
Hari kedua setelah kematian Rian Lusi pun datang ke kuburan milik suaminya yang di kubur di Jakarta.
Lusi pun datang dari Bandung yang sempat diboyong oleh ayah dan ibunya kembali ke Jakarta untuk menabur bunga dan doa.
Ia tidak pernah menyangka bahwa kematian suaminya akan secepat ini. Mengapa Rian begitu cepat meninggalkan dirinya. Lusi yang memakai serba hitam itu pun menaburkan bunga diatas kuburan suaminya. Tertulis nama Rian bin Candra. Nama yang ia kenal itu, nama yang pernah ia benci dalam hidupnya dulu namun ia juga cinta kini telah pergi menghadap sang ilahi.
Lusi hanya menangis dan tak bisa berbuat apa-apa karena disaat takdir sudah berkata lain.
Hanya dua tahun merasakan pernikahan dan kebersamaan Lusi bersama suaminya.
Lusi pun tampak memejamkan matanya. Rupanya sesulit ini disaat kita merasakan kehilangan pria satu-satunya dihati. Meski dalam posisi Rian sakit namun Rian tetaplah manusia sempurna yang tak pernah Lusi lihat sedikit kekurangannya. Lusi pun mencium batu nisan itu dengan kecupan lembut.
Lusi tak menyangka jika saat itu Marisa juga datang bersama Juna.
Terlihat Marisa yang datang saat itu melihat Lusi yang ada disana, Marisa memang ingin datang karena saat kematian Rian Marisa belum sempat datang dan kebetulan sekali bertemu Lusi.
"Sabar ya, kamu harus kuat" kata Marisa.
"Iya terimakasih"
Lusi pun memeluk Marisa untuk meluapkan emosi dan kesedihannya.
"Lusi yang sabar ya" ucap Juna seraya menguatkan perasaan Lusi.
"Ya terimakasih" jawab Lusi.
"Gery kemana?" Tanya Lusi.
"Dia pergi?"
"Pergi?" Tanya Lusi heran.
"Iya, dia pergi ke Singapura bersama istrinya, mereka pindah kesana" jawab Marisa
"Rupanya dia benar-benar pergi" gumam Lusi.
"Tampaknya, karena istrinya sudah melahirkan" kata Marisa.
"Liana sudah melahirkan" tanya Lusi yang baru tahu.
"Iya anaknya perempuan, hanya saja? Seperti nya Liana menutupi kematian Rian dari Gery"
Lusi pun langsung terdiam.
"Kemarin dia bilang sama aku saat ditelepon tolong rahasiakan ini dari Gery, karena ia tidak mau fokus Gery terpecah untuk anak dan istrinya. Maaf, mungkin aku menyinggung perasaan mu" kata Marisa.
"Iya tidak apa-apa" jawab Lusi.
"Kamu tidak punya hubungan khusus apapun dengan Gery kan" tanya Marisa.
"Tidak ada, kami tidak ada hubungan apapun. Aku bahagia jika ternyata mereka bahagia"
"Lalu? Kamu mau kemana setelah ini" tanya Marisa.
"Aku pulang saja ikut dengan orang tua ku ke Bandung tapi sepertinya berat jika harus pulang kesana karena aku masih kepikiran sama mama Renata yang tinggal di sini" jawab Lusi.
"Kamu pucat sekali" kata Marisa.
Lusi pun hanya tampak menunduk dan memegang kepalanya.
__ADS_1
"Kepala ku memang pusing sekali" ucap Lusi.
"Lebih baik kamu memang istirahat" saran Marisa.
"Iya setelah ini pun aku akan kembali" kata Lusi .
Lusi pun sebelum pulang Lusi memeberikan doa untuk suaminya, didepan kuburan suaminya itu. Lusi panjatkan doa kepada sang suami agar ia ditempatkan disisi yang paling indah disisi Allah. Lusi pun masih merasakan kesedihan yang mendalam.
Setelah itu Lusi pun memutuskan untuk pulang ke rumah yang ada di Jakarta dulu. Yaitu dikontarakan rumah yang kecil, meskipun ayah nya sudah menyuruh Lusi untuk pulang ke Bandung tapi Lusi masih berat meninggalkan ibu mertuanya sendirian. Lusi pun memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakan nya dulu.
"Ma" ucap Lusi.
"Kenapa kamu kesini, katanya ke Bandung"
"Gak ma, aku memikirkan mama" kata Lusi.
"Kamu jangan mikirin mama, mama baik-baik saja" jawab mama.
"Mama udah makan"
"Udah kamu jangan pikirin mama"
"Aku beli makanan dulu untuk mama ya, kita makan sama-sama"
"Kamu ini ya, sudah gak usah pikirin mama" kata Renata.
"Ma, Lusi ini bukan hanya mantu mama, tapi Lusi ini anak nya mama. Mama Renata sudah aku anggap orang tua aku sendiri" ucap Lusi memeluk sang mama.
Seketika Renata pun menangis dalam pelukan sang menantu yang ternyata sangat baik itu.
Setelah itu ..
Lusi pun membeli pecel ayam didaerah sekitar rumah untuk makan bersama Renata. Lusi pun membeli testpeck juga.
Saat sesampainya dirumah kontrakan itu, Lusi pun masuk kedalam kamar mandi.
Lusi pun tampak deg-degan dengan hasil yang keluar.
Dan ternyata benar saja Lusi hamil.
"Hamil" ucap Lusi. "Ba-bagaimana ini bisa terjadi"
Tanpa terasa air mata Lusi terjatuh tak tertahan.
Ia tidak menyangka dirinya yang saat ini berstatus janda harus mengahadapi kehamilan ini. Lusi yang tadinya tidak percaya akhirnya memang harus percaya bahwa itu memang kenyataan nya.
Renata pun tampak tak sengaja melihat Lusi yang menangis sambil memegang test pack miliknya itu.
Renata pun memegang erat Lusi dan memeluknya.
"Kenapa sayang"
"Lusi hamil ma, Lusi kira cuma berita palsu. Tapi ternyata benar, Lusi tidak siap ma. Lusi tidak siap dalam keadaan sendiri seperti ini, ternyata Lusi hamil" kata Lusi memegang tespecknya.
"Sabar nak, sabar sayang. Meksipun kamu sendiri kamu harus kuat" kata mama Renata.
Seketika Lusi pun langsung memegang perutnya.
"Iya ma, Lusi harus yakin bahwa Lusi kuat"
__ADS_1
"Ya Allah aku harus bagaimana dengan anak ini. Aku sendiri tidak tahu, aku harus yakin bahwa ini memang anak Rian bukan anak Gery. Aku merasa jika diriku tidak pernah sekalipun melakukan hubungan apa-apa..rekamann cctv itu aku yakin bukan bukti dan cuma akal-akalan saja" batin Lusi masih tidak percaya.
Saat itu Lusi menerima kenyataan yang ada. Soal siapa ayahnya Lusi tampak tak peduli yang hanya satu yang ia yakini itu adalah memang anak dari suaminya.
5 setengah bulan kemudian..
Waktu silih berganti, tidak terasa kini kandungan Lusi pun semakin terlihat dan membesar. Dengan status Lusi yang janda saat ini, banyak orang yang mengira jika Lusi janda yang tidak memiliki kehormatan. Pasalnya seorang wanita yang tidak bersuami mana mungkin bisa hamil. Kalau bukan karena dirinya yang nakal.
Batin Lusi sangat perih saat dirinya dianggap buruk oleh orang lain. Lusi hanya bisa sabar setiap kali menerima cemohan dari tetangga kiri dan kanan. Pasalnya jangan kan untuk merajut kisah cinta yang baru, hati Lusi saja masih perih bila mengingat kematian suaminya.
Selama itu Lusi juga masih tetap tinggal bersama Renata, karna Lusi tahu Renata tidak memiliki anak lagi selain dirinya, walau hanya menantu tapi Lusi menganggap Renata seperti ibu kandungnya sendiri.
Lusi pun sebenarnya bisa saja pulang ke Bandung mengajak Renata. Tapi Renata tidak mau, akhirnya Lusi pun menemani Renata diJakarta. Lusi tak tega bila meninggalkan Renata seorang diri.
Untuk penghasilan Lusi dan Renata setiap harinya berjualan kue didepan rumah. Lusi dan Renata sama-sama belajar membuat kue untuk mereka jual, namun Lusi jarang melayani para pembeli, karena banyak mulut warga sekitar yang usil bilang ini dan itu yang tidak enak dan membuat hati Lusi perih. Mereka semua membicarakan Lusi, apalagi kalau bukan kehamilannya dan status jandanya.
Status janda yang sedang hamil ternyata membuat Lusi dinilai buruk dimata orang lain. Walau mereka tidak tahu kebenaran sama sekali.
Lusi juga tidak cerita pada Renata atau pun ayah dan ibunya soal berita tentang dirinya yang pernah ditiduri oleh Gery. Lusi pun seolah tutup mata dan telinga soal itu dirinya itu, tidak mau ambil pusing soal itu. Dan yang pasti Lusi tidak percaya bahwa dirinya pernah ditiduri oleh pria yang bernama Gery.
Ayah dan ibu dari Lusi pun sebulan sekali selalu datang menemui Lusi untuk memastikan bahwa anak perempuan dan cucu Fabio dalam keadaan baik-baik saja, Lusi pun masih diberikan uang bulanan untuk biaya keperluan sehari-hari oleh ayahnya. Maklum saja hasil dari menjual kue hanya cukup untuk bayar sewa kontrakan dan makan setiap bulan. Namun untuk membeli susu Fabio Lusi tidak sanggup. Mungkin Lusi baru cari kerja lagi setelah ia sudah melahirkan.
Suasana saat itu, disebuah rumah terlihat Lusi dan mama yang sedang menyiapkan adonan untuk membuat kue.
"Lusi" panggil mama.
"Ya ma" jawab Lusi.
"Kamu kalau mau pulang ke Bandung pulang saja, mama kasihan sama kamu disini" kata Renata.
"Gak ma, kalau mau mama ikut sama aku ke Bandung ya baru aku mau" kata Lusi.
"Mama gak enak kalau ikut kamu, mama seolah numpang hidup disana"
"Ma, gak kok. Mama gak numpang hidup, Lusi gak akan pulang kalau mama gak ikut Lusi"
"Gak, mama takut cuma dibilang numpang hidup"
Lusi menghela napasnya.
"Iya Lusi nanti pulang kok ma, tapi nanti ya disaat usia kandungan Lusi menginjak 8 bulan" jawab
Ya memang saat ini usia kandungan Lusi, masih 6 bulan jalan.
"Ma, ternyata dia gerak-gerak ma" ucap Lusi sambil memegang perutnya.
"Pasti kalau Rian ada dia sangat bahagia menantikan anak keduanya"Ucap Renata yang juga mengelus perut Lusi.
"Terimakasih kamu sudah hadir dalam hidup mama" ucap mama.
"Sama-sama ma"
"Andai mama punya anak laki-laki satu lagi, pasti mama sudah jodohkan dengan mu. Biar kamu masih menjadi menantu mama"
"Ma, mama tetap menjadi mama Lusi, Lusi juga masih tetap jadi anak mama. Sudah ya ma jangan bilang Lusi ini orang lain" katajsi.
"Terimakasih nak, kamu sudah menemani mama disini, kalau tidak ada kamu mungkin mama disini hidup sendirian"
"Ya ma"
__ADS_1
Renata pun memeluk Lusi.