
Lusi merasa kesal saat itu, dengan kelakuan Gery yang mengaku-ngaku bahwa anak yang ia kandung adalah anak dari Gery.
Lusi tahu dirinya merupakan seorang janda yang lemah dan tak berdaya untuk saat ini, tapi bukan berati Gery bisa mengaku-ngaku Lusi yang tengah hamil itu adalah anaknya. Apa yang akan terjadi jika Liana tahu dan menganggap benar, Lusi takut akan menjadi fitnah untuk dirinya. Meski Lusi tahu ada bukti cctv saat itu, Lusi lantas tidak percaya begitu saja. Bisa saja itu hanya editan dengan kejadian yang seolah benar adanya padahal itu hanya sebuah kekeliruan dan rekayasa saja. Lusi tetap pada keyakinan pada dirinya bahwa anak yang ia kandung adalah benar anak dari suaminya.
Semenjak kehamilan saat ini yang ketujuh bulan, Lusi sungguh tidak peduli dengan keadaan bayi yang ia kandung. Lusi merasa dirinya banyak masalah dan biarkan bayi itu hidup sebagaimana mestinya tanpa harus dimanja dengan sedikit sedikit membawanya kedokter. Bahkan Lusi tidak peduli dengan jenis kelamin pada bayi nya yang kelak akan lahir.
Lusi sadar itu adalah kesalahan tapi Lusi merasa tidak betah hidup begini. Dan selalu masa bodo dengan anak yang ia kandung. Sampai saat itu ibu pun menyadarkan Lusi untuk tidak egois pada dirinya dan bayinya. Lusi tidak boleh memperlakukan anak yang dikandungnya dengan cara tak menganggap nya.
"Lusi?"
"Ya"
"Kamu seharusnya lebih tahu dan paham untuk kamu yang tengah hamil saat ini. Jangan bawa bayi yang belum lahir ini kamu jadikan pelampiasan dan membiarkan dia hidup dalam kesengsaraan yang tengah kamu rasakan. Dia berhak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan"
"Misalnya?"
"Ibu tahu kamu tak pernah sekalipun membawa dirimu ke dokter kandungan, padahal sudah jelas bahwa kamu tengah mengandung. Ibu bahkan tahu kamu tidak pernah peduli pada dirimu sendiri tak pernah ibu lihat kamu minum vitamin untuk ibu hamil. Kenapa kamu seperti itu kamu marah pada dirimu atau takdir yang saat ini kamu tengah hamil?"
"Hah, untuk apa? Untuk apa peduli, ingat semuanya membuat Lusi semakin tersiksa. Rian tega Bu meninggalkan Lusi sendiri disaat Lusi mengandung, itu artinya Lusi tak perlu repot mengutamakan kandungan Lusi. Karena Lusi sendiri tak sanggup hamil dengan keadaan menjanda seperti ini. Karena bayi ini Lusi dihujat habisan oleh orang lain, karena Lusi hamil orang menganggap Lusi sebelah mata dan karena Lusi hamil Lusi jadi semakin lemah tak bisa bekerja"
"Berpikirlah secara waras, berpikirlah jangan dengan otak mu. Tapi dengan hatimu, dimana Lusi yang ibu kenal dulu. Dimana Lusi yang ibu kenal baik itu,.sudah tak ada lagi. Kamu tahu, kamu sakit-sakitan seperti ini karena ulah mu sendiri yang tak pernah minum vitamin dan menjaga kesehatan mu. Hingga kamu sakit pun semua karena mu, jika kamu sakit saat ini bayi mu jauh lebih sakit didalam sana. Kamu bisa menjaga Fabio dengan baik, meski kamu tahu saat itu kamu ditinggal Rian. Kini kamu memperlakukan kehamilan kedua mu dengan berbeda hanya karena Rian telah tiada. Dimana hati nurani mu, dimana jiwa keibuan mu. Ingat lah Lusi jangan menyesal jika ternyata kamu akan kehilangan nya"
Lusi pun terdiam. Lusi baru sadar dengan apa yang ia lakukan, dengan ucapan sang ibu yang mulai sedikit menyadarkan Lusi.
"Tapi ini beda Bu, beda. Rasa yang Lusi rasakan saat mengandung Fabio dengan anak ini rasanya beda. Entah kenapa Lusi merasa tidak tahu"
"Ubahlah daya pikir mu, ubahlah sifat mu yang keras itu. Belajarlah untuk kamu mencintai anak mu sendiri, hiduplah dan cintai dirimu dan anakmu" kata ibu.
Seketika Lusi terdiam sambil menunduk dan memegang perutnya dengan perlahan menyadarkan dirinya sendiri dengan sifat yang egois itu.
__ADS_1
"Baiklah Lusi akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mencintai anak dalam perut Lusi Bu" kata Lusi menundukan kepalanya melihat kearah perut yang tengah mulai membesar.
"Ya memang itu yang harus kamu lakukan. Lusi..... ibu hanya tidak mau kamu karma dan kehilangan semuanya hanya karena kamu marah pada takdir mu sendiri" kata ibu yang memegang tangan Lusi bentuk cinta dan kepedulian pada Lusi yang kini tengah dalam kegalauan dan masalah yang tiada habisnya.
"Ibu tahu kamu dalam masalah hidup yang berat, tapi kamu jangan menghukum anak dalam kandungan mu dengan cara tak peduli padanya. Cintailah anak mu ini seperti hal nya kamu mencintai Fabio jangan bedakan anak ini dengan anak mu yang lain"
Lusi pun akhirnya mengangguk untuk berusaha paham.
"Boleh Lusi memeluk ibu" kata Lusi yang meminta pelukan dari sang ibu.
"Tentu" jawab ibu.
"Hiks. Lusi hanya tak kuat bu dengan semua ini. Lusi tak kuat dengan semua ini, Lusi bingung harus bagaimana. Lusi tidak tahu harus bagaimana, Lusi pusing dengan kehidupan Lusi sendiri. Lusi pusing Bu, dengan semuanya Lusi bingung harus bagaimana" ucap Lusi yang menangis dan mengucapakan kata berulang ulang dan itu merupakan sebuah luapan emosi jiwa yang memang seolah ia tak sanggup menahan deritanya sendiri.
"Sekalipun ini berat kuatkan lah dirimu, kamu harus yakin dan mampu bahwa apa yang kamu alami semua akan ada hikmah nya dan ibu yakin kamu pasti mampu. Ingatlah nak, jangan menyerah dan tetap semangat. Berdoa lah kepadaNya, ibu yakin dan percaya padamu kamu adalah anak ibu yang paling kuat"
"Kamu hanya perlu yakin bahwa kamu mampu, bagaimana kamu bisa kuat kalau dirimu saja tidak yakin dengan dirimu sendiri"
Lusi pun mengangguk paham dengan apa yang diutarakan oleh ibunya untuk Lusi agar tetap bertahan dengan ujian hidup apapun. Karena ibu yakin Lusi pasti menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, yang mungkin tidak sekarang kebahagian itu datang. Mungkin saja nanti, tapi paling penting adalah dalam hidup adalah 'sabar' kata sabar yang mungkin simpel tapi berat dilakukan namun itulah yang akan menjadi jawaban atas setiap pertanyaan yang membuat kegalauan dalam hidup yang terkadang tak berpihak.
Ibu pun memeluk erat sang putri untuk lebih tegar dan lebih mencintai dirinya sendiri terutama mencintai anak dalam kandungannya. Ibu sadar juga jiwa Lusi saat ini terguncang, terkadang bisa menerima keadaan hidup sendiri namun terkadang seperti orang yang kehilangan arah dan tujuan hidup.
Lusi pun akhirnya mulai lebih terlihat tenang saat itu, ia pun mulai makan dengan perlahan namun pasti yang sebelumnya seperti orang hidup namun mati.
Lusi mulai menerima kenyataan hidupnya yang pahit, sesekali ibu pun melihat Lusi yang mulai sendikit menaruh senyum dibibirnya sambil memegang perutnya yang merasakan ada gerakan demi gerakan dalam rahimnya.
"Bagaimana kamu sudah lebih baik?" Tanya ibu.
"Sudah Bu" jawab Lusi.
__ADS_1
"Makan lah yang banyak ya, untuk mu dan bayi dalam kandungan mu" kata ibu.
"Bu, apa Lusi boleh melihat bayi ini Bu. Selama hamil Lusi tak pernah sekalipun membawanya ke klinik atau rumah sakit untuk mengeceknya"
"Tentu, nanti kita USG kandungan kamu ya" kata ibu tersenyum.
Lalu setelah itu Lusi pun dibawa kesebuah ruangan untuk melakukan USG.
Lusi pun tampak siap untuk melakukan USG untuk pertama kalinya pada bayi yang kini dalam kandungannya.
Lusi pun berbaring diatas kasur untuk melakukan USG, seorang dokter pun memberikan gel pada perut Lusi saat itu dan dokter pun mulai melakukan USG.
Lusi pun seketika melihat nya disebuah layar kaca yang kini dihadapannya yang memperlihatkan bayi yang ada di dalam rahimnya.
"Bagaiman dokter keadaan nya" tanya Lusi pada dokter yang bernama Vera.
"Bayinya sehat dari gerakannya juga aktif posisinya bagus tidak terlilit tali pusar. Dan wah jenis kelaminnya sudah terlihat nih Bu"
"Apa?" Ucap Lusi yang tiba-tiba bertanya.
"Permpuan anak nya perempuan"
Lusi pun tanpa terasa menjatuhkan air matanya.
"Ya Allah anakku, anakku dia hidup. Dia hidup dalam rahim ku, maafkan mama yang pernah mengabaikan mu nak. Maafkan mama, kamu ternyata perempuan seperti mama sayang. Kamu harus kuat nak, kamu harus kuat nak" Lusi pun menangis.
Ada rasa bersalah ada juga rasa sedih semua seolah tercampur jadi satu.
Lusi bersalah karena pernah tak menganggap nya, dan yang membuat Lusi sedih adalah karena kenyataan yang paling pahit yaitu anak yang ia lahirkan nanti harus siap lahir tanpa seorang Ayah.
__ADS_1