Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Aku tidak tahu


__ADS_3

Pagi yang cerah angin terasa berhembus, suasana yang indah tapi tak seindah itu. Berusaha tetap berdiri walau sebenarnya terasa lelah tetap tegar walau semua sudah menghancurkan. Bila yang lain berusaha untuk mencapai apa yang menjadi target dalam hidup, Tanisa sudah mampu bertahan hidup saja itu sudah seperti hal yang lebih baik, walau terkadang hidup namun seperti mati. Hidup dengan pria yang tak pernah dicintai seperti mimpi buruk bagi Tanisa yang entah mimpi buruk itu kapan akan pergi.


Namun semua yang terasa tak menyenangkan itu harus Tanisa tutup dalam-dalam mengingat ada jiwa yang membutuhkan kehidupan, yaitu bayi dalam kandungan Tanisa darah daging yang berlandaskan cinta namun penuh dusta dan derita. Tanisa berharap kelak anak yang ia kandung tak pernah merasakan apa yang Tanisa rasakan. Hidup dalam kepedihan dan kesakitan tiap harinya. Tanisa harus kuat dengan bayi yang ada dikandungnya kini.


Pagi hari Tanisa tumben sekali merasakan mual yang begitu terasa, Tanisa selama hamil jarang sekali mual dan baru kali ini ia merasakan mual.


Tanisa yang bangun tidur tampak berlari ke kamar mandi, dan muntah. Yang keluar itu pun hanya air saja, karena Tanisa memang belum makan apa-apa saat terbangun itu.


Tanisa pun terbangun dan melihat Leon yang sudah berada dibelakang dirinya. Perut mual dan muntah Tanisa tampak nya menarik diri Leon untuk melihat Tanisa yang mual dan muntah.


Tanisa tak mengerti mengapa kali ini yang lebih peka terhadap dirinya adalah pria yang akan menjadi anak tirinya itu, yaitu Leon.


Tanisa pun kaget saat Leon memberikan handuk bersih untuk mengelap mulut Tanisa sehabis muntah itu.


Lalu Tanisa pun menerima handuk itu dari tangan Leon dan mengusapnya ke mulut dan membersihkan mulutnya yang tampak basah itu.


"Kamu kenapa?" Tanya Leon menatap Tanisa.


"Aku tidak apa-apa" jawab Tanisa berusaha untuk mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Apanya yang tidak apa-apa, kamu muntah" ucap Leon melihat Tanisa yang tampak pucat itu.


"Iya mungkin ini karena kehamilan ku" jawab Tanisa.


Lalu Leon pun mengambil air putih hangat pada Tanisa. Tanisa pun masih tampak bingung dengan perhatian Leon pada dirinya, padahal dulu Leon yang tidak setuju pada hubungan Tanisa dengan Deon kini ia malah berbanding terbalik.


"Mudah-mudahan air hangat ini dapat membuat mu lebih baik" kata Leon.


"Terimakasih" jawab Tanisa.


"Leon" ucap Tanisa lagi.


"Ya" jawabnya.


"Kenapa dirimu begitu baik padaku"


"I-itu, karena a-aku khawatir" ucap Leon tampak gugup.


"Khawatir apa?" Tanya Tanisa menatap Leon.


"Aku takut kalau kamu kenapa-kenapa" kata Leon gugup dengan tatapan mata Tanisa yang membuat hati Leon berdebar.


"Kalau aku kenapa napa bukannya tidak apa-apa untuk mu. Dan tidak masalah untuk mu"jawab Tanisa.


"Bukan gitu, hanya saja aku. Aku tidak mau saja kalau kamu kenapa-kenapa"


Tanisa pun tampak terdiam tak bicara, Leon pun tampak menggaruk kepalanya.


Mudah-mudahan Tanisa tidak curiga dengan gerak-gerik ku bahwa seperti nya ada rasa lain yang aku rasakan pada dirinya. Ya rasa debaran itu yang tak kunjung hilang apa mungkin. Apa mungkin aku mencintai orang yang akan menjadi ibu tiri ku. Sadar Leon sadar wanita itu sedang mengandung anak dari papa, sadar Leon batin Leon.

__ADS_1


.


.


.


Lalu Tanisa pun pergi meninggalkan Leon dan melihat Deon yang sedang sarapan.


Seketika Tanisa mengelus perutnya..


Bicara tentang kehamilan, selama hamil memang Tanisa tak pernah sekalipun pergi ke dokter kandungan atau bidan. Bukan karena tak mau, selama ini Deon tak pernah sekalipun mengajak Tanisa untuk pergi ke dokter kandungan sekali pun untuk memastikan bahwa kandungan Tanisa dalam keadaan baik.


Saat sarapan pagi itu, terlihat Deon yang sedang sarapan pagi. Lalu tak lama ada Leon juga menyusul, sang putra dari Deon pun duduk disampingnya. Disana tak tampak Dea atau pun Jihan saat itu. Dari semua anggota keluarga, memang hanya Leon saja yang mampu menerima kehadiran Tanisa. Leon tampak sudah tak lagi menatap Tanisa dengan tatapan benci. Dan kini justru berbanding terbalik. Sedang kan dengan yang lain sangat membenci Tanisa.


Tanisa hanya berdiri seperti pembantu memandang keduanya yang sedang makan, Tanisa tak pernah sekalipun duduk dimeja makan itu. Tanisa tak pernah sekalipun bergabung untuk makan bersama dirumah itu. Tanisa selalu memakan makan sisa yang ada dimeja yang masih layak untuk ia dimakan. Tanisa sadar diri, bahwa dirinya hanyalah menumpang tak layak mendapat kan apa-apa. Kecuali belas kasihan.


Tanisa pun terdiam...


Dan ia pun sekali lagi tampak mengelus perutnya yang masih rata itu, sambil menatap Deon.


Lalu Tanisa pun kali ini tampak memberanikan diri meminta Deon sekali-kali mengecek kondisi kandungan Tanisa, untuk lebih tahu kondisi janinnya saat ini. Karena Tanisa merasa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mas" ucap Tanisa.


"Ya" jawab Deon.


"Iya terus?"


"Aku mau sekali-sekali kita kontrol kandungan. Hanya untuk memastikan bahwa bayi ku dalam keadaan sehat" kata Tanisa.


"Untuk apa?"


"Sekali-kali saja mas gak apa-apa kan paling tidak kita harus tau kondisi janin kita baik-baik" ujar Tanisa.


"Tidak usah, tidak usah repot kamu kesana. Nanti juga dia akan lahir sendiri, tanpa harus kontrol segala kan"


"Mas anak dalam kandungan kita biar sehat, aku takut kalau dia kenapa napa karena tak pernah sekalipun kita kontrol dokter atau bidan" pinta Tanisa.


"Tanisa, kamu tahu biaya hidup sudah mahal dan kamu harus pahami. Belum lagi buat lahiran nanti, belum lagi buat biaya saat dia lahir seharunya kamu mengerti akan hal itu" ucap Deon yang malah tampak emosi dan langsung berdiri menatap Tanisa dengan kesal.


Lalu Leon pun tiba-tiba angkat bicara seolah Leon merasa keberatan dengan tanggapan sang papa yang menolak keinganan Tanisa untuk kontrol kandungannya.


"Jika papa keberatan biar aku saja, aku yang akan mengantar Tanisa untuk mengecek kandungannya. Benar kata Tanisa, ibu hamil paling tidak harus cek kandungannya ke tenaga kesehatan setiap bulan Pa. Untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Terutama untuk ibu dan bayi dalam kandungan Tanisa pah. Untuk biaya papa gak usah khawatir biar Leon yang bayar" ucap Leon dengan tatapan yang terlihat serius.


"Tidak usah nanti papa kasih uangnya, kamu tidak usah bertanggung jawab pada anak yang didalam kandungan Tanisa. Karena kamu bukan papanya" ucap Deon dengan sinis.


"Memang bukan anak Leon, tapi dia adalah adiknya Leon. Leon berhak untuk membuat ibu dari adik kandung Leon bahagia. Tidak seperti papa yang sudah tega memperkosa Tanisa setiap hari hanya karena Tanisa mengandung anak papa" ucap Leon yang bicara tiba-tiba.


Deon pun kaget dengan ucapan Leon kali ini, dengan cepat Leon langsung menampar putranya.

__ADS_1


Plaaakkkkk.....


ya, Deon menampar pipi putranya.


"Jangan bicara sembarangan kamu kalau kamu tidak mengerti apa-apa" seru Deon kesal.


"Papa yang tidak mengerti apa-apa, Tanisa berhak hidup bahagia" jawab Leon tak mau kalah.


"Tapi kamu tidak pantas bicara pada sesuatu yang tak seharusnya. Kamu tidak kenal siapa Tanisa, datang darimana? Kenapa ada disini dan untuk apa? Kamu tak pernah tahu Leon. Kamu harus mengerti sebelum kamu sok tahu!!!!" Ucap Deon kesal.


"Aku tak perlu mengerti dan tahu tentang semua. Yang aku tahu, Tanisa menderita hidup bersama papa" ucap Leon.


"Kamu jangan bicara seperti itu, jika kamu masih mau papa anggap sebagai anak!!!" Bentak Deon tampak berusaha menampar Leon namun Deon menahannya.


Tanisa tak sanggup melihat Deon dan Leon yang berkelahi itu.


"Leon sudah lah, jangan berkelahi dengan papa mu aku mohon. Aku pinta sudah lah" ucap Tanisa yang tak mau Leon di tampar lagi oleh papanya.


Lalu Leon pun menatap Tanisa.


"Baiklah aku mengalah untuk mu Tanisa. Sore ini aku mengantar mu ke dokter kandungan kita cek bayimu"ucap Leon dan langsung beranjak pergi dengan kesal.


Tanisa pun sangat kaget dengan apa yang diucapkan Leon pada sang papa hari ini yang tiba-tiba bicara seberani itu.


sementara Leon pun tampak heran pada dirinya sendiri, kenapa dirinya bisa mengungkapkan semua nya dengan mudah dan secara terang-terangan membela Tanisa. Ya Leon tak tahu mengapa bisa dirinya seperti itu. Leon pun tampak meremas kepalanya.


Lalu..


Sementara itu...


Terlihat Tanisa yang kini hanya berdua saja di meja makan, karena Leon sudah pergi ke kamarnya.


Deon menatap tajam mata Tanisa dengan tatapan kesal. Bukannya berfikir akan ucapan Leon. Deon malah marah pada Tanisa.


Dengan tatapan tajam Deon menatap wajah Tanisa dan mendekati Tanisam


"APA YANG KAMU KATAKAN PADA ANAKKU SEHINGGA DIA BICARA BEGITU" ucap Deon dengan suara yang keras.


Tanisa memejamkan matanya karena takut dan kaget dengan suara Deon yang memenuhi isi ruangan itu.


"KATAKAN" bentak Leon.


"Aku tidak tahu, aku tidak tahu" ucap Tanisa takut melihat Deon.


"Kamu doktrin apa putra ku sehingga dia berani bicara begitu!!"


"Aku tidak tahu, sekalipun kamu membunuh ku aku tidak tahu mas"


Lalu Tanisa pun tampak pergi, meninggalkan Deon. Tanisa pun bingung kenapa kini malah Tanisa yang disalahkan padahal Tanisa tak tahu apa-apa soal Leon yang tiba-tiba membela Tanisa.

__ADS_1


__ADS_2