kebetulan besok aku free. Mungkin jam 7 malam" ucap Rian yang kali ini tampak mampu memenuhi permintaan.
"Baik besok ya. Jam 7 malam" ucap Marisa.
"Oke"
Lalu Rian pun menutup telepon.
Yeeeass....... Ucap Marisa senang, Sambil tersenyum...
Seketika hati Marisa pun berunga-bunga karena besok ia akan bertemu dengan Rian. Hah.. rasanya Marisa tidak sabar ingin bertemu besok..
....
__ADS_1
like like like