
Dua Minggu kemudian... Ya seharusnya ini adalah hari pernikahan Marisa, namun yang terjadi kini. Perasaan hati Marisa berubah. Tidak lagi menggebu seperti dahulu.
Percaya dan yakin kalau ada atau tanpa Rian. Hidup Marisa masih akan baik baik saja. Namun untuk kembali ke rumah Marisa masih mempertimbangkan. Dan untuk tetap bertahan dirumah Rian untuk sementara waktu.
Ya pagi hari yang cerah, terlihat Marisa sarapan di ruang makan bersama Rian dan Lusi. Tampak Lusi yang menyiapkan makanan dan tampak Rian yang sedang menikmati kopi. Meskipun masih seperti orang ketiga didalam rumah tangga kita orang lain. Namun Marisa tidak dengan hatinya. Hanya menumpang tempat tinggal saja. Dan itu tidak disebut perebut bukan..
Marisa pun duduk sambil menikmati nasi goreng dan secangkir teh buatan Lusi. Meskipun Marisa bisa memasak, namun Lusi melarang Marisa untuk memasak. Biarlah dirinya atau bi Asih saja yang memasak. Lusi pun duduk disamping Marisa dan melihat Marisa sembari tersenyum. Ya, Lusi menghargai kehadiran. Tidak menganggap sebagai perusak, pengganggu atau orang yang merepotkan. Marisa dianggap seperti keluarga di rumah.
"Kamu mau sarapan apalagi, bilang aja ya kalau perlu sesuatu Anggap aja rumah sendiri" ucap Lusi.
"Ini aja sudah cukup" jawab Marisa.
Lusi pun tampak tersenyum.
Tiba-tiba Rian pun tampuk mengerutkan keningnya, melihat Lusi yang lebih meladeni Marisa ketimbang Rian sebagai suaminya
"Hey, yang suami mu itu siapa? Marisa atau aku. Kenapa Marisa yang ditanya duluan" sahut Rian.
"Hem kenapa, Marisa ini kan tamu dirumah kita. Harus di layani dengan baik bukan" ucap Lusi.
"Tapi kan kamu istri aku kamu layani suami kamu saja. Seperti biasanya"
"Biasanya bagaimana?"
"Mungkin saja, Morning kiss dipagi hari" ucap Rian sambil tersenyum menghampiri Lusi dan membelai wajah Lusi dengan kedua tangannya.
Lusi pun tampak menahan tangan Rian.
"Ada Marisa harusnya kamu lebih jaga sikap ya sayang" ucap Lusi menarik tangan Rian.
"Ya gak apa-apa Marisa m harus belajar dewasa. jangan terlalu polos nanti giliran dipegang dikit sama pacarnya dia kelabakan" ucap Rian tersenyum meledek.
Marisa pun hanya tampak membuang wajahnya, melihat kelakuan pasutri yang satu ini. Sambil mengelap keringatnya padahal dirinya tidaklah terlalu gerah.
"Aku sudah cukup dewasa untuk semuanya" ucap Marisa.
Rian pun hanya tampak tertawa melihat ekspresi Marisa.
"Sudahlah aku berangkat kekantor dulu, tapi tetap ya kiss nya dulu" ucap Rian dengan cepat Rian pun mencium bibir Lusi dengan penuh gairah tanpa malu-malu di depan Marisa.
Marisa yang tak pernah ciuman sekalipun itu, dalam hatinya merasakan kecanggungan.
Rian pun masih saja tampak ciuman didepan Marisa tanpa mempedulikan Marisa. Meskipun Lusi berkali kali mendorong Rian untuk menyudahinya. Namun Rian tidak peduli terus saja memberikan ciuman panas pada sang istri, Marisa hanya tampak membuang wajah dan menutup wajahnya dengan piring kosong.
Anjrit. Gila bener Rian. Kesurupan setan apaan ini. Gue gak tahu kalau Rian Semesum ini. Setahu gue Rian pria baik-baik. Kenapa sekarang begini. main hajar gak liat tempat. Gak liat orang. Dasar mesum, benak Marisa dalam hatinya.
"Sudah cukup ya, sarapan bibirnya" ucap Lusi. Mendorong badan Rian.
"Kenapa?"
"Takut kebablasan. Cukup cukup. nanti kalau kamu telat bagaimana?"
"Biarin aja telat"
"Rian..." Ucap Lusi memandang Rian tajam.
"Oke oke aku berangkat"
Rian pun berangkat ke kantor. Dan kembali mencium kening sang istri.
"Ya jaga dirimu baik baik. Dan anak kita" ucap Rian pergi.
Dan kini hanya tampak Marisa dan Lusi di ruang makan berdua saja.
Lusi pun merasa tidak enak sekali pada Marisa saat itu.
"Maaf ya Marisa. Kalau kamu jadi melihat kejadian tak difilter barusan. Rian memang suka gitu, suka main serobot. Gak lihat lagi ada siapa dan dimana" ucap Lusi merasa tak enak hati.
"Ya, gak apa-apa. Cuma kaget aja sih. Ternyata Rian bisa semesum itu" ucap Marisa menarik napas nya.
__ADS_1
"Hem.. ya itu mah gak sebarapa. Banyak yang lebih parah. Walaupun cuma ciuman. Tapi Kamu jangan tiru ya.. " ucap Lusi.
"Tiru apa?"
"Ciuman" jelas Lusi.
"Ciuman Ama siapa? Aku belum pernah ciuman"
Lusi pun tampak kaget. "Wow.. masa sih gak pernah"
"Iya emang gak pernah. Gak pernah punya pacar juga"
"Kenapa gitu gak mau pacaran. Kamu normal kan"
"Heh, Lusi anaknya bapak sabenih. Gue itu normal. Jangan ngawur Lu" ucap Marisa.
"Sorry, Nama bapak aku bukan sabenih loh"
"Ya terserah lah ya. Tapi intinya gak pernah"
"Hem hebat juga ya, gak pacaran. Hehehhe bagus kalau begitu. Jadi kan gak nambah dosa juga"
"Eh by the way. Mau nanya?" Ucap Marisa pada Lusi.
"Yaudah tanya aja?"
"Kamu pernah pacaran sama Juna?"
"Hah??? Pacaran?? Gak pernah pacaran sama Juna. Juna sih temennya adik aku"
"Yakin gak pernah pacaran?"
"Emang gak pernah pacaran sama Juna. Emang sih Juna pernah nyatain perasaan gitu. Tapi hanya sebatas teman aja gak pernah pacaran" ucap Lusi melihat ke arah Marisa.
"Emang kenapa tanya-tanya" ucap Lusi.
"Tanya aja gak apa-apakan. Terus menurut kamu Juna gimana?" Tanya Marisa.
"Jawab aja repot banget sih" ucap Marisa.
"Oke, oke, Juna itu orangnya baik, baik banget malah. Hampir gak pernah nyakitin perempuan. Dan aku yakin wanita yang menjadi kekasihnya nanti akan ia jaga baik-baik. Akan dia sayang melebihi dirinya sendiri. Juna itu, pria yang nyaris sempurna dalam mencintai wanita, dan tanpa celah sedikitpun. Beruntung wanita yang akan menjadi kekasihnya nanti"
Seketika Marisa termenung
"Kamu cinta sama Juna gak?" Tanya Marisa.
"Cinta sih gak ya. Cuma baik aja sih, jadi kayanya setiap wanita juga akan klepek-klepek kalau dapat kebaikan yang spesial dari Juna"
"Kalau sekarang kamu masih ada perasaan?"
"Gak, aku udah anggap sebagai adik aku sendiri. Walaupun penilaian aku Juna itu 100. Rian itu min 100"
"Anjir jahat bangat kamu"
"Hehhe, ya memang begitu kok. Kamu kan gak tahu perjalanan hidup aku seperti apa dulunya. Pahit getir nya kamu gak tahu.. Hanya manis aja yang kelihatan. Kalau pun diceritain bakal panjang dan hanya seperti membuka lama" ucap Lusi tampak sedikit merenung sambil memijat keningnya.
"Terus kenapa nikah sama Rian?" Tanya Marisa.
"Kecelakaan" jawab Lusi.
"Hamil diluar nikah" ucap Marisa.
"Gak lah. Bakal panjang kan kalau diceritain. Kamu gak perlu tahu takutnya kamu shock. Terus, kamu sendiri suka Rian karena apanya? Ganteng? Kaya? Atau karena khilaf aja suka sama dia?" Tanya Lusi yang kali ini bergantian bertanya.
"Rian itu baik, pelindung. Dingin sih kaya esbatu. Tapi hangat kalau didalam. Dia pelindung buat aku dulu" ucap Marisa.
Lusi pun seketika yang sedang minum langsung keselek mendengar penuturan Marisa.
Uhuk.. uhuukk.. uhuk. Lusi tampak terbatuk.
__ADS_1
"Ya ampun minum minum" ucap Marisa.
"Gak apa-apa aku kaget aja pas kamu bilang Rian pelindung. Apa aku gak salah denger" ucap Lusi menarik napas panjang.
"Kenapa, emang selama ini dia bukan pelindung buat kamu" ucap Marisa.
"Kalau kamu cinta sama Rian karena ngelindungin kamu. Fixed aku seperti mau salto sambil khayang tahu gak dengernya. Berbanding terbalik banget ya sama Rian yang aku kenal" ucap Lusi heran namun tampak sambil tersenyum.
"Oh ya masa sih.. padahal dia baik lu buat aku. Haduh kasian banget sih kamu Lusi. Gak pernah dapat kebaikan Rian" ucap Marisa tampak meledek.
"Entahlah meskipun dia sekarang mulai sedikit berubah"
"Ya, tapi sekarang aku udah temuin pengganti Rian dalam hidup aku"
"Siapa?"
"Juna"
Lusi pun tampak membulatkan matanya. Kaget sekaligus senang mendengar penuturan Marisa.
"Ya ampun. Alhamdulillah. Kenapa gak dari dulu sih" ucap Lusi senang.
Tak lama terdengar suara bel masuk. Seketika Lusi pun tampak membukukan pintu. Dan kebetulan sekali yang dibicarakan muncul. Yaitu Juna.
Juna datang dengan pakaian rapi dan tampan. Serta membawa bunga. Seikat bunga.
"Hai" ucap Juna pada Lusi.
"Hai" jawab Lusi.
"Marisa ada?" Tanya Juna.
"Ada.."
Lalu Lusi pun memanggilkan Marisa ..untuk menemui Juna diruang tamu.
Marisa pun menemui Juna.
"Wah bagus ya bunga merah itu" ucap Lusi sembari tersenyum.
"Lusi kali ini aku bawa bunga untuk Marisa. Bukan buat kamu ya, kamu jangan Ge'er dulu" ucap Juna tampak tersenyum.
"Gak apa-apa. Aku sudah tahu kok kalau itu untuk Marisa. Lagi pula udah ada kok bunga yang lain?" Ucap Lusi.
"Bunga apa?" Tanya Marisa.
"Bunga pasir" ucap Lusi asal.
Rian dan Marisa pun tampak tersenyum mendengar lawak receh Lusi yang membuatnya berfikir. Kalau bunga pasir itu adalah tahi kucing.
"Bau dong" ucap Marisa.
"Ya begitulah kira kira.. yaudah kalian lanjutkan obrolannya. Saya selaku orang ketiga disini. Lebih baik pergi sebelum diusir" ucap Lusi beranjak pergi.
"Gak lah masa mau ngusir" ucap Marisa.
"Yaudah gak apa-apa.. santai aja. Aku tinggal ya" ucap Lusi pergi.
******
Hi. Readers tercinta sampai ke lubuk hati paling dalam. Yang masih setia dengan cerita receh ku ini..
Eeeaaakkk.....
Masih ada gak yang mau kasih aku bunga. Boleh lah, tapi jangan bunga pasir ya. Hehehhe.
berikan.. Vote,.Komen, atau apa gitu.. yang terukir dihati.
Dan para readersku.. cuma mau infoin LG tgl 25 Maret kemarin aku ulang tahun loh.. kalau mau ucapin boleh. Kalau yg gak mau jg gak apa2. hehhe ngarep.
__ADS_1
Oke nanti lagi ya🥰🥰😘😘