Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Keponakan Renata


__ADS_3

Lusi pun masih menangis. Mengingat semua yang ia alami. Apalagi bayi yang dirahimnya kini sudah tiada dan benar-benar tiada. Ia pun ingin menghubungi orang rumah namun tak ada handphone. Handphonenya seperti nya tertinggal dirumah. Lalu Lusi pun hanya duduk sambil merenung. Beberapa saat kemudian seorang dokter datang memeriksa kondisi Lusi yang masih belum stabil. Ia pun diperiksa kondisinya. Setelah selesai tampak dokter yang menerangkan kondisinya.


"Beruntung pendarahan ibu tidak terlalu berat. Kalau berat kemungkinan terburuk adalah rahim ibu mungkin bisa diangkat"


"Apa??" Lusi pun kaget.


"Yang penting saat ini ibu istirahat dan pulihkan kondisi ibu" saran dokter sambil memeriksa dengan stetoskop.


"Baik dok"


Lalu setelah itu Lusi pun meminjam handphone milik dokter untuk menghubungi keluarganya. Bahwa dirinya kini berada dirumah sakit.


"Dokter maaf kalau saya lancang. Boleh saya meminjam handphonenya dok. Saya mau menelpon keluarga saya"


"Ya silahkan Bu" ucap sang dokter.


Lalu Lusi pun menghubungi suaminya. Namun masih tidak bisa ditelepon.


[Nomer yang ada hubungi sedang sibuk atau diluar service area silahkan hubungi beberapa saat lagi]


Lusi pun tampak menghela napas tak percaya.


Akhirnya Lusi pun hanya bisa menangis. Karena ia teringat bahwa suaminya kini masih belum sadar ketika dari pemukulan kemarin.


"Ibu mau minjem hape saya atau mau menangis" ucap dokter pria yang terlihat muda. Memandang Lusi menangis.


"Suami saya juga sakit dokter. Saya ga tahu harus menghubungi siapa lagi" Lusi terlihat sedih.


"Nomer yang lain, bapak atau ibu, nenek atau tetangga" tanya dokter.


"Nomernya gak ada yang saya hapal selain suami saya" ucap Lusi tak sadar menarik jas putih milik dokter hingga basah. "Saya bingung dokter harus bagaimana?"


"Cukup Bu jangan menangis dilengan saya, takutnya saya dikira membuat ibu menangis" ucap dokter.

__ADS_1


"Maaf dokter. jas dokter jadi basah karena air mata" ucap Lusi merasa tak enak


"Ya gak apa-apa" dokter menenangkan Lusi kembali.


Lusi pun tampak terdiam sejenak sambil berfikir.


"Saya akan coba menghubungi nomer telepon kantornya dok. Kebetulan saya pernah kerja disana jadi saya hapal nomernya" ujar Lusi. Dia teringat akan dirinya yang pernah bekerja di perusahaan yang dimiliki suaminya itu.


Lalu Lusi pun menghubungi nomer kantornya Rian. Dan akhirnya yang mengangkat adalah assiten pribadi Rian, yaitu Viola. Lusi pun meminta tolong padanya untuk memberitahu Renata bahwa dirinya sedang dirumah sakit. Ibu Renata adalah ibu mertuanya.


Dan kebetulan info yang didapatkan dari Viola, bahwa Renata akan pulang sore ini. Lusi pun sedikit lega paling tidak Renata bisa menemuinya.


"Baik Viola aku minta tolong infokan ke mama Renata untuk temui aku dirumah sakit ya Vio" ucap Lusi ditelpon.


"Ya Lusi tenang saja"


Lusi pun memberikan kembali ponsel yang ia pinjam pada dokter paruh baya didepan nya.


"Lain kali nomer keluarga dihapal ya bu. Selain suami" saran dokter kepada Lusi.


"Iya dokter insyaallah. Dokter saya mau tanya?, saat saya mengalami keguguran apakah dokter tahu kelamin anak saya"


"Iya Bu. perempuan"


"Jadi perempuan ya, hiks hiks anak ku harusnya dia tumbuh didalam rahim ku. Kini dia telah pergi" gumam Lusi sambil kembali menjatuhkan air matanya.


"Ibu yang sabar" ucap dokter.


.


.


.

__ADS_1


.


Sore harinya....


Hingga kabar Lusi keguguran dan Rian dibawa rumah sakit Renata ketahui. Ia pun sampai dibandara Soekarno-Hatta setelah kepulangan nya dari luar negri.


Tampak seorang wanita muda menghampiri dan menjemputnya. Ya wanita itu adalah Liana. Liana adalah anak dari kakaknya Renata. Liana pun tampak menatap wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu. Tampilan berkelas dan stylish Renata begitu terlihat sekalipun Renata sudah tak muda lagi. Gaya yang anggun dengan tampilan tas branded blazer dan sepatu boot yang begitu terlihat elegan.


Sedangkan tampilan Liana begitu terlihat seksi. Hanya dengan celana jeans panjang robek didengkul dan tanktop berwarna hijau.


"Apa kabar Tante" Liana tampak menyambut dan menarik koper Renata.


"Keliatannya bagaimana" Renata bertanya balik.


"Keliatannya sih baik saja, meski aku tahu mungkin setiap orang akan datang yang namanya seribu masalah. Tante jika ada masalah bilang saja dengan aku. Aku pasti akan membantu" ucap Liana tersenyum.


"Aku tidak akan meminta bantuan pada orang yang justru punya banyak masalah"


"Kamu tahu tante, orang bisa dewasa karena dia memiliki banyak masalah" sahut Liana tampak tak terima.


"Justru karena kelakuan kekanak-kanakan kamulah masalah itu datang. Kamu bilang bisa dewasa, tapi dewasa dari mananya. Kamu tahu, mama kamu kan, jadi kena storke gara-gara kamu. Saya punya anak laki tapi nakalnya tidak seperti kamu" ucap Renata melihat ke arah Liana.


"Hahaha... Ku harap tante bukan selanjutnya orang yang biaa kena stroke gara-gara aku. Udah lah Tante penyakit itu datangnya dari diri sendiri. Bukan dari orang lain. Aku tahu si Rian anak semata wayang tante itu, belum tentu sebaik yang kita kira" ucap Liana tersenyum.


"Ucapan kamu mungkin ada benarnya. Tapi kamu ponakan tante perempuan satu-satunya. Jaga kehormatan kamu. Mama kamu udah ga bisa ngejagain kamu lagi. Jadi tante yang akan menjaga kamu. Berhenti jadi orang gak bener. Berhenti mabuk-mabukan. Kamu tahu SMA saja kamu gak lulus mau jadi apa kamu" omel Renata pada keponakan nya itu.


Liana pun hanya tampak tersenyum. "Ah Tante masih kaku aja. Ayo kita pulang"


Selama perjalanan. Terlihat Liana yang fokus menyetir. Sambil membawa mobil dengan cepat.


Ya sebagai ponakan dan tante memang mereka hampir jarang bertemu. Liana berubah semenjak ia ikut pergaulan dengan temannya yang salah. Ia tidak mau sekolah dan kerjaannya hanya foya foya dan ke club malam. Dan mama dari Liana kena stroke karena mengetahui anaknya menjadi model majalah dewasa. Ia berubah apalagi setelah ia pacaran dengan pria yang bernama Revan.


Selama perjalanan Renata pun tampak memandangi perut Liana yang kali ini tampak berbeda dan sedikit membesar itu. Tidak seperti biasanya. Ia pun menatap penasaran dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2