Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Kamu Harus Bertanggung Jawab


__ADS_3

Dan meskipun hubungan Liana sudah putus dengan kekasihnya Revan. Namun tetap saja sifatnya masih sama. Yaitu masih senang ikut ke club malam dan pulang malam.


Renata pun memandangi perut wanita berusia 27 tahun itu dengan mata tak biasa. Karena ia tahu ada yang berbeda dari diri keponakannya kali ini. Memang Liana adalah seorang wanita yang nakal. Namun baru kali ini Renata merasa bahwa ada yang berbeda dari diri Liana. Apa mungkin ia telah hamil? Karena sekarang perutnya telah membesar? batin Renata.


Akhirnya Renata pun buka obrolan terkait itu.


"Liana, mungkin lebih baik jika kamu menikah" ucap Renata sambil memandang Liana sesekali. Ucapan Renata adalah untuk memancing apa yang terjadi pada diri keponakannya itu.


"Menikah?" Liana kaget.


"Siapa tahu kamu akan berubah jika kamu menikah" lanjut Renata.


Seketika Liana sejenak terdiam. Dan hanya fokus sambil menyetir. Dan tak banyak bicara lagi. Ia seperti memikirkan sesuatu didalam hatinya.


"Aku tahu apa yang kamu alami tak perlu ada yang kamu tutupi, kapan pria itu bertanggung jawab" kata Renata dengan gamblang.


Liana pun tampak menghela napas beratnya. Liana pun tampak menyerah dengan ucapan sang tante. Dan akhirnya terbuka.


"Ya, aku akan meminta pertanggung jawabannya" ucap Liana. "Hanya saja?" Ucap Liana tertegun.


"Hanya saja kenapa?" Tanya Renata.


"Dia tidak mau bertanggung jawab" ucap Liana tampak frustasi.


"Apa" Renata kaget. "Tidak bisa dibiarkan. Cari orang itu sampai ketemu. Enak sekali dia tidak mau bertanggung jawab" ujar Renata kesal.


"Jadi tante mau membantu aku" ucap Liana menatap Renata.


"Iya. Tante akan mambantu kamu"


"Terimakasih tante" ucap Liana senang.

__ADS_1


"Apapun caranya saya akan membuatnya untuk bertanggung jawab"


Tak lama setelah itu, Renata pun menjelaskan tentang keadaan Rian saat ini. Dan juga Lusi yang mengalami keguguran. Renata tahu itu semua dari Viola.


Saat Renata sampai dirumah sakit terlihat Rian yang sudah sadarkan diri. Kali ini Renata membawa keponakannya Liana.


"Bagaimana keadaan mu?"tanya Renata memandang Rian yang masih lebam di wajahnya. Beruntung Rian sudah sadar. Dan ia tampak heran karena hanya ada mama dan sepupunya disisinya kini.


"Belum terlalu baik, Lusi mana?" Tanya Rian sambil memegang kepalanya yang masih terasa sakit. Ia ingat bahwa dirinya sedang bersama Lusi ketika itu.


"Dia dilarikan ke rumah sakit" jawab Renata.


"Ya Allah ma. Kenapa bisa terjadi. Bawa aku untuk menemuinya ma" pinta Rian.


"Jangan dulu Rian. Kondisi kamu masih belum boleh pulang. Nanti mama yang akan menemuinya kamu Istirahat dulu" jelas Renata.


"Tapi ma, istri Rian sakit"keluh Rian.


"Ma?" Pinta Rian.


"Rian untuk saat ini kamu tenang dulu. Mama dan Liana akan kesana untuk mencari tahu kondisi Lusi. Tapi berita yang mama ketahui bahwa Lusi keguguran"ucap sang mama.


"Apa?" Rian semakin kaget. "Pasti keadaan Lusi saat ini sedang hancur" ucap Rian tidak percaya.


"Kamu tunggu dulu disini ya jaga kondisi kamu. Mama akan segera kembali. Mama akan menemui Lusi sekarang"


"Ya ma. Segera kabari Rian"Rian cemas.


Selama diperjalanan...


Antara rumah sakit Rian dan Lusi berbeda jarak yang lumayan. Jadi mereka harus menempuh perjalan kurang lebih 15 km. Dan baru pertama kali inilah Liana bertemu dengan Lusi istri dari sepupunya. Sebelumnya ia hanya mendengar ceritanya saja tanpa tahu orangnya. Liana hanya berfikir jika Lusi hanyalah wanita biasa dari kalangan bawah. Namun saat ia temui ia begitu kaget karena ia lebih cantik dari bayangannya. Pantas saja Rian tergila gila padanya. Batin Liana saat itu.

__ADS_1


Lusi pun langsung memeluk sang mama mertua saat sudah berada dihadapannya kini. Ia memeluknya begitu erat sambil menangis. Karena ia dalam keadaan sedih.


"Sabar nak, semua ini adalah ujian" Renata tampak menenangkan.


"Ma, ada orang jahat yang sudah membuat aku kehilangan bayi dalam perutku. Dan aku ingin dia mendapat hukuman yang setimpal. Aku ingin dia mendapat hukuman" tangis Lusi yang mulai pecah.


"Siapa orangnya nak. Kalau bisa kita akan melaporkan semuanya ke kantor polisi" Renata tampak sedih melihat Lusi.


Liana pun hanya diam tak banyak bicara melihat wanita dihadapannya kini yang terlihat menangis dan hancur itu. Lusi tampak menangis didalam pelukan ibu mertuanya itu. Liana tak mau terlalu banyak ikut campur.


Namun keadaan berubah saat ..


Tiba-tiba saja, sesosok pria datang dengan membawa makanan. Tanpa tahu siapa yang menemui Lusi saat itu. Dengan percaya dirinya pria itu datang. Dan pria itu adalah Gery datang menemui Lusi. Dan benar saja, Gery tampak kaget saat di kamar inap yang Lusi tempati itu sudah ada Renata. Dan yang membuat kaget lagi, bukan hanya Renata namun juga Liana ada disitu.


Semua mata pun tampak tertuju melihat siapa yang datang kala itu.


"Dia, dia adalah orang yang sudah membuat ku kehilangan anakku" ucap Lusi sambil menunjuk ke arah Gery.


"Gery, kamu!!!!" ucap Liana kaget juga saat melihat Gery.


"Kamu harus bertanggung jawab dihadapan polisi" ungkap Lusi kesal.


Kali ini bukan cuma Lusi yang memuncak dengan perasaanya. Tapi juga Liana. Lalu Liana pun mendekati Gery sambil memandang wajahnya penuh kekesalan dan tak percaya.


"Kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus bertanggung jawab!! Ya, Dia adalah orang yang sudah menghamili aku tante. Dialah orangnya" tegas Liana dengan perasaan kesal kali ini.


"Apa??" Ucap Renata.


***


Renata pun tampak bingung menuntut Gery ke kantor polisi karena sudah membuat menantunya keguguran. Atau??? Meminta pertanggung jawaban karena sudah menghamili keponakan satu-satunya hamil.

__ADS_1


__ADS_2