
"Aku tak mengenal nya" kata-kata itu lah yang membuat Gavino seolah tak percaya dengan apa yang Tanisa katakan.
Pertemuan Gavino dengan Tanisa tampak ia tak duga sebelumnya.
Mengapa bisa kini Tanisa berada di tangan pria bernama Deon.
Bagaimana mungkin?
Kenapa harus Deon.
Batin Gavino seolah memburu.
.
.
.
Gavino pun masih menatap wajah Tanisa yang sangatlah cantik itu. Dadanya berdebar hebat mana kala ia melihat wanita itu. Wanita yang ia cintai kini berada di hadapannya namun berada di tangan orang lain.
Aku tak percaya dengan apa yang diucapkan Tanisa. Tanisa pasti berbohong bahwa dirinya tak mengenal ku batin Gavino.
Gavino pun tampak duduk dan terdiam sambil memandang Tanisa. Dengan perasaan kesal.
Mengapa Tanisa bilang bahwa dirinya tak mengenalnya???
Disaat yang lain sedang menyantap hidangan itu
Gavino pun memandang tajam Tanisa yang duduk satu meja itu. Namun bersebrangan.
"Aku tahu Tanisa pasti sangat merindukanku. Bagaimana mungkin dia diam saja seolah dirinya baik-baik saja" batin Gavino.
Disela-sela Deon yang memegang tangan Tanisa begitu erat. Seolah tak ingin kehilangan Tanisa sama sekali. Bahkan merangkul pundak Tanisa dan sesekali mengecup pipi Tanisa dengan lembut. Ya Deon biasa melakukan itu. Namun hal itu hingga membuat hati Deon sangat panas dengan apa yang ia lihat.
Ya dari sana terlihat Deon tampak mencintai Tanisa.
Gavino berusaha untuk diam menahan gejolak emosinya. Berusaha bertahan untuk tetap duduk. Walau hatinya terus merasa api amarah yang begitu tak terbendung.
Melihat teman-temannya asik mengbrol dan berbicara. Tampak Gavino yang menahan emosinya saat itu.
Gavino pun tampak tak kuat menahan semuanya. Di hari ulang tahunnya.
Saat Deon ijin untuk pergi ke toilet. Gavino pun langsung berdiri dan menarik tangan Tanisa dan membawanya ketempat lain. Tanisa dibawa ke meja lain dengan kasar.
Gavino merasa kesal dengan Tanisa yang pura-pura yang tak mengenal dirinya.
"Tanisa???" Ucap Gavino langsung menarik tangan Tanisa.
Tanisa pun tampak memandang Gavino sesekali lalu membuang wajahnya.
"Kenapa kamu bilang kalau kamu tak mengenal ku" kata Gavino dengan sorot mata yang tajam.
"Aku memang tidak mengenalmu" kata Tanisa.
"Katakan sekali lagi kalau kita tidak saling kenal!!!!" Ucap Gavino kesal.
Tanisa pun terdiam.
"Katakan jika kamu tak mengenal ku" teriak Gavino didepan wajah Tanisa.
"Iya aku tidak mengenal mu" kata Tanisa sekali lagi.
"Bohong!!!" Teriak Gavino sehingga semua orang tampak heran dengan teriakan Gavino.
Tanisa pun sontak kaget dan tampak menahan air matanya.
"Kamu berbohong!! Kita saling kenal dan bahkan kita sangat kenal. Kamu berbohong. Katakan!!! " tanya Gavino sekali lagi dengan nada tinggi Gavino tak ingin dilupakan oleh wanita yang ia kenal selama tiga bulan itu.
Tanisa pun memejamkan matanya. Dan menatap Gavino sesekali. Ia tak mau menangis didepan Gavino.
"A-apa iya kita saling kenal, kalau iya dimana? Saat apa dan sejak kapan? Kalau iya kita saling kenal. Kapan? Kenapa aku semudah itu lupa padamu. Aku tidak pernah tahu dan ingat siapa kamu" ucap Tanisa dengan bibir bergetar.
Seketika Gavino terdiam dan memandang Tanisa lekat.
__ADS_1
Gavino pun sudah tak sanggup lagi melihat Tanisa dihadapannya kini. Ia tak mau Tanisa pergi dari hadapannya kini.
Lalu Gavino pun dan memegang kuat tubuh Tanisa dengan sangat kuat. Tanisa pun tampak tak kuat menahan air matanya. Beberapa bulir air matanya pun terjatuh.
"Katakan dirimu mencintai ku. Katakan kalau kamu mencintaiku" ucap Gavino.
Tanisa pun langsung terdiam.
"Jawab aku!!!!" Teriak Gavino kesal..
"Apa yang kamu katakan aku tidak mengerti. Siapa yang kamu bilang cinta. Aku??? Tidak mungkin aku mencintaimu. Jika kita tidak saling kenal. Jangankan bisa cinta padamu. Kenal saja tidak" ucap Tanisa.
"Katakan kamu mengenal ku dan katakan kalau kamu mencintai ku" ucap Gavino memandang Tanisa tajam.
Ya Tanisa sedang duduk dikursi sembari menunduk. Sementara Gavino tampak berdiri dihadapan Tanisa sambil menunduk.
Gavino tampak tak pedulikan siapapun disitu. Yang ia harapkan adalah Tanisa kembali padanya. Tak mau jika Tanisa dimiliki oleh siapapun.
Gavino pun memegang badan Tanisa dengan sangat kuat sekali lagi.
"Lepaskan aku. Aku mohon lepaskan aku" pinta Tanisa.
Gavino langsung memeluk Tanisa kuat. Sangat lah kuat.
Kerinduan yang sangat menggebu itu ia berikan pada Tanisa yang ia tahu bahwa Tanisa pun sangat merindukan dirinya. Tanisa tampak menangis tak bersuara air mata Tanisa seolah tak tertahan lagi.
Meski Tanisa berulang kali kemunafikan Gavino namun matanya tak bisa bohong.
Dan saat itu. Deon dengan cepat pula menarik Gavino.
"Lepaskan!!!" Ucap Deon menarik Gavino..
Deon pun langsung memukul.
Bug ...
"Jangan pernah menyentuh wanita ku!!!!!" Ujar Deon tak terima melihat Tanisa dipegang dan dipeluk oleh Gavino.
Dan Gavino juga merasa berhak atas diri Tanisa yang sudah mengenal nya
"Dia adalah wanita ku. Dia lebih dulu mengenal ku dari pada anda" ucap Gavino tak terima.
Lalu dengan cepat Deon menarik kerah baju Gavino dan menatap Gavino tajam.
"Jika memang begitu, kita tanya Tanisa. Dia memilihmu atau memilihku. Tanisa katakan!!!, diantara aku dan dia!! Mana yang kamu pilih?" Kata Deon dengan lantang.
"Maksudnya apa ini" Tanisa pun tampak heran dengan mata yang memerah.
"Katakan cepat!!!" Ucap Deon.
"Aku tidak pernah mengenal siapa dia. Siapa dia aku tidak pernah kenal" ucap Tanisa menahan rasa sakit didalam hati. Tanisa mungkin salah telah berbohong tapi untuk apa mengenal Gavino yang sudah membuang nya. Bukan kah dia dulu yang menyuruh Tanisa untuk pergi dari dirinya.
"Lalu kamu pilih siapa?" Tanya Deon sekali lagi tegas
"Aku memilih kamu. Orang yang ada didalam hidup ku. Deon aku memilih Deon" jawab Tanisa.
Lalu Gavino tampak mengambil gelas dan membantingnya.
Praaanggg.
Lalu menatap Tanisa tajam.
"Katakan sekali lagi kalau kamu tidak mengenal ku" ucap Gavino dengan mata yang memerah.
"Iya aku tidak mengenal mu" Tanisa memandang Gavino dengan mata yang memerah.
"Jika iya tidak memilih ku lalu kenapa kamu menangis" kata Gavino marah.
Namun Deon tidak mau melihat Gavino terus menatap Tanisa dengan cinta. Deon pun langsung menarik Tanisa. Dan badan Tanisa berada dibelakang badan Deon kali ini.
"Saya rasa sudah cukup acaranya. Dan jelas dia memilih saya. Saya permisi" Deon pun langsung menarik tangan Tanisa dan pergi menghindari dari kejadian itu.
Acara ulang tahun yang harusnya dilaksanakan secara meriah dan penuh suka, akhirnya tampak air mata dan kekacauan. Gavino tampak marah sekaligus sedih dengan semuanya.
__ADS_1
Gavino tampak pergi meniggalkan Ulang Tahun sendiri dengan perasaan yang sakit.
Ia pun tampak mengacak acak ulang tahunnya sendiri. Ia memecahkan gelas yang berada disitu. Ia banting hingga pecah.
Praaaaaaannggg.....
Tanisa kenapa kau begitu tega. Mengatakan bahwa kau tidak mengenalku. Kenapa kau begitu tega.
Sementara itu...
Deon tampak membawa pulang Tanisa dengan paksa. Selama perjalanan Tanisa tampak menjatuhkan air matanya beberapa kali.
Sementara Deon, Deon sangatlah kesal dengan kelakuan Gavino yang tiba-tiba saja memeluk erat pada wanita nya.
Deon pun membawa mobil dengan kecepatan sangat tinggi. Ia tidak pedulikan jalanan. Yang ia pikirkan adalah Tanisa harus dibawa kembali.
.
.
.
Sesampainya dirumah...
Tanisa ditarik oleh Deon dan dibawa masuk kedalam kamar.
Tanisa tampak menjatuhkan air matanya. Tanisa pun tak pernah menyangka bila dirinya akan bertemu Gavino.
Air matanya terjatuh tanpa ia sadari.
"Aku tahu?? Aku tahu kalau kamu mengenal Gavino. Katakan siapa dia!!!!!" ucap Deon kesal.
Tanisa hanya terdiam dan membeku.
Deon pun menatap Tanisa dengan tajam.
"Dia siapa?"
"Aku tidak mengenal siapa dia?" Jawab Tanisa.
"Jika kamu tidak mengenal mengapa kamu menangis. Jika kamu tidak kenal tidak mungkin Dia mengacak-acak acara ulang tahunnya sendiri. Aku tanya sama kamu siapa dia??? Ada apa kamu sama dia" ucap Deon nada tinggi yang melihat Tanisa menjatuhkan air matanya.
Tanisa hanya diam.
"Aku tidak peduli seberapa besar kamu mengenalnya dan seberapa mungkin kamu mencintainya. Aku tidak mau kamu pergi dariku"
Deon menarik paksa tubuh Tanisa. Dan menarik Tanisa. Melepaskan baju nya tanpa tersisa.
"Aku tidak bisa lakukan ini" ucap Tanisa.
Lalu dengan cepat Gavino menarik paksa.
"Kamu milik ku. Kamu miliku. Kamu miliku" ucap Deon yang tampak tak peduli.
"Tubuh mu. Jiwa mu bahkan hatimu adalah milik ku" ucap Deon menarik paksa baju Tanisa semua.
Dan kini...
Terlihat Tanisa yang tanpa benang sehelai pun ditubuhnya. Tanisa dibuat telanjang oleh pria berumur 44 tahun itu.
Deon pun tampak menarik dengan kasar dan bercermin.
"Pandang dirimu di cermin. Pandang siapa kamu di cermin. Kamu miliku seutuhnya Tanisa'' ucap Deon tegas dan lantang.
Deon sengaja melakukan itu. Agar Tanisa sadar diri bahwa dirinya sudah dibeli oleh dirinya.
Tanisa pun menatap tajam Deon.
"Kenapa kamu sejahat ini padaku. Sebutkan kata-kata mana yang mengatakan jika aku tidak peduli padamu. Apakah aku ikut dengannya, tidak!!!! bahkan tidak sama sekali. Kenapa kamu begitu jahat" kata Tanisa menjatuhkan air matanya
"Aku hanya tidak mau kamu mencintai orang lain. Siapapun dia!!!" Seru Deon.
Lalu Deon pun pergi dan meninggalkan Tanisa. Dan mengunci Tanisa dikamar.
__ADS_1