
Hallo guys yang baik hati.. semoga kalian selalu sehat dan baik baik saja....
Maaf autor ini jarang up.. alasenya lebih ke Krn jarang ada yang baca. Jadi jarang up juga... Abis gada yg minta buat up juga buat apa buru2 . Wkwkwk.
Btw, any buswey . Aku tidak meninggalkan novel cerita yg masih menggantung ini.
Lanjutin dulu aja ...
______________
Lalu terlihat Marisa yang merapihkan semua pakaian ke dalam koper. Marisa mempersiapkan dirinya untuk kembali ke dalam rumah yang sudah hampir dua bulan itu ia tinggalkan. Rasa malas dan enggan karena ia tahu Ayah yang kini mencintai anak emas nya bernama Gery itu membuat kehidupan Marisa tersingkir. Tapi Marisa juga tak mau hidup Luntang Lantung dirumah keluarga Rian.
Terlihat Rian yang tersenyum melihat Marisa yang beranjak pergi. Tiba-tiba saja Marisa malah merasa malas merasa Rian. Marisa pun pergi dengan mengucapkan salam.
Sesampainya dirumah besar.
Marisa tampak menggeret tas koper yang berisi baju. Ia bawa masuk kedalam. Dan terlihat papa yang menatap Marisa tajam. Bukannya menyambut seolah meremehkan.
"Kamu pulang, kenapa kamu pulang. Hemm.. butuh uang kamu makanya pulang"
"Pa, bukan soal uang. Tapi aku tidak mau mencampuri urusan rumah tangga Rian. Rian sudah menikah. Dan aku tidak mau kalau menjadi istri kedua"
"Apa kamu bilang. Jika dia tidak menikahi kamu. Lalu bentuk tanggung jawabnya mana?? Enak sekali dia pergi tanggung jawab. Dia harus menceraikan istrinya lalu menikah dengan mu"
"Pa, pria bukan hanya Rian masih banyak pria lain"
"Tapi yang menabrak kamu adalah si Rian anak kurang ajar itu"
__ADS_1
"Papa tidak ingin berdebat sama kamu. Besok papa akan menyuruh dia kesini. Untuk membicarakan semuanya"
"Tidak mungkin pa, tidak mungkin.."
"Papa tidak peduli" ucap papa pergi.
.
.
.
.
Sementara itu terlihat Lusi yang sedang duduk ditaman depan rumah sendiri bersama putranya. Tiba-tiba datanglah Rian dengan membawa mobil yang dulu pernah ia pakai. Lalu menabrak Marisa. Lusi pun tampak melihat mobil yang sudah lama ia tak lihat itu. Rian datang membawa mobil itu dengan diderek.
"Iya, sayang. Hanya saja ada yang mengganjal"
"Mengganjal bagaimana?"
"Dari awal aku bawa mobil ini semua baik-baik saja. Yang buat aku heran kenapa tiba-tiba remnya blong ya. Seperti ada yang aneh. Aku jadi curiga jika ada orang jahat yang melakukan itu"
"Coba kamu cek semuanya apakah memang seperti itu"
"Ya, aku harus mencari tahu semua ini"
Tiba-tiba saja seseorang menelepon dan itu adalah dari Papanya Marisa. Dengan cepat Rian pun mengangkat. Dari telepon yang ia terima malam harinya. Rian disuruh untuk datang menemui nya dirumahnya. Dan Rian pun setuju saja.
__ADS_1
Malam hari...
Rian pun menemui ayah dari Marisa itu. Di ruang tamu Rian duduk sambil meminum kopi yang sudah disediakan.
"Hebat kamu!!!"ucap David emosi.
"Hebat bagaimana?"
Dengan cepat pak David menampar Rian.
"Ternyata kamu punya istri Rian" ucap David kesal.
Rian pun menghela napasnya. Ia menarik napas dengan kasar namun secara perlahan.
"Kalau kamu sudah menikah bagaimana dengan nasib putri saya Marisa. Kamu harus tetap menikahinya dan ceraikan istri kamu" ucap David tegas.
"Bapak tidak berhak mengatur hidup saya. Sampai kapan itu tidak bisa pak. Saya mencintai istri saya"
"Kalau gitu kamu harus mendekam dibalik penjara atas perbuatan kamu yang sudah membuat anak saya kehilangan kakinya"
"Sebelum bapak melakukan itu semua kepada saya. Hanya satu yang saya pinta. Saya ingin ungkap kebenaran dibalik semua itu. Bahwa ada kejanggalan terjadi. Dan saya sedang menyelidiki semuanya"
"Maksud kamu apa?"
"Saya siap jika harus bertanggungjawab dengan semua ini. Hanya saja beri saya kesempatan dalam menyelidiki semua ini. Saya yakin seratus persen bukan kesalahan saya pak"
"Baiklah. Saya tunggu itu semua jika dirasa perlu dilakukan"
__ADS_1
Lalu setelah itu Rian pun ijin pulang dengan langkah kaki yang kasar.