
Terlihat diantara ketiga orang itu yaitu, Tanisa, Marisa dan juga Juna yang sedang duduk bersama di sebuah resto cepat saji. Mereka baru saja bertemu dan mengobrol. Mereka tampak tak canggung untuk mengenal satu sama lain. Walau mereka baru dua kali pertemuan. Meskipun yang pertama adalah sebuah insiden.
Marisa pun tampak memesan beberapa hidangan. Ya berbagai macam untuk bisa dimakan bersama.
"Oh ya. Nama kamu siapa?" Tanya Marisa.
"Aku Tanisa" jawab Tanisa tersenyum.
"Aku Marisa dan ini Juna" ungkap Marisa.
"Hampir mirip ya nama kita" ujar Tanisa lagi.
"Iyah mirip. Oia rumah kamu dimana?"tanya Marisa pada Tanisa.
"Ada daerah sini juga cuma aku gak paham jalan sih" ucap Tanisa polos. Yaitu karena Tanisa baru saja pindah. Jadi dia tak paham jalanan. Dan dibalik itu Tanisa juga buta jalan tak tahu daerah mana-mana.
"Oh berati dekat ya. Tinggal sama siapa?"tanya Tanisa yang merasa kepo.
"Seseorang" jawab Tanisa.
"Siapa?"
"Adalah pokoknya" jawab Tanisa lagi.
"Kamu pasti masih kuliah" ucap marisa.
"Tidak aku tidak kuliah. Malah ada rencana mau menikah"
"Kapan?" Tanya Marisa.
"Belum tahu" jawab Tanisa.
"Kita bisa bertukar nomer handphone kan. Nanti kalau mau sebar undangan bisa hubungi aku. Nanti aku dan Juna akan datang ke acara pernikahan kamu" tutur Marisa.
"Aku tidak punya handphone"ucap Tanisa.
Marisa pun tampak heran dengan Tanisa. Dijaman serba canggih ini Tanisa tampak tak memiliki handphone.
Sedikit aneh...
Ya, itu karena selama Tanisa di rumah Cery ia tidak boleh memegang apapun. Termasuk telepon genggam. Jadi Tanisa tidak bisa menghubungi siapa pun saat berada disana.
Da handphone yang Tanisa miliki saat masih hidup bersama Gavino itu pun entah raib kemana. Sementara Tanisa saat ini belum sempat meminta dibelikan handphone yang baru pada Deon.
"Kamu catat saja nomer handphone nya nanti aku kabari saat aku akan sebar undangan" ucap Tanisa.
"Oke" ucap Marisa mencatat nomer handphone nya disebuah kertas lembar kecil. "Ini nomer handphone ku"
Lalu Tanisa pun tampak mengambil kertas yang berisi nomer handphone itu kedalam dompetnya.
"Kamu makan cuma itu saja, cuma nasi sama ayam saja" tanya Marisa heran melihat Tanisa yang makan hanya dengan ayam goreng.
"Iya emang harusnya makan apa?" Kata Tanisa.
__ADS_1
"Ya nggak kan lauk banyak nih kita share menu aja makan bareng"
"Iya aku sudah biasa makan hanya dengan satu lauk. Bahkan pernah gak makan" ucap Tanisa yang tiba-tiba curhat.
Seketika Tanisa mengingat masa kecilnya dulu.
Ya, dulu saat Tanisa kecil memang Tanisa hidup dalam kemiskinan. Ayahnya memiliki hutang yang banyak, dan saat ayahnya meninggal hidupnya semakin penuh kesengsaraan.
Ditambah lagi saat itu ibunya sakit-sakitan Tanisa pun dari kecil sudah terbiasa makanan yang sangat biasa jauh dari kata mewah. Bahkan dalam hidupnya dulu, bisa makan nasi saja sudah untung. Tanisa dari kecil sudah biasa hidup sederhana dan makan seadanya. Jauh dari kata mewah.
Dan saat ibunya sakit, lalu setelah itu meninggal. Ketika itulah Tanisa diasuh oleh pamannya Hardin. Tanisa diberikan pada Hardin karena kedua orangtuanya telah tiada.
Saat bersama Hardin Tanisa tumbuh menjadi gadis yang cantik. Dirawat dan diasuh dibesarkan oleh Hardin bagaimana mestinya pada saat itu. Ia juga disekolahkan sampai bangku SMA. Namun kepedihan itu terjadi saat Tanisa lulus, tepat diusianya yang ke 18 tahun. Tanisa dijual kepada penyalur jasa plus plus. Om Hardin diimingi uang yang banyak dan untuk membayar utang alamrhum keluarganya dulu. Itulah alasan Tanisa dijual oleh pamannya sendiri. Tanisa memulai hidupnya yang begitu sengsara. Ia tak pernah menyangka akan hal itu. Dan hidup dalam kepedihan dan kepiluan yang mendalam.
Seketika Tanisa tampak melamun.
"Hallo Tanisa kamu melamun" tanya Marisa.
Seketika Tanisa sadar dari lamunannya. "Gak kok" kata Tanisa.
Lalu Marisa pun memberikan lauknya kepada Tanisa.
"Kamu makan yang banyak" ucap Marisa menaruh lauknya di piring Tanisa.
"Eh tidak perlu terimakasih" tolak Tanisa halus.
"Gak apa-apa makan lah yang banyak biar kamu sehat. Kamu kan mau nikah masa calon pengantin makannya sedikit. Walaupun mungkin diet tapi makan banyak itu harus diet mah gak usah dipikirin" ucap Marisa.
Tanisa pun tampak menerimanya. "Terimakasih"
"19 tahun"
"Wow masih sangat muda. Aku sudah 27. Jadi ngerasa tua. Kapan rencana menikah tahun depan? Atau tahun ini. Kamu masih terlalu muda untuk menikah sebenarnya" ucap Marisa.
Tanisa pun hanya tampak tersenyum.
"Ya gak apa-apa lagi nikah muda. Itu kan bagus. Tapi kalau lihat dari wajahnya aku kira umur kamu 25 tahun seperti dewasa gitu ya" sahut Juna.
"Iya aku dewasa sebelum waktunya" ucap Tanisa tampak bercanda namun benar.
"Kita juga baru nikah. Ya kan baru aja nikah kemarin" ucap Juna tersenyum pada istrinya.
"Wow selamat ya. Semoga menjadi keluarga yang selalu bahagia. Dan cepet dapat momongan" ucap Tanisa sembari tersenyum.
"Gak tunda buat punya anak kan?" Tanya Tanisa.
"Bagaimana mau punya anak. Bikin aja belum" sindir Juna.
Tanisa langsung tampak tersenyum melihat pasangan itu.
"Oh ya mungkin nanti malam biasanya pengantin baru emang suka malu-malu" ucap Tanisa.
"Bukan gitu, dia nyari tanggal pernikahan sengaja kayanya pas lagi datang bulan biar bisa ditunda" sindir Juna pada Marisa.
__ADS_1
"Kamu apaan sih bahas hal seperti itu"
"Ya gak apa-apa. Biar Tanisa belajar bermain cinta biar gak kaku seperti kamu. Cara ciuman aja masak gak ngerti" ucap Juna.
"Juna kamu tuh ya" ucap Marisa kesal pada Juna.
Tanisa pun tampak tersenyum mana kala dua insan dihadapannya kini menganggap Tanisa masih polos.
"Iya edukasi seperti itu perlu juga ya" ucap Tanisa malah menyahuti.
"Ya perlu kalau sudah menikah. Demi mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Tapi kalau belum nikah ya jangan. Dan alau sudah menikah, gak boleh nolak keinginan suami kalau lagi kepingin" Juna tampak menjelaskan.
"Kamu sindir aku" Marisa kesal lagi.
"Bukan itu cuma kasih tahu aja" ucap Juna.
Tanisa pun hanya tampak tersenyum saja melihat mereka.
Tak lama seorang berbadan besar menghampiri Tanisa. Tanisa tampak kaget saat salah satu body guard dari Deon ternyata dari tadi memperhatikan dirinya dan mengawasinya.
"Nonya saatnya pulang" ucapnya tegas.
Marisa dan Juna pun juga ikut kaget dengan kedatangan pria berbadan besar yang menghampiri Tanisa.
"Pulang kemana?" Tanisa heran.
"Kerumah. Tuan Deon memerintahkan saya buat jagain nyonya sampai pukul 11.00 siang. Nyonya hanya diberikan waktu satu jam saja untuk makan disini"
"Eh tapi pak Deon gak kasih tahu, kalau cuma satu jam" jawab Tanisa tak mau pulang.
"Ini perintah. Nyonya harus mengikuti perintah. Lagi pula nyonya kalaupun pulang sendiri pasti nayasar. Disni luas banyak orang. Jadi saya juga memastikan nyonya bisa pulang lagi ke rumah"
"Sebentar lagi aja ya" pinta Marisa.
"Gak bisa. Saya harus bawa anda pulang" ucapnya tegas seperti mau tagih hutang
Seketika Tanisa pun menarik napas panjangnya dengan apa yang disampaikan bodyguard nya pada dirinya.
Akhirnya Tanisa pun ikuti bodyguard Deon untuk pulang.
Marisa pun tampak melihat Tanisa dengan penuh kejanggalan dan keanehan. Diri Tanisa seperti tawanan. Yang jauh akan kebebasan.
Saat Tanisa pergi Marisa pun tampak bicara pada Juna.
"Kamu ngerasa aneh gak sih Jun. Itu anak dijagain sama bodyguard segala. Seperti sedang jadi tawanan gitu" ucap Marisa heran.
"Udah kamu gak boleh suudzan mungkin itu orang suruhan papanya dia buat jagain. Secara dia masih dibawah umur 20 tahun. Nanti takut ilang" ucap Juna.
"Eh beneran kok aku ngerasa aneh"
"Itu udah wajar kan kalau anak dijagain sama orangtuanya. Kaya cinta aku sama kamu yang selalu aku jaga"
"Ih kamu apaan sih gombal"
__ADS_1
"Heheh biarin yang penting kan sayang" senyum Juna yang tampak merekah pada Marisa.