
Lusi pun terbangun dari tidurnya, memimpikan suaminya seperti membuat dirinya meraskan kerinduan yang lebih dalam. Mengingat kenangan manis, pahit, semua adalah suasana yang tidak akan pernah ia ulang kembali. Kerinduan orang yang dicintai itu seperti patah hati yang tak ada obatnya. Lusi pun tampak pasrah pada takdir dan kerinduan yang memang tak akan pernah bertepi.
Manusia dia buat mencintai seseorang karena fisik dan harta itu adalah sifat secara manusiawi, tapi nyatanya Lusi mencintai Rian dengan sosok yang pergi tanpa membawa kesempurnaan sama sekali, jauh dari kata sempurna saat ia jatuh sakit dan tak memiliki apa-apa. Apakah cintanya luntur? Justru nyatanya tidak? Lusi mencintai pria yang menjadi suaminya dari hati yang paling dalam tidak melihat status dan keadaan fisiknya. Baginya cinta itu tanpa syarat dan suci.
Lusi hanya berharap suatu saat nanti, dirinya akan dipertemukan kembali dengan sang suami meski harus kapan dan entah kapan itu.
Lusi pun terbangun dari tidur dan bergegas untuk solat subuh. Karena sudah adzan subuh. Selesai solat Lusi pun menyiapkan sarapan membantu ibu, Lusi pun tampak membuat sebuah kopi dan susu dan ia letakan diatas meja makan sambil memandang dua gelas susu dan kopi dihadapannya.
Fabio pun tampak sudah bangun dan Lusi manaruhnya di babychair dan memberikan biskuit. Dan Lusi juga menyiapkan susu formula untuk Fabio yang sudah terbangun.
Sementara itu..
Tiba-tiba Ayah tampak datang dan ingin duduk diatas meja yang sudah ada dua gelas kopi dan susu itu.
Lusi pun langsung melarang sang ayah.
"Ayah jangan duduk disitu" kata Lusi dengan suara tegas.
"Loh kenapa?" Ucap ayah heran pada putrinya.
"Itu kursi untuk Rian, bahkan sudah aku siapkan kopi dan susu untuknya. Dia adalah orang yang paling susah ditebak soal keinganan jadi aku membuat kan nya dua" ucap Lusi dengan nada sedikit meninggi dan memperingatkan ayahnya untuk jangan duduk dikursi itu, karena Lusi sudah menyiapkan untuk Suaminya.
Ayah pun heran melihat putrinya yang bukan semakin waras malah semakin tidak waras.
"Kamu tahu Rian sudah meninggal kan" seru Ayah terlihat kesal dan sedikit mengerutkan keningnya.
"Aku tahu, bahkan aku sangat tahu. Aku ingat dengan kepergiannya, tapi aku merasa rindu padanya apa aku salah jika aku rindu?"
"Tidak salah" jawab ayah singkat.
"Itu sebabnya aku lakukan kebiasaan apa yang biasa aku lakukan untuknya, yaitu dua gelas minuman yang biasa ia minum" kata Lusi sambil menatap ke arah kursi kosong.
"Lusi apa kamu masih waras, untuk apa kamu membuat dua gelas minuman untuknya kalau kamu sudah tahu dia sudah meninggal" kata ayah.
"Aku hanya ingin menganggap nya ada, itu saja" jawab Lusi.
Lusi pun tampak memandang dengan tatapan kosong sambil tersenyum sendiri. Ya tersenyum sendiri namun dengan wajah yang tampak sedih dan kehilangan arah.
Sesaat saat kopi dan susu itu tidak berkurang sedikit pun Lusi tampak menangis setelah ia pandang. Menyadarkan jika Rian memang tidak ada, hanya sebuah hal yang tak akan pernah nyata dan kembali.
"Hiks hiks hiks" Lusi tampak menangis tiba-tiba.
Ayah dan ibu pun mulai kembali melihat Lusi yang dulu, Lusi yang pernah frustasi. Seolah itu membuat ayah dan ibu kahwatir.
"Kenapa kamu tiba-tiba menangis" tanya Ibu lirih.
"Pergi. Rian benar-benar pergi. Nyatanya kopi yang aku buat tidak diminumnya" ucap Lusi dengan tatapan sayu. Air matanya tampak mengembang.
"Sabar nak kamu harus kuat" ucap ibu memegang tubuh putrinya.
Lusi pun langsung terdiam dan mengendong putranya untuk keluar rumah yang sedang di baby chair. Ayah dan ibu nya pun hanya memandang putri nya keluar.
"Lusi jangan berbuat yang aneh-aneh dengan putra mu" kata ibu.
"Tidak aku hanya ingin cari angin sebentar Bu" kata Lusi dan langsung pergi.
Lusi pun pergi membawa putranya keluar.
"Bu" ucap ayah.
"Ya pak" sahut ibu.
"Lusi kesepian Bu, dia merasa hidupnya sepi dan sunyi. Kita jodohkan saja, dia sama siapa gitu Bu. Biar ada yang bisa menemaninya" kata ayah.
"Ayah, Lusi itu bukan tipe orang yang cepat membuka hati. Ia malah merasa sakit kalau tiba-tiba kita nikahkan"
"Tapi dia sudah lewat masa Iddah juga kan, ya kita Carikan jodoh yang mau terima dia apadanya. Tadi ada yang nanya-nanya ada yang mau terima Lusi apa adanya bu" kata ayah.
"Tar dulu deh ayah, anak kita jangan sembarangan dijodohkan. Nasibnya itu gak bisa ditebak. Kalau tiba-tiba kita jodohkan nanti dia malah tambah menderita, malah ibu semakin gak kuat. Kita biarkan saja dulu. Ibu yakin Lusi kuat hanya saja dia memang perlu waktu" ucap ibu.
"Kalau tiba-tiba dia gangguan jiwa lagi" kata ayah.
"Kita doakan yang terbaik saja, kita support dan hibur. Ibu pun kasihan tapi ibu gak mau Lusi malah tambah menderita, siapa tahu Lusi punya pilihan hidup sendiri yang kita gak tahu" ucap ibu.
"Ya kita lihat saja nanti lah" ucap Ayah.
__ADS_1
Lalu tak lama seseorang datang, dan tanpa disangka diduga itu adalah Marisa dan Juna yang memang ingin datang ke Bandung.
Ayah dan ibu pun kaget dengan kedatangan pasangan itu.
"Ya ampun nak Juna dan istri ya" ucap ibu yang memang ingat dengan teman anaknya itu.
"Ya ampun datang jauh-jauh tumben" kata ibu yang kaget melihat Juna dan Marisa.
"Kebetulan tadi ada urusan di Bandung, sekalian lewat sekalian juga main rencana nya ingin ngajak Fabio dan Lusi jalan-jalan" jawab Juna.
"Oh bagus, Lusi memang sedang jenuh dirumah. Tuh dia ada di depan, tadi dia ada sama putranya" kata ibu.
"Depan, gak ada" ucap Juna merasa tidak melihat Lusi.
"Apa? Ayah, ayah coba cari Lusi ayah, dia bawa Fabio ibu takut kalau dia nekat" kata ibu.
"Nekat?" Ucap Juna kaget.
"Iya sifat Lusi akhir-akhir ini aneh setelah ia kehilangan suaminya, ibu juga takut dia menghilangkan dirinya, apalagi bawa putranya" ibu menjelaskan.
"Bu, ayah akan cari Lusi"ucap ayah yang beranjak pergi dan membawa mengambil kunci mobilnya.
"Dia suka menangis sendiri, tadi saja dia senyum-senyum sendiri. Eh abis itu nangis sendiri. Ibu takut dia berbuat nekat dan melakukan hal yang diluar dugaan" ucap ibu mejelaskan.
"Apa? Sampai seperti itu, kalau begitu saya akan mencari Lusi juga Bu" kata Juna yang beranjak berdiri.
"Aku ikut Jun" kata Marisa.
Lalu Juna dan Marisa pergi bersama mencari keberadaan Lusi yang entah pergi kemana. Ayah pun pergi arah yang berlawanan dengan Juna.
Juna dan Marisa tampak mencari keberadaan Lusi yang entah kemana ia pergi, kondisi jalan memang agak ramai karena pagi hari banyak yang berlalu lalang dijalan untuk memulai aktivitas.
Setelah beberapa meter tampak ada kemacetan yang entah apa itu.
Lalu Juna pun menepikan mobilnya untuk melihat apa yang terjadi. Juna dan Marisa pun turun dari mobil, dan melihat apa yang menjadi sumber kemacetan saat itu.
Dan benar saja apa yang diharapkan terjadi, terlihat Lusi yang sedang berdiri ditengah jalan sambil menggendong putranya. Mata Lusi terlihat sembab dan Lusi terlihat seperti orang yang bingung. Seseorang berusaha untuk menarik Lusi dari tengah jalan. Tapi Lusi tidak mau beranjak pergi.
Tin...
Tin...
Tin...
Lusi terlihat seperti orang yang putus asa dan ingin bunuh diri.
Lalu Juna pun berlari menghampiri Lusi.
"Lusi kamu ngapain?" Kata Juna yang mengahampiri Lusi.
"Aku tadi lihat Rian, aku lihat Rian, Jun. Cuma aku gak tahu dia kemana?" Ucap Lusi menangis.
"Rian gak ada disini"
"Tadi ada, aku melihat nya"
"Dia tidak ada!!!!!"
"Tadi aku melihat nya"
"Berikan putra mu padaku" ucap Juna menggendong Fabio dan memberikan pada Marisa.
Tiba-tiba Lusi pun pingsan dan Juna pun langsung buru-buru mengangkat Lusi.
Juna begitu panik saat melihat Lusi yang pingsan.
"Ya ampun aku bingung sekali dengan wanita ini, dulu ia yang tidak cinta pada Rian. Tapi dengan mudahnya dia sedih dan hampir mati hanya karena kehilangan Rian. Apakah dia tidak waras?" Gerutu Juna yang tampak panik.
Dengan cepat Marisa malah memukul badan Juna.
Plak..
"Dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya kamu menghina Rian yang sudah tiada. Sekalipun Lusi dulu membenci suaminya namun ia pasti kehilangan suaminya" kata Marisa.
"Oh baiklah. Rupanya kalian ini sama-sama kehilangan pria itu" ucap Juna lemah.
__ADS_1
Lalu Juna pun langsung membawa Lusi pulang. Selama perjalanan.
"Kita harus mencari klinik terdekat, aku baru tahu kalau Lusi sedang hamil" kata Juna.
"Iya aku pun sama" kata Marisa. "Lusi hebat sangat mudah dia hamil" kata Marisa duduk disamping Lusi yang duduk dibangku ke dua. Sementara Juna fokus menyetir.
"Aku kapan ya Jun bisa hamil seperti Lusi, sampai saat ini aku belum hamil juga" kata Marisa.
"Sabar sayang" kata Juna.
Lalu Marisa pun melihat wajah Lusi yang terlihat pucat dan lemah itu.
Sesampainya di klinik Juna pun langsung membawa ke dokter, Lusi pun diperiksa.
Dokter bilang bahwa Lusi mengalami anemia sehingga menyebabkan pingsan.
Juna pun berdiri disamping Lusi untuk melihat Lusi, namun hal tak terduga terjadi. Lusi yang mulai sadar itu pun langsung memeluk Juna dengan begitu erat.
"Rian aku mohon jangan tinggalkan aku, Rian aku mohon jangan pergi" ucap Lusi memeluk Juna erat.
Seketika Marisa yang melihat itu pun langsung ikut merasakan kepedihan yang sama dengan apa yang dirasakan Lusi. Dirinya begitu ingat dulu, saat masa sekolah ia begitu sangat kehilangan cinta pertamanya yaitu Rian. Mungkin apa yang Marisa alami tidak seberat apa yang Lusi alami apalagi mengingat Lusi yang saat ini sedang hamil.
Juna pun berusaha melepaskan tangan Lusi yang mengikat pinggang Juna yang membuat Juna tidak berkutik.
"Biarkan dia memeluk mu, aku tahu betul rasa sakit karena rindu. Biarkan dia memeluk mu untuk saat ini" kata Marisa.
Lusi pun tampak memeluk Juna erat dan menganggap bahwa Juna adalah Rian.
Lusi yang mengalami batin dan terpukul itu seperti butuh sebuah pelukan dari sang suami.
Beberapa saat Lusi pun mulai tersadar saat itu bahwa itu bukanlah Rian.
"Juna???" Ucap Lusi memandang wajah Juna.
"Kenapa ini kamu, kenapa kamu" ucap Lusi yang akhirnya sadar melepaskan pelukan Juna.
"Maaf, aku gak tahu kenapa tiba-tiba kamu, maaf aku tidak sengaja memeluk mu" ucap Lusi yang merasa kaget dengan dirinya sendiri yang seperti orang gila memeluk pria yang bukan suaminya.
"Tidak apa-apa" kata Juna.
"Aku pasti sudah gila, aku sudah gila. Mana mungkin dirimu aku anggap Rian dja sudah tiada. aku lupa bahwa Rian sudah tiada" ucap Lusi yang kembali menangis. "Hiks hiks hiks hiks"
Ya, Lusi kembali menangis seperti orang yang antara sadar dan tidak sadar. Lusi pun menangis sambil memeluk bantal.
Jiwanya terguncang dan Lusi merasa kehilangan, batin Marisa yang tiba-tiba terbersit bahwa Lusi memang mencintai Juna.
Lusi aku yakin bahwa kamu sebenernya mencintai Juna juga, aku yang salah datang. Aku seharusnya tidak menikah dengan Juna..andaikan saja aku tidak menikah dengan Juna, sudah pasti dirimu sudah menikah dengan Juna. Kamu janda, dan Juna sangat mencintai mu. Kamu lah orang yang Juna cintai. Juna sangat mencintai mu Lusi batin Marisa.
Juna pun menenangkan Lusi dengan memberi minuman.
"Tenang ya, kamu tenang ya. Kamu akan baik-baik saja" ucap Juna yang tampak perhatian.
"Tapi Rian sudah pergi Jun, aku tak sanggup" ucap Lusi menangis.
Juna pun tampak mengelus rambut Lusi dengan perlahan namun pasti.
"Tenanglah lah, rileks kan pikiran kamu" kata Juna
Entah mengapa perasaan Marisa mengatakan jika hanya Juna lah yang mampu mencintai Lusi apaadanya dan bisa menggantikan Rian di hati Lusi.
Saat itu mereka pun kembali ke rumah, untuk memulangkan Lusi ke rumah. Lusi pun langsung dibawa ke kamarnya. Marisa pun hanya memandang Lusi tak memberikan komentar apapun walau dalam hatinya ia terus berfikir banyak hal.
"Bu biarkan Lusi istrihat dulu" ucap Juna.
Lalu setelah Lusi beristirahat dikamar. Saat itu Marisa pun menarik Juna ke dalam mobil.
"Ada apa?" Tanya Juna.
"Aku ingin bicara dengan mu" ucap Marisa.
"Apa?" Tanya Juna.
"Nikahi Lusi" kata Marisa tiba-tiba.
"Apa?? apa katamu" Juna kaget.
__ADS_1
"Nikahi dia" ucap Marisa lagi.
Juna pun membulat kan mata kaget dengan apa yang dikatakan Marisa padanya.