
Pagi hari yang cerah sesuai secerah hati Lusi. Ya begitu menyegarkan serta penuh kehangatan bak mentari dikala pagi hari. Menikmati hidup tak melulu dengan sesuatu yang besar dan mewah. Menikmati pagi cukup dengan senyuman dan tubuh yang sehat. Itu merupakan anugerah dari sang maha kuasa yang harus di syukuri. Karena apapun yang kita dapatkan. Semua harus disyukuri saat itulah kita tahu betapa berkahnya kenikmatan dari sang maha kuasa.
Terlihat Lusi yang menyiram tanaman didepan rumah. Dan semua telah disiram. Lusi pun menemui suaminya yang baru selesai sarapan.
"Bagaimana sarapannya, enak" ucap Lusi menanyakan.
"Enak apalagi kalau sambil liat kamu"
Lusi pun tampak tersenyum.
"Kamu suka bunga apa?" Tanya Rian.
"Kenapa?"
"Aku ingin tahu aja"
"Semua bunga aku suka tanpa terkecuali. Selama itu bukan kembang kuburan. Apalagi karangan bunga turut berduka cita ya"
Rian pun tampak mengangguk.
"Sebutkan yang lebih spesifik" ucap Rian.
"Mawar merah"
"Baiklah"
Lusi pun hanya tampak tersenyum.
"Aku berangkat ya"
"Kenapa secepat ini"
"Suka macet dijalan"
"Tapi, seorang pemilik perusahaan memang biasanya tak masalah jika datang terlambat" ucap Lusi yang tampak memegang tangan suaminya.
"Iya, aku sekarang lebih suka kalau datang lebih pagi dikantor"
__ADS_1
Lusi pun tampak tersenyum. "Baiklah"
Lusi sama sekali, tidak menaruh perasangka apapun tentang hubungan Rian dan Marisa. Yang diam-diam sering melakukan pertemuan tanpa pengetahuan nya itu.
Lalu Rian pun pergi, membawa mobilnya. Dan sebelum berangkat seperti biasa juga Rian membawa makanan untuk Marisa. Dan sebelumnya juga Rian membeli bunga untuk Marisa. Karena sesuai permintaanya kali ini. Sesmpainya Rian pun duduk memandang Marisa dan menaruh bunga itu ke depan meja.
"Tara.. bunga mawar" ucap Rian.
Marisa pun menerima bunga itu. Dan memeluk bunga itu. Dan Marisa pun tampak memandang wajah Rian. Sambil tersenyum.
Saat itu juga Rian menyambut senyuman Marisa. Entah mengapa perasaan Rian ikut berbunga juga saat melihat Marisa tersenyum. Mungkinkah Rian juga merasakan cinta pada Marisa ah entahlah.
Tiba-tiba saat itu Marisa mencium pipi Rian. Rian pun tampak kaget. Seketika Rian pun tampak memandang wajah Marisa. Dengan degup jantung yang terasa sekian kencang bila memandang wajah Marisa.
"Marisa ternyata Lo cantik" ucap Rian membelai wajah Marisa.
"Gue emang cantik dari dulu"
"Kenapa gue gak sadari dari dulu"
"Bisa jadi sih"
Lalu Rian pun tampak menghela napasnya. Seketika Rian tampak kehilangan konsentrasinya melihat bibir Marisa yang tampak merah merona. Rasanya Rian ingin menciumnya. Ah Rian tampak menahannya.
"Sebagai calon suami gue mau iseng nanya boleh" ucap Rian.
"Tanya aja"
"Lu pernah ciuman"
Seketika Marisa pun tampak tersenyum. "Jangankan ciuman pacaran aja gue gak pernah" jawab Marisa.
"Kenapa?"
Marisa pun terdiam.
"Jujur aja kenapa?" Tanya Rian lagi.
__ADS_1
"Karena selama ini gue cuma cinta sama lu Rian"
"Selama apa?"
"Selama hidup gue"
Rian pun tampak sejenak terdiam.
Rian tak pernah menyangka bila dirinya yang menjadi satu-satunya dihati Marisa. Bukan hari ini namun dari dulu. Dan itu suatu hal gila menurut Rian.
"Kalau lu gue nikahan berati gue adalah orang pertama yang bisa menyentuh lu" ucap Rian.
"Menurut lu"
Rian pun tampak tersenyum. Rian pun tampak menarik napasnya. "Bagaimana kalau ternyata gue beneran sayang sama lu"
seketika Marisa pun tampak memandang Rian.
"Gue gak mimpi kan" ucap Marisa meyakinkan dirinya.
"Gak sama sekali"
Entah mengapa,
Lalu tiba-tiba Rian tampak mencium kening Marisa. 'cup..
Awalnya Rian memang melakukan keterpaksaan menjalani hubungan dengan Marisa. Namun lambat laun. Rian merasa harus belajar untuk mencintai Marisa. Karena Rian tidak mungkin menikahi wanita tanpa cinta. Dan ternyata diluar dugaan. Rian mulai sedikit mencintai Marisa. Ya cinta.. tanpa ia duga. Ternyata diam-diam Rian mulai terbiasa menerima kehadiran Marisa ditengah-tengah kehidupan nya.
Gue akan belajar untuk mencintai Lo Marisa. Ya, gue tahu mungkin gue salah. Menduakan Lusi. Namun gue juga ingin lihat Marisa bahagia. Maafkan aku Lusi aku harus begini. Bagaimana pun aku mencintai kamu. Benak Rian.
Rian tahu jika mencintai Marisa adalah kesalahan. Namun memiliki wanita yang masih Virgin untuk kedua kalinya, baginya suatu hal yang mubazir jika harus dilewatkan. Jika hukuman yang Rian terima adalah suatu kenikmatan. Kenapa tidak??
Selama yang Rian tahu. Yang minta dinikahi itu Marisa sendiri. Bukan dari keinginan siapa-siapa. Jadi bukan suatu kesalahan jika ternyata mencintainya adalah hukuman yang indah untuk Rian. Rian pun akan belajar mencintai Marisa sesuai permintaanya.
Ya, aku akan belajar mencintai kamu Marisa.
*****
__ADS_1