
Setelah Fabio tidur dalam dekapan sang ibu Fabio pun ditaruh diatas kasur rumah sakit itu. Lusi pun memandang wajah Fabio yang tampak menggemaskan. Lusi berharap anak laki-laki nya itu selalu sehat dan di berikan keberkahan dalam hidupnya.
Lusi pun mengelus badan Fabio perlahan sambil mendoakan membaca surat-surat pendek. Gery turut mendengar alunan ayat suci yang Lusi lantunkan saat itu. Terasa adem dan merdu ketika mendengarnya.
Baru kali ini Gery mendengar suara Lusi membaca surat surat pendek. Dan mampu membuat Gery hanyut dalam suasana yang tak ia rasakan sebelumnya.
Setelah selesai Lusi pun juga mendoakan sang anak agar sehat selalu dan menjadi anak yang Soleh. Dalam suasana saat itu terasa sangat menyentuh untuk ibu dan anak yang terpisah karena keadaan.
"Nak, semoga kamu menjadi anak yang Soleh. Jadi anak yang pintar, berbakti pada orang tua. Dan selalu diberkahi setiap apa yang kamu jalani. Jangan lupa juga Fabio selalu mendoakan papa yang mungkin saat ini tidak bersama kita, tapi papa selalu ada didalam hati kita. Fabio,,, harus sering ya doain papa ya, karena papa sangat sayang Fabio" seketika Lusi merasa sedih melihat putranya yang masih kecil namun harus ditinggal pergi oleh papanya dan kini harus menjadi anak yatim.
Dan seketika Gery menjawab "semoga anak kamu selalu sehat dan menjadi anak soleh. Dan Rian ditempatkan ditempat terbaik disisi Allah.. amin" kata Gery.
Lusi pun menjawab "amin"
Gery pun mengingat dulu masa lalu waktu bersama ibunya yang sudah meninggal 12 tahun yang lalu.
"Ibu ku telah lama tiada, aku sangat merindukan ibu ku. Dalam hidupnya dia adalah orang yang baik selalu menerima takdirnya dan dia pun hidup penuh dengan kesedarhanaan meski saat itu dia terlahir dari keluarga berada. Namun ia tidak mau mengandalkan harta orang tuanya sampai usahanya sukses"
"Berati beda sama kamu ya"
Gery pun bukan marah malah langsung tersenyum dengan ucapan Lusi yang menyindir dirinya.
"Ya beda sih ya, aku lebih mirip papa. Ibu ku meninggal saat usia ku 17 tahun. Dia pergi meninggalkan ku, banyak pesan yang dia ucapkan dan itu baik semua. Namun ada satu pesan dari banyak pesan yang aku paling ingat adalah? Satu" jelas Gery.
"Apa?" Tanya Lusi.
"Ibu ku aku m beritahu saat itu bahwa aku mencintai teman sekolah ku yang bernama Marisa, yang ternyata dia adalah adikku sendiri. Aku mengadu pada ibu ku kesal dan aku tak bisa terima kenyaatan pahit itu. Tapi ibu ku berpesan padaku, aku tidak boleh mencintainya. Aku boleh mencintai wanita mana pun yang aku inginkan, asal satu jangan adikku sendiri. Saat itu aku tahu mungkin aku salah tapi namanya cinta tak pernah tahu kapan ia datang dan pergi. Sampai saatnya aku mulai jatuh cinta lagi, namun pada wanita yang kembali salah yaitu istri dari sahabat ku sendiri yaitu Rian. Aku salah tapi aku tak bisa pungkiri bahwa itu adalah kenyataannya" jelas Gery.
Lusi pun mendengar apa yang Gery katakan.
"Agak rumit tapi aku rasa apa yang ibu mu katakan benar adanya. Namanya adik sendiri ya kamu harus mencintai nya sebagai adik. Dan tak bisa bila bersama sebagai pasangan kekasih karena kalian kan saudara, terkadang hidup itu memang tidak pernah tahu akan kemana arah dan tujuannya. Namun kita tak pernah tahu ada hikmah apa dibalik semua itu" kata Luis.
"Dan kamu, kamu adalah orang yang sudah membuat aku melupakan cinta aku kepada adikku sendiri. Kamu adalah yang mengalihakan setiap pandangan ku kepada Marisa dan kamu satu-satunya wanita yang paling aku inginkan dan aku cintai" kata Gery melihat ke arah Lusi.
Seketika Lusi pun menghela napasnya.
__ADS_1
"Aku sedang tidak yakin dengan kata- kata cinta" kata Lusi.
"Tapi aku yakin kalau aku mencintaimu" kata Gery.
"Tapi aku tidak" ucap Lusi.
"Cinta dapat menghidupkan semuanya" jelas Gery
"Namun cinta juga dapat mematikan semuanya. Aku rasa, lebih baik simpan kata-kata cinta dan rayu yang kamu ucap" ungkap Lusi.
"Kenapa?"
"Setiap kata yang kamu sampaikan itu bagiku hanya sebuah gombalan semata, aku tak pernah anggap itu benar-benar nyata. Cinta itu terkadang semu, terkadang manis dibibir namun pada akhirnya akan terasa pahit di hati" ucap Lusi.
"Kenapa kamu bisa bicara begitu?"
"Aku adalah orang yang paling tidak mudah termakan yang namanya bujuk rayu dan kata cinta, namun aku sendiri bingung kenapa hidupku selalu saja ternoda dan terlalu mudah untuk dibeli dengan kata cinta yang ternyata palsu dan justru semakin menyakitkan hatiku" kata Lusi yang terasa perih dihati saat ia mengingat semua yang terjadi pada dirinya.
"Aku serius, dari ucapanku tidak ada yang palsu" kata Gery
"Gery, tidak mau karena kamu mencintai tapi ternyata justru membuatku semakin hancur" ucap Lusi yang meraksan kepahitan hidup yang betubi dan tiada henti apalagi mengingat semuanya yang membuat Lusi semakin hancur.
Lusi tak pernah yakin pada setiap pria yang datang silih berganti.
"Terserah kamu mau anggap ini gombal atau nyata, mau kamu anggap ini candaan atau apa itu terserah kamu. Nyatanya kamu memang adalah orang paling berharga dalam hidupku. Kamu boleh saja tidak percaya pada ku saat ini tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan percaya dan merasakan bahwa cinta ku ini tulus" kata Gery penuh keyakinan.
"Baiklah kita lihat saja nanti, aku ingin pulang ganti baju"
"Tidak usah biar aku bawakan baju mu saja" kata Gery.
"Tidak perlu? Nah ibu datang aku pulang dulu karena aku mau mandi dan ganti baju" ucap Lusi yang akhirnya berdiri dan melihat ibu nya yang baru saja datang dari luar membeli makan.
Namun...
saat ingin berdiri tiba-tiba kepala Lusi terasa pusing dengan cepat Gery pun menangkap Lusi.
__ADS_1
Haaaapppp
Sontak saja dua pasang mata saling bertemu dan saling menatap.
Tiba-tiba..
"Ehm.. ehmm" ucap ibu yang melihat Lusi yang dipegang oleh Gery.
"Oh" ucap Gery melepaskan Lusi saat ia tahu ada ibunya Lusi datang.
"Maaf Bu, tadi Lusi mau jatuh aku tangkap aja" ucap Gery.
"Gak apa lagi daripada Lusi jatuh kelantai kan lebih repot" kata ibu.
"Bu Lusi pulang dulu, udah dua hari gak mandi" kata Lusi jujur.
"Astaga, untung anak kamu gak pingsan, pas digendong tadi ya" kata sang ibu.
"Ya coba ibu tanya Gery barusan pingsan gak cium bau Lusi" sambung ibu lagi.
"Pingsan sih enggak, maksudnya gak salah lagi hampir nyaris pingsan" kata Gery sembari tersenyum.
"Hah apa??? Aku sebau itu" ucap Lusi. "Baiklah aku pulang"
"Aku antar ya" ucap Gery memberikan bantuan.
"Eh jangan.. aku bau kan kamu bilang tadi mau pingsan"
"Heheh gak becanda doang, beneran deh. Beneran gak bau, aku antar ya gak apa-apa kan biar lebih cepat sampai" ucap Gery.
"Yaudah gak apa-apa Gery antar biar lebih cepat juga. Ada tumpangan gratis jangan ditolak"
"Gratis?? Tapi Gery pernah bilang katanya didunia ini gak ada yang gratis" Ucap Lusi.
"Lebih tepatnya bukan cari gratisan tapi memang kebutuhan kan, jadi gak apa-apa biar lebih cepat sampai" kata ibu.
__ADS_1
"Gery jaga Lusi ya" ucap sang ibu pada Gery.
"Iya Bu saya akan jaga dia dari berangkat sampai nanti kembali lagi kesini" kata Gery dengan sigap.