Cinta Terlewatkan

Cinta Terlewatkan
Pergi kemana?


__ADS_3

Seketika Tanisa tampak menangis melihat dirinya di cermin. Tanpa mengenakam sehelai benang pun pada tubuhnya.


Perasaannya sedih mengingat Gavino tiba-tiba datang dipesta itu. Tanpa ia duga dan tahu sebelumnya.


Namun semua rasa itu seolah sulit dan sangat menyakitkan hatinya. Terasa perih. Saat orang yang dicintai ada namun tak bisa kita miliki karena takdir tak seindah itu.


Bicara cinta Tanisa sangat lah cinta. Pada pria tampan itu namun perasaan nya bingung. Bimbang dan teramat bimbang.


Tanisa mencintai Gavino namun ia tidak mungkin mengatakan semua itu. Gavino lah yang telah membuang dirinya.


Tanisa memungut semua pakaian yang dilepas oleh Deon secara paksa. Dia memandang diri di depan cermin. Sembari duduk. Menyadarkan dirinya bahwa dirinya hanyalah wanita bayaran. Bayaran..


Tanisa pun kembali memakai pakaiannya.


Tak lama setelah itu, tampak Deon yang mengemas semua barang yang ada dilemari termasuk baju Tanisa. Deon tampak mengambil koper dan terlihat sangat terburu.


Tampak baju Tanisa dibawa ke dalam koper semuanya. Ya semuanya.


"Mau kemana kita mas"tanya Tanisa.


"Kita akan pergi" Jawab Deon singkat.


"Tapi kemana?"


"Pergi" ucap Deon.


"Untuk apa kita pergi dari sini"


"Kamu lupa bahwa kita akan pergi untuk liburan, berbulan madu"


"Secepat ini" Tanisa heran


"Kenapa masalah untuk mu, kita sudah bicarakan ini jauh-jauh hari bukan. Apakah kamu keberatan. Apa kamu keberatan karena kamu mencintai Gavino" jelas Deon.


"Aku tidak mencintainya"tepis Tanisa.


"Lalu kenapa kamu terlihat menangis"tanya Deon.


"Aku tidak tahu"jawab Tanisa.


"Ingat? Kamu sudah berjanji untuk tetap mencintaiku. Dan aku jugalah yang sudah membawa mu pergi dari tempat itu. Tempat itu!!! Berbalas budilah pada aku" ungkap Deon tegas memandang wajah Tanisa lekat.


"Balas budi?" Tanya Tanisa.


"Ikutlah dengan ku. Tinggalkan masalalu mu. Semua masa lalu mu. Apapun itu. Kamu paham balas Budi kan" ujar Deon sekali lagi


Tanisa pun terdiam.


"Kamu sudah berjanji untuk ada dan tetap mencintai ku" tegas Deon.


Lalu Tanisa mengangguk sambil memejamkan matanya. Menahan rasa perih yang bergejolak.


Lalu Deon pun memeluk Tanisa. Dan mencium bibir Tanisa hangat. meresapi wangi tubuh wanita yang Deon cintai itu

__ADS_1


"Ayo kita pergi. Aku sudah mengatakan hal itu. Anggaplah bulan madu"


"Tapi mas? Kita belum menikah" kata Tanisa.


"Ikutlah dengan ku. Kemana pun aku melangkah" tegas Deon.


Lalu Tanisa pun mengikuti apa yang di kehendaki Deon. Dalam waktu yang lama atau tidak, Tanisa tak tahu.


Tanjsa pun mengikuti arah kemana Deon akan pergi.


Tanisa pun melangkah kan kaki nya berangkat meninggalkan tempat itu. Meski hati nya serasa berat.


"Bisakah kita tinggal disini" kata Tanisa kepada Deon. Seolah menolak.


"Tidak bisa, kita tetap harus pergi. Aku sudah memesan tiket untuk kita berlibur kesana" ucap Deon.


Baru kali ini Tanisa terasa berat meninggalkan rumah nya yang bukan miliknya itu.


Baru kali ini Tanisa tampak menolak apa yang Deon perintahkan.


Apakah karena dirinya baru saja bertemu dengan Gavino, sehingga rasanya tak rela untuk pergi begitu saja.


Mau menolak pun seperti nya takan bisa.


Hidupnya dalam kekangang yang berlandaskan cinta. Dirinya pun sadar diri bukan siapa-siapa dan apa-apa. Hanya wanita yang dibeli dari tempat hitam itu.


Hingga Tanisa memang seperti boneka Deon yang bisa diatur kesana kemari. Ya hidup itu memang pahit. Saat bicara tentang cinta.. dan merasakan getirnya dipenjara dalam cinta.


Ya, terpenjara dalam cinta...


Dalam perjalanan..


Tanisa tampak terdiam menatap keluar dari jendela mobil. Tanisa begitu mengingat wajah Gavino yang masih sama. Sama seperti dulu. Tampan dan rupawan. Namun tampak berbeda kali ini.


Apa yang membuat nya berbeda.


Yaitu sorot matanya....


Selama Gavino mengenal Tanisa tak pernah sekalipun menatap diri Tanisa. Hanya nafsu dan keinganan syahwatnya saja yang ia utamakan. Tak pernah sekalipun ia memandang Tanisa. Apalagi mencintai, itu suatu yang tak mungkin.


Tapi...


Kali ini Gavino tampak lain berbeda dari yang Tanisa kenal dulu. Dan baru kali ini juga lah dia meminta Tanisa untuk mengatakan cinta pada nya. Baru kali ini Gavino menatap wajah Tanisa. Dan seolah ada sesuatu yang ia ingin bicarakan. Dan itu apa? Tanisa tak tahu.


Masihkah ada harapan untuk Tanisa? Sepertinya tidak..


Jikalau pun masih ada harapan itu. Semua hanya akan membuat Tanisa sakit. Pasalnya hidup Tanisa sudah tak seperti dulu. Hidup Tanisa sudah berada ditangan orang lain.


Hidup Tanisa sudah dalam genggaman pria berumur 44 tahun yang bernama Deon. Dan Tanisa tidak bisa berbuat apa-apa.


Tanisa pun semakin perih disaat Deon terus mengucapkan kata balas budi.


Balas budi...

__ADS_1


Ya Tanisa sudah menggadaikan Hati dan perasaannya untuk seorang Deon.


"Kamu harus berbalas budilah padaku. Kamu harus balas budi. Dan berjanji mencintai ku" kata Deon.


Kata-kata itu yang selalu diucap kan Deon berulang kali ditelinga Tanisa. Ya kata itulah yang menyadarkan Tanisa bahwa Deon lah yang membawa pergi dirinya dari tempat hina itu.


Tanisa tampak menghela napasnya beratnya


Aku harus membalas budi padanya yang sudah membawaku dari tempat prostitusi itu. Aku balas budi padanya dengan berjanji mencintai dia seumur hidupku Gavino. Aku tidak bisa lepas dari semua kata kata itu. Yang selalu terngiang dan diingatkan berulang kali.


Aku yakin kamu pun sudah bahagia dengan pilihan hidupmu sendiri Gavino. Dengan wanita yang terpandang dan masih suci tidak seperti aku.


Batin Tanisa seolah meronta setelah pertemuan Tanisa dengan Gavino pada malam itu. Dan membuatnya membuka kenangan lama yang masih ada hingga sekarang.


Dan saat perjalanan itu.


Saat Tanisa melamun membuat Deon melihat Tanisa.


Sehingga membuat Deon memandang Tanisa berbeda dari sebelumnya.


"Kamu kenapa, apakah kamu menangis?" Tanya Deon.


"Tidak, tidak ada yang perlu aku ditangisi" kata Tanisa berusaha tegar.


"Baiklah kita akan pergi ke tempat yang hanya kita berdua saja yang tahu" ujar Deon.


"Lalu rumah kita. Mm maskudku rumah mu yang tadi, akan kamu kemanakan?"tanya Tanisa.


"Rumah itu akan ku jual jadi kamu tak perlu kembali kesana" ujar Deon.


Tanisa pun tampak terdiam dan tak banyak bicara lagi.


Lalu mereka pun naik pesawat dengan keberangkatan jam 21.00 untuk berangkat ke Bali berdua saja. Memang Deon sudah berjanji mengajak Tanisa pergi. Untuk liburan. Dan kali ini Deon memenuhi janjinya namun diwaktu yang tak tepat.


Waktu dimana Tanisa baru saja bertemu dengan Gavino yang baru satu jam saja. Ya satu jam saja.


Deon sebenernya tampak ingin memberi kejutan akan keberangkatan itu. Dan itu memang sangat mengejutkan Tanisa disaat moment pertemuan Gavino yang baru sebentar saja.


Tanisa pun merenungi dirinya sendiri.


Namun lebih dari itu. Lebih dari itu sebenarnya Tanisa juga sadar diri. Gavino bukan untuknya saat ini dan nanti.


.


.


.


Sesampainya diBali..


Waktu sudah menunjukan jam 05.00 pagi.


Tanisa tampak terlihat lelah dengan perjalan dari Jakarta-Bali.

__ADS_1


Meskipun Bali begitu tampak indah dan sangat mengesankan namun tidak dengan hatinya yang tak seindah itu.


__ADS_2