
Lusi pun pulang dengan keadaan sedih hati, disaat dunia kali ini sedang tidak memihak kepadanya.
Lusi pun pulang dengan air mata dipipi, ia pulang dengan tangan kosong tak ada harapan yang tadinya ia berharap bahwa ia akan pulang dengan membawa uang. Tapi itu hanyalah harapan saja, bahwasannya Lusi menolak uang yang diberikan oleh Gery. Uang itu lebih tepat nya merupakan sebuah penghinaan untuk dirinya, hanya karena ia mentang-mentang orang kaya, ia menganggap Lusi bisa dibayar dengan uang dan ia melakukan hal sesuka hati yang ia mau terhadap diri Lusi.
Bibir Lusi pun tampak agak bengkak karena mendapat perlakuan tak mengenakan itu, ciuman kasar itu membuat Lusi harus merasakan lagi betapa sakitnya saat tidak dihargai sebagai seorang wanita.
.
.
.
Sesampainya dirumah, terlihat Renata yang sudah ada dirumah dan Lusi pun pulang dengan memasang wajah yang begitu terasa sedih dan sakit.
Baru sampai di depan pintu rumah, Renata pun langsung menarik tangan Lusi.
"Terimakasih ya, kamu sudah membawa makanan ini. Mama senang" ucap Renata menunjukkan hidangan makanan yang begitu banyak
"Ini dari mana ma" tanya Lusi bingung.
"Ini dari kamu, tadi ada yang antar dari ojek onlen katanya atas nama kamu Lusi" ucap mama yang terlihat senang.
Lusi pun tampak melihat semua makanan yang ada dirumahnya, tampak pizza 3 loyang, spageti, ikan bakar, roti bakar, dan buah-buahan. Selain itu Lusi pun tampak melihat ada sembako, beras minyak dan telur.
Lusi tak tahu siapa yang mengirimnya.
Tiba-tiba ada pesan singkat masuk ke handphone Lusi.
(Aku sengaja mengirimkan semuanya untuk mu, terimalah- pesan dari: Gery)
Seketika Lusi pun tampak menggelengkan kepalanya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dapatkan.
"Kamu sudah dapat bayaran dari foto model ya, sehingga kamu dapat membeli ini semua" ucap Renata yang menarik Lusi untuk duduk.
Lusi pun hanya tampak mematung, tak percaya dengan semua ini.
"Lusi kamu kenapa? Kamu seperti sedang sedih. Kamu seperti sedang shock, kenapa?" Tanya Renata pada menantunya.
Lusi pun hanya terdiam, sambil menggelengkan kepala dengan lemah.
"Mama sudah lapar, mama makan ya" ucap Renata.
Renata pun langsung melahap makanan itu dengan semangat. Renata tampak senang dengan apa yang baru saja ia dapatkan.
Lusi yang tampak ingin bercerita tentang dirinya yang baru saja diperlakukan kurang ajar itu pun tampak tertahan tak bisa mengatakan yang sejujurnya, apalagi saat melihat Renata yang sedang makan lahap itu. Lusi takut jika menceritakan semua, mama mertuanya akan kehilangan selera makannya. Lusi pun tampak tak kuasa untuk mengatakannya, Lusi hanya merasakan sedih dan juga kebimbangan antara ingin cerita dengan semua yang ia alami atau menutup rapat semuanya, agar hanya Lusi yang merasa sakit ini.
Ma, Lusi bingung harus cerita atau tidak pada mama, dengan apa yang menimpa Lusi barusan. Lusi tidak tega, melihat mama ikut sedih. Lusi tak mau mama yang sedang bahagia makanan enak ini malah menjadi sedih dengan apa dengan apa yang aku alami, batin Lusi sedih melihat mamanya yang sedang makan.
"Kamu gak makan juga, ayo kita makan. Ini enak loh" ajak Renata .
Lusi pun tampak menggelengkan kepalanya.
"Tidak ma" jawab Lusi.
"Yasudah mama suapin ya" ucap mama.
"Gak ma" tolak Lusi.
Lalu Renata malah menyuapi Lusi.
__ADS_1
"Ayo A.. a.. " ucap Renata menyuapi Lusi.
Lusi pun akhirnya memakannya dengan penuh rasa pilu di hati.
"Am... Enak kan" ucap Renata yang akhirnya Lusi mau memakannya.
Lusi yang makan itu pun serasa sesak didada, tanpa terasa air matanya terjatuh.
"Lusi kamu kenapa menangis" ucap mama yang melihat Lusi menjatuhkan air matanya.
"Ma, Lusi ganti baju dulu ya. Lusi sedang tak enak badan" kata Lusi yang terlihat muram dan lemas.
Lusi terimakasih juga ya buat uang nya, mama hampir lupa bilang" ujar Renata.
"Uang apa ma?"
"Tadi juga ada orang yang datang kesini kasih uang ke mama?"
"Uang? Uangnya apa?"
"Iya uangnya lumayan dari kamu kan"
"Berapa ma"
"2 juta"
Seketika Lusi pun hatinya tersentak bingung antara marah, kesal, semuanya terasa membingungkan. Satu sisi Lusi kesal dengan perlakuan Gery terhadap dirinya, namun satu sisi Lusi pun tak tega melihat Renata yang sudah sangat senang itu, harus berubah menjadi kesal karena dengan apa yang Lusi alami.
Gery begitu cerdas dalam memainkan perannya kali ini. Dia mampu berbuat yang tak wajar dan meresahkan namun ia membuat Lusi juga merasa berat untuk mengatakan yang sebenarnya.
Lusi pun tampak menarik napas beratnya, dalam diam menahan semua dan penuh kebimbangan.
Saat dikamar Lusi pun tampak menghapus Make up nya dengan kapas yang sudah dibasahi, namun tak terasa air matanya ikut mengalir. Ia tidak bisa menyangka kenapa ia jadi seperti ini. Ada sakit hati pada batinnya yang tak bisa ia bendung, semua terasa sulit dan menyesakan di dada.
Lusi pun akhirnya membuka baju pengantin itu, dan ia ganti dengan baju rumahan.
Lusi pun melihat putranya yang sedang tertidur, lalu Lusi pun memeluknya tanpa terasa ia menjatuhkan air matanya.
Ya, Lusi tampak lebih cengeng kali ini. Karena ia merasa apa yang ia alami itu suatu hal yang berat dan menyakitkan. Apakah karena Lusi sekarang miskin, jadi kebahagiaan dan perasaan sakit itu beda-beda tipis.
Setelah kejadian itu Lusi hanya tampak mengurung dikamar.
Sampai malam harinya, Rian pun pulang kerumah terlihat Lusi yang sedang duduk termenung dikamar sambil menjaga putranya sedang bermain.
Terlihat Rian yang begitu lelah setelah pulang bekerja dihari pertamanya, Lusi pun tampak menyiapkan air putih hangat untuk suaminya yang baru saja pulang itu. Rian pun tampak melihat istrinya yang diam saja sambil meminum air yang sudah dibawakan istrinya itu.
"Kamu kenapa kok diam saja" tanya Rian sambil memeluk istrinya.
Lusi pun hanya menggelengkan kepalanya, dan berusaha untuk baik-baik saja walau hatinya kini sedang tak baik-baik saja.
"Yasudah aku mandi dulu ya" kata Rian.
Lalu Rian pun tampak kedalam dan mandi dan mengganti bajunya.
Selesai mandi Rian pun tampak lebih fresh dan menghampiri mamanya.
"Hari ini Lusi memberikan kita banyak makanan dan Lusi pun memberikan uang pada mama. Mama senang Lusi, terimakasih ya" ucap mama senang.
"Rian juga mama pisahkan makanan nya nanti kamu makan ya"
__ADS_1
"Iya.. wah enak sekali pasti" kata Rian senang.
Namun perasaan senang Rian seeolah teralihkan lebih kepada Lusi yang masih terdiam itu.
Rian pun matanya tertuju pada Lusi yang daritadi diam dan sedih.
Lalu Rian pun tampak memulai bicara pada sang istri.
"Lusi?"
"Ya?" Sahut Lusi.
"Bagaimana tadi pemotretannya berjalan lancar kan" tanya Rian.
"Aku sudah putuskan hari ini adalah hari terakhir aku ikut foto model"
"Kenapa?"
"Karena itu sulit, aku sulit melakukannya" ucap Lusi yang tampak menutupi semuanya.
"Bukannya kamu bisa segala hal, biasanya kamu paling suka untuk belajar hal baru" kata Rian.
"Tidak kali ini lain, karena aku tidak suka dan tidak siap. Jadi aku putuskan untuk tidak melanjutkan"
"Lusi, kamu hoki loh kerja di bidang itu. Kamu gak sayang, kalau mama pikir lebih baik kamu gelutin terus. Kalau cuma andalkan gaji Rian saja mama yakin gak akan cukup. Kalau mama gak setuju kamu berhenti" ucap mama.
"Tapi ini berat ma, dan job nya juga belum pasti" ucap Lusi.
"Yasudah lah"
Lalu Lusi pun tampak kekamar tiba-tiba Rian mengikut dari belakang.
"Kamu kenapa?"
"Gak apa-apa"
"Ceritalah jangan ada yang ditutupi"
Seketika Lusi pun menangis dalam pelukan Rian, ia tak kuasa menahan air matanya. Lusi pun akhirnya cerita.
"Aku tidak tahu kalau ternyata Gery ikut dalam pemotretan itu"
"Terus?" Tanya Rian.
"Aku pergi dari sana, aku batalkan saat aku ngerasa ada yang aneh dan tidak sesuai rencana, tapi..."
"Tapi apa" tanya Rian lagi.
"Tapi, ia menarik ku dan mencium ku dengan kasar saat aku mau pulang, ia menarik ku kedalam mobilnya" ucap Lusi sembari menangis.
"Dia lakukan itu padamu?" Tanya Rian menatap tajam ke arah Lusi.
"Iya dia lakukan ini dengan cepat dan kasar"
"Apakah kamu tidak melawan Lusi"
"Aku tak sanggup untuk melawan nya, ia begitu kuat saat melakukan nya. aku minta maaf, karena aku tak menjaga diriku dengan baik Rian, aku minta maaf. Huhuhu"
"Sialan, awas saja kamu Gery!!! Beraninya kamu mencium paksa istri ku" ucap Rian murka pada Gery.
__ADS_1